Bab 9

Leona berada di kamarnya dan teringat dengan kotak yang ditemukan semalam. Dia memutuskan membuka kotak yang didapatkan dari kamar Iris lalu mencoba membuka kotak itu dengan berbagai cara dan senjata, namun usahanya gagal.

Leona bahkan menyuruh Jim membuka kotak itu, namun pemuda itu juga tidak bisa membukanya.

Leona menghela nafas frustasi. Dia lalu meraba-raba kotak itu dan menemukan sebuah tulisan yang berada di bawah kotak.

Leona membacanya, ternyata cara membuka kotak ini dengan menggunakan setetes darah.

"Baiklah, akan aku coba." Gumam Leona sambil menggigit ibu jarinya hingga berdarah dan meneteskan pada kotak itu.

'Poft'

Kotak itu terbuka dan terpampang beberapa buku tua, sepucuk surat serta beberapa perhiasan milik mendiang Duchess. Leona mengambil sepucuk surat itu dan membacanya.

Emosi Leona bercampur aduk setelah membaca surat itu. Sebuah kebenaran tentang dirinya terkuak begitu saja

Ibunya adalah putri dari pemimpin sebuah klan yang telah dibantai habis oleh Raja Seanthuria yang sekarang dengan alasan membahayakan kerajaan dan kekaisaran karena memiliki keistimewaan pengendali elemen alam tanpa menggunakan mana.

Dalam surat itu tertulis jika anggota klannya berhasil selamat dan berbaur dengan penduduk biasa yang tersebar di beberapa tempat. Ibunya berasal dari clan Tigries. Ciri khas klan itu adalah memiliki iris pipih seperti mata kucing dengan mata yang indah dan memiliki wajah blasteran Jepang-Eropa.

Ibunya sengaja membagi jiwanya menjadi dua dan memisahkannya ke dimensi lain, pantas saja dia merasa bisa beradaptasi di dunia aneh ini dengan baik dan seolah-olah mengenali mereka dengan baik.

Saat jiwanya telah kembali, ibunya menyuruh dirinya pergi dari kediaman Castallio bersama Jim yang ternyata sepupu jauhnya sendiri.

Ibunya juga mewariskan perhiasan itu yang merupakan warisan turun temurun dari klan ibunya.

Leona menangis keras. Jim yang berada di luar mendengar tangisan itu buru-buru mengetuk pintu.

"Leona, kau baik-baik saja?" Seru Jim panik.

Tidak ada jawaban selain isak tangis yang masih terdengar keras. Khawatir terjadi sesuatu dengan Leona, Jim segera masuk begitu saja dan mendapati sang nona tengah menangis histeris memeluk lututnya.

"Leona, ada apa?" Tanya Jim menghampiri Leona. Leona mendongak dengan wajah berlinang air mata, mata sembab dan ingus yang meluber keluar.

"Aku baik-baik saja, hiks.. Jim." Leona buru-buru menghapus air matanya yang membasahi wajahnya.

Setelah merasa tenang, Leona memperhatikan Jim dengan lekat, membuat pemuda itu gugup. Jim memang memiliki paras tampan dengan blasteran Jepang-Eropa yang sama sepertinya. Mata cokelat indah dengan iris pipih seperti kucing.

"Kau tau klan Tigries?" Tanya Leona pada Jim. Ekspresi Jim seketika berubah.

"Di surat ibuku tertulis bahwa mereka memiliki mata indah dengan iris pipih seperti kucing, persis seperti mataku. Aku baru menyadari matamu indah dan irisnya pipih sama seperti ku." Jelas Leona. Seketika wajah Jim memerah mendengar pujian yang dilontarkan oleh Leona.

"Benar, ibuku berasal dari clan Tigries. Dia menikah dengan baron Houlise dan menjadi seorang selir. Sayangnya beliau telah meninggal beberapa tahun lalu." Jelas Jim jujur.

"Kalau begitu, bagaimana jika kita pergi dari kediaman ini, Jim?" Usul Leona dengan tatapan penuh harap.

"Aku akan mengikuti mu, Leona. Semenjak aku menjadi pelayanan pribadimu dan mengetahui fakta kau adalah keluargaku, aku akan mengabdikan diri seumur hidupku." Ucap Jim serius.

Leona tersenyum. "Terimakasih, Jim. Mohon bantuannya."

💠💠💠💠💠

Leona merebus tumbuhan yang dipetik saat latihan dengan Jim di dapur paviliunnya. Terlihat berbagai botol berukuran kecil dengan warna beraneka ragam terpampang di atas meja.

Sesekali Leona membaca buku tentang obat peninggalan sang ibu sambil mengaduk ramuan buatannya. Setelah selesai, dia segera meletakan cairan itu pada sebuah botol dan menyimpannya dengan rapi.

Leona segera keluar dari paviliunnya dan tak sengaja berpapasan dengan Emillio yang berjalan bersama dengan Iris sambil bercengkrama. Leona meliriknya sekilas lalu mengabaikan mereka dan segera melanjutkan perjalanannya.

Emillio yang melihat Leona hanya bisa menatap gadis itu dengan tatapan rumit. Setelah kepergian ibunya, dia tidak pernah bertegur sapa dengan adik kandungnya sendiri. Apalagi setelah mengetahui jika sang adik tidak memiliki mana sebagai bangsawan pada umumnya membuatnya merasa malu.

"Kakak, apa kau mendengarkan ku?" Tanya Iris saat tidak mendapat respon dari Emillio.

Emillio tersentak dan menatap Iris dengan datar. "Hn. Aku dengar."

Iris menatap pemuda itu dengan penuh selidik lalu menghembuskan nafasnya kesal.

"Iris, aku ingin istirahat. Kau pergilah." Emillio segera meninggalkan Iris seorang diri. Dia menundukkan kepalanya sedih.

Leona melompat dari pohon ke pohon dengan lincah seperti ninja. Dia mencari lahan yang cocok dan segera melakukan pemanasan. Dia juga melatih bela diri dan mencoba racun buatannya pada seekor kelinci yang dijumpainya.

Ternyata racunnya sangat mematikan. Dalam hitungan menit, kelinci itu mati mengenaskan. Dia juga mencoba ramuannya pada beberapa hewan yang dijumpainya.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah ahli racun. Dia juga bisa menciptakan penawarnya sendiri.

Leona tersenyum puas dan menyembuhkan hewan yang dijadikan objeknya.

"Hmm... Sepertinya aku membuat produk kosmetik. Produk perawatan tubuh mungkin solusi yang terbaik mengingat disini jarang orang yang melakukan perawatan tubuh selain para bangsawan." Pikir Leona.

Setelah berlatih beberapa saat, Leona beristirahat sejenak sambil meregangkan tubuhnya yang lelah.

"Malam ini aku ingin makan sup ikan dan ikan bakar." Gumam Leona sambil melirik sekitar. Matanya menemukan sebuah sungai yang terletak tak jauh dari sana.

Leona memutuskan menangkap ikan dengan sebuah ranting yang cukup kuat dengan ujung yang telah di runcingkan. Dia segera turun ke sungai dan menangkap beberapa ikan yang berukuran cukup besar. Dia mencoba beberapa kali, namun gagal. Bahkan ranting pohon itu patah yang membuatnya kesal.

"Apa boleh buat. Di setrum saja, ah~" Gumam Leona dan mengalirkan chakra ke tangannya hingga menghasilkan listrik. Dia segera keluar dari air dan mencelupkan tangan yang dialiri listrik ke dalam sungai. Seketika banyak ikan mengambang pingsan yang membuatnya bersorak bahagia.

Buru-buru Leona mengumpulkan ikan-ikan yang berukuran besar dan membiarkan ikan-ikan kecil mengambang begitu saja. Toh mereka cuma pingsan, sebentar lagi mereka akan kembali sadar dan berenang.

Setelah selesai mengumpulkan ikan yang ternyata sangat banyak, Leona segera mencari beberapa bahan yang mungkin saja bisa di masak. Dia menyusuri hutan dan menemukan sekumpulan jamur liar yang bisa dimakan. Matanya seketika berbinar bahagia dan memetiknya.

"Wah~ Aku bakalan makan kenyang malam ini~"

💠💠💠💠💠

Leona memasuki dapur dengan menenteng ikan besar yang cukup banyak dan beberapa bungkusan daun yang berisijamur membuat beberapa koki yang berada di sana kaget.

Leona mengabaikan hal itu dan segera mengambil dua baskom besar serta sebuah pisau. Dia segera membedah ikan tangkapannya.

"Nona, biar kami saja." Ucap salah satu pelayan.

"Tidak usah, ini gampang kok." Leona melanjutkan aktivitasnya.

"Tapi Nona... "

"Lebih baik kau bersihkan jamur ini." Sahut Leona sambil meneruskan kegiatannya.

Pelayan itu menurut dan mengikuti instruksi dari Leona. Karena jam makan malam masih lama, jadi dapur kediaman utama masih sepi.

"Nona, apa yang Anda lakukan?" Tanya kepala dapur panik saat melihat Leona memegang pisau.

"Aku membunuh pelayan disini dan memasak dagingnya." Sahut Leona jahil sambil meneruskan kegiatannya yang membuat beberapa pelayan bergidik ngeri dan menjauh dari sana.

"Nona, bercandanya jangan keterlaluan." Tegur Jim kesal. Entah kapan pelayannya itu berada di dapur.

Leona hanya nyengir tanpa dosa lalu memamerkan ikan yang telah dibersihkan perutnya. Sontak mereka semua sweatdrop ria.

"Nona, sebaiknya biarkan kami yang menyelesaikannya." Ucap salah satu pelayan.

"Ah, kalau begitu tolong kalian bantu bersihkan ini. Lalu siapkan tungku dan bumbunya." Perintah Leona. Dia juga memberitahu beberapa bumbu pada pelayan untuk di haluskan.

Para pelayan kini mulai sibuk membantu Leona. Gadis itu segera mencari beberapa bahan untuk membuat sop ikan.

"Kalian kupas ini." Perintah Leona pada beberapa pelayan.

"Nona, tungku sudah siap."

"Nona, jamur dan ikannya telah selesai di bersihkan. Biar kami yang memasak."

"Biar aku saja, Paman."

"Tidak, Nona. Biar kami saja. Kami tidak ingin mendapatkan hukuman dari tuan Duke." Ucap pelayan itu dengan tatapan memohon.

Leona menurut dan memerintahkan kepala koki untuk memasak. Dia memberikan instruksi pada kepala koki. Bau harum bumbu yang ditumis serta aroma ikan yang di goreng menyeruak di dapur. Seketika perut mereka keroncongan, namun ragu-ragu untuk mencicipi nya.

Mereka berkutat di dapur selama satu setengah jam dan akhirnya telah selesai memasak.

Leona mencicipi nya sedikit dan mengangguk puas lalu mengambil bagian untuknya dan Jim.

"Jim, bawa ke paviliun." Ucap Leona.

Jim segera mengambil nampan dan membawa makanan yang di ambil oleh Leona.

"Sisanya untuk kalian saja. Jika masih tersisa, kalian bisa membagikannya pada penjaga." Ucap Leona dan segera pergi dari sana di ekori oleh Jim.

Setelah Leona pergi, mereka segera mencicipi masakan itu dengan ragu-ragu.

"Wah~ Ini surga dunia!" Pekik kepala koki.

"Aku tidak tau jika jamur liar bisa seenak ini~"

"Bahkan ikannya juga."

Mereka segera menyisakan makanan itu untuk keluarga Duke dan membagikan makanan itu pada penjaga dan pelayan yang lain.

Terpopuler

Comments

amelco

amelco

seharusnya Piona bilang gini " sisanya buat kalian tapi ingat jangan sisakan buat keluarga Duke atau kalian akan mati 😈😈😈😈😈😈😈😈
enak aja mau makan masakan liona
,liona nya aja diabaikan 😈😈😈😈😈😈😈

2023-10-26

5

nacho

nacho

😍😘😍😘😍😘😍😘😍😘ok

2023-10-25

0

Hanum Anindya

Hanum Anindya

kok iris menyimpan kotak tentang ibunya Leon sih! wah jangan jangan nggak ada yang beres nih sama Irish.

2023-02-25

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!