Warning!! 🚫
This writing [No Edited]
Alur : Maju-mundur
⏜፞⏜┈┈ஓீ͜ᚸ⃝⃘⃟⩵꙰ཱི✰ཻ͜҈ᚸ⃝⃘⃟⩵꙰ཱིஓ┈┈⏜፞⏜
My bounty is a boundless as the sea
My love are deeps ; the more i give to the the more i have, for both are infinite - William Shakespeare
⏝⏝┈┈ஓீ͜ᚸ⃝⃘⃟⩵꙰ཱི✰ཻ͜҈ᚸ⃝⃘⃟⩵꙰ཱིஓ┈┈⏝⏝
Happy reading! 🥀
Namaku Juliet. Umur 19 tahun saat menjadi tour guide di tempat wisata lokal. Aku ingin menceritakan kisah kelamku yang tidak akan mungkin pernah terjadi pada kalian atau pun terulang kembali. Kejadiannya bermula saat hari ulang tahunku yang ke-17 tahun.
"Kemunculan gerhana bulan strawberry yang sangat langka malam ini, tepatnya pukul 12 malam akan tampak."
Gema televisi yang ada di warung makan tempat biasa aku beristirahat menelusup ke pendengaranku.
Aku adalah gadis yatim piatu yang tinggal di sebuah panti asuhan kumuh di sekitar pinggir kota. Aku pamit kepada ibu asuh dan merantau kesini, ke tempat dimana aku bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku. Aku mulai menjadi pemandu wisata ketika masih berumur 14 tahun. Saat itu, keadaan di panti sangatlah memprihatinkan. Hampir semua anak di panti sakit karena kelaparan dan juga kurang gizi. Ibu asuh yang hanya bekerja sebagai guru honorer pun tidak dapat memenuhi kehidupan anak panti. Entah kemana semua donatur itu pergi dan tidak ada yang menyuplai kebutuhan lagi untuk sehari-hari. Dari situlah aku merantau dan bekerja sambil belajar sejarah mengenai tempat-tempat kuno yang ada disini. Hidupku yang sengsara itu pun dimulai.
Malam ini, ada sekelompok mahasiswa yang ingin melakukan dokumentasi mengenai situs budaya yang ada di tempat kerjaku. Di Istana Rumpaka. Aku bertugas untuk menuntun mereka melakukan dokumentasi tersebut. Aku dengan peralatan seperti loud speaker dan senter berjalan menghampiri sekelompok pemuda pemudi yang juga membawa peralatan mereka, seperti kamera, voice recorder, note book, dan lampu penerang. Aku membawa mereka menuju pelataran istana yang begitu luas dan terjaga karena selalu di bersihkan dan dirawat oleh kuncen daerah ini.
Mereka sibuk membuat laporan serta merekam beberapa area yang ada di luar istana. Karena kami tidak diperbolehkan masuk untuk menjaga kelestarian dan keaslian dari Istana yang sudah dijaga selama ratusan tahun lalu. Aku duduk di bangku dekat sebuah pohon besar dengan daun berwarna pink kemerahan sambil memerhatikan beberapa mahasiswa yang tampak bercanda ria. Aku mengistirahatkan sejenak tubuhku yang tidak ada berhentinya sejak pagi bekerja. Setelah puas dengan pelataran istana, kami pun berpindah untuk melihat danau yang ada di belakang istana ini. Danau ini begitu cantik karena setiap malam disinari oleh sinar terang bulan yang tampak seperti mutiara. Kami mulai membuat api unggun untuk menghangatkan badan karena suhu yang mulai turun ketika tengah malam tiba. Aku melihat ke arah jam tanganku.
23:59.
Ya, aku dibayar cukup mahal untuk melakukan hal ini. Menemani mereka yang belum juga selesai dengan dokumentasi tugas mereka. Aku mengerjapkan mata berkali-kali ketika menoleh ke arah pohon yang tadi aku duduki. Entah halusinasiku atau bukan, daun-daun pohon itu tampak bercahaya. Warna kemerahan yang mendominasi daunnya seketika hilang dan berganti menjadi warna merah muda terang. Konon katanya, pohon itu merupakan saksi dari cinta seorang putri yang tinggal di istana ini berabad-abad lalu.
Aku tersentak kaget ketika seseorang dibelakang-Ku berteriak kepanikan. Seorang gadis tenggelam ketika hendak mengambil barangnya yang terjatuh. Aku melihat ke sekeliling untuk mencari bantuan, namun yang kutemukan nihil. Para lelaki dari kelompok mahasiswa ini entah pergi kemana, yang jelas aku lihat hanya ada para gadis yang menangis melihat temannya hampir tertelan air danau. Dengan nekat aku pun melompat ke arah danau berusaha meraih tangan gadis yang sejak tadi pingsan. Mungkin menelan air danau. Aku mendorong gadis itu ke pinggir jembatan kayu tempat para mahasiswi itu menungguku menyelamatkan teman mereka.
Ketika aku hendak meraih salah satu dari uluran tangan mereka, aku merasakan tubuhku berpusar dan tertarik ke dalam danau. Aku berusaha menggapai-gapai namun seakan ada medan magnet yang begitu kuat dari dasar danau ini, aku pun tenggelam didalam-Nya yang terasa begitu tenang. Tidak ada riak air maupun ombak yang bisa membuatku tenggelam.
Tubuhku pasrah dengan tenang menghampiri dasar danau yang begitu dalam. Aku melihat ke arah langit malam yang indah di atas sana. Saat itu juga aku melihat bulan yang bersinar terang benderang seperti bola kristal itu berubah menjadi warna merah muda yang cantik. Seakan menyimpan kehidupan didalamnya. Oh benar. Itu gerhana bulan stroberi, pikirku.
Warnanya begitu cantik di mata ku. Mungkin ini pemandangan terakhir yang aku lihat dalam dunia ini. Aku cukup bersyukur dengan itu. Hingga aku merasakan kantuk yang begitu beratnya menyerang mataku. Dan aku pun hanyut dalam ketenangan dan damai untuk yang terakhir kalinya.
***
Aku terbangun dan merasakan berat yang teramat sangat menghantam kepalaku. Seakan ada batu besar yang saat ini bersarang dalam otakku. Aku berusaha bangkit sambil terus memegangi kepalaku yang terasa pusing. Apa yang terjadi sebenarnya? Dimana aku?
"Non Julia baik-baik saja?" seorang gadis berpakaian aneh menghampiriku dan menyentuh bahuku lembut sambil bertanya dengan suara yang halus. Aku mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di sini. Jadi aku tidak mati? Lalu, siapa tadi yang disebutnya Julia? Namaku Juliet!
"Permisi, saya harus pergi!" ucapku bergegas bangun dan meninggalkan gadis yang kebingungan itu. Atau lebih tepatnya aku yang sedang kebingungan. Aku keluar dari ruangan yang dihiasi berbagai macam ornamen bunga itu dan melihat ke arah seluruh penjuru ruangan yang aku tapaki saat ini. Ini tampak seperti sebuah ballroom yang kelihatan sedikit kuno, dengan dominasi warna emas. Aku berjalan keluar dengan mengikuti cahaya matahari yang menembus dari sisi-sisi jendela besar yang terpajang di sepanjang jalan. Ketika aku keluar, aku tampak familier dengan tempat ini. Namun ada yang berbeda. Mengapa semua orang yang lalu lalang ini memakai baju kuno?
Ketika aku menunduk pun aku baru sadar sedang memakai baju dengan potongan hanya menutupi dari atas dada hingga ke bawah, lengkap dengan selendang sutra berwarna seragam dan rambutku pun digerai. Aku pasti bermimpi, pikirku. Ada apa denganku, dan juga dengan tempat ini. Bukankah ini Istana Rumpaka? Tapi kenapa suasananya begitu berbeda. Aku berbalik hendak menanyakan sesuatu kepada orang yang lewat namun langkahku terhenti oleh tepukan seseorang dipunggungku.
"Julia, kau sudah sadar?" seorang lelaki tampan yang berpakaian seperti kesatria jaman jawa kuno bertanya kepadaku. Sudah berapa kali aku dipanggil Julia. Ku bilang namaku Juliet!
"Syukurlah, aku sangat khawatir mendengar kau tak sadarkan diri." ucap lelaki itu menghela napas lega tanpa menghiraukan pertanyaanku sebelumnya. Ia menarik tanganku ke suatu tempat yang masih berada di sekitar istana. Lelaki itu membawaku untuk duduk di sebuah batang kayu dekat sebuah pohon besar dengan daun berwarna pink cerah. Aku sedikit terperangah melihat keindahan pohon ini. Membawa kesejukan dan sangat enak dipandang. Lelaki yang tadi memanggilku Julia itu pun menggoreskan sebuah gambar di pohon tersebut menggunakan sebuah bilang besi yang cukup panjang. Aku yang kebingungan pun berdiri menghampiri lelaki yang sedang sibuk dengan yang dilakukannya itu.
"Ini apa?" tanyaku ketika melihat hasil buah tangan dari lelaki itu dan ia menatapku dengan teduh.
"Nama kita!" jawabnya sambil tersenyum tulus. "Romio dan Julia.”
Aku tertegun seketika melihat binar kebahagiaan yang terpancar dari matanya. Lalu aku mengamati coretan berbentuk abstrak yang tidak kumengerti itu.
"Aku Julia?" tanyaku kepadanya tidak yakin, takut menyinggung kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Dan aku Romio!" bukannya menjawab ia malah menyebutkan namanya lalu mengusap kepalaku sayang. Aku bersitatap dengan nya begitu lama sampai sebuah panggilan keras yang memanggil nama Julia dari kejauhan terdengar. Ternyata itu gadis yang pertama kali aku temui saat sadar beberapa waktu lalu.
"Den Romi disini?" tanyanya panik sambil menoleh ke arah sekitar dengan tatapan cemas yang teramat sangat. "Sebaiknya den Romi kembali sekarang juga, atau nyawa den bisa hilang jika den Galih melihat den disini."
Aku tercengang mendengar ucapan gadis ini yang menyebut hal menyeramkan tersebut. Lalu aku mengalihkan pandangan ke arah lelaki yang kuketahui namanya itu adalah Romio, sedang menatapku dengan pandangan tidak rela.
"Kita akan menikah, aku janji!" ucapnya memegang tanganku sebelum akhirnya pergi dengan secepat kilat meninggalkan kami berdua. Aku yang penasaran pun bertanya kepada gadis ini mengenai identitasku didunia yang asing ini. Setelah bercengkrama cukup lama, aku akhirnya mengerti tentang siapa aku dan dimana aku sekarang ini. Awalnya aku begitu terkejut mengetahui bahwa saat ini aku sedang berada pada zaman kerajaan Rumpaka yang berjaya di-abad 18. Mungkin ini sebuah reinkarnasiku ke kehidupan masa lalu, atau jiwaku yang terjebak didunia ini saat aku hendak mati karena tenggelam di danau purnama itu.
Namaku disini adalah Julia. Aku seorang putri dari Raja Surimena dan juga selirnya yang bernama Cempaka. Aku ini anak bangsawan yang berseteru dengan kerajaan sunda dan itu merupakan keluarga dari pangeran Romio, Kekasih gelapku yang kutemui saat pesta pembukaan para bangsawan beberapa bulan lalu. Orang yang sedang bersamaku ini adalah Pitaloka, dayang yang paling setia selalu berada di dekat ku. Setidaknya itu lah yang aku dengar dari ceritanya.
Selain itu, aku sudah dijodohkan dengan sepupuku sendiri yang bernama Putra Galih, panglima perang kerajaan Surimena yang paling pemberani dan gagah perkasa. Namun aku tidak mencintainya dan malah diam-diam menjalin hubungan khusus dengan putra dari kerajaan musuh. Hal itu pula yang membuat perseteruan antara Putra Galih dan Romio Sehingga membuatku terluka dan tidak sadarkan diri dalam waktu yang begitu lama. Dari situlah Pitaloka ini beranggapan bahwa aku mengalami amnesia akibat benturan yang terjadi ketika perkelahian Galih dan Romio.
"Seminggu lagi adalah pernikahan Non Julia dan Raden Galih." ucapan Pitaloka itu membuatku sadar dari lamunanku. Ia menceritakan bahwa janji pernikahan ini dipercepat akibat hubunganku yang sudah diketahui oleh ayahku. Kalung dengan liontin batu berlian merah muda cantik yang sedang melingkar di leher ku ini pun merupakan hadiah pertunangan dari Putra Galih untukku.
"Sepertinya aku begitu menyukai warna pink ya?" tanyaku pada Pitaloka, ia bertanya warna 'pink' itu apa kepadaku. Aku hampir lupa kalau aku sedang berada di jaman batu, pikirku.
"Biar kuulang, sepertinya aku begitu menyukai warna merah muda ya?"
"Benar sekali. Bahkan pohon cinta ini pun non Julia dan mendiang ibu suri yang menanamnya ketika kecil." jawab Pitaloka menceritakan asal-usul dari pohon cantik yang sedari tadi menyita perhatianku. Ada sedikit rasa bangga mengetahui bahwa pohon secantik ini adalah aku dan ibuku yang merawatnya.
Namun, satu pikiran terlintas dalam benakku. Mengapa di masa depan, warna dari daun pohon cinta ini lebih didominasi warna kemerahan. Apakah warnanya akan berubah seiring bertambahnya jaman. Hari-hari berikutnya pun aku nikmati menjadi seorang putri raja yang disegani banyak orang. Hampir semua orang menundukkan kepalanya di hadapanku karena status sosialku yang merupakan putri tunggal dari Raja Surimena. Kehidupan pelik dan pahit yang aku alami ketika di jaman modern seperti terbayarkan oleh masa-masa disini. Aku makan dengan enak, memakai pakaian bagus yang terbuat dari sutra dan dijahit benang emas. Aku bisa membeli apa pun dipasar lokal. Aku berdandan sepanjang waktu tanpa harus memikirkan bagaimana caranya mencari uang. Sungguh kehidupan disini lebih baik daripada masa kehidupanku sebelumnya.
Hingga tiba saatnya 2 hari lagi aku akan menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Yang lain tidak bukan adalah sepupuku sendiri, dengan sialnya aku tidak bisa menolak atas perjodohan ini karena ini merupakan wasiat dari mendiang ibuku yang sangat dicintai oleh ayahku. Orangtua yang bahkan tidak aku miliki di kehidupanku sebelumnya.
Malam ini, dengan mengendap-ngendap Pitaloka datang ke kamarku dan menyampaikan sebuah surat yang berasal dari Kerajaan Kertapa, nama dari keluarga Romio, lelaki yang sangat aku cintai. Ia berencana menikahiku esok hari. Sehari sebelum aku menikah dengan Putra Galih. Ia memintaku untuk datang ke kuil di gunung selatan untuk mengadakan sumpah pernikahan kami disana. Namun penjagaan yang sangat ketat pun diterapkan di dalam maupun diluar istana. Aku tidak diperbolehkan kemana-mana sampai waktu pernikahanku tiba. Aku dan Pitaloka pun membuat sebuah rencana yang akan membebaskanku dari jeratan neraka ini.
Pitaloka membantuku menuliskan sebuah skenario di atas kertas usang yang nantinya akan disampaikan kepada Romio. Disitu tertulis bahwa rencanaku adalah meminum sebuah ramuan dari bunga 'ibu tiri' yang sudah diracik sedemikian rupa oleh pembuat minuman dari kerajaan yang akan membuatku pingsan selama 24 jam, untuk mengelabui ayahku dan juga keluarga besar kerajaan bahwa aku sudah mati. Dengan catatan aku ingin disemayamkan dekat dengan pohon cinta.
Berdasarkan pengetahuan sejarah yang ku punya, bunga 'ibu tiri' merupakan bunga untuk membuat racun mematikan yang digunakan untuk perang jaman dahulu. Efeknya akan bereaksi dalam 6 jam untuk mematikan sel-sel yang ada ditubuh orang yang terkena racunnya. Namun dengan diolah lebih mendalam, racun bunga ini bisa dijadikan sebagai obat pingsan yang akan menahanku untuk tetap tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama serta detak jantung yang tidak terasa.
Surat yang ku-cap dengan darah itu pun ku-amanatkan pada Saru, seorang pengawal kerajaan kepercayaanku yang juga berteman baik denganku. Saat ini juga, tengah malam dibulan purnama aku meminum ramuan tersebut dan menjalankan skenario yang telah kuatur dengan sebaik-baiknya bersama Pitaloka. Ia membantuku mendramatisir keadaan bahwa aku bunuh diri karena ketidak setujuan ayahku, aku menikah dengan Romio. Pernikahanku dengan Galih pun dibatalkan, upacara kematian yang begitu mewah diadakan. Semua keluarga kerajaan menangisi kematianku. Namun, hal lain terjadi di luar prediksiku.
Putra Galih yang dendam terhadap Romio pun mendatangi kerajaan Kertapa dan menantang Romio untuk berduel atas kematianku. Galih yang tidak menemukan Romio dimana-mana akhirnya mendesak Rosi, adik dari Romio untuk mengatakan dimana keberadaan kakaknya yang berakhir tidak sengaja membunuhnya. Berita itu pun terdengar oleh Romio yang sedang menungguku di kuil gunung selatan. Ia berbalik haluan menemui Putra Galih lalu membunuhnya seketika.
Hal yang paling tidak terduga adalah surat yang ku kirim untuknya tidak tersampaikan dengan benar akibat Saru yang dibunuh oleh pengawal kerajaan Kertapa yang berjaga di sekitar Kuil. Romio yang mendengar berita paling menyedihkan dari mulut Galih di saat-saat terakhirnya, yaitu mendengar berita kematianku pun dengan nekat datang ke acara pemakamanku dan melihatku terbaring kaku di sebuah peti putih berhiaskan bunga indah, dekat dengan pohon cinta tempat kami menghabiskan waktu bersama. Romio menangis meraung kesakitan melihat wajah pucat pasiku yang begitu menyayat hatinya.
"Aku mencintaimu, Julia." ia menangis selama berjam-jam tanpa henti hingga air matanya mengering.
Menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit dan sesak melihat belahan jiwanya mati begitu saja yang ia pikir disebabkan olehnya. Romio menarik tanganku yang dingin lalu mengecupnya begitu lama. Ia mengambil belati yang selalu dibawanya kemana pun lalu menancapkan ke dada sambil memelukku hingga deru napasnya berhenti.
"Kita bersama selamanya, Julia." ucap Romio ketika hembusan napas terakhirnya berada di atas tubuhku.
Selang beberapa waktu tubuh Romio menjadi kaku, aku pun terbangun dari tidur panjangku dan terisak melihat darah yang membasahi gaun putih yang kukenakan. Tangisan pun tak terelakkan keluar dari mataku, suaraku yang menjerit kesakitan begitu membuat ngilu siapa pun yang mendengarnya. Cintaku harus mati di hadapanku sendiri. Aku merutuki diri sendiri yang tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku menangis sejadi-jadinya. Sebuah tangisan pilu yang mungkin tidak ada orang lain didunia ini ingin rasakan bagaimana sakitnya.
Sebuah tangisan penyesalan dan tangisan paling menyakitkan yang pernah ada. Aku mengelus sayang wajah Romio yang pucat pasi dan meletakkan tanganku di atas dadanya. Melakukan hal bodoh yang tentunya sudah aku ketahui. Jantungnya benar-benar berhenti berdetak.
Aku meraung-raung meminta pertolongan namun tak ada yang menjawab. Hanya ada kesunyian tengah malam yang menyelimuti kami berdua. Aku terisak sampai rasanya napasku tidak dapat terasa lagi.
Aku berdiri memandangi ukiran nama kami berdua yang di buat oleh Romio minggu lalu. Aku meraba tulisan ini dan melihat ke arah bulan yang sedang bersinar terang benderang. Warnanya putih seputih salju. Begitu suci tidak ternodai oleh apa pun. Dengan keyakinan penuh aku menarik belati yang tertancap di dada Romio lalu mengarahkannya ke dadaku.
"Aku juga mencintaimu, Romio." ucapku dengan susah payah merasakan napasku tercekat dan ajalku sudah tiba.
Aku meneteskan air mataku untuk yang terakhir kalinya memandangi wajah tampan Romio yang membuatku terpesona sejak awal bertemu. Melihat bagaimana pengorbanannya yang begitu dalam sudah bisa membuktikan seberapa banyak cinta yang ia miliki terhadapku. Julia. Aku memeluknya dengan hati-hati lalu membaringkan tubuh kami seperti posisi semula ketika aku bangun tadi.
"Kita bersama selamanya, Romio." akhir yang tidak diinginkan pun terjadi antara kisah cintaku dan Romio.
Kami mengucapkan janji sehidup semati yang disaksikan oleh pohon cinta yang sekarang aku tahu alasannya mengapa berubah warna dan juga dilihat oleh bulan yang berubah warna menjadi darah.
Sebuah akhir dari asmaraloka yang tragis.
***
Aku terbangun dari koma selama 1 tahun berlalu.
Semua ingatan menyakitkan yang telah melukai relung hatiku itu pun memenuhi seluruh isi kepalaku. Bagaimana tragedi itu terjadi masih terekam jelas di mata ku. Sakit. Aku merasakannya. Aku sadar bahwa hidup yang tak kuinginkan selama ini merupakan kehidupan yang lebih baik daripada masa lalu.
Sungguh, jika aku diberi pilihan, tentu aku akan lebih memilih untuk hidup di masa ini dan lebih mensyukuri nya. Ini merupakan pelajaran yang takkan kulupakan seumur hidupku.
Di saat aku, tersadar dari kehidupan masa laluku.
(SELESAI)