"Kumara ... tunggu ... Kau belum membayar hutang mu!" teriak wanita paruh baya mengejar gadis yang bernama Kumara.
"Tante Aku tidak mau menikah!" Teriak gadis dengan isak tangisannya, Ia berlari menghindari wanita paruh baya yang dipanggil Tante.
"Kumara... Ayahmu berhutang pada Tuan Sewrid ... Kau harus membayarnya demi Ayahmu, Lendah masih kecil Kumara ...." Wanita paruh baya itu masih mengejar Kumara yang berlari ke arah tebing.
"Kenapa tidak Ayah saja yang membayar!" ucap Kumara dengan menghentikan langkah kakinya, Ia bahkan tidak tahu ini dimana. Bahkan saat dirinya turun dari mobil ibu tirinya, Ia tidak tahu jalan apa yang dipijak nya.
"Kumara kumohon Nak, Ayahmu sudah tidak punya apa-apa," ucap ibu tirinya memelas.
"Kenapa tidak Lendah anakmu saja yang melunasi utang Ayah, bukankah uang yang sering Kau pamerkan ke teman-temanmu itu uang Tuan Sewrid!" teriak Kumara dengan melangkah mundur pelan-pelan.
"Sudah ku bilang Lendah itu masih kecil Mara, kumohon Kumara untuk kali ini saja," ucapnya dengan lirih.
Kaki jenjang Kumara sudah di ujung tebing, bertepatan dengan ibu tirinya memohon dengan bertimpuh di bawah Kumara.
'Srewkk'
Kumara menjauhkan tubuhnya ke belakang, Ia lupa bahwa dibelakangnya adalah jurang yang ber
kabut tebal.
"Kumara ... ku mohon," ucap ibu tiri Kumara dengan memegang kaki putih Kumara. Kumara mengelakkan tangan yang ada di kakinya. Namun ibu tirinya tetap memegang kuat kaki Kumara. Sekuat tenaga Kumara menghempaskan tangan yang menempel pada kakinya. Kumara terhuyung jatuh kebelakang, namun ibu tirinya dengan sigap memegang tangan kecil kasar milik Kumara.
"KUMARA ... KUMARA TAHAN!" teriak ibu tirinya yang memegangi tangan Kumara dengan erat. Sementara kaki Kumara sudah melayang ke bawah.
"KUMARA TAHAN...." Lagi-lagi ibu tirinya meneriaki Kumara yang sudah lemas, terlihat bibirnya yang pucat pasi.
"Kumara kenapa nasibmu begini nak, siapa lagi yang akan membayar hutang Ayahmu," ucapnya ikut lemah, pasalnya Ia sudah tidak kuat menahan beban Kumara.
"Ibu titip ayah Kumara," ucap Kumara lirih dengan melepaskan genggaman ibu tirinya. Ibu tirinya terpental ke belakang, Ia merasa tak percaya jika Kumara meninggal di depan matanya dan juga Ia tak percaya bahwa Kumara memanggilnya dengan sebutan 'ibu'.
Kumara ditinggal ibunya meninggal saat dirinya tepat berumur 12 tahun. 2 tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan janda anak satu. Kumara sudah 9 tahun hidup dengan ibu tirinya, Ia diperlakukan seperti layaknya bawang putih dalam cerita dongeng.
"Aaaa...." Suara Kumara yang terjatuh tidak terdengar dari atas.
★★★
Kumara mengerjapkan matanya, Ia melihat satu persatu orang yang ada di dekatnya, namun Ia tak mengenal satupun orang di dekatnya.
Kumara memang meyakini dirinya belum meninggal, pasalnya Ia merasakan pusing di kepalanya.
Kumara baru menyadari bahwa Ia berada di dalam kamar berinterior hitam semua, juga orang-orang yang mengelilinginya mengenakan pakaian aneh menurut Kumara.
"Ratu, Kau sudah pulih dengan cepat Ratu," ucap seseorang yang mengenakan pakaian seperti baja berwarna silver.
"Aku?" ucap Kumara dengan hati-hati.
"Syukurlah Ratu, Kau pulih setelah satu hari siuman," ucap seseorang yang datang dari balik badan gempal.
"Aku dimana?" tanya Kumara yang sebenarnya ditujukan untuk dirinya sendiri.
"Ini kamarmu Ratu. Bawa Ratu ke singgasananya!" ucap seorang pria paruh baya yang tadi datang dari balik tubuh gempal.
Kumara hanya diam memandangi interior-interior kuno yang dominan berwarna hitam itu. Ia melihat sofa hitam besar yang disebut singgasana Ratu. Di depan singgasana ada kursi-kursi bundar berhadapan, jumlahnya sekitar 8 pasang. Ia melihat di depan kursi itu ada pemuda-pemuda yang gagah nan tampan.
"Ratu, baru satu hari Kau tidak duduk di singgasanamu, sepertinya Kau sangat merindukannya." ucap seseorang yang masih terlihat gagah walaupun sudah tua, Ia yang memakai baju seperti baja silver. Aeswari nama panggilnya.
Kumara sangat bingung dengan keadaannya sekarang, namun Ia juga mensyukuri daripada hidup dalam satu atap bersama ibu tirinya.
"Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Kumara menunjukan jarinya pada Aeswari, bersamaan dengan Ia menduduki singgasana yang dirasanya sangat nyaman.
"Seperti biasa Kau selalu memanggilku Aeswari, Ratu." ucapnya dengan sopan. Aeswari duduk di sebelah kanan singgasana Kumara.
Kumara mulai akrab dengan pemandangan hitam di sekitarnya, Ia disini diperlakukan seperti Ratu beda saatnya di rumah.
"Kalau Kau?" tunjuk Kumara pada orang yang tadi datang dari pria bertubuh gempal.
"Kau sering memanggilku Hemaksi, Ratu." jawab pria paruh baya yang duduk di sebelah kiri Kumara.
"Paman Aes, Aku lapar ingin makan." Menurut Kumara tidak sopan memanggil yang lebih tua dengan namanya saja.
Terlihat semua orang yang ada di ruangan seperti gua itu terlonjak kaget melihat Ratunya yang sekarang manja.
Sebelum Aeswari menjawab, muncullah wanita paruh baya datang dengan membungkukkan badannya.
"Ratu, Aku telah menyiapkan air kembang untukmu mandi, Ratu." Wanita yang bernama Denok itu menjemput Kumara ke singgasananya, namun Kumara sudah berdiri dan berjalan maju menghampiri Denok yang berdiri mematung di tengah dengan kaget. Ia kaget, biasanya ratunya harus dijemput terlebih dahulu baru bangkit.
"Ayo, Mak Denok," ucap Kumara yang lagi-lagi membuat seisi ruangan tertegun. Pikir semua orang bahwa ratunya menjadi baik, setelah hilang dari kamarnya dan ditemukan di tepi sungai.
Bagi Denok ratunya berbeda, dahulu ratunya tidak pernah sama sekali menyebutkan namanya.
★★★
Setelah Kumara selesai mandi air kembang yang membuat tubuhnya sekarang menjadi wangi, Ia memandangi cermin yang menampilkan dirinya, warna rambutnya yang tadinya berwarna coklat pirang berubah menjadi silver.
"Ahh, kenapa semirku luntur!" desisnya dengan kesal.
"Ratu, Kau mau memakai yang mana." Denok membuka almari kayu kuno, menampilkan baju-baju yang menyeramkan bagi Kumara.
Kumara melihat ke arah almari yang ditunjukkan Denok padanya.
"Keren!" ujar Kumara mengambil dress hitam panjang, emas perak asli menghiasi bagian dada membentuk sayap indah. Liontin berbentuk seperti tetesan air menghiasi bagian tengah sayap peraknya.
"Kenapa Kau selalu suka dengan yang ini Ratu?" tanya Denok dengan penasaran, sebab hampir setiap harinya ratunya ingin memakai dress yang sekarang dipilihnya.
"Keren Mak Denok."
Setelah selesai menghiasi wajah dengan polesan sederhana. Kumara keluar menuju singgasananya, Ia menambahkan jubah ditubuhnya. Yang membuat Kumara menjadi wanita berpenampilan susah ditebak.
"Apa lipstik merahmu habis Ratu?" tanya Dundon, pemuda gempal yang duduk paling ujung dekat dengan Aeswari.
"Aku tidak suka lipstik merah, Aku lebih suka yang pink nude." Kumara menduduki singgasananya dengan nyaman.
"Aku sudah membelikanmu sekarung lipstik merah Ratu, Kau yang memerintahku." Dundon kemarin hampir menyerah mencari lipstik merah kesukaan ratunya. Jika tidak dapat Ia akan terbunuh oleh dirinya sendiri.
"Bagikan aja sama yang mau," ucap Kumara enteng.
Sementara itu, Aeswari tersenyum mendengarkan celotehan ratunya dan pengawalnya.
★★★
Malam telah tiba, ruangan yang seperti gua itu terang dengan cahaya api dari lilin-lilin yang besar.
"Sebentar lagi bulan purnama sepenuhnya, hati-hati lindungi Ratu." Aeswari berkata dengan nada suara was-was.
"Baik paman!" ucap pemuda-pemuda di depan Kumara dengan tegas, hanya Dundon yang menganggukkan kepalanya tanpa ikut menjawab.
"Memangnya ada apa Paman Aes?"
"Kadang ada serigala masuk," jawabnya.
Suara auman serigala memekikkan telinga Kumara yang belum terbiasa. Semakin menjadi-jadi auman serigalanya, terlihat bulan sudah membulat menampilkan cahayanya yang indah.
'Krekk kreok krek'
Betapa kagetnya Kumara, Ia melihat sesosok monster bertubuh pendek, kakinya yang besar dan tangannya kecil berurat, kepalanya seperti halloween terdapat dua telinga panjang yang menjijikan.
"Hah...."
"Ratu?" Aeswari juga bingung melihat Kumara.
Semua orang yang ada di depannya berubah menjadi monster yang menjijikan, hanya tersisa dirinya, Aeswari, Dudon dan Denok yang berlari menghampiri Kumara, Denok mengikat matanya dengan ikatan kepala.
"Hah...." Kumara bingung bahkan Ia ingin memuntahkan isi perutnya yang baru saja terisi.
Monster yang memiliki rupa bermacam-macam menghampiri Kumara, dengan cepat Aeswari menendang monster yang sudah di depan Kumara.
"Pa ... paman ada apa?" tanya Kumara dengan pucat pasi.
"Ternyata memang benar dugaanku bahwa Kau bukan Ratu Ewrits IV."
"Hah...."
"Kakang!" teriak Denok dengan membuka ikatan pada matanya.
"Nok, dia Ratu baru nok. Sudah kuduga Nok, perilakunya dari kemarin aneh Nok." ucap Aeswari dengan berbinar. Sementara Dudon sedang melawan monster menakutkan dengan tongkatnya.
"Siapa namamu Ratu?" tanya Denok yang juga ikut berbinar.
"Hah ... Kumara Mak Denok!" jawabannya dengan satu hentakan napas. Kumara sebenarnya ikut senang, bahwa sekarang Ia diakui.
"Kumara nak sayang, dengan Aku berkata ini sangat penting Kumara, Ratu Ewrits V."
"Iya Mak Denok."
"Setiap malam purnama, orang-orang yang terkutuk berubah menjadi monster mengerikan. Monster itu memakan kita yang tidak berubah."
"Terus kita bakal dimakan gitu Mak?"
"Ada cara untuk menghindarinya, menutup mata dengan pengikat. Namun jika mereka tidak mendapat manusia yang tidak berubah makan mereka akan memakan salah satu dari mereka sendiri." Mak Denok menjelaskan pada Kumara dengan memberikan pengikat mata berwarna abu-abu dengan ukiran indah.
Kumara memasang ikatan untuk matanya, Aeswari mendekati Kumara, Ia membisikkan mantra.
"Kumara ... Ratu Ewrits V bantu kami, tujukan penglihatanmu ke arah depan." Aeswari meminta pertolongan Kumara, karena hanya Ratu Ewrits yang bisa menghentikan kutukan itu.
Setelah melewati empat Ratu, hanya Kumara yang tidak pergi saat mereka yang di depannya berubah menjadi monster.
Tangan Kumara perlahan mulai mengangkat dengan sendirinya, ibu jaringan saling bertemu. Telapak tangannya membentuk seperti mangkok.
Terlihat seperti cahaya api di tangan Kumara, gumpalan api menyerupai bulan mulai muncul di belakang Kumara.
Kumara tidak merasakan apapun, yang Ia rasakan seperti saat dirinya sedang tidur dengan lelapnya.
Sementara itu, Aeswari, Denok dan juga Dudon yang ternyata mereka kakak beradik, mereka menutupi matanya dengan ikatan yang dibawakan Denok.
Para monster berterbangan dengan cepatnya, sedangkan Kumara tetap berdiri ditempatnya tadi. Jubah bawah yang dikenakannya berterbangan terkena angin kencangnya terbangan monster itu.
'Pyarrr'
Suara seperti pecah terdengar sangat keras, mereka bertiga menghembuskan napasnya dengan lega.
'Bugh bugh bugh'
Suara orang berjatuhan dilantai membuat mereka membuka ikatan mata mereka.
"Syukurlah semua ini telah usai," ucap Denok dengan mendudukkan tubuhnya dilantai.
"Selama ini setiap purnama datang kami selalu tersiksa Ratu," ucap Aeswari dengan mendudukkan dirinya ke kursinya.
"Jadi Kau Ratu baru, pantesan," ucap Dudon yang duduk di tangga.
Sementara yang diajak bicara sudah terlelap di singgasananya, Kumara terlalu capek saat mengeluarkan tenaganya.
★★★
Keesokan harinya mereka berkumpul di ruangan yang ternyata adalah mansion terkutuk.
"Ini Ratu baru kita, yang menyelamatkan kita semua," ucap Aeswari pada mereka yang sedang berkumpul.
"Karena Aku telah menyelamatkan kalian dari mata bahaya, Aku ingin meminta bantuan."
"Silahkan apa maumu Ratu, pasti akan kuturuti. Mau lipstik pink nude kah?" tanya Dudon pada Kumara.
"Aku ingin membuat mansion ini lebih berwarna, tidak hitam seperti gua." Kumara tertawa di akhir ucapannya diikuti dengan yang lainnya.
★TAMAT★
Terimakasih sudah membaca.