Matahari sore menerobos sela-sela gorden tipis di ruang tengah sebuah unit apartemen di pinggiran Jakarta. Di atas meja kerja berkayu jati itu, sebuah dompet kulit cokelat milik Farhan tergeletak terbuka. Di sampingnya, beberapa lembar uang kertas pecahan ratusan ribu tersusun rapi bersama dua amplop putih bertuliskan tinta hitam yang digoreskan dengan sangat hati-hati: "Nafkah Anak-Anak" dan "Nafkah Kirana".
Farhan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Tangannya yang sedikit gemetar memegang sebuah cangkir kopi yang sudah dingin. Pandangannya kosong menatap dua amplop itu. Angka-angka yang tertera di transfer bank bulanan untuk Kirana—mantan istrinya—bukanlah angka yang kecil. Lebih dari cukup untuk menutup seluruh kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah tiga anak mereka, hingga tabungan masa depan.
Namun, sebanyak apa pun digit angka yang ia kirimkan setiap awal bulan, ada satu hal yang tak pernah bisa ia beli kembali: kehangatan sebuah rumah.
---
Farhan mengusap wajahnya kasar. Ingatannya melayang ke lima tahun lalu, saat biduk rumah tangga mereka masih berdiri kokoh.
"Kamu di rumah aja, Kirana," kata Farhan suatu malam, memegang lembut kedua bahu istrinya yang saat itu baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya. "Aku yang cari uang. Kerja itu capek, ngurus anak juga capek. Aku enggak mau kamu kelelahan kalau harus nanggung keduanya."
Kirana saat itu menatapnya bingung. "Tapi, Mas... aku ingin bantu kamu. Lagipula sayang ijazahku..."
Farhan menggeleng tegas namun lembut. Senyum percaya diri menghiasi wajahnya. "Anak-anak kita sudah kekurangan waktu sama ayahnya karena aku harus banting tulang di luar. Jangan sampai mereka kekurangan peran ibunya juga. Soal nafkah, percaya sama aku. Nafkah buat kamu dan nafkah buat anak-anak akan aku pisah, dan aku jamin kamu enggak bakal kekurangan sepeser pun."
Kirana akhirnya tersenyum manis, memeluk Farhan dengan rasa percaya yang penuh. "Iya, Mas. Aku nurut. Sehat-sehat ya, Mas... semoga rezekinya selalu lancar."
Dan Farhan membuktikannya. Setiap bulan, Kirana tak perlu pusing memikirkan tagihan. Kirana fokus menjadi ibu yang luar biasa, menyambut Farhan dengan senyuman hangat, masakan panas, dan gelak tawa anak-anak yang terawat dengan sempurna. Rumah mereka adalah surga kecil.
Sampai akhirnya, kesombongan meracuni pikiran Farhan.
Di puncak karirnya, saat uang mengalir deras dan pujian datang dari segala arah, Farhan merasa dirinya "hebat". Rasa bosan mulai menyusup. Kehadiran seorang wanita lain di lingkungan kerjanya perlahan membakar semua janji suci yang pernah ia ucapkan. Farhan terjebak dalam rasa nyaman yang semu. Prasangka, kebohongan, dan pengkhianatan mulai mewarnai hari-harinya.
Saat Kirana menemukan bukti perselingkuhan itu, tak ada jeritan histeris dari mulut wanita itu. Yang ada hanyalah tatapan mata yang hancur berkeping-keping.
"Kenapa, Mas?" hanya itu pertanyaan Kirana dengan suara bergetar.
Farhan, yang saat itu tersulut emosi dan ego lelaki yang merasa memegang kendali atas segalanya, justru melontarkan kata-kata paling beracun dalam hidupnya. Dalam rentetan pertengkaran hebat dalam kurun waktu beberapa bulan, dalam puncak amarah yang tak terkendali, tiga kali kata talak terucap dari mulutnya.
Talak satu. Talak dua. Dan akhirnya... talak tiga.
Seketika, ruangan menjadi sunyi. Kirana tertunduk. Air matanya menetes tanpa suara di atas lantai marmer. Saat itulah Farhan menyadari betapa fatalnya kebodohan yang baru saja ia lakukan. Namun, kata-kata yang sudah terlanjur meluncur tak bisa ditarik kembali. Hukum agama berdiri tegak tanpa kompromi: Pintu itu telah terkunci rapat.
---
Kini, dua tahun telah berlalu sejak perceraian itu diputus oleh pengadilan.
Wanita yang menjadi selingkuhannya dulu telah pergi meninggalkan Farhan begitu sadar bahwa hidup dalam kebohongan tak pernah membuahkan kebahagiaan. Farhan telah bertaubat. Ia bersujud di sepertiga malam, meratapi setiap dosanya, memohon ampun kepada Sang Pencipta atas kesombongannya yang telah menghancurkan takdir indahnya sendiri.
Namun, akibat dari perbuatannya tetap harus ia tanggung.
Dalam hukum syariat, karena ia telah menjatuhkan Talak Tiga (Talak Ba'in Kubra), Farhan tidak bisa begitu saja mengajak Kirana rujuk. Mereka tak bisa menikah kembali, kecuali Kirana pernah menikah lagi secara sah dengan laki-laki lain, mengarungi rumah tangga, dan kemudian berpisah secara alami tanpa rekayasa.
Sebuah syarat yang terasa seperti pisau yang menyayat dada Farhan setiap hari. Mendoakan mantan istrinya menikah dengan pria lain agar ia punya kesempatan kecil untuk kembali? Ataukah merelakan wanita terbaik dalam hidupnya itu bahagia bersama orang lain selamanya? Kedua pilihan itu sama-sama meluluhlantakkan jiwanya.
Tok... tok... tok...
Ketukan pintu apartemen membuyarkan lamunan Farhan. Ia bangkit, merapikan kemejanya, dan membuka pintu. Di balik pintu, berdiri Kirana bersama anak bungsu mereka, Aisyah, yang baru berusia lima tahun.
Kirana berdiri anggun dengan jilbab lebar berwarna pastel. Wajahnya tenang, memancarkan kedamaian yang tak lagi terusik oleh kebisingan dunia. Tak ada lagi benci di matanya, yang tersisa hanyalah rasa hormat dan batas hukum yang sangat dijaganya.
"Assalamu’alaikum, Mas," sapa Kirana lembut.
"Wa'alaikumussalam..." Farhan terpaku sejenak. "K-kirana... Aisyah..."
"Ayah!" Aisyah langsung berlari dan memeluk kaki Farhan.
Farhan berlutut, merengkuh tubuh kecil putrinya erat-erat. Ia menghirup aroma minyak kayu putih dan bedak bayi dari tubuh Aisyah—aroma yang dulu selalu menyambutnya setiap kali ia pulang kantor dalam keadaan lelah.
"Aisyah tadi bilang kangen Ayah, jadi aku antarkan sebentar sebelum kita pergi ke rumah Nenek," ucap Kirana santai, berdiri dengan jarak beberapa langkah di luar ambang pintu. Ia sangat menjaga jarak mahram yang kini membatasi mereka.
"Terima kasih ya, Na..." suara Farhan serak. Ia memegang tangan kecil Aisyah, lalu melirik ke arah Kirana. "Nafkah bulan ini sudah Mas transfer tadi pagi. Ini ada sedikit tunai untuk pegangan kalau anak-anak mau beli buku atau mainan."
Farhan menyodorkan amplop putih dari meja tadi.
Kirana menerima amplop itu dengan senyuman tulus. "Terima kasih banyak, Mas. Selalu lebih dari cukup. Alhamdulillah, anak-anak enggak pernah kekurangan sedikit pun. Mas selalu bertangung jawab."
Kalimat pujian itu justru terasa seperti sembilu yang menusuk jantung Farhan. Tanggung jawab materi? Ya. Tapi aku gagal menjaga hatimu, batinnya meratap.
---
"Kamu... sehat, Na?" tanya Farhan pelan, mencoba menahan getaran di suaranya.
"Alhamdulillah, sehat, Mas. Mas sendiri bagaimana? Kelihatan agak kurusan. Jangan lupa makan teratur," tutur Kirana hangat. Sungguh, Kirana kini telah ikhlas. Ia memaafkan Farhan, bahkan selalu mendoakan agar mantan suaminya itu selalu sehat dan dilancarkan rezekinya karena kebaikan Farhan yang tak pernah alpha menafkahi anak-anak dan dirinya.
Namun keikhlasan Kirana justru menjadi tembok paling tebal yang tak sanggup ditembus oleh penyesalan Farhan.
"Na..." Farhan menatap mata Kirana dengan pandangan memohon. "Mas... Mas betul-betul menyesal. Setiap hari Mas memohon sama Allah... Mas kangen rumah kita yang dulu."
Senyum di wajah Kirana perlahan memudar, berganti dengan tatapan iba. Namun tidak ada kemarahan di sana.
"Mas Farhan," panggil Kirana dengan nada bicara yang sangat halus namun tegas. "Kebaikan Mas menafkahi aku dan anak-anak sampai hari ini... kesadaran Mas untuk melarang aku kerja dulu supaya bisa fokus ngurus anak... itu semua kebaikan yang enggak akan pernah aku lupakan. Aku selalu mendoakan Mas sehat dan lancar rezekinya."
Kirana menghela napas pelan, menatap langit-langit koridor sebentar sebelum kembali menatap Farhan.
"Tapi Mas tahu batas kita, kan? Kita sudah talak tiga. Secara agama, pintu itu sudah ditutup. Aku bukan lagi istrimu, dan kamu bukan lagi suamiku. Kita tidak bisa rujuk begitu saja."
"Aku tahu, Na... Aku tahu aturan itu," bisik Farhan, air matanya kini tak sanggup lagi ditahan. Tetesannya jatuh ke lantai. "Tapi rasa sakit di dada ini enggak pernah hilang, Na. Mas yang menghancurkan semuanya. Mas yang buang surga yang sudah Allah kasih..."
"Semua orang bisa berbuat salah, Mas," hibur Kirana lembut. "Mas sudah bertaubat, dan Allah Maha Penerima Taubat. Tapi akibat dari perbuatan kita di dunia ini kadang harus kita jalani sebagai bentuk pendewasaan. Sekarang, fokus Mas adalah jadi Ayah yang baik untuk Aisyah dan kakak-kakaknya. Dan fokusku adalah mendidik mereka."
"Apakah... apakah enggak ada harapan lagi untuk kita, Na?" tanya Farhan lirih, mengabaikan kenyataan hukum yang sangat ia pahami.
Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman pasrah pada takdir. "Hukum Allah itu dibuat untuk melindungiku dan memuliakan ikatan pernikahan. Aku tidak mungkin menikah dengan laki-laki lain hanya demi 'merekayasa' perceraian agar bisa kembali sama Mas. Itu dilarang agama. Dan aku pun tidak tahu apa takdirku di masa depan. Kita jalani apa yang ada sekarang ya, Mas."
Kirana lalu memanggil anak bungsu mereka. "Aisyah, ayo salim sama Ayah. Kita harus berangkat sekarang."
Aisyah mencium tangan Farhan dengan penuh kasih. Farhan memeluk putrinya sekali lagi, meluapkan seluruh kerinduan dan rasa bersalahnya dalam pelukan singkat itu.
"Ayah... Ayah kok menangis?" tanya Aisyah polos sambil mengusap air mata di pipi ayahnya.
Farhan memaksa tersenyum. "Enggak, Sayang... Ayah cuma terharu lihat Aisyah makin pintar."
---
Kirana pamit. "Kami jalan dulu ya, Mas. Assalamu’alaikum."
"Wa'alaikumussalam..."
Farhan berdiri membeku di depan pintu apartemennya yang terbuka. Ia menyaksikan langkah kaki Kirana dan Aisyah menjauh menyusuri koridor. Sosok wanita yang dulu selalu tidur di sampingnya, wanita yang dulu ia larang bekerja agar tetap berada di rumah menjaga buah hati mereka, wanita yang kini ia nafkahi dengan segunung harta namun tak lagi bisa ia dekati hatinya.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Farhan terduduk lemas di balik pintu. Tubuhnya berguncang hebat. Tangisnya pecah tanpa penahanan lagi.
Di dalam ruangan yang megah namun sepi itu, Farhan menyadari sebuah kebenaran yang sangat menyakitkan: Uang bisa membeli kenyamanan, bisa memenuhi seluruh kebutuhan fisik anak dan mantan istrinya, namun harta sebanyak apa pun tak akan pernah bisa memutar kembali waktu. Penyesalan itu hadir seperti bayangan—selalu mengikuti ke mana pun ia pergi, tak pernah pergi, dan tak akan pernah hilang.
Di atas sajadah malamnya nanti, Farhan tahu ia akan kembali bersujud. Ia tidak akan lagi meminta agar takdir dipaksakan sesuai keinginannya. Ia hanya akan berdoa satu hal untuk wanita luar biasa itu:
"Ya Allah... sehatkanlah dia, bahagiakanlah dia, dan lapangkanlah rezekinya melalui tanganku. Jika di dunia ini aku tak lagi berhak menjadi pelindungnya, maka jadikanlah pelindung terbiaknya di surga kelak, meski itu bukan aku..."