Episode 2 - Tanpa Tahu Apapun

Ada daerah di mana terdapat bangunan yang terbuat dari batu berjajar di jalanan, dan ada juga daerah yang penuh dengan bangunan kayu. Mereka sekarang sedang berada pada jalanan berbatu yang penuh dengan begitu banyak persimpangan, sehingga sulit untuk melihat ke mana arah tujuan mereka. Air berlumpur mengalir pada saluran

air sempit di kedua sisi jalan yang luas, tapi tidak dalam jumlah besar. Bau busuk yang mungkin adalah limbah manusia tercium oleh hidung mereka, tapi setelah beberapa saat berjalan, hal tidak menyenangkan itu sudah tidak terasa lagi.

Ruemedan Ahmad memimpin kelompok yang terdiri dari 12 orang menuju ke kota yang telah terlihat dari atas bukit. Menurut dia, kota ini disebut Atalante. Kelompok ini melewati sejumlah manusia yang sepertinya adalah warga kota ini. Meskipun waktunya masih dini hari, kesibukan sudah terlihat di beberapa tempat pada kota ini. Penduduk kota menatap pendatang baru seolah-olah mereka adalah hewan yang eksotis. Tapi keduabelas orang ini juga melakukan hal yang sama karena para warga berpakaian cukup aneh.

Pakaian mereka jauh lebih sederhana, tanpa hiasan, dan agak lusuh dibandingkan dengan pakaian mereka sendiri.

"Tempat apa ini..." si pria tak pernah susah memulai percakapan.”Maksudku, apakah tempat ini seperti suatu negara yang asing?”

"Ahh ..." pria berambut berantakan memiringkan kepalanya ke satu sisi seolah-olah dia tahu jawabannya.”Suatu negara asing. Negara? Tunggu dulu, berasal dari negara manakah aku? Aneh, aku tidak ingat apapun. Aku juga tidak ingat alamat rumahku ... Kenapa?”

"Kau masih belum menyadarinya?" kata pria berambut perak dengan nada rendah.”Aku juga tak ingat apapun kecuali namaku."

Pria itu terganggu oleh cara bicara si pria berambut perak.”Tak ingat apapun”, konotasi kalimat itu berbeda jika dibandingkan dengan: “aku sudah lupa”. Mungkin hal yang sama juga terjadi pada pria berambut perak, yaitu ketika dia mencoba mengingat memori tertentu, itu hilang begitu saja tepat ketika dia hampir mengingatnya kembali.

"Nama?" pria berambut berantakan memukul dadanya.”Namaku Marco ... Tapi eee, aku tidak ingat apa-apa lagi. Memoriku hilang? Serius nih?”

"Kalau begitu..." pria itu pun merasa bahwa dirinya sedang memainkan peran sebagai si  bodoh. Dia melakukannya tanpa sengaja, dan ia sedikit menyesalinya, tapi ia tidak bisa berhenti sekarang.”Kedengarannya seperti Kau mengalami amnesia atau sejenisnya"

"Hei." Marco mendesah.”Jika kau hendak memerankan si bodoh, maka lakukan dengan lebih... yahh, kau tahu lah. Katakanlah dengan lebih percaya diri. Jika kau mengucapkannya dengan ragu-ragu, maka lawakannya tidak akan lucu dan tak seorangpun mau tertawa. Ah, sudahlah, biarkan saja... Lantas, siapakah namamu?”

"Kau…’membiarkannya saja’?", dia memerankan si bodoh…, tidak…, lebih tepatnya, dia memang benar-benar bodoh. Namun siapakah namanya? ”Namaku ... sepertinya namaku Haruhiro."

Si pria berambut berantakan, Marco, semakin bertingkah lebay.”Sepertinya? Jangan bilang kau bahkan tidak tahu namamu sendiri! Kita semua di sini mengalami hal yang sama, kan? Kita semua di sini tak ingat apapun kecuali nama kita, kan?”

Pria ini… pria ini sungguh menyebalkan…. begitulah pikir Haruhiro, sembari dia menatap pria berambut perak yang terus berjalan di belakang Ruemedan Ahmad. Siapakah nama pria berambut perak itu? Dia ingin tahu, tapi dia terlalu takut untuk bertanya padanya. Sebenarnya Haruhiro tidak ingin menghindari si pria berambut perak,

namun masihlah sulit untuk menanyakan hal itu. Akhirnya, dia pun mengalihkan rasa penasarannya pada si pria berambut lurus di sampingnya.”Kau, namamu siapa?”

Pria berambut lurus memberikan senyum pada Haruhiro. Dia tampak seperti seseorang yang sangat penyabar.”Namaku Udin. Aku senang bahwa kita semua seusia; karena aku akan canggung jika berkomunikasi dengan bapak-bapak ataupun ibu-ibu.”

"Oh. Ya, tentu. Aku pun pasti canggung jika memanggilmu Pak Udin”

"Ya, tentu saja."

Udin hanya tersenyum dan Haruhiro menanggapinya tanpa berpikir panjang. Jika dilihat dari luarnya, Udin

tampak seperti orang baik dan dapat dipercaya. Sementara itu, nama si pria menyebalkan itu adalah Marco. Sama halnya dengan pria berambut perak, Haruhiro pun cukup ragu mengajukan pertanyaan pada pria berambut cepak yang tampaknya kurang bersahabat. Haruhiro berkesan bahwa gadis berpenampilan mencolok berasal

dari dunia yang sama sekali berbeda dengannya. Si pria berkacamata sepertinya cukup mudah untuk didekati, namun entah kenapa, dia juga sungkan menanyakan sesuatu padanya.

Bagaimana dengan si gadis berkepang, gadis mungil yang pemalu, dan gadis super kecil? Si gadis mungil

yang pemalu berada paling dekat dengannya, dan Haruhiro ingin memulai suatu percakapan dengan gadis itu. Untuk permulaan, mungkin ia harus bertanya namanya. Tapi ketika Haruhiro membuka mulut untuk bertanya, ia mulai sedikit gugup.

Dia berkata dengan pelan, "Permisi."

"I…Iya ...?"

"Anu…..uhhh…ahhh….sebenarnya ini tidak penting…. Dan aku tidak bermaksud mencari tahu…"

"Namaku Gori !" pria tak pernah susah menyela dengan nada keras, sembari berpose aneh.”Lupakan pria ini, mari kita memulai dengan para gadis! Bagaimana kalau kita saling mengenal satu sama lain?”

Si gadis berkepang memiringkan kepalanya ke samping.”Nggak ah."

"Awww ..." Gori yang tak pernah susah, diacuhkan secara tragis.

Haruhiro pikir itu semacam gangguan, namun berkat itu dia jadi sedikit lebih tenang.”Erm, siapa namamu?”  tanyanya pada gadis mungil yang pemalu, dan Haruhiro berusaha sekeras mungkin untuk memberikan pertanyaan sangat singkat sekaligus mengena.”Maksudku, sepertinya akan lebih mudah untuk bercakap-cakap jika kita saling memanggil nama kita masing-masing. Yah, daripada tidak tahu.”

"Umm ..." gadis mungil yang pemalu menundukkan pandangannya dan menyembunyikan matanya di balik

poni, seolah-olah dia sedang berusaha keras untuk menghindari kontak mata secara langsung.

Tubuhnya biasa-biasa saja, namun ada sesuatu di wajahnya yang membuat dia tampak begitu manis. Ada pasti ada yang disembunyikan olehnya.

"Maaf... Namaku Alice.”

"Kau tidak perlu minta maaf."

"Maaf, itu kebiasaan buruk. Maaf, aku akan lebih berhati-hati.”

Alice gemetar bagaikan bayi rusa yang baru lahir. Apakah dia sungguh akan baik-baik saja? Haruhiro cukup khawatir setelah melihat tingkah si gadis kecil dan dia merasakan semacam keinginan untuk melindungi gadis itu.

"Kau cukup tinggi," Haruhiro berkata pada pria besar namun tampaknya cukup santun.”Berapa tinggimu?"

Raksasa itu berkedip, ekspresinya agak kosong.”Tinggi? 165 cm."

"Seratus enam puluh lima!?" Marco menyela.”Maksudmu, aku cukup pendek jika dibandingkan dengan tinggimu?!”

"Tidak, itu tidak benar ..." kata si raksasa.”Mungkin saja tinggiku 182 cm. Oh. Sepertinya namaku adalah Barto."

"Sumbangkan tinggimu 10 cm padaku, Barto!" Marco meminta hal yang mustahil sembali mencoleknya.”Jika aku mendapatkan 10 cm, maka tinggiku akan menjadi 170-an, dan kau juga 170-an, sehingga mungkin aku bisa lebih tinggi darimu! Mengagumkan, bukan?”

"Aku akan melakukannya andaikan aku bisa..."

Haruhiro hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena kurang interaktif sehingga Marco menyela dan

mengambil alih percakapannya dengan Barto.”Tinggimu tidak lebih dari 165 cm, mungkin kau hanya 162 cm."

"Diam! Dan apakah itu buruk bagimu? Dilihat dari penampilanmu, kau tidak berbeda dariku!”

"Kalau tinggiku sih pasti kurang dari 165 cm.”

"Kau seperti keledai! Seekor keledai yang mendiskriminasikan orang lain hanya karena kalah tinggi beberapa sentimeter!”

"Kau memang bocah tengik."

"Apakah kau baru saja mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu. Apa yang baru saja kau katakan?"

"Tidak ada. Aku tidak mengatakan apa-apa.”

"Pembohong! Kau baru saja memanggilku dengan sebutan bocah tengik, ya ‘kan! Kau tidak bisa menipu telinga yang peka ini! Aku mendengar apa yang kamu katakan! Dan sepertinya kau tadi juga mengatakan: ‘kembalilah ke neraka wahai setan berambut berantakan, iya kan!!??"

"Aku sungguh tidak mengatakan hal seperti itu."

"Dan kau memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Tak seorang pun boleh memanggilku dengan sebutan itu! Itu adalah kata-kata yang dilarang!”

 "Aku bilang, aku tidak pernah mengatakan itu. Jangan menuduh orang lain mengatakan yang tidak dia sebutkan.”

"Aku mendengarmu! Telinga setan ini sudah mendengar terlalu banyak! Aku mendengarkan begitu banyak sampai-sampai aku menjadi tuli! Terserah. Untuk saat ini, ingat ini baik-baik! Aku tidak pernah memaafkan siapa pun yang memanggilku dengan sebutan rambut berantakan! Siapapun yang melakukannya akan mendapat hukuman mati.

Hukuman mati!"

"Hei rambut berantakan," kata pria berambut perak, sembari berbalik.”Kau sedang membuat kegaduhan. Diamlah.”

"Ya, om." Marco si rambut berantakan tampak patuh kali ini.”Aku minta maaf. Aku sekarang akan berhenti berbicara."

"Barusan kau bilang bahwa kau tidak akan memaafkan siapapun yang menyebutmu rambut berantakan," kata Haruhiro sambil mengangkat bahu.

"Idiot," kata Marco dengan berbisik.”Aku adalah tipe orang yang memilih waktu dan kondisi. Aku pernah dijuluki Master Pemilih. Aku akan menjadi Raja Keputusan!”

"Ya baiklah. Jadilah apa pun yang kau inginkan, wahai Raja Putus."

"Bukan Raja Putus, tapi Raja Keputusan! Ketika aku jadi raja kelak, aku akan memperlihatkan semuanya kepadamu…"

"Hei, rambut berantakan." Pria berambut perak berhenti dan berbalik untuk melihat Marco sekali lagi.”Diam."

Marco segera berlutut dan membungkuk.”Aku mohon pengampunan darimu!"

"Daripada jadi Raja Keputusan," kata Haruhiro, sambil menatap ke arah Marco di bawah, "kenapa kau tidak menjadi Raja Sujud saja?"

"Raja Sujud?! Tidak mungkin! Tidak peduli seberapa lama aku bersujud, aku masihlah terlihat sangat keren!”

"Hei rambut berantakan." Nada pria berambut perak sekarang bahkan semakin mengerikan.”Ini sudah ketiga kalinya aku memperingatkan dirimu."

Marco berlutut lagi, membungkuk dengan begitu rendah, sampai-sampai dahinya menyentuh jalan berbatu.”Aku sungguh minta maaf padamu! Mohon maafkan aku.”

Orang ini sudah syah menjadi Raja Sujud, pikir Haruhiro, tapi dia tak pernah mengutarakannya. Jika Haruhiro mengatakan itu, maka Marco akan terus mengoceh tanpa akhir. Mereka berjalan dengan diam sampai Ruemedan Ahmad membawa mereka berhenti di depan suatu bangunan batu setinggi dua lantai.

Benda yang berada diatas bangunan itu adalah bendera bergambar bulan sabit merah pada latar putih, dan simbol yang sama muncul di papan nama.”PAS---CAD---BATAS---AT ” ditulis disana, tapi ada sesuatu yang tidak benar terlihat. Setelah dilihat lebih dekat, ia tahu bahwa bagian dari kata-kata tersebut sudah memudar, dan beberapa huruf telah jatuh.

"Tada!" Ruemedan Ahmad menunjuk ke tanda tersebut.”Akhirnya kita tiba! Ini adalah tempat yang terkenal! Pasukan Cadangan Perbatasan Atalante, Markas Red MooN."

"Red MooN," Haruhiro menarik napas, dan melihat tanda itu sekali lagi. Memang benar jika huruf yang hilang ditambahkan kembali, itu akan terbaca: Pasukan Cadangan Perbatasan Atalante, Markas Red MooN.

"Ayo masuk!" Sembari didorong oleh Ruemedan Ahmad, mereka memasuki bangunan itu, dan akhirnya mereka tahu bahwa bagian dalamnya terlihat seperti bar. Ruangannya luas, dilengkapi dengan meja dan kursi, dan ada juga meja counter di belakang. Di belakang meja berdiri seorang pria dengan tangan bersedekap. Tidak ada orang

lain yang hadir di sana.

"Di sinilah aku akan meninggalkan kalian!" Ruemedan Ahmad membungkuk pada pria di belakang meja.”Bro-bro, apakah kau akan berbaik hati dengan menjelaskan segala rincian tugas yang bakal dibebankan pada mereka?”

"Oke," pria yang disebut Bro itu menjawab, dan melambaikan tangan pada Ruemedan Ahmed. Dia merebahkan tubuhnya dengan gerayan lebay.

"Kalau begitu, aku pamit dulu, sampai jumpa!"

Ketegangan di ruangan tersebut tampak meningkat setelah pintu terayun dan ditutup oleh Ruemedan Ahmad.

Mungkin ini terjadi karena cara Bro memandangi mereka, seolah-olah dia sedang melakukan inspeksi. Tidak… itu tidak benar… mungkin alasan utama ketegangan ini adalah karena kehadiran Bro itu sendiri. Dia sangat aneh. Sangat aneh.

Bro mencondongkan tubuh ke depan, menempatkan siku di meja, dan menyandarkan dagunya di atas jari-jemari yang dilipat. Haruhiro melihat bahwa pria itu memiliki dagu terbelah. Rambutnya berwarna merah. Bibirnya berwarna hitam, tapi mungkin itu hanyalah lipstick. Dia memiliki alis lebat dan panjang yang melingkari mata

berwarna biru ... Mata berwarna biru langit itu membuat penampilannya semakin menakutkan. Wajahnya ditutupi dengan make-up yang tebal, dan tulang pipinya terlihat jelas karena dia mempertebalnya dengan blush warna merah terang.

Tapi, tidak peduli seberapa serius Haruhiro menatapnya, ia masih terlihat seperti manusia biasa.

"Hmm ... sangat bagus," kata Bro, sembari mengangguk. Dia meluruskan tubuh dan melanjutkan ucapannya, "Selamat datang, wahai anak-anak kucing muda. Namaku Bro Lan Victor. aku adalah seorang komandan, atau jika kalian mau, kalian bisa menyebutku 'bos'. Aku berasal dari Pasukan Cadangan Perbatasan Atalante, Red MooN. Kau boleh juga memanggilku 'komandan' atau 'Bro'. Semuanya terserah kalian, tapi pastikan kalian memanggilku dengan penuh kasih sayang seperti anak yang memanggil ibunya sendiri, paham?"

"Komandan." Pria berambut perak melangkah ke depan meja, dan dia memiringkan kepalanya ke satu sisi.”Jawab aku. Aku mengerti bahwa tempat ini disebut Atalante. Tapi, apakah yang disebut Pasukan Perbatasan itu? Apakah Pasukan Cadangan itu? Kenapa aku disini? Kau pasti tahu sesuatu, ‘kan?”

"Kau memang punya keberanian!" Bro berkomentar dengan gembira dan tertawa.”Aku suka anak-anak sepertimu. Siapa namamu?"

"Hector. Aku tidak suka orang bencong seperti dirimu."

"Apakah begitu?"

Apa yang terjadi selanjutnya, Haruhiro tidak cukup mengerti. Gerakan Bro tidak hanya cepat, tapi juga halus bagaikan mentega.

"Hector. Biarkan aku memberikan beberapa alasan padamu," Bro berkata sambil menyipitkan matanya. Tetapi pada saat Haruhiro menyadari apa yang terjadi, Bro sudah menodongkan ujung pisau tepat di bawah dagu Hector.”Tak seorang pun yang memanggilku bencong bisa hidup lama setelah keluar dari sini. Kau tampak seperti anak yang pintar, jadi kau pasti memahami apa yang aku katakan, ‘kan? Masih ingin mengejek diriku?”

 "Sungguh?" Jawab Hector. Haruhiro tersentak saat Hector meraih pisau dengan tangan kosong. Dia mencengkeramnya dengan cukup keras sembari mengepalkan genggamannya, kemudian darah mengalir deras dari sela-sela jarinya.”Aku tidak pernah memiliki niat untuk hidup lebih lama, dan sifatku membuatku tidak pernah mundur ketika menghadapi ancaman. Jika kau berniat untuk membunuhku, maka bunuh saja aku sekarang juga, wahai Komandan Bencong."

"Akhirnya ..." Bro menjilat bibirnya sendiri yang berwarna hitam dan membelai pipi Hector.”Aku akan melakukannya lagi dan lagi dengan sangat sempurna, sampai-sampai kau tidak akan melupakannya.”

"Kau tahu," Marco berbisik pada Haruhiro, "ketika ia mengatakan 'melakukan', maksudnya mungkin adalah melakukan hal-hal yang tidak biasa. Ya, pasti begitu."

"Ngelakuin apa sih?" Tanya si gadis berambut kepang pada Marco dengan ekspresi bingung.

"Err, yahhh, maksudku ... Dia akan meletakkan ‘itu’ pada tempat yang tidak semestinya. Kau tahu kan, ‘itu’ adalah tempat dimana biasanaya ‘itu’ muncul. Kamu tahu apa maksudku? Iya kan, Haruhiro?”

"Jangan memulai. Jika kau memulai percakapan ini, maka kau harus tanggung resikonya nanti."

"Dingin sekali. Apakah kau anti-sosial atau sejenisnya? Keterampilan orang-orang sepertimu ada di bawah titik nol.”

"Hey, hey." Gori yang tak pernah susah menyela perselisihan antara Hector dan Bro.”Bukankah kalian berdua baru saja bertemu? Lantas, apa gunanya saling berselisih? Mari kita saling memaafkan dan melupakan masalah ini! Mati kita bergembira dan berteman satu sama lain, oke? Oke? Demi aku!”

"Untuk kepentinganmu?" Hector mencemooh dan memelototinya. Namun demikian, ia akhirnya melepaskan pisau itu.

Bro juga menarik pisaunya, dan dia menyeka pisau berlumuran darah dengan kain.”Tampaknya selalu ada orang semberono dalam suatu kelompok. Delapan pria, empat wanita. Jumlah wanitanya cukup sedikit, tapi sepertinya itu tidak masalah. Pria cenderung lebih baik dalam pertempuran jika dibandingkan dengan wanita."

Alis Udin menyipit.”Pertempuran?"

"Oh, kau mendengarku?" Bro terkekeh-kekeh dengan pelan. Kemudian, Haruhiro mengulanginya dengan suara yang sedikit serak.”Bertarung."

"Tempat ini adalah markas pasukan cadangan, sehingga ..." Udin melirik ke bawah.”Itu artinya kami adalah pasukan relawan?"

"Tepat sekali!" Bro bertepuk tangan dengan perlahan.”Kau juga tampak menjanjikan. Tepat sekali. Kalian semua bisa menjadi pasukan relawan. Meskipun begitu, kalian benar-benar memiliki pilihan untuk menolak.”

"Wahai ahli membuat pilihan….," kata Haruhiro sembari menepuk punggung Marco.”Sepertinya bakatmu dibutuhkan di sini."

"Oh? Ah! Betul! Betul! Aku ... dibutuhkan?”

"Kau semua bisa memilih," kata Bro sembari menjentikkan jari telunjuknya dengan ringan pada mereka.”Mengambil tawaranku atau meninggalkannya begitu saja. Dan tawaranku adalah: daftarkan diri kalian sebagai Pasukan Cadangan Perbatasan Atalante, Red MooN. Nah, kalian akan memulai sebagai peserta latihan, itu berarti kalian

akan belajar bagaimana cara menjadi prajurit secara mandiri.”

"Apa…" tanya gadis berpenampilan mencolok, ekspresinya terlihat ketakutan, "kami harus mengerjakan pekerjaan sebagai pasukan cadangan?”

"Tentu saja kalian harus bertarung." Bro menjentikkan tangan dengan jengkel, seakan-akan dia enggan memberi penjelasan.”Di sini, di daerah perbatasan, kita sebagai manusia berselisih dengan ras-ras lainnya. Dan ras-ras tersebut adalah makhluk yang bisa kalian sebut monster. Pekerjaan pasukan perbatasan adalah membunuh

monster-monster itu dan melindungi perbatasan kita. Tapi jujur, itu bukanlah pekerjaan mudah. Kalian akan disibukkan dengan pekerjaan melindungi daerah Atalante sebagai markas terdepan. Di situlah kita, sebagai pasukan cadangan, dibutuhkan."

"Dengan kata lain," pria berkacamata mendorong kacamatanya sampai menempel pada hidungnya, "selagi pasukan perbatasan melindungi kota ini, pasukan cadangan keluar untuk mengurangi jumlah monster-monster itu. Apakah aku benar?

"Sebenarnya..." kata Bro sembari membuka tangannya lebar-lebar bagaikan bunga mekar. Dia melakukan itu agar terlihat manis, namun pada kenyataannya, pemandangan itu terlihat agak mengganggu.”Sebenarnya, kita adalah bagian dari pasukan perbatasan reguler. Kita melindungi daerah perbatasan bukan hanya dengan bertarung. Kalian juga akan ditugaskan ke luar perbatasan untuk memukul mundur lawan-lawan yang hendak memasuki kota. Namun, operasi skala kecil seperti itu tidak membutuhkan pasukan reguler dalam jumlah besar. Bergerak bersama pasukan besar memerlukan: perencanaan, persiapan logistik, jalur pasokan, dan berbagai hal merepotkan lainnya. Itulah yang berbeda pada kita.”

Gori mengangguk dengan antusias dan lebay ketika mendengarkan setiap keterangan dari Bro.”Apa maksudnya ‘kita berbeda’?"

"Pasukan cadangan." Bro melipat tangannya dan memutar-mutarkan jarinya.”Kita adalah pasukan yang mudah beradaptasi dan mudah dimobilisasikan. Kita akan memandu arah, menyusup, dan ber-gerilya. Kita bertugas melemahkan kemampuan musuh untuk melawan. Bahkan jika kita bekerja sama dengan pasukan reguler, kita tidak akan menjalankan taktik yang sama seperti mereka. Kita terorganisir dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri sekitar 3 sampai 6 orang, dan masing-masing kelompok menggunakan akal mereka sendiri, kemampuan untuk

mengumpulkan informasi, dan perhitungan ketika membasmi musuh. Seperti itulah tugas kita sebagai pasukan cadangan Red MooN, dan seperti itulah cara kita beroperasi.”

"Dan ..." Hector menekuk jari-jari pada tangan kanannya. Pendarahan pada jari-jemarinya tampaknya telah berhenti.”Bagaimana jika kami menolak tawaranmu untuk bertarung?"

Bro memiringkan kepalanya ke satu sisi, kemudian mendorong pinggulnya ke belakang. Tidak jelas apakah ia

mencoba untuk melawak atau memberikan ancaman dengan pose yang lucu. Apa pun itu, tingkahnya benar-benar menakutkan.

"Seperti yang sudah aku katakana sebelumnya, kalian selalu bisa memilih nasib kalian masing-masing. Jika kau memilih untuk tidak untuk menjadi anggota pasukan cadangan, kau dapat meninggalkan tempat ini sekarang juga, dan jangan pernah kembali lagi."

"Kalau begitu, sepertinya aku memilih untuk pergi," kata Marco. Dia mengusap-usap rambutnya yang berantakan.”Aku masih tidak tahu persis apa yang sedang terjadi, tapi aku adalah orang yang pasif.”

"Aku paham," kata Bro.”Kalau begitu, selamat tinggal…. Hati-hati di jalan."

"Itu saja!?" Marco, yang telah berjalan ke pintu, tiba-tiba berhenti dan berbalik dengan memutar tumitnya.”Kau sedingin Haruhiro! Tapi tunggu sebentar, jika aku pergi sekarang, apa yang harus aku lakukan?”

"Aku tidak lagi mempunyai tanggung jawab padamu," Bro tertawa.”Jika kau tidak ingin menjadi anggota Red MooN, maka kau bebas untuk pergi. Jika kamu memutuskan untuk mendaftar sebagai anggota pelatihan, kau akan menerima sepuluh perak dariku. Aku pikir, itu cukup untuk hidup saat ini.”

"Perak?" Mata Udin melebar sembari dia merogoh sakunya untuk mencari sesuatu.”Aku lupa ... kita butuh uang."

Haruhiro menggeledah kantong depan dan belakang celananya, namun dia tidak menemukan apa-apa. Ia tidak punya uang.

"Kerja paruh waktu," Marci mengerang dan meremas wajahnya.”Kalau begitu, aku harus mencari kerja paruh waktu secara berkala. Mungkin…"

"Semoga berhasil," kata Bro sembari mengangkat bahu dengan tingkah lebay.”Pekerjaan lain mungkin bahkan lebih  berat daripada menjadi pasukan relawan. Bahkan jika ada orang yang mempekerjakanmu, gajimu akan sangat rendah, sampai-sampai kau akan hidup dengan mengais-ngais rezeki. Mungkin juga kau akan memulai karirmu sebagai budak yang menjadi bawahan seorang Tuan.”

"Guh," Gori

memukul sisi kepalanya sendiri.”Aku tidak pantas jika harus bekerja sebagai

budak. Aku kira, tidak ada pilihan selain mengikuti rute pasukan pelatihan?”

"Aku ulangi lagi….Semuanya terserah pada masing-masing individu… apakah kalian mau mendaftar ataukah tidak, semuanya memiliki kebebasannya masing-masing" kata Bro sembari menunjukkan jarinya pada masing-masing individu pada kelompok kami.

Hector menghela napas panjang.”Kalau begitu katakan dengan singkat, apa yang harus aku lakukan selanjutnya."

"Oh, Hector, Kau mengecewakan aku. Apakah kau tidak mendengarkan? Kau harus melawan musuh dengan

menggunakan akalmu sendiri, kemampuan untuk mengumpulkan informasi, dan perhitungan yang akurat. Itulah cara kita beroperasi.”

"Jadi maksudmu, kami harus mencari tahu sendiri tentang apa yang akan kami lakukan sebagai pasukan

pelatihan?”

"Singkatnya," Bro mengangguk. Dia menaruh benda seperti koin berwarna merah pada masing-masing kantong kulit yang jumlah keseluruhannya adalah 12 buah. Bri mengambil salah satu benda mirip koin itu, yang terdapat ukiran bergambar bulan merah.

"Benda ini akan berfungsi sebagai pengidentifikasi dan simbol bahwa kalian adalah anggota pelatihan Red MooN. Ini akan menjadi satu-satunya bukti bahwa kalian adalah anggota pelatihan, jadi jangan sampai hilang. Yahh, kalian tidak harus menggenggam benda ini sepanjang waktu, sih….. Pokoknya, jika kalian setuju dengan kontrak dan membayar 20 perak, maka kalian akan menjadi anggota pelatihan resmi Red MooN. Artinya, kalian akan terikat oleh berbagai keuntungan dan pembatasan.”

"Tunggu sebentar," kata pria berambut cepak. ”Kau menyuruh kami membayar sejumlah uang untuk mendaftarkan diri sebagai relawan?”

"Ya. Apakah ada masalah dengan itu?”

"Itu tidak bisa diterima."

"Apakah kau bisa membeli makanan, pakaian atau melakukan sesuatu tanpa adanya uang? Jangan mengeluh pada sesuatu jika kau sudah membayarnya. Jika kamu tidak menyukainya, maka pergi saja kemudian mati di suatu tempat.”

Hector tersenyum.”Walaupun hidup adalah neraka, kita masih membutuhkan uang, eh?"

"'Neraka?'" Bro memiringkan kepalanya ke satu sisi, tampaknya dia tidak terbiasa dengan kata itu.”Ya, sepertinya hidup memang mirip seperti hal itu. Itu artinya, kau harus mencari tahu apa yang akan kau lakukan, dan ke mana kau harus pergi, tapi akan lebih bijaksana jika kau membayar kontrak agar terikat dengan Red MooN.”

"Baiklah," kata Hector, dia mengambil koin Red MooN dan kantong kulit miliknya. ”Anggota pelatihan pasukan cadangan atau apa pun itu, aku akan melakukannya dan pergi dari sini."

Pria berambut cepak pergi setelah Hector, dia mengambil koin merah dan kantong kulit miliknya. Gadis

berpenampilan mencolok, Udin, dan pria berkacamata melakukan hal yang sama.

"Aku juga akan mengambilnya, terimakasih banyak!" Gori menyatakan itu, lantas dia memilih suatu koin dan kantong. Namun, dia juga mengambil kantong kedua.

"Oi, hanya boleh ambil satu!" Bro menyentaknya dan menampar tangannya.

Haruhiro tidak bisa melihat pilihan selain ikut mendaftarkan diri. Tapi untuk apa? Dia tidak tahu. Mungkin untuk uang dan bertahan hidup di tempat ini? Jika bergabung dengan Red MooN adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan uang, maka dia tidak melihat pilihan lain, tetapi bagian dari dirinya sama sekali tidak menyukai ini.

Alice, gadis berambut kepang, dan gadis super kecil… semuanya tampak ragu-ragu. Begitu pula dengan Marco

dan si raksasa Barto. Mata biru langit milik Bro menatap mereka.”Dan bagaimana dengan kalian semua?"

"Aku punya semacam firasat bahwa aku akan terjebak pada suatu perangkap," Marco bergumam pada dirinya sendiri sementara bergerak mendekati meja.

"Kalau ada kemauan pasti ada jalan, kalau tidak ada kemauan, maka tidak ada jalan ...” gadis berambut kepang itu mengatakannya sambil mengikuti apa yang Marco lakukan.

"Um," Haruhiro menoleh ke arahnya.”Sepertinya perkataanmu itu salah."

"Oh, tapi itu benar toh?" Gadis berambut kepang berbalik menatapnya sembari meraih koin dan kontong miliknya.”Seingat Vina sih seperti itu.”

"Itulah masalahnya. Kalimat yang benar adalah: 'di mana ada kemauan, di situ ada jalan.'"

"Oh, aku paham. Namun bukankah ‘Kalau ada kemauan pasti ada jalan’ terdengar lebih imut? Vina pikir bahwa imut juga penting.”

"Ya, aku rasa poin keimutanmu naik beberapa level."

"Yep!" si gadis berambut kepang itu rupanya bernama Vina, dan dia pun hanya cekikikan dengan ekspresi kegembiraan yang ikhlas.

Sementara Haruhiro berbicara dengannya, gadis super kecil juga sudah memungut koin merah dan kantong kulit. Hanya tersisa 3 orang yang belum mengambil bagiannya, dan mereka adalah: Barto, Alice, dan Haruhiro sendiri. Entah kenapa, Haruhiro tidak ingin menjadi orang yang terakhir mengambil kantong itu, sehingga ia mengambil

jatahnya lebih cepat daripada 2 orang terakhir. Ketika Haruhiro sedang memeriksa isi kantong, Barto perlahan-lahan mendekati meja counter, dan mengambil bagiannya. Alice adalah yang terakhir mengambil miliknya.

"Selamat," Bro bertepuk tangan sembari memamerkan senyum pada mereka. ”Kalian semua adalah anggota pelatihan Red MooN sekarang. Bekerjalah lebih keras dan berusahalah dengan mandiri sesegera mungkin, oke? Bila kau telah menjadi anggota sepenuhnya, kau bahkan dapat kembali dan berbincang-bincang denganku. Kau boleh menemuiku jika ingin membahas apapun yang kau inginkan.”

Tiba-tiba, ada suara hentakan disertai dengan dengusan. Ketika Haruhiro menoleh ke arah suara itu, ia melihat bahwa pria berambut cepak sudah jatuh ke lantai. Itu terjadi begitu cepat, sampai-sampai Haruhiro tidak melihat apa-apa, tapi tampaknya Hector telah menendang si pria berambut cepak sampai jatuh. Apakah Hector sengaja

menjegalnya? Tapi mengapa?

"Bangunlah," kata Hector dengan wajah tanpa ekspresi.

"Apa yang kau lakukan?!" pria berambut cepak berteriak sambil bergegas berdiri. Hector mendorongnya kembali ke bawah, sampai membuat dia merangkak di lantai.

"Ada apa?" Kata Hector.”Bangun."

"********, apa sih yang kamu lakukan?"

"Saat kau melihat aku, kau pasti berpikir : ‘apakah dia lebih kuat dariku ataukah aku yang lebih kuat darinya’, bukankah begitu? Aku akan menunjukkan kepadamu. Cepat bangun."

"Sial!"

Hector menunggu untuk menyerang ketika pria berambut cepak mencoba bangun lagi. Itu sudah jelas, bahkan bagi pengamat dadakan seperti Haruhiro. Yang pria berambut cepak harus lakukan adalah menahan serangan Hector. Tapi itu tidak terjadi, pria berambut cepak mencoba untuk mengelak. Hector meninju sebelum lawannya bisa menghindar, kemudian dia menendangnya lagi. Hector mencengkeram telinga, menariknya, dan dengan erangan yang keras, lawannya pun bertekuk lutut. Tidak hanya sekali, tapi serangan itu terjadi beberapa kali secara berturut-turut. Hector kemudian menangkap kepala si pria berambut cepak dengan kedua tangan, lantas menanduknya

dengan kekuatan penuh.

Ada suara retak yang keras dan lawannya roboh ke lantai dengan posisi berlutut.

"Kau benar-benar keras kepala," Hector mengatakan itu sembari mengetok kepala lawannya dengan jarinya. Darah menetes dari dahi pria berambut cepak yang berubah warna menjadi sangat merah. ”Namamu?"

Pria berambut cepak masih roboh dengan satu tangan di lantai, dan lututnya masih bisa menopang berat badannya sendiri. Dia mempertahankan posisi itu mungkin karena dia menganggap bahwa jatuh terjerembab bukanlah hal yang bisa dibanggakan.

"Namaku Ron. Kau sungguh kuat, dasar ********.”

"Kau cukup tangguh. Bergabunglah dengan aku, Ron.”

"Ahh. Boleh saja.”

"Baiklah. Siapa lagi yang mau ...” Hector melirik di sekitar ruangan, dan matanya berhenti pada sosok Udin.

Udin membalas tatapan Hector, dan matanya bahkan tidak bergeming.

Lantas, Hector berpaling dari Udin begitu saja, kemudian dia malah memusatkan perhatiannya pada pria

berkacamata. ”Sepertinya kau bisa bertarung dengan benar. Ikutlah denganku."

Pria berkacamata berkedip beberapa kali, kemudian menyilangkan lengannya di atas dadanya. Dia mendorong

kacamatanya ke atas hidungnya dan mengangguk dengan keras, seolah-olah ada seseorang yang menarik-narik dagunya. ”Baik…baik. Namaku Putra. Terimakasih sudah mengajakku, Hector.”

Hector tersenyum dengan licik, lalu matanya tertuju pada Haruhiro.

Apa? Aku? Mungkinkah aku menarik perhatiannya ... pikir Haruhiro. Dia terkejut, seakan-akan jantungnya

melompat di dalam dadanya. Penampilan Hector tidak hanya kuat…. Namun dia sudah membuktikan kekuatan yang sesungguhnya dengan mengalahkan Ron begitu mudah. Dia juga memiliki kemampuan untuk berpikir cepat dan mengambil tindakan dengan tepat. Tampaknya, sulit bagi Haruhiro untuk bekerja bersama Hector tanpa

disertai rasa takut, namun jika dia bisa menanggulangi rasa takut itu, maka Hector adalah anggota kelompok yang sangat bisa diandalkan. Jika Haruhiro bergabung dengan grup Hector, berbagai hal yang akan dihadapinya kelak akan jauh lebih mudah.

Haruhiro mengakui itu. Ya, ia ingin bergabung dengan kelompok Hector. Dia sangat menginginkannya.

Tapi ia segera kecewa. Hector, langsung saja mengabaikannya dan merubah tatapannya pada orang lain. Sepertinya Haruhiro tidak cukup layak di mata Hector.

"Kau, yang kerdil itu."

"Ya?" si gadis super kecil menjawabnya dengan suara imut. Dialah yang terkecil dari ke duabelas anggota kelompok, dan begitupun dengan suaranya.

"Ayo," Hector member isyarat dengan satu tangan.”Chibi" tampak bingung, tapi dia bergerak mendekati Hector dengan terhuyung-huyung, kemudian menatapnya. Hector pun menepuk kepalanya.

"Kau sepertinya akan berguna, maka ikutlah denganku."

Chibi mengangguk.”Oke." Wajahnya merah, seperti warna gurita rebus. Sepertinya, peran gadis itu di dalam kelompok Hector tidak lebih dari sebuah maskot.

Tapi, Hector bilang bahwa dia nanti akan berguna? Sungguh? Hector telah menganggap bahwa si kecil akan

lebih berguna daripada Haruhiro. Dia merasa sedih sekaligus jengkel.

"Kami akan pergi," kata Hector sembari memberikan isyarat dengan mengarahkan dagunya ke jalan keluar.

Ketika Hector, Ron, Putra, dan Chibi mulai meninggalkan tempat, si gadis berpenampilan mencolok meneriakkan

sesuatu, "Tunggu! Bawa aku bersamamu!"

Hector menghela napas pendek.”Aku tidak butuh orang yang tidak berguna bagiku."

"Aku akan melakukan apapun," katanya sembari menempel padanya. ”Namaku Sasa. Kumohon, aku akan

melakukan apapun yang kau minta…. Apa pun….."

"Apa saja?" kata Hector sembari mendorongnya agar menjauh.”Jangan pernah lupa kata-kata itu."

"Tidak akan."

"Dan jangan menyentuhku tanpa izin."

"Aku mengerti."

"Baik. ikutlah."

"Terima kasih, Hector!"

Sasa membuka pintu dan kelompok Hector beranjak keluar. Sasa adalah yang terakhir keluar. Ketika pintu

tertutup kembali, yang tersisa di dalam ruangan adalah 7 orang yang telah ditolak oleh Hector.

"Gah," Gori mengerutkan kening dan menggaruk kepalanya.”Aku juga ingin bergabung dengan tim Hector. Hector dan Ron tak terkalahkan dalam pertarungan, Putra terlihat seperti orang pintar, Chibi manis, dan Sasa juga manis. Sungguh bagus Party itu. Tapi tidak ada gunanya mengeluh tentang hal itu sekarang. Aku akan pergi melihat-lihat di sekeliling kota. Sampai jumpa!"

Setelah hanya mengatakan itu, Gori pun pergi. Tatapan mata Haruhiro bersilangan dengan Alice untuk sesaat, sebelum akhirnya mereka saling memalingkan wajah.

"Kurasa, aku juga akan pergi," kata Udin sembari menuju pintu keluar.”Kita tidak akan mendapatkan apapun dengan berdiri di sini tanpa bertindak. Aku akan melihat-lihat sekeliling dan mencaritahu apa yang bisa aku temukan. Sampai jumpa nanti.”

"Baiklah, sampai jumpa nanti," kata Haruhiro, dan dia pun melambaikan tangan untuk mengucapkan salam perpisahan. Dalam hati, Haruhiro merasa bahwa akan lebih baik jika dia mengikuti Udin Tidak seperti Hector, Udin lebih mudah untuk didekati, dan dia tampak seperti seorang pria yang berhati baik. Tampaknya, dia bisa diandalkan.

Haruhiro tidak peduli pada Marco, tapi bagaimana dengan Alice dan Vina? Apa yang mereka rencanakan untuk selanjutnya? Dan Barto juga masih di sini. Oh, benar. Jika mereka semua mengikuti Udin bersama-sama, mungkin mereka bisa….... tapi itu sudah terlambat. Udin sudah pergi. Namun, jika mereka mengejar Udin sekarang, sepertinya mereka masih bisa menyusulnya.

"Hei, semuanya, mari kita semua mengikuti Udin. Tidak ada gunanya tinggal di sini ...” Haruhiro mengatakan itu di saat pintu terbuka dengan tiba-tiba.

Apakah Udin kembali untuk kami? Itulah pikir Haruhiro, namun ternyata bukan. Orang yang memasuki bangunan

itu adalah pria yang berbeda. Sepertinya dia lebih tua daripada Haruhiro dan yang lainnya. Tubuh bagian atas dan bawahnya ditutupi dengan kulit, dan dia mengenakan semacam topi berbulu di kepalanya. Ada juga busur dan tempat anak panah yang tergantung di punggungnya. Tatapan matanya setajam rubah, dan mulutnya sedikit bengkok.

"Selamat pagi, Komandan."

"Aduh…. Aduh" Bro berpaling pada pria itu.”Bukankah kau Ragil. Apa yang terjadi? Apakah ada sesuatu yang kau butuhkan dariku?”

"Tidak…. tidak ada," pria yang disebut Ragil berkata sembari melirik Haruhiro dan yang lainnya. ”Aku mendengar bahwa kelompok lain baru saja tiba."

"Kabar memang berhembus dengan cepat. Aku baru saja kedatangan 12 orang, dan sekarang hanya tersisa 5 orang di sini.”

"Hanya tersisa ampas, ya?"

Marco pun mulai menggerutu.”Masalah bagimu?"

"Apakah ada yang lain?" Ragil berkata sambil melotot pada Marco, sebelum akhirnya dia mengalihkan pandangannya pada Haruhiro dan yang lainnya. Pria itu menganalisis mereka semua secara singkat.”Hmph. Kelompok kami baru saja kehilangan seorang raksasa, jadi…. Hei kau yang berbadan besar…… tampaknya kau cocok.”

Barto menunjuk dirinya sendiri.”…Aku?"

"Iya kamu. Siapa lagi pria yang berbadan besar di sini? Kami akan memintamu bergabung pada Party kami, dan kau akan diajari keterampilan menggunakan tali. Kami bahkan akan meminjamkan uang padamu. Ini adalah tawaran yang luar biasa. Jika kau cerdas, kau pasti tidak mau melewatkan kesempatan ini.”

"Ah, oke ..."

"Serius, Barto? Kau akan pergi dengan dia?” Marco menyambar lengan kiri BArto.”Jangan lakukan itu. Sudah jelas dia tidak bisa dipercaya ...”

"Ah, benar ..."

"Aku tidak bisa dipercaya!? Lupakan dia, dan bergabunglah denganku!” Ragil menarik lengan Barto yang lain. ”Keterlaluan jika ada anggota pelatihan yang mengabaikan ajakan bergabung dengan suatu Party. Kau harus bersyukur!”

"Uh, oke ..."

"Jangan biarkan dia menipumu, Barto! ******** pengkhianat tidak pernah mau diperlakukan seperti pengkhianat!”

"Eh, um ... ow ... sakit ..."

Marco melepaskannya. ”Oh, maaf, maaf."

"Ayo kita pergi!" Ragil menyentakkan Barto dengan segenap kekuatannya, dan menyeret Barto keluar.

Bahu Alice melemas.”... Dia pergi."

"Dengan begitu..." Vina menghitung orang yang tersisa di sekitarnya, dan menunjuk masing-masing individu. Satu, dua, tiga; Haruhiro, Marco, Alice. Dan yang terkhir adalah dirinya sendiri. ”Semuanya ada empat.”

"Sampai kapan kalian berdiri di situ," kata Bro sambil menguap, "Apakah kalian semua berencana tinggal di sini? Aku adalah orang yang sibuk, dan aku punya pekerjaan yang harus dikerjakan. Jika kalian hanya akan berdiri di sana, maka aku akan mengusir kalian.”

Marco tampak seperti anjing yang ekornya berada di antara kakinya, dan dia pun menoleh pada Haruhiro dan yang lainnya.”Ayo pergi?"

"Ya," Haruhiro

menjawab dengan ekspresi payah dan menyedihkan.

Terpopuler

Comments

Rabaniyasa

Rabaniyasa

hy thor, aku mampir lagi nih..
salam dari author "I hate You Tuan Muda..
Ayo saling dukung sesama thor..

2020-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Awaken
2 Episode 2 - Tanpa Tahu Apapun
3 Episode 3 - Kehilangan dan Tak Punya Pilihan
4 Episode 4 - Bank Atalante
5 Episode 5 - +1/-1 Warrior
6 Episode 6 - Permulaan yang Lambat
7 Episode 7 - Keuletan
8 Episode 8 - Ketegasan yang berat
9 Episode 9 - Damroww
10 Episode 10 - Jangan Pergi
11 Episode 11 - Sekarang Kemana Harus Berbelok
12 Episode 12 - Potongan Yang Penting
13 Episode 13 - Koin Perak adalah Emas
14 Episode 14 - Permohonan Maaf
15 Episode 15 - Bertujuan Mencapai Puncak
16 Episode 16 - Untuk Mendekap Yang Tersayang
17 Episode 17 - Alasan Gadis Itu
18 Episode 18 - Untuk Sementara, Dan Besok
19 Episode 19 - Tidak Cukup Bangga Dengan Sebutan Pembasmi Goblin
20 Episode 20 - Garis Lembut Di Antara Kepolosan
21 Episode 21 - Persembahan Kami Untukmu
22 Episode 22 - Prolog
23 Kata Penutup
24 Jilid 2 Chapter 1 - Suatu Level Yang Berbeda
25 Jilid 2 Chapter 2 - Para Eksekutif yang Tidak Layak
26 Jilid 2 Chapter 3 - Hukum Inersia Tanpa Kelembaman
27 Jilid 2 Chapter 4 - Gaya Hitam Legam
28 Jilid 2 Chapter 5 - Wadah
29 Jilid 2 Chapter 6 - Mengambil Jalan yang Panjang
30 Jilid 2 Chapter 7 - Serahkan Itu Pada Master
31 Jilid 2 Chapter 8 - Menggenggam Sesuatu Di Luar Jangkauan
32 Jilid 2 chapter 9 - Lepaskan Keirian
33 Jilid 2 Chapter 10 - Tidak Seharusnya Terlihat Keren
34 Jilid 2 Chapter 11 - Serahkan Ini Padaku!
35 Jilid 2 Chapter 12 - Saat Kritis
36 Jilid 2 Chapter 13 - Kombo
37 Jilid 2 Chapter 14 - Pria Itu
38 Jilid 2 Chapter 15 - Kebangkitan Dark Knight yang Jatuh
39 Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [1/2]
40 Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [2/2]
41 Jilid 2 Chapter 17 - Dusta dan Kemarin, Hari Ini dan Esok
42 Kata Penutup Jilid 2
43 Lampiran
44 Bonus - High Elf
45 Jilid 3 Chapter 1 - Diriku, Bakat Alami, dan Suka-Duka
Episodes

Updated 45 Episodes

1
Episode 1 - Awaken
2
Episode 2 - Tanpa Tahu Apapun
3
Episode 3 - Kehilangan dan Tak Punya Pilihan
4
Episode 4 - Bank Atalante
5
Episode 5 - +1/-1 Warrior
6
Episode 6 - Permulaan yang Lambat
7
Episode 7 - Keuletan
8
Episode 8 - Ketegasan yang berat
9
Episode 9 - Damroww
10
Episode 10 - Jangan Pergi
11
Episode 11 - Sekarang Kemana Harus Berbelok
12
Episode 12 - Potongan Yang Penting
13
Episode 13 - Koin Perak adalah Emas
14
Episode 14 - Permohonan Maaf
15
Episode 15 - Bertujuan Mencapai Puncak
16
Episode 16 - Untuk Mendekap Yang Tersayang
17
Episode 17 - Alasan Gadis Itu
18
Episode 18 - Untuk Sementara, Dan Besok
19
Episode 19 - Tidak Cukup Bangga Dengan Sebutan Pembasmi Goblin
20
Episode 20 - Garis Lembut Di Antara Kepolosan
21
Episode 21 - Persembahan Kami Untukmu
22
Episode 22 - Prolog
23
Kata Penutup
24
Jilid 2 Chapter 1 - Suatu Level Yang Berbeda
25
Jilid 2 Chapter 2 - Para Eksekutif yang Tidak Layak
26
Jilid 2 Chapter 3 - Hukum Inersia Tanpa Kelembaman
27
Jilid 2 Chapter 4 - Gaya Hitam Legam
28
Jilid 2 Chapter 5 - Wadah
29
Jilid 2 Chapter 6 - Mengambil Jalan yang Panjang
30
Jilid 2 Chapter 7 - Serahkan Itu Pada Master
31
Jilid 2 Chapter 8 - Menggenggam Sesuatu Di Luar Jangkauan
32
Jilid 2 chapter 9 - Lepaskan Keirian
33
Jilid 2 Chapter 10 - Tidak Seharusnya Terlihat Keren
34
Jilid 2 Chapter 11 - Serahkan Ini Padaku!
35
Jilid 2 Chapter 12 - Saat Kritis
36
Jilid 2 Chapter 13 - Kombo
37
Jilid 2 Chapter 14 - Pria Itu
38
Jilid 2 Chapter 15 - Kebangkitan Dark Knight yang Jatuh
39
Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [1/2]
40
Jilid 2 Chapter 16 - Suatu Keteguhan dan Harapan [2/2]
41
Jilid 2 Chapter 17 - Dusta dan Kemarin, Hari Ini dan Esok
42
Kata Penutup Jilid 2
43
Lampiran
44
Bonus - High Elf
45
Jilid 3 Chapter 1 - Diriku, Bakat Alami, dan Suka-Duka

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!