Elang sebenarnya masih penasaran dengan cerita Rayan tadi, tantang rencana Bella membuka resto. Setau Elang, Bella berbakat dalam desain tapi tidak tau sama sekali tentang memasak atau sejenisnya. Elang juga bingung untuk apa Bella membuka resto sedangkan penghasilannya berlimpah mulai dari perusahaan orang tuanya, butiknya dan masih bekerja di perusahaan lain. Namun Elang tidak punya kesempatan menanyai Rayan lebih dalam lagi karena sahabatnya itu buru-buru pergi setelah makan siang.
Tok.. Tok..
"Pak Elang, sudah waktunya pulang!!" Marisa memunculkan kepalanya di anatar pintu yang terbuka sedikit.
"Iya Ca, ayo pulang!!" Elang membuang semua pikirannya lalu berjalan meninggalkan ruangannya.
Sampai saat ini Elang dan Marisa selalu berangkat dan pulang kantor bersama-sama. Tentu saja hal itu mengundang pembicaraan di antara banyak orang di belakang mereka. Banyak yang bilang mereka masih sangat cocok bersama ada juga yang bilang kalau Marisa tidak tau malu karena masih bersama mantan kekasihnya saat sang mantan sudah beristri. Banyak juga yang mempertanyakan sosok istri Elang yang berhasil membatalkan pernikahannya dengan Marisa.
"Elang, sebaiknya mulai besok kita ngga usah berangkat bareng lagi deh" Ucap Marisa saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kenapa lagi Ca, bukannya kita udah sepakat? Nggak usah dengerin kata orang!!" Kesal Elang.
"Kamu bisa ngomong kaya gitu karena kamu bukan aku Lang. Walaupun mereka ngga ngomong di depan aku tapi aku tau arti tatapan mereka itu apa. Aku ini perempuan yang punya perasaan. Meski aku udah berusaha cuek dan tidak peduli, lama-lama aku juga nggak tahan!!" Marisa hampir menangis saat mengatakan kalimat itu dalam satu tarikan napas.
"Oke jadi apa mau kamu sekarang??"
"Aku mau berangkat dan pulang sendiri, aku bisa kok naik angkutan umum!!" Ucap Marisa tegas.
"Apa?? Naik angkutan umum?" Elang tak percaya dengan perkataan Marisa. Pasalnya Elang tau betul Marisa tidak bisa yang namanya naik angkot. Karena dia pasti mual dan pusing.
"Iya, uang aku belum cukup untuk mencicil mobil" Marisa menundukkan kepalanya.
"Ca, maaf aku nggak bisa bantu kamu karena semua uang aku di bawa Bella" Elang memang masih punya satu kartu di dompetnya, namun kartu debit itu jumlah saldonya terbatas dan itu untuk hidup Elang satu bulan ini.
"Nggak papa Lang, aku juga ngga minta kamu beliin mobil kok" Marisa mengusap tangan Elang.
"Atau kamu mau pakai mobil yang ada di rumahku dulu?" Tawar Elang masih tidak Tega jika Marisa naik angkot.
"Aku nggak mau!! Apa kata Bunda nanti? Bunda juga akan marah kalau melihat kita masih sedekat ini!!" Marisa membuang mukanya ke samping. Mau tidak mau Elang menuruti keinginan Marisa.
Elang melajukan mobilnya setelah perdebatannya dengan Marisa. Mereka berdua saling diam di dalam mobil, berkutat dengan pikirannya masing-masing.
Elang melewati jalan yang agak Sepi, sementara hari mulai gelap. Dari jauh Elang melihat sebuah mobil yang sangat ia kenal berhenti di pinggir jalan. Elang memelankan mobilnya untuk memastikan. Seorang yang Elang kenal berdiri berkacak pinggang di depan kap mobil yang terbuka.
"Kenapa Lang?" Marisa bingung karena Elang tiba-tiba menepi lalu menghentikan laju mobilnya.
"Sebentar tunggu di sini dulu!!" Elang keluar dari mobilnya.
Marisa mencari jawaban dengan terus memperhatikan langkah Elang. Elang menghampiri seorang wanita di belakang mobilnya. Setelah tau jawabannya itu Marisa tampak sangat kecewa.
"Kenapa lagi!!" Suara bariton Elang mengejutkan Bella yang sedang mengotak atik ponselnya mencari bantuan.
"Udah lihat pakai nanya!!" Bella bergumam tapi terdengar jelas si telinga Elang.
"Lagian mobil tua begini masih di pakai. Banyak uang kenapa nggak beli, hasil merampas juga banyak kan?" Sudahlah tidak udah mengharapkan mereka akan saling menolong dengan ikhlas. Buktinya Elang masih saja mencemooh Bella di saat seperti ini.
"Nggak mau beli sama nggak mampu beli itu beda!!" Ketus Bella.
"Serah deh, ayo pulang!! Nanti Bunda bingung cari anak kesayangannya nggak pulang-pulang!!"
"Aku bisa pulang sendiri!! Pulang aja sana sama wanita tercintamu itu!!" Bella melirik mobil Elang.
Elang tidak menanggapi Bella, pria itu malah membuka pintu mobil, mengambil tas dan laptop milik Bella lalu mengunci mobilnya.
"Apasih!!" Bella memberontak saat Elang menarik tangannya.
"Diam ngga usah banyak omong. Sekarang sudah gelap, kau mau di p*rkos* preman-preman di sini??" Bella bergidik membayangkan itu.
Elang membuka pintu belakang untuk Bella karena Marisa sudah duduk di depan.
"Nggak mau, aku maunya di depan!!" Bella melipat tangannya di dada.
"Kau buta?? Di depan ada Marisa!!" Bentak Elang.
"Aku tidak peduli!! Dia turun dan pindah atau aku pulang sendiri??" Ucap Bella dengan keras bermaksud agar Bella mendengarnya.
"Kau__"
"Sudahlah Elang, biar aku yang pindah ke belakang" Marisa turun dari mobil.
"Silahkan Bella!!" Ucap Marisa dnegan lembut.
"Bagus kalau tau diri" Elang menahan emosinya melihat sikap angkuh Bella di depan matanya. Tak mau berdebat lagi Elang mengendarai mobilnya di temani dua wanita cantik didalamnya. Istrinya dak kekasihnya.
BRAAKK
Bella membanting pintu mobil milik Elang .
"Wanita s*alan!!" Elang mengumpat Bella namun Bella sudah lebih dulu pergi menuju rumahnya.
"Ica!! Maaf atas sikap Bella tadi ya Ca?"
"Tidak papa Lang, sudah biasa.Aku masuk dulu ya? Terimakasih tumpangannya" Marisa tersenyum sangat manis kepada Elang sebelum melangkah menuju rumahnya.
-
Bella menyeret koper kecil berisi baju dan barang-barang yang menurutnya penting. Bella lelah ketika harus bolak-balik ke rumah Elang dan harus mengganti baju di rumah sendiri. Maka dari itu Bella ingin mengisi bajunya di rumah Elang walau hanya beberapa potong.
Bella masuk ke kamar Elang yang memancarkan harum khas lelaki itu. Netra Bella langsung bisa menangkap Elang yang sedang duduk berstandar di ranjang. Mereka berdua sama-sama tak peduli, sibuk dengan dirinya masing-masing.
Bella yang telah selesai membereskan barangnya segera merebahkan dirinya di ranjang untuk pergi ke alam mimpi. Bella melirik ke arah Elang yang masih duduk diam di sampingnya. Biasanya jika Bella sudah merebahkan dirinya di ranjang, Elang akan langsung menyingkir dari sebelahnya.
"Apa kau tidak merasakan gejala kehamilan?" Pertanyaan Elang tentu sanja membuat mata Bella terbuka kembali setelah hampir terpejam.
"Kenapa? Kau ingin segera menceraikan ku jika aku tidak hamil?" Bella hanya melirik Elang sekilas.
"S*al dia selalu bisa membaca pikiranku" Batin Elang.
"Bagus kalau kau tau!!" Ucap Elang fokus kepada ponselnya.
"Tenang saja, kalau tujuanku sudah tercapai, aku akan menghilang dari hidup mu tanpa kau suruh!!" Bella merubah posisinya setelah mengatakan kalimatnya itu.
"Kau mau menjadikan ku tumbal mu lagi untuk memenuhi ambisi mu?" Elang mengeraskan rahangnya, tak habis pikir dengan perempuan yang sedang membelakanginya itu. Kenapa dia berbuat semaunya kepada Elang.
"Bisa di bilang begitu" Jawab Bella dengan acuh.
"Lalu apa tujuanmu? Aku akan membantumu, biar aku capat terlepas dari makhluk mengerikan sepertimu!!"
"Kau tidak perlu tau!!"
"Lakukan semaumu aku sudah tidak peduli lagi!!" Elang pergi meninggalkan Bella, lalu membanting pintu kamar sebagai luapan kemarahannya.
-
-
-
-
-
Jangan lupa beri like dan komen yang membangun di karya naru ku ini ya readers.
Happy reading😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Taryumi 2003
setaunya setaunya . sok tau ..siapa bela ga tau masakan, org yg masak nasi uduk td aja si bela .. mangkanya rasanya beda..
2024-12-13
0
iffah_AZ19May
suka dengan cewek g melow kayak bella 😊
2025-02-11
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒔𝒕𝒍𝒉 𝑩𝒆𝒍𝒍𝒂 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝑬𝒍𝒂𝒏𝒈 𝒏𝒚𝒆𝒔𝒆𝒍
2024-09-23
0