Aku Claranisa Audrey akrab dipanggil Nisa. Ini kisah ku dimana sebuah hubungan pernikahan yang aku jalin berdasarkan perjodohan dan hanya untuk memperkuat sebuah perusahaan.
Malam itu saat malam pertama pernikahan kami.
"Akh-" pekik ku saat dia mehempaskan ku disebuah ranjang.
"Kenapa kau lakukan ini kak?" tanya ku dengan air mata berlinang.
Pria yang aku nikahi bukan lain adalah Bisma Anggara seorang pengusaha mandiri asal Jerman.
"Jangan pernah berharap aku akan menganggap dirimu sebagai istriku!"
Jeder
Rasanya kata-kata itu seperti petir yang menyambar tepat mengenai jantungku.
"Tapi kak aku istrimu sah dimata hukum dan agama," kata ku tidak menyetujui perkataan Bisma.
Namun Bisma semakin geram bukannya mengasihani ku namun dia semakin menyiksaku, "Dimataku kau bukan siapa-siapa. Hanya dirumah ini kau memiliki status denganku, namun saat kau berada diluar rumah ini jangan harap mengenal diriku! Karena aku tidak memiliki hubungan apapun saat berada diluar rumah," ucapnya sambil menjambak rambutku.
"Akh-" pekik ku saat dia melepaskan jambakannya.
Hatiku saat itu hancur berkeping-keping. Bagaimana perasaan saat aku mengetahui bahwa dia tidak akan pernah menganggap ku sebagai seorang istri. Malam pertama yang begitu tragis untukku sebagai seorang pengantin.
Aku adalah anak perempuan yang dinikahkan sebagai harga untuk perusahaan ayahku. Perusahaan ayahku yang terancam hancur karena diakuisisi oleh Bisma terpaksa aku mengorbankan diriku untuk membayar harga perusahaan karena ayah sudah tidak memilki uang lagi.
Aku anak dari istri sirih ayahku. Seorang anak yang bahkan tidak pernah diakui oleh ayahnya sendiri. Kini aku juga yang harus mengorbankan diri demi kehidupan keluargaku. Keluarga yang bahkan tak pernah menganggap ku ada.
Aku kira dengan menikah dengan seorang pengusaha tampan muda dan berkarisma, aku bisa hidup lebih baik, aku kira dengan begitu hidupku akan lebih bahagia. Namun nyatanya bisma juga tidak ingin menganggap ku sebagai istrinya. Dia sama sekali tidak ingin melihat diriku ada.
2 tahun berlalu. Semenjak kejadian itu akupun mengikuti semua kesepakatan yang dia buat. Aku juga tidak ingin melanggar setiap peraturan yang dia buat karena jika aku melakukannya, perusahaan ayahku akan hancur.
"Nis.. antarkan dokumen ini pada pak Bisma." titah sekretaris perusahaan padaku.
Aku dengan gugup mengantarkan dokumen itu pada Bisma.
Tok Tok Tok
Beberapa kali aku mengetuk pintu namun tidak mendapatkan jawaban dari sang pemilik ruangan. Dengan ragu-ragu dan juga rasa gugup aku berusaha untuk membuka pintu ruangan.
"Bisma.. sampai kapan kita akan seperti ini?" ucap seseorang yang kini sedang duduk dipangkuan Bisma.
Ya! Dipangkuannya! Sungguh hatiku remuk hatiku sudah tidak akan pernah utuh lagi. Dada ini begitu sesak. Aku menutup mulutku dengan air mata yang bercucuran.
"Sabarlah sayang.. aku pasti akan mempublikasikan bahwa kau adalah istri ku istri pertama dan istri satu-satunya." kata Bisma menc*mbu mesra wanita itu.
Sayang.. kata yang tidak pernah aku dengar dari mulutnya kini aku dengar untuk wanita lain. Istri pertama.. mata ku tercengang mendengar bahwa ternyata aku bukanlah istri pertamanya.
Istri satu-satunya.. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku berlari keluar dari perusahaan dokumen yang tadi ku bawa aku kembalikan pada sekretaris.
Hiks.. Hiks..
Aku meringkuk disebuah taman. Dibawah pohon aku menangis sambil menundukkan kepala. Aku tidak ingin seseorang melihatku. Hatiku hancur, Pilu, banyak duri tajam menusuk setiap nadi yang ada dijantungku. Hantaman begitu keras terasa hingga dadaku begitu sesak jika kembali mengingat perkataan suamiku tadi.
Suami kata ku? bahkan dirinya saja tidak pernah menganggap diriku sebagai suami. Lalu mengapa aku masih tabah menganggapnya sebagai seorang suami.
Hari pun menjelang malam. Selesai menenangkan diri aku berjalan pulang. Bahkan aku tidak membawa ponselku saat ini tasku juga masih dikantor.
Hembusan angin malam berhasil menelusuk kedalam tubuhku. Tiba-tiba hujan deras menghadang. Aku semakin kedinginan saat berjalan pulang.
Ceklek
Aku membuka pintu rumahku. Disana terlihat Bisma sudah duduk di sofa sambil mengangkat kakinya membaca beberapa dokumen yang dia pegang.
"Kemana saja kau sejak tadi?" tanyanya dengan nada tajam namun masih menatap dokumen itu dengan serius.
"Keluar." jawab ku lugas kemudian berjalan menuju tangga.
"Apa kau sudah berani melawan sekarang?" tanyanya mengingat peraturan bahwa pihak kedua tidak boleh keluar malam dan tidak boleh jalan dengan laki-laki lain.
Lucu bukan dia bahkan tidak menginginkan ku sebagai istri namun segala kebebasan untuk bisa berasmara dengan lawan jenis juga dilarangnya.
"Maaf." Tanpa menghiraukan perkataannya aku berjalan menaiki anak tangga.
Byur byur
Aku menyirami tubuhku dengan air dingin berharap dengan begitu segala api yang menyala dalam denyut jantungku akan padam dan juga segala api amarah yang hanya bisa aku luapkan dari air mata berharap akan padam juga.
Ceklek
Bisma membuka pintu kamarku saat aku sudah selesai mandi. Sejak kami menikah kami tidak pernah satu kamar. Tidak ku hiraukan keberadaannya. Dengan badan polos yang ditutupi oleh handuk, aku membuka lemari ku untuk mengambil pakaian.
"Kau tidak berniat untuk menggodaku?" tanyanya didepan pintu dengan tangan yang dia silangkan didepan dadanya.
"Tidak."
Kami sudah menikah sejak dua tahun namun aku tidak pernah sekalipun berniat untuk tidur sekasur dengannya. Dan selama kami menikah dia hanya meniduriku saat dia dalam keadaan mabuk. Ingin rasanya saat itu aku melepaskan diri darinya namun dia begitu kuat bahkan dalam kondisi mabuk sekalipun.
"Aku ingin kita bercerai," kata ku tanpa berpikir lebih panjang lagi.
Bisma tersenyum sinis mendengar perkataan ku.
Click
Pintu itu ditutup olehnya. Seketika badanku merinding dan berwaspada, Bisma melangkah lebih dekat pada diriku.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya ku terbata-bata karena gugup dan takut.
"Kau ingin cerai bukan?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Iya!" jawabku penuh amarah bahkan dia pasti akan melihat jelas kemarahan ku dari mataku.
"Baiklah kita lihat apakah setelah ini kau masih bisa bercerai denganku atau tidak."
"Aa-Apa maksudmu."
"Humph." Bisma tiba-tiba menutup mulutku.
Dengan paksa dia melecehkan diriku. Seberapapun kuatnya diriku memberontak berusaha untuk melepaskan diri. Bisma tidak membiarkan ku lepas dari dirinya. Semakin aku meronta Bisma semakin jadi memasuki diriku.
Airmatapun selalu menjadi saksi setiap kepedihan yang aku rasakan. Malam itu Bisma menyetubuhi diriku dalam keadaan sadar untuk pertama kalinya.
Kring kring.
Matahari terbit menggantikan malam panjang yang telah ku habiskan dengan Bisma. Alarmku juga berbunyi untuk menyadarkan bahwa aku harus bersiap-siap untuk pergi kekantor.
"Hiks Hiks .." Rasa sakit pada bagian v ku masih tidak tertahankan. Aku terus menangis sambil memegang erat bagian v ku yang sudah tertutupi oleh rok kantor.
Bruk
Aku pingsan sesaat setelah keluar dari kamar. Entah berapa lama aku terpejam dalam pingsan ku. Saat terbangun aku sudah berada di kasurku dengan Bisma yang duduk disampingku.
"Kau sudah sadar?" tanyanya memegangi keningku.
"Apa kau ingin ku bawa kerumah sakit?"
Aku menggelengkan kepala kemudian membenarkan posisi untuk duduk.
"Jika kau tidak sakit cepatlah kekantor! Karena disini kau bukan ratu ataupun permaisuri. Perusahaan ku tidak akan pernah menerima karyawan males yang berpura-pura pingsan seperti mu!" titahnya.
"Akh kak pelan." Bisma dengan paksa mencengkram tangan ku menarik paksa untuk berjalan ketempat garasi.
Brum
Mobil sport putih itu dilakukannya dengan kencang. Dengan dada berdebar-debar aku duduk didalamnya. Dia benar-benar membuatku merasakan maut disetiap saatnya.
"Aku bisa turun sendiri," ucap ku saat dia hendak mencengkram ku kembali.
Aku berjalan menuju kantor walaupun semua orang menatapku. Degan wajah penuh tanya mereka semua menggosipi aku yang telah berangkat satu mobil dengan Bisma dan berangkat sangat siang.
"Apa dia wanita gelapnya pak Bisma?" itulah salah satu pertanyaan yang bisa aku tangkap dengan jelas.
"Cepatlah bekerja jika tidak ingin mendapatkan SP1 dari HRD," ucap Bisma tegas saat dia melihat semua orang sedang berbisik-bisik membicarakan tentang dirinya dan diriku.
Wanita kemarin yang aku lihat kini kembali datang. Dengan kaki jenjangnya, heels hitamnya dan pakaian seksinya dia berhasil membuat semua orang kagum melihatnya.
Tentu dia dikagumi dengan badan sempurna seperti itu. Berbeda dengan diriku badan pendek yang kurus dan hanya memakai flatshoes walaupun kulitku putih tapi aku tidak secantik dirinya wanita istri pertama dari suamiku. Harus ku namai siapa dirinya aku bahkan tidak mengenali dirinya.
Kepala ku sangat berat bahkan perutku terasa diulek-ulek. Aku berusaha mengontrol kondisiku. Setiap kali aku berhubungan intim dengan Bisma aku selalu merasakan hal ini. Terutama bagian V ku yang sangat sakit dihantam oleh Bisma.
"Nis apa kau baik-baik saja?" tanya manager padaku.
Aku menganggukan kepalaku pelan untuk menjawab pertanyaannya. Mataku terlalu lelah karena menangis dan kepalaku semakin pusing dan terasa berat.
"Kau sudah menikah bukan?" tanyanya sambil menatap jemariku.
Iya tentu dari cincin yang ada dijari manis ku siapapun akan tau jika aku sudah menikah, "Ada apa ya Bu?" tanyaku pada ibu manager.
"Wajahmu sangat pucat dan kau kelihatan begitu lemah. Apa kau sedang terlambat datang bulan?"
Deg
Aku memejamkan mataku mengingat kapan terakhir kali aku datang bulan. Namun aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit dikepalaku.
Bruk
Aku pingsan lagi dengan posisi duduk. Sepertinya saat aku pingsan ibu manager begitu panik. Sehingga aku dibawa ke klinik olehnya.
"Nisa kamu udah bangun?" Sapanya dengan senyuman hangat yang ada di bibirnya.
"Iya." Aku mulai tersadar dan membenarkan penglihatan ku.
"Selamat ya nis kamu hamil dan sudah memasuki usia 5 Minggu."
Mendengar itu nafasku memburu. Dadaku begitu sesak dan aku tidak tau harus bagaimana menanggapi perkataannnya.
"Hamil? 5 Minggu?" Aku tidak ingat kapan Bisma meniduriku sehingga aku bisa mengandung anak darinya.
"Iya Nisa kamu hamil selamat ya." ibu manager memelukku dan mencium keningku dia terlihat turut bahagia dengan kehamilanku padahal aku saja tidak pernah membayangkan bisa hamil seperti ini.
Saking senangnya ibu manager malah membeli beberapa manisan untuk dibagikan dikantor.
"Lihat aku sangat bahagia saat salah satu karyawan ku juga bahagia manisan ini akan ku bagikan pada semua orang yang ada di kantor untuk merayakan kehamilanku. Tapi tunggu dulu apa kau tidak menyadarinya selama ini jika kau sudah hamil?"
Aku tidak pernah merasakan gejolak apapun yang menandakan aku hamil. Jika saja Bisma tidak meniduri ku semalam yang membuat ku jadi selemah ini mungkin aku tidak akan pernah tau sampai perut ini membesar.
"Ah sudah lupakan jangan kau pikirkan apapun yang penting sekarang kau harus menjaga kesehatan mu."
Dia membagikan setiap manisan itu pada semua orang dikantor.
"Ada apa ini kenapa kau membagikan manisan dengan sangat bahagia?" tanya Bisma heran menatap manisan yang dia pegang.
"Nisa hamil pak saya turut bahagia maka dari itu saya merayakan kebahagiaan karyawan saya." ibu manager itu kemudian menutup mulutnya.
"Maaf pak karyawan bapak." ralatnya saat mengingat posisinya dia berbicara dengan siapa.
"Tidak masalah. Jadi Nisa hamil? Wah selamat Nisa mari ikut dengan saya." Kata Bisma dengan wajah bahagia namun pada kalimat terakhirnya nadanya begitu dingin.
Akupun mengikutinya dari belakang.
"Ada apa pak?" tanyaku menundukkan kepala .
"Jadi kamu sedang hamil itu anak siapa?" tanyanya.
Wow dalam hatiku masih kagum dengannya kagum penuh dengan kebencian. Aku tidak pernah tidur dengan siapapun tapi dia berani mempertanyakan anak siapa yang ada dalam rahimku. Dia tidak pantas untuk menjadi ayah untuk anakku.
"Aku ingin resign."
Seketika Bisma membulatkan bola matanya kaget dengan apa yang aku ucapkan, "Kau ini benar-benar gila? Kemarin cerai sekarang resign apa yang kau inginkan sebenarnya? Sekarang kau sedang hamil dan kau ingin cerai dan resign? apa setelah ini kau bisa menjamin hidupmu?" tanyanya penuh emosi.
Bug
Bisma menghantam keras tembok tepat disamping kepalaku.
"Biarkan aku pergi jika dirimu saja sudah memiliki pujaan hati yang kau jaga dengan baik selama ini, kenapa aku harus tetap ada disampingmu." Air mataku sudah tidak bisa ku tahan lagi.
Hiks hiks
Aku menangis masih dengan posisi dimana Bisma menatapku penuh amarah.
"Apa aku begitu kejam padamu selama ini?"
Stop Bisma stop jangan membualkan kalimat penuh gula hingga aku terbuai lalu kau akan menjatuhkan ku lagi dan lagi. Aku tidak akan pernah merubah keputusanku Bisma. Tidak akan pernah!
Ingin rasanya aku meluapkan semuanya namun apa daya aku terlalu lemah untuk berkata-kata.
"Baiklah jika emang kau ingin cerai maka cerai saja 3 hari lagi surat pengadilan akan sampai kerumah mu dan hari ini juga surat pemecatan akan berada dimejamu."
Tunggu dulu aku minta resign bukan dipecat berarti dengan begini aku tidak akan mendapatkan sangu, "Pecat?" tanya ku memastikan.
"Iya pemecatan apalagi kau sudah cukup kaya bukan hingga berani untuk resign."
Jangankan kaya bahkan dompetku tidak pernah terisi. Meskipun aku istrinya tidak pernah sekalipun dia memberikan aku uang sebagai nafkah darinya aku juga tidak diberikan kartu apapun, kini aku tidak mengheraninya karena dia memilki istri yang selama ini dia simpan.
Istrinya saja dia tidak publikasikan statusnya apalagi aku yang menikah karena perjodohan bisnis. Dengan segenap air mata. Segenap jiwa yang masih aku punya aku melangkah mundur dan meninggalkan suamiku.
Genap sudah kini semua keputusanku. Aku tidak akan pernah kembali lagi pada mereka ayah keluarga Bisma dan lainnya. Kini hanya ada anakku sebagai penyemangat ku. Satu-satunya orang yang akan menyayangiku.
"Nak semoga kau cepat dilahirkan, ibu tidak sabar menggendongmu membesarkanmu, memanggilku sebagai ibu. Ibu akan merawatmu dan akan selalu menyayangi dirimu. Nak ibu akan menyayangi dirimu dengan sepenuh hati dan semoga kau selalu menjadi anak yang berbakti." kata ku sambil mengelus perut ku yang masih datar.
Segala barang ku kemas dari kantor begitu juga barang yang ada dikantor. Dengan langkah pasti aku mengemasi barang-barang ku untuk pergi dari rumah neraka itu.
Meski bayi ini adalah bayinya, pria yang aku benci seumur hidupku tapi bayi ini tetap tidak berdosa atas kesalahan ayahnya. Aku akan membahagiakan bayi ini hingga besar nanti.
Tamat ~
Terima kasih sudah membaca maaf jika tidak menyukai tulisan singkat ku 🤧 terima kasih sekian dari saya mohon maaf jika ada salah kata