Bab 5

"Kak Jim, bagaimana jika kita berlatih?" Usul Leona membuat Jim menunduk hormat.

"Tapi Nona, saya hanya seorang pelayan." Sahut Jim sopan.

"Seorang pelayan tidak harus mengerjakan tugas sebagai pelayan, kau harus bisa setidaknya melindungi dirimu sendiri. Apalagi aku tidak memiliki pengawal. Bisa saja kau kerepotan nantinya." Tutur Leona panjang lebar.

Jim tersentuh. Rupanya Leona begitu memperhatikan keselamatannya.

"Baik, Nona." Sahut Jim dengan tegas. Sudah lama dirinya tidak berlatih semenjak terakhir berada di akademi.

Leona menghampiri Jim lalu memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya tempat ini cocok untuk latihan.

"Pertama-tama, mari kita pemanasan dulu. Kita lomba lari dari sini sampai di atas air terjun itu." Ucap Leona sambil menunjuk ke puncak air terjun itu. Meskipun tidak curam, tetapi medannya sangat sulit dilalui.

Jim meneguk ludahnya dengan terpaksa dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Dia ragu-ragu apakah bisa melewati rintangan itu.

"Kau siap, Jim?" Tanya Leona sambil mengambil ancang-ancang.

"Siap, Nona."

"Mulai!"

Mereka mulai berlari menuju jalan setapak yang terletak di sebelah air terjun. Jalanan yang miring dan di penuhi bebatuan tidak membuat mereka menyurutkan langkahnya.

Leona dan Jim melompati bebatuan dengan lincah. Mereka kini berlari dengan cepat menuju sebuah jalan menanjak yang di penuhi dengan beberapa barang kayu. Leona dengan cepat melompat dan berlari meninggalkan Jim yang tertinggal di belakang.

Jim mulai kelelahan. Dia memaksakan diri mengikuti Leona yang lebih dulu tiba di air terjun tingkat kedua. Sementara Leona berlari sambil mengambil beberapa tanaman yang ditemukan di sekitar air terjun. Sepertinya disini banyak terdapat tumbuhan yang cocok dijadikan obat-obatan dan racun.

Leona kini mulai berlari menuju air terjun yang berada di tingkat atas. Jalanan disini ternyata cukup terjal namun masih bisa dilalui. Terdapat banyak tanaman herbal disini dan Leona memutuskan memetik semua tanaman itu mengingat tempat ini sangat curam dan jarang di lalui.

Jim kini mulai menyusul Leona yang sibuk memetik tanaman. Tubuhnya mulai kelelahan. Saat dia tiba di belakang Leona dan hendak mendahuluinya, kaki pemuda itu terpeleset dan nyaris terjatuh.

Menyadari hal itu, Leona mengeluarkan rantai chakra dan menangkap Jim. Dengan cepat Leona melompat keatas dan tiba di atas air terjun yang ketiga.

"Terimakasih, Nona." Ucap Jim sambil mengatur nafasnya yang tersengal.

"Staminamu bagus, Jim. Kau perlu latihan lagi." Komentar Leona. "Sebagai hukuman, kau harus melakukan push up sebanyak 50 kali dan sit up sebanyak 50 kali. Aku segera kembali."

Setelah nafas pemuda itu normal dan rasa lelahnya berkurang, Jim segera menuruti perintah nonanya. Sementara Leona segera berkeliling mencari beberapa buruan untuk makan siang, mengingat hari ini perutnya sudah mulai lapar.

Leona memasuki hutan itu dan terpukau dengan isinya. Hutan ini masih alami dan terjaga. Sepertinya tidak ada orang yang memasuki hutan ini.

Leona melihat seekor beruang madu yang tergeletak penuh luka. Terdapat sebuah panah tertancap di kakinya. Leona mengamati beruang itu dengan seksama.

Beruang itu memiliki bulu berwarna cokelat yang terlihat lembut, mata beruang itu bewarna merah darah yang membuatnya tampak menggemaskan.

Beruang itu menggeram saat melihat Leona mendekat kearahnya.

"Jangan takut. Aku akan mengobatimu." Ucap Leona datar. Setelah memastikan manusia dihadapan nya tidak membahayakan, beruang itu mulai tenang.

Leona mulai mencabut panah itu dengan hati-hati lalu mengalirkan chakra bewarna hijau. Perlahan luka beruang itu mulai menutup.

Setelah luka di kaki beruang itu sembuh, Leona berkata dengan datar. "Aku sudah mengobati luka di kakimu. Pergilah."

Leona berdiri dan meninggalkan beruang itu. Matanya melihat seekor ayam kalkun sedang mencari makan tak jauh dari tempatnya.

Segera Leona merogoh saku celananya dan mengambil sebuah shuriken lalu melemparkan kearah ayam kalkun itu hingga kepalanya copot dari tempatnya.

Leona segera mengambil ayam kalkun tanpa kepala itu dan beranjak pergi dari sana, khawatir Jim akan kelimpungan mencarinya.

💠💠💠💠💠💠

Jim yang telah selesai melakukan sit up merebahkan diri di atas tanah karena kelelahan. Nafasnya memburu. Setelah beristirahat sejenak, dia menyadari jika hari telah beranjak siang dan sang nona belum kembali. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan nonanya.

'Grasak'

Jim segera waspada saat mendengar suara semak-semak bergerak tak jauh darinya. Meskipun dia hanyalah seorang pelayan, instingnya masih tajam. Tak lama muncul Leona dengan menenteng seekor ayam kalkun dan di belakangnya diikuti oleh seekor beruang kecil.

"Nona, akhirnya Anda kembali." Seru Jim lega. Dia khawatir terjadi sesuatu pada nonanya. "Ngomong-ngomong Anda dari mana saja dan kenapa Anda meninggalkan anak beruang menggemaskan ini?" Tanya Jim bertubi-tubi sambil menatap anak beruang bewarna cokelat yang mengikuti Leona dari belakang dengan berbinar. Leona mengerutkan kening dan menoleh ke belakang.

'Bayi beruang?' Batin Leona saat melihat anak beruang itu menatapnya dengan tatapan memohon.

"Aku serahkan padamu, Jim." Ucap Leona dan segera membersihkan ayam kalkun tangkapannya.

"Biar saya saja, Nona."

"Sebaiknya kau simpan ini dan buat api." Ucap Leona sambil menyerahkan sebuah bungkusan kain yang berisi berbagai jenis tanaman. Segera Jim memasukannya ke dalam ruang dimensi miliknya.

Bayi beruang itu menceburkan diri ke sungai dan menangkap beberapa ikan yang berukuran cukup besar. Setelah selesai membersihkan ayam kalkun, Leona memotongnya menjadi beberapa bagian dan menusuknya dalam sebuah ranting pohon yang telah Jim siapkan tanpa di perintah. Leona mengeluarkan beberapa tanaman herbal dan melumuri daging kalkun itu.

Untungnya Jim selalu siap siaga. Dia mengeluarkan beberapa bumbu dapur dari ruang dimensinya dan menyerahkan pada Leona. Gadis itu menerimanya dan meracik bumbu-bumbu itu lalu melumuri daging kalkun itu.

"Jim, bakar ini."

Jim menerimanya dan membakar potongan daging kalkun itu.

Anak beruang cokelat datang membawa ikan tangkapannya yang berukuran cukup besar dan menyerahkan pada Leona.

"Kau memberikannya untukku?" Tanya Leona. Anak beruang itu mengangguk.

"Aku sudah memiliki daging kalkun. Untukmu saja." Sahut Leona.

Anak beruang menatap Jim yang sedang memanggang daging kalkun dan menatap ikan hasil tangkapannya dengan sedih.

"Baiklah. Berikan padaku." Ucap Leona yang membuat anak beruang itu berbinar seketika.

Leona segera membersihkan ikan-ikan tangkapan anak beruang itu dan membumbuinya.

Anak beruang itu menatap ikan yang kini ditusuk oleh Leona dengan mata berbinar. Segera anak beruang itu menyerahkan pada Jim.

"Oh~ Pintarnya~" Puji Jim saat melihat anak beruang itu membawa dua tusuk ikan mentah dan menyerahkan pada Jim. "Apa kau menyuruhku untuk memanggangnya?" Tanya Jim dan menatap anak beruang itu dengan mata berbinar. Anak beruang itu mengangguk.

Jim segera membakar ikan itu dan diikuti oleh Leona yang membawa tujuh buah ikan yang sudah di bersihkan dan di bumbui.

Sambil menunggu daging dan ikannya matang, Jim memandang Leona dengan tatapan menunduk.

"Maaf, Nona. Bulan ini tuan Duke tidak memberikan uang bulanan Anda." Ucap Jim hati-hati.

"Apa pelayan pribadi yang menerima uang bulanan dari setiap majikannya?" Tanya Leona sambil membalikkan ikan dan daging di hadapan nya.

"Benar, Nona."

"Sudahlah. Sepertinya aku akan segera keluar dari kediaman Castallio." Sahut Leona tanpa beban.

"Tapi Nona, Anda adalah putri sah dari Duke Castallio. Anda harus mempertahankan posisi Anda." Ucap Jim tak terima.

"Meskipun aku putri sah dari Duke sekalipun, mereka tidak pernah menganggapku ada. Mereka selalu mengutamakan anak pungut mereka yang cengeng. Lagipula, menjadi bangsawan itu merepotkan. Segala tindak tanduk diperhatikan oleh rakyat dan menjadi pembicaraan. Jika memiliki anak perempuan, mereka akan menjualnya demi kekuasaan dan kedudukan. Kau tau, Jim. Lebih baik aku hidup sebatang kara daripada memiliki keluarga namun tidak pernah dianggap ada." Ucap Leona yang membuat Jim terdiam. Dia tidak tau jika nonanya ini menjalani hidup yang sangat berat.

"Aku mengerti, Nona. Maafkan saya."

Daging dan ikan telah matang. Leona segera mengangkatnya dan memberikan pada Jim dan anak beruang itu dan untuk dirinya sendiri. Bau harum semerbak membuat air liur mereka nyaris menetes.

"Jim, makanlah. Disini kau tidak berada di kediaman Castallio. Kasta tidak di perlukan disini." Ucap Leona memaksa.

Jim menerimanya dengan senang hati. Nonanya ini sangat baik dan perhatian. Dia bersyukur menjadi pelayan pribadi Leona dan berjanji akan menjaga gadis itu meskipun mengorbankan nyawanya.

Mereka menyantap makanan sambil menikmati sore yang indah. Pemandangan hutan dengan langit senja bewarna merah membuat mereka betah berlama-lama berada di sana.

Terpopuler

Comments

Erna Masliana

Erna Masliana

kalo bisa mandiri dan punya kemampuan kenapa tidak.. dari ngemis perhatian mana difitnah mulu.. lelah hati ini

2025-03-13

0

Rafinsa

Rafinsa

tetap semangat Leona..

2024-03-14

2

devaloka

devaloka

aduh aku sedih 🥲

2023-10-27

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!