Rembulan menampakkan diri dibalik kegelapan malam. Hawa dingin menyeruak membuatku menggigil kedinginan. Aku menggulungkan tubuhku pada selimut tebal, agar merasakan kehangatan.
Duk ... duk ... duk ... duk ... duk!!!
Aku terperanjak dari ranjang, ketika mendengar pukulan keras dari balik dinding kamar.
"Suara apa itu? Sepertinya berasal dari gudang samping kamar," gumamku.
Aku pun tidak mempedulikannya dan melanjutkan untuk tidur.
*****
Keesokan harinya, aku bermain petak umpet bersama adikku yang bernama Whidie
"Kak Dewi ... cuaca hari ini sangat dingin, jadi kakak jangan bersembunyi di luar rumah ya!" ujar Whidie dan aku menyetujuinya
"Aku hitung sampai 10, dan segeralah bersembunyi. Sekarang! 1 ... 2 ... 3 ... 7 ... 9 ... 10! Siap atau tidak aku datang ...," ucap Whidie sedikit berteriak.
"Hiissshh ... bocah itu selalu bertindak curang! Masak ngitung aja nggak bener!" gumam Dewi yang sedang bersembunyi di dalam lemari gudang.
Duk ... duk ... duk ... duk ... duk!!!
Dewi sangat kaget, karena pukulan tersebut berasal dari lemari yang ditempatinya. Ia pun menemukan pintu kecil di dalam lemari itu, lalu tanpa pikir panjang membukanya dan merangkak masuk ke dalam.
Betapa terkejutnya ketika ia menemukan pemandangan yang sangat indah, di balik pintu kecil itu.
"Hai, akhirnya kamu sudah datang! Kami telah lama menunggumu di sini. Tentang suara pukulan itu merupakan panggilan untukmu, agar kamu bisa cepat datang kesini. Perkenalkan aku adalah Sincera," ucapnya secara tiba-tiba entah darimana asalnya.
Dewi hanya melihati sosok di depannya saja, heran nampak terlihat di raut wajahnya karena wanita yang di depannya itu memakai gaun yang indah, serta mempunyai sayap di belakang punggungnya.
"Hei!!" teriak Sincera yang mengagetkannya.
"Ah i-iya, a-aku Dewi!" ucapnya terbata-bata.
"Aku sudah tau, ayo ikut aku! Kamu harus menyelamatkan negri ini dari serangan Dewa Gila!" ucap Sincera lalu terbang meninggalkannya.
"Hei ... lalu bagaimana denganku?" tanya Dewi setengah berteriak.
"Kamu kan punya sayap, gunakan itu untuk terbang! Dan gunakan pikiranmu untuk mengendalikannya!" jawab Sincera.
Dewi tampak kaget dan takjub ketika melihat sayap indah yang berada di punggungnya. Tanpa harus belajar, ia sudah langsung bisa mengendalikannya.
"Apa yang sedang terjadi? Apa yang harus kulakukan?" tanya Dewi seraya terbang di samping Sincera.
"Kau harus melawan Dewa Gila itu dengan kekuatanmu dan membunuhnya dengan menancapkan pedangmu tepat di jantungnya. Hanya dengan kekuatanmu dan pedangmulah dia bisa dikalahkan!" terang Sincera.
"Kekuatan? Pedang? Aku tidak mempunyai kedua yang kamu katakan itu!" sahut Dewi seraya mengernyitkan keningnya.
"Itu murni dari jiwa dalam dirimu, jadi kamu harus bisa membangkitkan jiwa itu! Sudah jangan banyak bertanya lagi, kita akan segera sampai di tempat Pertempuran antara Dewa Gila dan Peri-peri di negri ini," jawab Sincera.
Dewi tampak bingung dengan apa yang dikatakan oleh Sincera, bahkan ia merasa tak punya kekuatan dan tak tau cara melawan Dewa Gila itu.
Ketika sudah berada di tempat Pertempuran, terlihat banyak peri yang sedang melawan pasukan Dewa Gila. Dewi terperangah, karena masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Jangan diam saja, segeralah berperang dan kalahkan Dewa Gila itu!" seru Sincera yang langsung mengantarkan Dewi ke hadapan Dewa Gila tersebut.
"Ternyata kau rupanya Dewi Biru itu yang di juluki sebagai Peri Kematian? Bahkan aku tak yakin kau bisa membunuhku hahahaha...!"
"Dewi Biru? Aku tak mengerti apa yang sedang kamu katakan, tetapi namaku memanglah Dewi," sahutnya polos seraya menatap Dewa Gila.
"Hei Dewa Gila! Kau jangan meremehkannya, dia mempunyai kekuatan dan pedang yang bisa membunuhmu!" teriak Sincera.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan menyerangnya sekarang!" sahut Dewa Gila itu, yang langsung menyerang Dewi dengan kekuatannya.
Dewi membulatkan matanya ketika sinar merah mengarah kepadanya. Dengan sigap ia bisa menghindarinya.
Dewa gila tampak kesal karena Dewi bisa menghindari serangannya. "Lincah juga kamu! Terima ini ....!"
Sontak Dewi berlari, karena mendapat serangan kekuatan sinar merah bertubi-tubi darinya.
"Aaakkhhh!!" pekik Dewi yang terkena hantaman sinar merah tersebut, yang membuatnya terpental jauh.
Terlihat Dewa Gila mengeluarkan pedangnya, lalu mengayunkannya kearah Dewi. Tetapi dengan sekuat tenaga, Dewi menghindarinya sehingga hanya mendapat sayatan di lengannya.
Dewa Gila yang tampak geram, lalu dengan kekuatannya ia mengangkat tubuh Dewi hingga melayang tanpa menyentuh. Mencekiknya hingga Dewi hampir kehabisan nafas, lalu tubuhnya di jatuhkan begitu saja dari ketinggian.
Kratak!!!
"Aaagghhhh...!!" pekik Dewi kesakitan di bagian punggungnya.
Tampak raut wajah Dewa Gila yang belum puas, ia menggerakkan tangannya memutar untuk mengeluarkan kekuatan cahaya merah besarnya.
"Tunggu, hentikan!!" seru Whidie yang tiba-tiba sudah berada di belakang Dewa Gila, lalu mendorongnya hingga membuat limbung.
"Dasar anak kurang ajar!!" seru Dewa Gila lalu mencekik Whidie dan melemparnya dengan asal.
Dewi yang melihat adiknya Whidie tersungkur, merasa tidak terima. Tiba-tiba tanpa sadar matanya berubah menjadi biru, lalu berdiri tegak menghadap sang Dewa Gila.
Dengan kekuatan jiwa biru milik Dewi, ia mengeluarkan kekuatan dan menghantamnya kearah Dewa Gila. Hal itu membuat Dewa Gila kaget dengan kekuatan Dewi yang muncul sebagai Dewi Biru asli.
Dewa Gila yang mendapat serangan bertubi-tubi yang mengenai tubuhnya, ia terkapar lemas tak berdaya. Tanpa pikir panjang, Dewi terbang menghampirinya dengan membawa pedang besar mengkilat yang tiba-tiba muncul dari tangannya sendiri.
"Hiyaaaakkk...!" teriak Dewi mengangkat pedangnya.
Jleppp!!!
"Aaakkkhhhhh!!!"
Dewa Gila mati seketika, karena Dewi berhasil menusukkan pedang tepat pada jantungnya. Para pasukan Dewa Gila pun lenyap menjadi debu yang hancur bertebaran.
Terlihat para Peri lain termasuk Sincera bersorak senang melihat Dewa Gila yang telah merusak tempat tinggalnya telah mati.
"Hah, apa yang telah terjadi?" gumam Dewi yang terengah-engah dengan darah yang berlumuran di bajunya.
"Terimakasih Dewi, kamu berhasil mengeluarkan jiwa aslimu untuk menolong kami dari Dewa Gila yang kejam itu," ucap Sincera kepada Dewi.
"Aku harus pulang sekarang, aku takut jika adikku kenapa-napa!" seru Dewi langsung menghampiri Whidie.
"Kakak, sayapmu sangat cantik!" ucap Whidie yang mengaguminya.
"Sudah kamu jangan banyak bicara lagi, sebaiknya kita pergi dan jangan datang kesini lagi!" seru Dewi yang langsung membopong Whidie terbang menuju pintu kecil sebelumnya.
Ketika mereka berdua sudah keluar dari lemari, baju yang dikenakan Dewi serta sayapnya langsung menghilang. Begitu juga dengan pintu kecil yang berada di dalam lemari juga ikut menghilang.
"Kenapa kalian berdiam disini? Bukannya kalian sedang bermain petak umpet? Kalo sudah selesai bermainnya ayo kita makan bersama," ujar Ibu lalu melangkah pergi.
Dewi dan Whidie langsung berlari untuk melihat jam. Mereka kaget dengan jarum jam yang menunjukan jarum yang sama ketika mereka mulai bermain. Ternyata selama beberapa jam yang mereka lalui di negri Peri, tidak berpengaruh di dunia manusia.
~TAMAT~