Brreeemm.. Brremmm
Tiitttiiittt… Tittt…
“aaarrrggghhhh…”
“ughh… Ouch!!”
‘kenapa kasur gue kasar sih!, kayak tembok aja’ keluhku sambil kuusap-usap jidatku yang sakit akibat terbentur benda keras tadi.
Kulirik sekelilingku dengan mata setengah merem melek ‘uh kok rame’ bisikku kaget. Mungkin pandanganku masih belum jelas maka kukucek-kucek kedua mataku. Lalu sekali lagi ku fokuskan dengan keadaan tempatku berbaring sekarang.
“wuooohhh… Where the hell am i (dimana gue)?!!” teriakku panik melihat suasana sekelilingku yang hiruk pikuk di tengah-tengah kemacetan kota.
Kubangun bergegas beranjak dari aspal trotoar tempat ku baringkan tubuh ini. Tanpa berfikir panjang segera ku ayunkan kedua kakiku melarikan diri dengan kepanikan dan ribuan pertanyaan berputar di dalam kepala yang semakin terasa berat.
‘gila! Kenapa aku laper banget ya?’ pikirku sambil memegang perutku yang keroncongan.
Kepanikanku makin bertambah ketika ku menengok pada sebuah kaca toko di depanku.
“siapa itu!!!” tudingku pada sosok bayangan dari pantulan kaca itu. Tampak berdiri seorang pria compang camping berjenggot lebat menatapku terbelalak.
“oh no… No no no no…”
Kusentuh seluruh bagian tubuhku memastikan bahwa ini bukan mimpi. Bingung, takut, tegang bercampur jadi satu. Bahkan ku tak sanggup menopang berat tubuhku. Keringat dingin bercucuran membasahi seluruh kulitku, kemudian aku pun terkulai lemas di emperen toko menyadari bahwa pria yang menatapku ini adalah aku.
“hoi… Aduhhh..! Oe lagi oe lagi. Oe gak kapok kapok rupanya!” suara pria china di depanku menatap dengan jijik seakan-akan ia bosan menemukanku. Yang kini aku sendiri pun tak tau apa benar ini badanku. Karena seingatku kemarin aku masih seorang ardi pratama yang seribu kali jauh dari keadaanku sekarang.
Aku adalah putra tunggal keluarga pratama dan tentunya calon pewaris satu-satunya milyarder ternama di negara ini. Hidupku tinggal menjentikkan jari maka dalam sekejap ku bisa dapatkan segalanya yang kuinginkan.
Lalu kenapa aku berubah seperti ini. Tapi aku yakin ini memang tubuhku, mataku, wajahku semua nya aku. Sayangnya wujud ini lebih mengerikan dari mahluk manapun yang pernah kutemui. Aku seperti manusia tanpa pernah mandi, bercukur atau kegiatan bebersih apapun pada umumnya.
Aku benar-benar seperti manusia purba.
“oii… Orang gila! Pergi sana jangan mangkir depan toko ane terus. Oe cuma bikin pelanggan-pelanggan ane kabur aja!” usir pria china seraya menarik-narik tanganku.
Darahku mendidih seumur hidup tak ada satu orang pun yang berani menyentuhku tanpa ijin.
“lepasin gue!” kukibaskan tanganku melepaskan diri dari genggaman erat pria kurang ajar ini
“berani-beraninya lu nyeret gue!”
“lu gak tau siapa gue!?” bentakku keras di depan mukanya. Bukannya menggubris permintaanku tadi. Si pria hanya menatapku heran dan kemudian
“huahaahaha…. Huaahaa…. Hahaa…”
Yeah si china long leng ini malah menertawakanku.
Kadang jika kita kehilangan suatu benda yang kecil seumpama pensil yang sedang kita pakai terjatuh di bawah meja belajar lalu kita mencarinya pada tempat dimana pensil itu terjatuh, tetapi sayangnya kau tak menemukannya dimanapun. Seakan-akan pensil tadi sudah hilang ke dimensi lain. Tentunya hanya kekesalan yang kau rasakan. Karena pensil itu adalah pensil terakhir yang kau butuhkan saat itu. Itulah perasaan yang ku alami sekarang karena sekeras apapun ku mencoba mempertanyakan apa yang terjadi pada otakku. My precious stupid brain selalu men-shutdown informasi apapun yang ingin kuketahui. Harapan satu-satunya adalah aku harus menanyakan pada si bodoh di depanku yang asyik menertawakanku ini. ‘ugghhh’
“woi…Udah woi! Apa yang lucu sih” teriakku menghentikan tawanya yang menjengkelkan membuatku ingin memotong lehernya saja saat ini juga.
“haha… Haa… Oe sekarang sudah bisa ngomong ya, atau ane yang sudah mulai gila bicara sama orang gilaaa… Haha… Haa” jawabnya diselingi tawa. Kukepalkan kedua tanganku. Aku bersumpah kalau nih orang gak diem sekarang juga, aku gak jamin dia bisa pulang dengan leher yang utuh!
Sepertinya ia merasakan aura puncak kemarahanku yang membumbung tinggi. Ditatapnya sekali lagi wajahku, tawanya pun terhenti seketika tampak tersirat raut ketakutan pria ini ketika melihat posisiku yang siap tempur. Diambilnya langkah mundur seraya hendak lari meninggalkanku. Dengan sigap kutarik lengan bajunya dan kugenggam erat tak sudi melepaskan cengkeramku dari lengannya.
“uhk… O.. O.. Oe mau apa?”
“jangan… Ber..Ani berani sama a..A..Ne” suara nya terbata-bata
“ane panggil polisi buat oe!” lanjutnya mengancam.
‘hah dia pikir dia bisa memenjarakanku, yang ada juga sebaliknya’ pikirku menyeringaikan senyuman sinisku ala jigsaw… Haha
Dasar rakyat jelata menyedihkan. Aku gak habis pikir kenapa banyak sekali rakyat jelata di dunia ini. Toh mereka tak berguna hanya bisa menuhin dunia yang mengakibatkan global warming saja. Tapi tenang ardi sekarang lu butuh bantuan pria jelata ini.
“lu tau siapa gue, dan kenapa gue ada disini?” tanyaku to the point. Dan sekali lagi bukannya menjawab pertanyaanku ia malah melongo menatapku asing seakan-akan dia baru pertama kali bertemu denganku.
“ehhmm!!” dehemku menunggu jawabnya
“oh… Uh… Bukannya oe selalu disini?” jawabnya singkat
“maksud lu gue selalu disini gimana?!”
“dan kenapa baju dan penampilan gue seperti ini!”
Ia membuka mulutnya hendak menjawab pertanyaan marathon yang kutujuhkan. Tapi sebelum keluar satu kata pun keluar dari mulutnya
“dan sebaiknya lu jujur, kalo gak gue bakal potong leher dan lidah lu lalu gue jadiin gantungan kunci sekalian. Ok!”
Matanya terbelalak mendengar keseriusan nada ancaman yang terlontar dari mulutku. Dia pun menelan ludah dan mengambil nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan yang aku tak bisa imajinasikan sekalipun.
“oe sudah disini kurang lebih 7 tahun. Dan oe adalah orang gila”