Senja itu udaranya sangat lah sejuk, matahari mulai terbenam, dengan angin yang sepoi-sepoi duduk lah seorang wanita berumur 27 tahun, di pinggir danau, dengan tatapan kosong, dengan hati yang berkecamuk. Hari ini hari terakhir nya dikampung tempatnya dibesarkan dan untuk pertama kalinya dia berjauhan dari kekasih yang sudah dipacari nya selama 9 tahun ini.
Lila pulang makan, suara dari seorang wanita setengah baya, membuyarkan lamunan wanita yang bernama lila tersebut. Iya, bu sahut lila langsung berdiri mengikuti ibu, nya. Diruang makan berukuran kecil, duduk lah lila adik lakinya-lakinya, ayah dan ibu. Ka lila besok berangkat ya, iya de sahut lila. Adik laki-laki lila tersebut bernama ade, kamu berapa lama dikota kata ibunya lila, mungkin aku baru pulang kalau libur bu, sahut lila. Kamu besok berangkat naik taksi atau diantar dion, timpal ayah nya lila. Lila besok berangkat naik taksi yah, dion sibuk jadi tidak bisa antar lila, sahut Lila.
Malam itu lila menunggu dion diteras rumah, sambil mengamati tanaman bunga ibunya, yang tumbuh subur. Hai ya kamu lama nunggu aku, suara dion tiba-tiba dari samping, tidak kok yon jawab lila, mari duduk yon kamu mau minum apa biar aku ambilkan kata lila, tidak usah repot-repot ya, sahut dion. Aku bakalan lama dikota yon, sampai libur kerja, aku baru pulang, ini pekerjaan aku yang pertama kali yon, kata lila ke dion pacarnya tersebut. Iya ya aku tidak masalah berapa lama, asal kamu tetap setia, aku tetap menunggumu dikampung, kata laki-laki itu.
Pagi harinya, lila sudah di terminal ditemani ayah, ibu, adiknya dan juga dion. Kamu hati-hati nak dikota orang kata ibunya lila. Iya bu lila selalu mengingat nasihat ibu kata lila. Bu, yah, de, yon aku berangkat ya kata lila, sambil melambai kan tangan naik taksi yang sudah datang menjemputnya. Tanpa dion sadari air matanya menetes, begitu berat hatinya berjauhan dengan wanita yang seama 9 tahun ini, yang selalu ada disampingnya.
Hari pertama kerja, semuanya ramah, dan lila tanpa perlu lama bertemu teman akrB yang humoris, sangatlah cantik, teman kantor lila itu bernama dewi sensil. Dewi selalu menemani lila kemanapun, karena ini memang pertama kali lila dikota. Pacarmu nelpon ya, kata dewi sambil menunjuk HP lila yang berdering diatas meja kerja. Dewi memang tahu kalau dion pacarnya lila, karena lila sering cerita tentang pacarnya itu. Ya kMu sehat, sudah makan apa belum, suara laki-laki diujung telpon. Sudah mas, mas dion udah belum makan sahut lila, memang sudah kewajiban dion tiap pagi, siang dan malam menelpon lila, mengingat tentang makan, karena lila sering mengabaikan makan. Selama dikota komunikasi antar lila dengan dion begitu lancar.
Tanpa terasa sudah 2 tahun, lila baru pulang kekampung, disambuti oleh kedua orang tuanya beserta adiknya, lila melirik kiri dan kanan sambil bertanya dalam hatinya kemanakah dion, mungkin dia sibuk dengan kerjaannya jadi tidak bisa menyambut aku pulang. Ya masuk istirahat kamu pasti capek suara ayahnya lila membuyarkan lamunannya. Lila masuk mengikuti kedua orang tuanya, dan adiknya. Dikamar lila terbangun dan dan beranjak ke kamar mandi. Lila sudah janjian dengan dion untuk bertemu dengannya.
Lila sudah sampai di angkringan diujung jalan kampungnya, dan dari kejauhan sudah kelihatan dion melambai tangannya ke wanita itu. Dengan langkah panjang lila mendatangi dion, mas sudah lama nunggu lila, kata lila lembut. Tidak ya kata laki-laki itu, kamu apa kabar ya, aku kangen, aku baik mas, aku juga kangen sama mas dion, sahut lila berbinar-binar ayo dimakan makanannya ya, sebelum kamu datang sudah aku pesan makanan yang kamu sukai, makasih mas kata lila, lalu menyantapnya, lila memang sudah suka makan soto dari sejak dia kecil.
Setelah mereka selesai makan. Lila mas dion mau ngomong denganmu, sebenarnya mas mau bicarakan denganmu jauh-jauh hari, tapi menurut mas tidak pantas mas ngomong lewat telpon. Pas lila bilang mau pulang. Mas rasa ini kesempatan baik ngomongnya, ketemu langsung. Perasaan lila langsung panas dingin dan dag dig dug, jangan-jangan aku mau dilamar mas dion.
Lila maafkan mas dion, bila mas selama ini sering berbuat salah, sering buat lila nangis. Lila sebenarnya kedua orang tua tua mu tau, bahwa mas 4 bulan yang lalu, bertunangan dengan anak temannya ayahku, aku dijodohkan dengannya untuk membayar hutang ayahku, ke ayah nya tunanganku. Mas dion terpaksa, mas dion sadar kalau bukan aku sebagai anak pertama siapa lagi yang menolong ayahku ya. Sedangkan kamu tahu sendiri adik-adiknya mas masih kecil masih perlu pendidikan. Mendengar perkataan dion, kristal putih bercucuran di pipinya lila, hatinya begitu sesak. Tega sekali dion kepadanya selama 11 tahun lila setia ke dion. Tapi sekarang hanya penghianatan yang lila rasa dari laki-laki itu. Lila berlari keluar tanpa dicegah oleh dion. Karena dion tahu wanita itu sakit hati dan marah.
Sesampai dirumah lila mengetuk pintu, yang dibukan oleh ibu nya. Kenapa kamu nak, kata ibunya lila melihat mata anaknya begitu sembab. Tanpa menjawab lila berlari kekamar nya dan menguncinya. Didalam kamar lila menangis sejadi-jadi tanpa menghirau ketukan dan suara ibunya memanggil, wanita paruh baya itu iba dengan anaknya, selama ini kesetiannya ke dion, kalah oleh perjodohan ayahnya pacar anaknya tersebut.
Didalam kamar lila menelpon taksi, supaya menjemputnya besok pagi. Lila memutuskan untuk kembali ke kota, membawa semua sakit hati nya saat ini, lila keluar dari kamar dan menemui ayah dan ibu nya yang duduk diruang tamu. Lila sebenar nya ayah dan ibu tau, kalau dion bertunangan dengan wanita lain. Ayah dan ibu juga tahu ini bukan keputusan yang mudah buat dion. Ayah tahu dion sangat mencintaimu selama ini, ibunya dion sangat baik ke kamu, dan ke kami selaku orang tua mu. Kamu harus ikhlas menerima semua ini nak, kata ayahnya lila.
Beberapa waktu mereka saling diam, lila akhirnya berbicara ke ayah dan ibu nya, ingin balik ke kota lagi besok. Dan ayah dan ibu lila setuju, karena menurut ayah dan ibu lila dengan begitu hati anaknya terobati. Besok pagi lila diantar ibunya pergi ke kota, dengan naik taksi. Karena ibu nya tidak ingin jauh dari anaknya di saat lila punya masalah berat dalam hidupnya.
Catatan : mohon maaf bila tulisan saya, dan alurnya tidak nyambung karena pertama kali ini buat cerpen dan menulis