Kehidupan ini menurutku adalah sebuah drama yang telah disusun dengan rapi oleh Sang Pemilik Alam Semesta ini. Dan kita yang hidup dimuka bumi ini adalah para tokoh yang berperan dalam drama tersebut, kita juga tidak mengetahui bagaimana ending dari cerita ini, tidak pernah tahu.
Layaknya sebuah sinetron yang seperti ditayangkan ditelevisi, begitulah kehidupan yang kita jalani. Namun, alur cerita dari satu orang dengan orang lain berbeda. Salah satunya kehidupanku, yang menurut pendapatku sangat mirip dengan FTV yang pernah aku tonton. Begini ceritanya:
Seperti biasa aku selalu bangun pagi untuk bersiap- siap pergi ke sekolah, ya, aku masih bersekolah disebuah SMK yang tidak jauh dari rumah. Banyak orang yang berkata bahwa masa- masa SMA adalah masa paling indah, tetapi menurutku biasa saja.
Kehidupanku berjalan monoton, tidak ada yang istimewa sama sekali sampai pada saat aku sedang mengikuti sebuah acara di sekolah. Aku bertemu dengan seseorang yang pernah berhasil mengubah kehidupanku yang tadinya hanya berjalan lurus, walau hanya sementara.
Acara bakti sosial ini diadakan oleh sekolah dimana aku menuntut ilmu dan juga beberapa sekolah tetangga. Pada hari Sabtu sore, aku sudah berada di sekolah sejak pukul empat sore, padahal acara akan di mulai pada pukul lima. Belum banyak anak yang datang, hanya beberapa anak yang kuyakini mereka adalah panitia yang memang harus datang lebih awal.
Kuputuskan untuk menunggu yang lain di kantin sekolah yang masih buka, namun sepi pengunjung. Kukeluarkan ponsel dan tidak lupa kusambungkan dengan earphone yang selalu kubawa kemana pun pergi. Di kelas, aku termasuk anak yang suka menyendiri. Jadi, tujuanku mengikuti acara ini untuk menghilangkan sifat burukku tersebut.
Tiba- tiba saja ada yang menepuk pundakku, aku segera menoleh kesamping. Terlihat seorang lelaki berdiri disampingku, dia tersenyum ramah kearah ku, melihat senyumnya aku hanya bisa terpaku.
“Kenapa masih disini? Ikut acara baksos kan? Yang lain udah pada kumpul, ada breefing sebentar,” ucapnya.
Suaranya terdengar sangat merdu di telingaku, aku hanya mengangguk.
“Ehm, iya. Nanti nyusul, duluan aja,” jawabku.
“Sekalian aja bareng, gue juga mau kesana.”
Aku hanya mengangguk ragu, aku dan lelaki tersebut pun berjalan bersama menuju lapangan yang sudah ramai dengan anak- anak yang lain.
“Oh, iya kita belum kenalan. Nama gue Galih, nama lo?” tanya lelaki tersebut yang ternyata namanya adalah Galih.
“Gue Isabella, panggil Bella aja.”
“Kelas berapa?”
“Sebelas, lo bukan anak sini ya?”
“Iya, gue anak SMA sebelah.”
Pembicaraan pun diakhiri, aku dan Galih memperhatikan ketua panitia yang sedang menjelaskan lokasi yang akan kami datangi.
Sebuah panti asuhan yang tidak terlalu jauh dari sekolah menjadi lokasi bakti sosial kami, banyak barang yang dibawa. Beberapa pakaian layak pakai, makanan, buku, dan beberapa mainan untuk anak- anak panti.
Aku sangat menikmati acara hari ini, apalagi kebetulan aku juga tipikal orang yang suka dengan anak- anak. Yang lain sedang bermain- main dengan anak- anak panti, aku pun sedang bersama dengan salah seorang anak perempuan yang kurang lebih berumur lima tahun.
Aku membacakan sebuah cerita dari buku yang tadi aku bawa untuk kusumbangkan. Selesai membacakan beberapa cerita, Galih menghampiri kami dengan membawa sebuah gitar. Dia duduk di sebelahku dan menawarkan lagu untuk dinyanyikannya. Aku sangat bahagia melihat ekspresi anak- anak yang juga bahagia.
Acara bakti sosial diakhiri dengan makan bersama di panti asuhan tersebut, kami pun pulang ke rumah masing- masing. Aku masih berada di halte bus yang berada tidak jauh dari panti tersebut, seorang diri dan hari mulai gelap. Tidak lama ada sebuah bus mendekat dan akhirnya berhenti tepat di depanku. Tanpa pikir panjang, aku segera masuk ke dalam bus dan mencari tempat duduk yang kosong.
Belum juga bus tersebut berjalan, ada seorang penumpang memasuki bus tersebut. Penumpang tersebut celingak- celinguk mencari tempat yang kosong dan pandangannya jatuh pada tempat disampingku yang memang belum terisi.
“Boleh duduk sini?” tanya penumpang tersebut.
“Silahkan,” jawabku dengan telinga masih tersumpal earphone.
“Bella, kan?”
“Iya, kok ta…” kata- kataku terhenti ketika melihat senyuman itu, “Galih?” tanyaku pelan, takut salah orang.
“Ketemu lagi, kita,” ucap Galih terdengar semangat.
Pertemuan inilah yang mengingatkanku pada FTV atau Sinetron yang pernah ku tonton di televisi, juga sudah dapat ditebak dengan mudah endingnya seperti apa. Namun, jangan asal tebak jika belum melihat sampai akhir.
Setelah pertemuan di bus kala itu, aku jadi sering mengobrol dengannya. Walau pun kami berbeda sekolah. Terutama saat pulang sekolah jika aku sedang tidak ada les. Kami sering menghabiskan waktu di taman atau perpustakaan daerah, namun jangan salah sangka dulu kami hanya teman, tidak lebih dari itu. Walau kami sering terlihat bersama bukan berarti kami memiliki hubungan lebih.
Pertemuan di taman waktu itu, ternyata menjadi pertemuanku yang terakhir dengan Galih. Saat pulang dari taman tersebut, Galih dikabarkan mengalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motornya. Dengan pendarahan di kepala yang sangat parah, nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Sebenarnya aku belum mengetahui berita tersebut, aku baru tahu kala teman- teman dari acara bakti sosial membicarakan perihal Galih.
Inilah mengapa aku sebut bahwa kehidupan adalah drama, tadinya pun aku menebak bagaimana akhir cerita hidup ku. Namun, ternyata aku salah. Memang Tuhan selalu memiliki rahasia lain yang tidak dapat ditebak oleh siapa pun.
End