Langit gelap mulai terbentuk di Sore hari. Hujan-hujan lebat telah menjadi banjir bandang yang bertenaga dahsyat yang membasuh semua puing reruntuhan Mercedes Benz Stadium juga membawa ratusan jasad yang tidak selamat dari peristiwa misterius yang menelan hampir seribu orang lebih itu.
Alan Savory dan Daisy Carline adalah 2 orang yang selamat dari peristiwa tersebut, mereka sekarang berteduh di salah satu reruntuhan yang menyatu dengan tebing batu di sekitar tempat tersebut.
Awalnya Alan mengira tempat tersebut adalah gua, tetapi melihat struktur tersebut dari dekat bahkan telah membuat dia terkejut. Tebing batu yang menjulang di sekitar tempat itu ternyata memiliki sesuatu yang begitu mengejutkan bagi Alan untuk diamati.
Ada sebuah celah kecil di bagian bawah tebing batu disana yang Dia dan Carline gunakan sebagai tempat berteduh dari cuaca ekstrem. Celah tersebut hanya sebesar kolong sebuah meja, namun ketika mereka masuk kesana, celah tersebut ternyata cukup dalam dan semakin meluas juga membesar di bagian ujungnya.
Saat menyelamatkan Carline, memang Alan telah mencari beberapa barang yang berguna untuknya. Dari sekian banyak puing-puing bangunan yang ada Alan menemukan 2 buah tas yang juga dia bawa. Beberapa pakaian juga telah dia ambil dan lepaskan dari jasad-jasad disana.
Melepaskan pakaian-pakaian tersebut tentu bukan hal mudah baginya, selain harus memilih pakaian pria, dia juga sempat melepas beberapa pakaian wanita yang masih terlihat bagus dan dapat digunakan.
Untuk bertahan hidup di situasi yang tidak menentu bertindak tepat dan cepat adalah prioritas baginya untuk dilakukan, sehingga dia tidak memikirkan hal-hal lain seperti moral dan lain sebagainya ketika dia melepaskan pakaian dari tubuh jasad-jasad disana.
Keanehan lain yang terjadi ketika dia melepas pakaian dari jasad-jasad yang ada disana, Alan juga bisa merasakan dan mengalami flashback memori juga mengambil semua ingatan orang-orang tersebut mulai dari memori baik hingga memori tergelap sekalipun.
“Semacam kekuatan kah? sehingga aku bisa mengambil setiap memori milik orang lain” Alan bergumam dalam hati dalam posisi berbaring sambil melihat tangannya.
“Bagaimana cara kerjanya?”
“Dan bagaimana aku bisa mengaktifkan kekuatan ini?”
Sambil terus berbicara sendiri dalam hatinya, Alan bahkan tidak melihat Carline yang sedang menatapnya dalam diam.
Sambil terus mencoba mengingat beberapa memori dan ingatan juga keahlian seseorang di dalam ingatannya Alan mendapat kesimpulan tersebut.
Dengan kemampuan ini Alan dapat dengan mudah mengingat semua kejadian yang dia alami secara langsung, seperti saat dia sedang membaca, belajar, bermain, atau hanya menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain mengalami hal secara langsung dia juga dengan mudah mengambil memori dan ingatan orang lain ataupun dari Jasad yang Ia sentuh sebagai bagian memori yang tidak bisa terpisahkan darinya.
Seperti sebuah folder file di komputer. Dia hanya perlu memencet Open di ingatannya. Untuk dapat mengakses memori orang itu.
Namun, jika dia tidak berkonsentrasi dan mencari ingatan tersebut juga menekan tombol Play Button. Dia bahkan bisa melupakan ingatannya itu, seperti sebuah folder yang jika tidak dibuka tidak akan kita ingat isi di dalamnya.
Malam ini sambil berbaring di bagian dalam gua dengan sebuah cahaya lampu senter yang meneranginya dan Carline Alan menyimpulkan beberapa Analisa dan Hipotesis sederhana juga beberapa kesimpulan.
**
Udara dingin serta tubuh yang basah kuyup membuat Carline merasa semakin tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya, belum lagi rasa sakit di kaki yang semakin tidak tertahankan.
“Hei Carl, ada apa dengan mu?” Alan duduk dalam ruang sempit celah batu tempat mereka sekarang sambil menatap ke arah Carline yang terlihat kesakitan.
“Kaki ku..” gadis berusia 20 tahun itu terus meringis kesakitan.
“Tunggu sebentar,” Kemudian Alan mulai memeriksa kondisi kaki Carline yang semakin membesar dan bengkak.
Dia lalu mengambil sebuah Swiss Army Knife yang ada di dalam tas selempang berbahan kulit salah satu dari 2 tas yang telah dia bawa.
Kemudian perlahan dia merobek salah satu pakaian di dalam tas backpack besar yang juga dia bawa untuk menaruh pakaian-pakaian yang tadi dia jarah. Alan mulai membalut dan mengikat kencang Kaki Carline yang tadi terhimpit puing bangunan.
“Hey Carl, aku memiliki dua kabar untuk mu, satu kabar baik dan satu lagi kabar buruk.” ujarnya kepada Carline.
Gadis itu menatap Alan dengan tatapan penuh tanda tanya sebab dia memperhatikan yang dilakukan Alan barusan, “Aku ingin mendengar kabar baiknya terlebih dahulu.” Daisy mengungkapkan pikirannya, dalam keadaan sekarang kabar baik adalah yang dia inginkan terlebih dahulu.
“Aku sepertinya memiliki keahlian yang dapat melakukan Amputasi, Aku juga menemukan ini.” Dia memperlihatkan kepada Daisy sebuah gergaji besi yang berukuran sedikit besar.
“Aku juga telah menggunakannya untuk memotong bar besi untuk menggali tempat mu tadi.”
Daisy yang terkejut melihat benda itu langsung menutup matanya dengan kedua tangan. “Jangan bilang kamu ingin menggunakannya untuk memotong kaki ku?” ucapnya sambil menangis.
“Kita harus melakukannya, kalau tidak itu bisa membunuh mu sebab semua jaringan di kakimu sekarang adalah sebuah bomb waktu yang berbahaya.”
Alan dengan enggan memberitahukan hal tersebut kepada Daisy, akan tetapi bagian dari memori seorang dokter bedah dan dokter ortopedi yang tadi dia dapatkan mendesaknya untuk harus memberitahukan kenyataan walau itu menyakitkan.
“Tidak, aku tidak ingin kamu memotong kaki ku, lebih baik aku mati dari pada aku harus kehilangan kedua kaki ku..”
Daisy menangis semakin keras, ia terus memikirkan masa depannya tanpa kedua kaki, tanpa masa depan yang terang seperti dulu lagi.
Super model ini mengambil jurusan Seni dan Theater di Massachusetts Institute of Technology, tempat yang sama dengan Alan Savory dimana pemuda itu mengambil 3 jurusan sekaligus yaitu Institut Teknik dan Sains Medis, Institut Teknik Mesin dan Institut Teknik Biologi.
Memang Institut Teknik dan Sains Medis tidak mengajarkan pembedahan dan amputasi, akan tetapi setelah mengambil beberapa pakaian dari belasan orang dia mendapat ingatan dan semua keahlian yang dipelajari orang-orang yang telah meninggal itu.
Sehingga dia cukup yakin melakukan amputasi terhadap Daisy seperti yang dia katakan dan dia memiliki otak yang sangat cerdas, orang-orang bahkan menyebutnya dengan super komputer atau Google.
“Carl, jika kita tidak melakukannya kamu bisa mati dan kaki mu ini akan membusuk.”
“Tidak Alan, aku tidak menginginkannya....Dan kamu bukan kah ku katakan kepada mu tadi untuk meninggalkan ku disana, mengapa kamu menyelamatkan ku?” Daisy meneriaki Alan dan memarahi pemuda itu dengan keras.
“Kamu tahu kemampuan ku, aku bisa membuatkan mu kaki robot yang belum pernah di temukan selama ini, kamu juga tahu aku mengambil jurusan teknik medis, akan ku buat kamu bisa berjalan lagi seperti dulu.”
“Alan, kamu Baj*ngan gila, bukan kah sudah ku katakan untuk meninggalkan ku? apakah kamu bahagia dengan kondisi ku sekarang, sehingga kamu bisa memiliki ku?”
Dia terdiam mendengar perkataan Daisy, mungkin gadis ini juga mengetahui bahwa Alan menyukainya diam-diam selama ini namun dia tidak pernah sekalipun melirik Alan, bahkan dengan pencapaian dan kekayaan yang telah di miliki Alan dari semua hasil penelitian Alan. Sehingga dia tidak ingin lagi berdebat dengan Daisy, tetapi dia hanya menceritakan kehidupannya saja kepada Daisy.
“Kamu tentu tahu Ibu ku meninggal karena kanker sejak kita berada di lingkungan tinggal yang sama sejak SMA.”
“Karena peralatan medis yang tidak memadai saat itu, kami tidak bisa menyelamatkan Ibu ku, itulah mengapa aku mengambil jurusan ku yang sekarang juga menciptakan beberapa alat medis.”
“Apakah aku layak untuk membuat peralatan medis yang dapat membantu orang-orang lain jika aku menyia-nyiakan nyawa di depan ku mata ku sendiri?” Ia lalu menjauh dari tempat Daisy berbaring.
Gadis cantik yang terlihat menyedihkan itu sekarang hanya diam mendengar perkataan Alan, dia memang tidak ingin mengatakan hal yang membuat Alan sahabatnya itu menjadi sakit hati, tetapi kata-kata itu telah dia ucapkan. Dia yang tahu alasan Alan menyelamatkannya sebenarnya tidak ingin mengungkit-ungkit perasaan Alan kepadanya, tetapi karena tadi Alan bersikeras, Daisy mau tidak mau mengeluarkan juga mantra saktinya untuk membungkam Alan.
**
Sehari telah terlewat dari peristiwa tersebut, Alan yang bangun pagi-pagi sekali segera keluar dari celah batu tempat mereka berteduh. Mencoba mengecek lokasi tempat awal mereka terdampar kemarin dengan sebuah tongkat bar besi dan tas selempang yang dia dapatkan kemarin, Alan juga membawa gergaji besi yang dia dapatkan entah dari mana itu, “Jika barang-barang ini ada mungkin ada banyak barang berguna lainnya di puing-puing ini yang bisa membantu kami untuk bertahan hidup.” ujarnya bergumam sendiri dalam hati sambil membongkar puing-puing yang telah tertutup lumpur dan sebagian besar telah tersapu banjir.
Untuk meyakinkan dirinya Alan juga mendatangi beberapa jasad yang masih tersangkut di beberapa bagian tempat itu, Dia mengumpulkan jasad-jasa disana walaupun sudah sebagian dari mereka tercium bau yang tidak mengenakan.
“Baiklah mari kita coba untuk melihat kemampuan yang ku dapatkan apakah benar-benar berfungsi atau ada keadaan khusus lain yang harus terpenuhi untuk mendapatkan memori dan kenangan orang-orang ini.”
Setelah berkata untuk dirinya sendiri Alan mulai menyentuh kulit dari jasad-jasad disana, “Ah benar ini hanya bekerja saat aku menyentuh bagian tubuh mereka.”
“Tadi ketika memindahkan mereka semua aku mengenakan sarung tangan kulit ini, apakah benar begitu?” Ia melihat ke sarung tangan kulit berwarna hitam yang dia juga dapatkan kemarin untuk menutupi tangannya saat menggali tanah di sekitar tubuh Daisy.
Memang seperti yang ada di pikiran Alan kemampuannya bekerja hanya saat dia bersentuhan dengan kulit orang lain, bahkan dia yang dapat mengingat memori dan kenangan Daisy dengan jelas dari sejak gadis itu kecil hingga dewasa mulai memahami beberapa bagian dari perasaan Daisy.
Setelah berjam-jam dia menggali dan mengubur sisa-sisa jasad yang tersangkut dan tidak tersapu banjir. Alan kembali ke celah batu tempatnya bermalam.
Hari cerah yang membawa cahaya lebih terang juga membuat ceruk batu tempat mereka bermalam itu menjadi lebih sedikit terang. Dia yang hanya menemukan sebungkus makanan ringan untuk dimakan serta beberapa botol air mineral dan juga beberapa minuman isotonic kembali kesana memberikan semua itu kepada Daisy.
Dia dan Daisy masih tidak berbicara satu sama lain sejak malam tadi menimbulkan suasana canggung diantara mereka. Alan lalu mencoba keluar tempat itu lagi untuk mencari pasokan makanan dan tanda-tanda lain kehidupan disana.
Dalam pikirannya, wilayah luas dan kering itu bahkan tidak dapat menampung pepohonan juga tanaman tentu berada di padang gurun luas yang jaraknya pasti jauh dari perkotaan atau perkampungan, sehingga terlalu memiliki resiko kalau dia mengambil perjalanan jauh mengingat kondisi kaki Daisy.
Sehingga Alan harus memanfaatkan semua puing-puing yang ada untuk bertahan hidup. Tepat ketika dia hendak keluar dia menemukan retakan lain pada celah batu yang letaknya di dasar bukit batu tersebut. “Apakah tempat ini mengarah ke bagian yang lebih besar?”
Sambil mencoba menggali dan memperluas lubang celah sempit itu dia dapat melihat sebuah ruang besar yang tersembunyi disana.
Alan merayap diantara celah sempit tersebut yang bahkan lebih sempit dari celah tempat keluar dan masuk ke tempat mereka sekarang. Dia terkejut ketika melihat sebuah gua sedikit besar di ujung gua itu, dimana ada puing-puing beton yang tertanam disana seolah menjadi bagian utama dari bukit batu tersebut.
“Apa-apaan tempat ini? seluruh strukturnya bahkan menyatu dengan puing-puing stadion sepak bola yang ada?”
“Overlapping?...apakah ini mungkin?”
“Bahkan kejadian yang kami alami juga tidak mungkin terjadi.”
Ia mulai berpikir mengingat semua kejadian yang baru terjadi kemarin. Sebuah Sinkhole yang tiba-tiba meruntuhkan seluruh stadion sepak bola tempatnya dan Daisy menonton pertandingan pembuka di awal Season tiba-tiba runtuh kebawah, ruang hampa yang gelap telah menelan mereka semua disana dan mengirim mereka ke tempat yang sama sekali berbeda dari Atlanta yang dia kenali.
“Wormhole tentu saja itu wormhole bukan sinkhole.” ujarnya berkata dalam hati dengan sebuah teori lubang cacing yang mungkin hanya dapat di temukan di luar angkasa, sambil terus menelusuri lorong gua tersebut.
Dia kembali terkejut ketika melihat sebuah pintu yang berada di lorong gua tersebut. “Apa ini pintu?”
Memperhatikan dengan seksama Alan melihat ke pintu tersebut yang banyak terdapat di bagian dalam bagian stadion. “Tempat ini benar-benar telah menjadi overlapping dengan bagian bukit batu ini.” Ia lalu mencoba membuka pintu tersebut, tetapi itu terkunci sehingga dia menggunakan tongkat bar besi yang dia temukan untuk membukanya secara paksa.
Matanya membelalak ketika melihat ruangan besar sebesar sebuah ruang pertemuan di balik pintu tersebut, setengah dari tempat itu sangat gelap, sedangkan setengahnya lagi sedikit redup karena cahaya lampu otomatis yang telah mulai memudar. Dinding-dinding tempat itu sebagian tertutup permukaan batu dan sebagian lagi rata seperti ruangan bangunan beton pada umumnya.
Setelah masuk dan memeriksa di dalam sana Alan dapat menemukan pintu lainnya di tempat tersebut, Ia lalu mencoba membuka lagi tempat-tempat tersebut, sebagian dari tempat itu ketika dia buka hanya terdapat permukaan batu biasa menutupi dibalik pintu, sedangkan sebagian lagi menuju ke sebuah ruangan-ruangan besar dan seperti lorong gua lainnya.
“Ini dia, ruang penyimpanan makanan,” seperti telah menemukan harta yang berharga dia sangat senang ketika menemukan sebuah pintu bertuliskan “Food Storage” sehingga dia dengan cepat membuka pintu yang tidak terkunci itu.
Di dalamnya alan kembali terkejut ketika menemukan dinding batu yang berada dibalik pintu itu, sehingga dia sedikit kesal sebab perasaan lapar yang dia rasakan memang telah mulai membuatnya agak kecapaian.
Ketika ia membanting pintu tersebut, beberapa retakan muncul, Alan bisa melihat lubang hitam yang berada di belakang lapisan dinding batu tersebut, maka mulailah dia menggali dan meruntuhkan tempat tersebut.
Kurang lebih satu jam dia menggali, tubuh dan keringatnya keluar sangat banyak, rasa haus dan lapar mulai memanggilnya. Hanya sebuah botol cairan isotonic saja yang dia minum untuk melepas semua rasa letih yang ia rasakan.
Harapan mulai terlihat ketika dia baru saja menggali lubang berbentuk bulat di tengah pintu, walau begitu cukup untuk tubuhnya dapat lewat dan berada di sisi lain tempat itu.
Cahaya senter yang dia bawa terus menerawang tempat dingin itu. “Suhu di tempat ini benar-benar sangat dingin seperti gua es,” perlahan Alan mulai melangkah dan memeriksa kedalam. Ia juga dapat melihat beberapa daging sapi dan daging babi juga beberapa daging domba dan kalkun yang digantung ditempat tersebut.
Di pinggir tempat itu terdapat rak-rak besi yang menyimpan semua bahan makanan juga bumbu-bumbu dapur yang tertutup di lemari khusus sehingga tidak bercampur dengan suhu ruangan yang begitu dingin.
Tepung, Daging berbagai hewan-hewan lebih kecil seperti Ayam dan Ikan juga terdapat di beberapa lemari tersebut. “Suhu di Gua ini akan menjadi berubah dalam beberapa hari, aku harus menyelamatkan sebanyak mungkin bahan makanan yang bisa membuat kami bertahan hidup.”
Tamat
***
Thanks XL
Bisakah menjadi Novel? memperbaiki beberapa karakter dan hubungannya terlebih dahulu, sambil mengerjakan novel lain.
Jangan berpikir cerita ini akan berlanjut, mungkin akan berlanjut tetapi dalam bentuk novel.
Here a Clickbait