Bab 7

Niken membuka ponselnya, ia melihat pesan dari Hans. Niken menggeleng, ia tidak mungkin ke sana lagi, ke rumah Hans. Karena, itu semakin membuat dirinya malu, dan bersalah pada suaminya.

[Aku tidak akan ke sana, tidak usah menyuruh orang ke sini!]

Niken meringkuk ia menutup tubuhnya dengan selimut, tak henti-hentinya air matanya mengalir deras membasahi bantalnya. Ia menyesal dengan apa yang ia perbuat tadi. Ia merasa sudah mengkhianati suaminya. Padahal yang lebih dulu bermain api dan mengkhianati adalah suaminya. Niat untuk membalas perbuatan suaminya itu, kalah dengan rasa malu karena dirinya tidak memiliki tubuh yang seksi dan cantik seperti Zahra.

“Kenapa sih! Selalu saja bodoh seperti ini! Kamu itu harusnya mikir, gak mungkin ada laki-laki yang betah dengan kamu, lihat wujud kamu saja begini? Suamimu saja sudah tidak mau, apalagi orang lain? Kamu mempermalukan dirimu saja!” Niken merutuki dirinya sendiri.

Ia semakin tersedu-sedu, menangis karena menyesal dengan apa yang sudah ia perbuat tadi. Hingga ia ketiduran dan bangun menjelang Magrib. Ia tidak peduli Hans dari tadi mengirim pesan padanya, dan meleponinya. Niken sama sekali tidak melihat ponselnya.

Menjelang petang, Niken bangun dan membersihkan diri, lalu ia memasak, menyiapkan makan malam. Suaminya pasti pulang lebih awal, karena hari Kamis. Rey tidak pernah pulang sampai malam kalau Kamis malam. Tapi, kegiatan malam bersama istrinya Rey lewatkan begitu saja. Padahal Kamis malam adalah sunnah, jika melakukan hubungan suami istri, memanjakan istri, dan bermanja dengan istri. Tapi, Rey malah cuek, ia lebih mementingkan ponselnya.

Selesai masak, Niken menatanya di meja makan. Meski ada pembantu, tapi urusan masak Niken tidak mau menyerahkan pada pembantunya. Pembantu di rumahnya hanya bersih-bersih rumah, mencuci, dan menyetrika. Tapi, urusan masak Niken sendiri yang turun tangan.

Tedengar suara mobil Rey memasuki halaman rumah. Niken langsung bersiap menyambut kedatangan Rey. Ia mencium tangan suaminya, tapi Rey melewatkan kebiasaannya dulu, tak ada lagi kecupan sayang di kening Niken, setelah Rey mengenal Zahra.

“Mas ... kok gak cium kening?” protes Niken manja.

“Mnch ... apaan sih! Apa harus?” cebik Reyfan dengan nada kesal dan raut wajah pun tak kalah kesalnya.

“Harus dong? Kan kamu sendiri yang bilang seperti itu dulu? Harus cium kening, karena itu tandanya kamu sayang aku,” jawab Niken, karena memang benar Rey pernah bicara begitu saat Niken ngelonyor saja waktu akan dicium Rey.

“Apa aku pernah bilang? Aku lupa, sudahlah perkara cium kening saja dipermasalahkan! Aku capek! Kamu masak apa?” ucapnya dengan nada ketus.

Niken hanya menarik napasnya pelan, ia bergeming, netranya mengikuti Rey yang pergi meninggalkannya dan langsung membuka tudung saji di meja makan.

“Gak ada sambal, Nik?” tanya Rey membuyarkan lamunan Niken.

“Iya, aku belum membuat sambal, sebentar akan aku buatkan. Mas mau salat dulu, atau langsung makan?” tanya Niken.

“Salat dulu, ya sudah bikinkan sambal!” jawab Rey.

“Kita salat berjamaah ya, Mas? Aku juga belum salat,” ucap Niken.

“Hmmm ....” Jawabnya hanya bergumam.

Niken mengusap dadanya, ia harus sabar, dan malam ini ia harus mendapatkan hak batin dari Rey, yang sudah lama tidak Niken rasakan, karena Rey sibuk bekerja, Niken pun sibuk dengan dunia tulis-menulisnya.

Mereka salat berjamaah, dan benar yang Niken duga, tidak ada kecupan lagi dari Rey di kening Niken setelah selesai Salat. “Ya Allah, apa aku sudah tidak semenarik itu di hadapan suamiku? Hingga kecupan kening saja ia lewatkan begitu saja? Lantas salahkah aku jika membalas apa yang Rey perbuat padaku?” batin Niken menangis, mendapatkan perubahan Rey yang begitu drastis setelah mengenal Zahra.

“Keningku kok ndak dikecup lagi, Mas? Biasanya juga dicium?” ucap Niken manja, mencoba meminta kebiasaan Reyfan yang mencium keningnya setelah selesai salat berjamaah.

“Ish kamu ini, protes masalah cium lagi? Hal sepele gini saja dipermasalahkan! Sudah kita makan! Menjijikan sekali kamu, kayak orang baru pacaran, ciam-cium!” ketus Rey yang membuat hati Niken teriris.

“Ih mas ini, orang sudah kebiasaan ditinggalkan? Gak baik tahu, Mas?”  ucap Niken, masih meladeni ucapan suaminya yang ketus.

“Gak usah banyak bicara deh! Orang lagi capek juga!” ketusnya lagi.

“Ya sudah kita makan, aku ambilkan nasi,” ucap Niken, lalu ia berjalan mendahului suaminya.

Tak terasa air matanya menetes, Niken cepat-cepat menyekanya, ia tidak mau dilihat suaminya kalau dia menangis hanya karena tidak dicium suaminya. Bukan karena tidak dicium keningnya, itu semua karena Niken merasa sudah tidak diinginkan Reyfan.

Reyfan duduk di depan meja makan, tangannya tak lepas dari gawainya. Dia senyum-senyum sendiri di depan gawainya, sepertinya Rey sedang mengetik pesan. Niken tahu, pasti suaminya sedang berbalas pesan dengan Zahra. Siapa lagi yang membuat suaminya sebahagia itu, sampai senyum bahagia terulas di bibirnya kalau bukan Zahra?

“Makan dulu, ponselnya diletakkan. Mas sendiri lho yang sering menasihatiku kalau makan, ponsel di taruh dulu?” tegur Niken.

“Iya, ah! Kamu ini dari tadi kebanyakan bacot, ya!” berangnya.

Niken terdiam mendengar perkataan suaminya. Ucapan kasar seperti itu memang sering didengar Niken dari mulut suaminya, tapi rasanya malam ini begitu menusuk relung hati  Niken yang paling dalam. Apa salahnya ia menegur suaminya yang mau makan malah masih pegang hape?

Niken terdiam, ia tidak mau berkata atau protes apa pun pada suaminya. Biar saja, mungkin Suaminya sedang berbalas pesan dengan Zahra.

“Silakan kamu dengan duniamu sekarang! Jangan kamu protes dan marah, ketika nanti aku berubah, bahkan tidak mencintai dan menyayangimu lagi, Mas!” batin Niken.

Niken merasa matanya sudah penuh dengan air mata. Jika ia berkedip sekali saja, mungkin air matanya akan jatuh.

“Ih pedas sekali ternyata sambalnya,” ucap Niken dengan pura-pura kepedasan, supaya ia menyeka air matanya tidak diketahui Reyfan. Niken pura-pura kepedasan, karena matanya sudah tidak tahan ingin menjatuhkan air mata yang sudah menggantung di sudut matanya.

“Mana ada pedas, Nik?” ucap Rey.

“Ini pedas sekali bagi aku, Mas,” jawab Niken. “Ucapan kamu yang pedas!” ucap Niken, tapi hanya dalam hatinya.

^^^

Malam harinya, mereka sudah bersiap tidur. Niken sudah mengenakan baju dinasnya berwarna merah, ia ingin malam ini mendapatkan sentuhan Reyfan yang sudah lama tidak Reyfan lakukan pada dirinya.

Reyfan sedang asik duduk di sofa sambil bermain ponselnya, dan senyum-senyum sendiri. Niken mendekatinya, dan ingin merayu suaminya.

“Mas ....” Niken duduk di sebelah Reyfan, dan mengusap lembut lengan Reyfan.

“Ih apaan kamu? Pakai baju apa itu? Bukannya buat aku nafsu, malah enek lihat lipatan perutmu!” ketus Reyfan lalu menepis kasar tangan Niken yang sedang mengusap lembut lengannya. “Sana ah! Tuh tidur di kasur, sana kan luas, ngapain ke sini! Sesak tahu! Sadar sih, badanmu segede drum!” cebik Reyfan kasar.

“Ih mas ini, gendut juga seksi kok, kamu saja sekarang bilang gitu? Dulu gimana coba?” Niken mencoba menetralkan suasana, supaya ia tidak terlalu ambil hati oleh ucapan Rey.

“Sana-sana! Ganggu saja! Sana tidur sana!” usir Rey kasar.

“Mas, ini malam Jum’at lho?” rayu Niken.

“Iya, tahu! Siapa yang bilang ini malam Sabtu!” ketus Rey, tanpa memandang Niken, malah sibuk dengan ponselnya.

Niken kalah, ia akhirnya ke tempat tidur, menutup tubuhnya dengan selimut, sampai ke kepalanya. Ia sesekali menyeka air matanya.

“Apa aku sudah sejelek itu di matamu, Mas?” batin Niken.

Niken merasa di bawah bantalnya ada ponselnya, ia buka ponselnya, banyak sekali pesan dari Hans.

[Aku akan tetap menyuruh orang menjemputmu, banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, Niken.]

[Sudah makan, Nik]

[Sedang apa, Nik? Kapan kamu lanjut tulisanmu lagi?]

[Sudah tidur?]

Niken membaca semua pesan dari Hans. Entah kenapa hatinya tergerak untuk membalasnya.

[Baik, besok aku ke rumah om, aku mau tidur, capek, nanti aku lanjut tulisanku lagi, tunggu saja, ya?]

Niken hanya membalasnya seperti itu. Ia akan masuk ke dalam permainannya bersama Hans. Tidak peduli nantinya bagimana. “Apa aku harus selingkuh? Ah entahlah?” batin Niken.

Terpopuler

Comments

vj'z tri

vj'z tri

semangat Thor 🥳🥳🥳 cerita nya bagus banyak orang yang hanya jaga image di luaran ajj tapi asli nya gak taw deh 😒 rajin beribadah dll tapi tingkah laku di belakang layar wadidauuuu😅😅😅

2024-08-17

0

Ainisha_Shanti

Ainisha_Shanti

of course salah kalau selingkuh di balas selingkuh. kerana kau seorang wanita, dan wanita tak boleh nikah melebihi satu. si daripada menambah dosa dengan berselingkuh, ada baiknya bercerai saja, kemudian baru cari suami baru.

2024-08-03

1

Rita susilawati

Rita susilawati

AQ liat baca nya rajin sholat n taat agama kq suka zina
kayak nya yg buat nulis novel ini kurang waras deh😁
setau ku klo yg rajin sholat bgtu kn aplgi Niken sabar GX mau zina harus inget dosa

sbner nya bgus cerita nya Thor AQ smpe kesel
TPI bisa GX ya jgn permainkan agama
dosa Thor
maaf klo kata2 ku kurang menyenangkan dihati penulis novel

semangat berkarya nya

2024-07-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!