"Sudahlah... untuk apalagi aku hidup? semua sudah tak ada gunanya lagi... ", Sukma yang tadi berdiri di bibir pantai, mulai melangkahkan kakinya kedalam air laut yang dingin.
Air mata Sukma masih terus menetes. Matanya sudah sembab. Ia sakit hati yang teramat sangat. Tunangannya Arjun telah menikah dengan wanita lain.
Sukma tidak menghiraukan dinginnya udara malam hari itu. Ia terus melangkah masuk kedalam air laut. Kini air laut sudah setinggi dadanya.
Tiba-tiba suasana terasa begitu hening. Jauh di tengah lautan Sukma terlihat cahaya kuning keemasan. Cahaya tersebut semakin lama semakin mendekat.
Akhirnya terlihatlah bentuk benda yang bercahaya kuning keemasan itu adalah sebuah kereta kencana!
Kereta kencana tersebut terbuat dari emas. Ditarik oleh dua ekor kuda yang gagah, berekor panjang dan mempunyai surai yang indah dan panjang. Satu ekor kuda berwarna putih dan yang satunya lagi berwarna hitam.
Kusir yang mengendalikan kuda juga tak kalah gagahnya. Ia berpakaian beludru merah, memakai topi tinggi berwarna merah juga. Celananya berwarna putih. Memakai sepatu yang tingginya sebetis berwarna hitam.
Kereta kencana itu berjalan diatas air. Kalau saja dalam kondisi normal, Sukma pasti sudah sangat ketakutan. Tapi sekarang ia tidak peduli dengan apa yang dilihatnya itu.
Sukma masih meneruskan langkahnya, kini air laut sudah setinggi lehernya. Kini kakinya sudah sulit untuk menapak. Tetapi ia masih mencoba untuk melangkah lebih jauh.
Namun ketika tubuh Sukma sudah sepenuhnya berada didalam air, badannya ada yang menarik keatas dan mengeluarkannya dari air.
Ketika tersadar, Sukma sudah berada didalam kereta kencana yang tadi dilihatnya. Disampingnya duduk seorang lelaki yang gagah dan tampan berpakaian seperti raja zaman dahulu. Memakai mahkota yang terbuat dari emas. Dilehernya tergantung kalung berukuran besar yang diukir. Pada pangkal lengannya juga terdapat hiasan yang diukir. Semuanya terbuat dari emas.
Lelaki itu tidak memakai baju, dada bidangnya terlihat kekar. Memakai celana berwarna merah, model celananya seperti celana ali baba. Alas kakinya memakai selop berwarna emas.
"Perkenalkan aku adalah Raja Jaya Kusuma... aku adalah Raja dari Kerajaan Buana Loka", lelaki itu memperkenalkan dirinya pada. Wajahnya terlihat ramah dengan senyum menghiasi bibirnya.
Sejenak Sukma terkesima, Raja itu sangat tampan.
"Perkenalkan saya Sukma", kata Sukma sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Ikutlah ke negeriku... engkau pasti senang dan kagum dengan keindahan negeriku".
Belum sempat Sukma menjawab ajakan Raja itu, kereta kencana sudah melesat pergi dari tempat tadi.
Pemandangan berubah menjadi terang benderang. Kecepatan kereta kencana mulai melambat. Dari jendela terlihat taman-taman yang indah dipenuhi beraneka jenis bunga. Rumah-rumah yang indah dan megah yang dihiasi dengan pilar-pilar besar. Jalannya tidak beraspal, tapi terlihat sangat bersih dan rata.
Ketika kereta kencana melintas, orang-orang yang terlewati membungkukkan badannya. Mereka adalah penduduk negeri Buana Loka.
Diantara para penduduk negeri ini, tidak terlihat ada orang tua, semuanya terlihat cantik dan tampan. Para wanita mengenakan gaun panjang berwarna putih dengan berbagai aksesoris terbuat dari emas. Sedang para lelakinya memakai celana dan aksesoris emas seperti Raja Jaya Kusuma, hanya saja tanpa mahkota dan celananya berwarna hitam.
***
Kereta kencana berhenti didepan sebuah istana yang sangat megah, dengan banyak pilar besar. Pada bangunan istana, banyak terdapat ornamen hiasan yang sangat indah.
Didepan istana berjejer prajurit yang gagah, berdiri tegak sambil memegang tombak
"Selamat datang di istanaku Sanggra Buana Loka", Raja Jaya Kusuma mengulurkan tangannya kepada Sukma, membantunya turun dari kereta kencana.
Sukma menerima uluran tangan Raja Jaya Kusuma dan mengikutinya memasuki istana. Bagian dalam istana tampak begitu indah. Semua didominasi warna kuning keemasan dan sebagian kecilnya berwarna hijau.
Terlihat singgasana yang indah dengan lima anak tangga untuk sampai di sana. Pada langit-langit ruangan itu tergantung lampu hias besar dengan banyak ukiran berwarna emas yang juga sangat indah.
Sukma begitu terkagum-kagum dengan istana kepunyaan Raja Jaya Kusuma ini.
***
Sukma masih mengikuti langkah Sang Raja, dari ruangan dimana terdapat singgasana, mereka berbelok menuju sayap kiri istana menyusuri lorong yang penuh dengan ornamen indah.
Sepanjang lorong terdapat kamar-kamar berukuran besar, pintunya berwarna hijau dengan berhiaskan ornamen berwarna emas.
Raja Jaya Kusuma berhenti didepan pintu kamar yang terdapat diujung lorong.
"Beristirahatlah di kamar ini... nanti para dayang akan datang untuk melayanimu."
Sukma membuka pintu kamar, nampaklah didalamnya terdapat kamar yang luas. Lantai kamar dialasi karpet tebal berwarna merah. Ada meja kayu berukir dengan tinggi kira-kira 40 cm, disekitar meja terdapat beberapa bantal beludru merah berukuran besar untuk alas duduk.
Di kamar itu juga terdapat tempat tidur berukuran besar dari kayu berukir dengan tiang-tiang kayu pada keempat sudutnya berhiaskan kelambu yang terikat dengan pita.
Sukma duduk diatas tempat tempat tidur itu. Ah, sungguh empuk, pikir Sukma.
Tiba-tiba terdengar pintu diketuk. "Ya silahkan masuk", kata Sukma.
Masuklah empat orang wanita dengan memakai gaun panjang berwarna merah. Mereka membungkukkan badannya didepan Sukma. Oh, ini mungkin yang disebut dayang-dayang oleh Sang Raja tadi, pikir Sukma.
Dua orang dayang itu membawa berbagai makanan dan meletakkannya diatas meja sedang dua orang lainnya membawakan pakaian untuk dipakai oleh Sukma.
"Hamba Dayang Arum, akan membantu anda berganti pakaian", kata salah seorang dayang sambil membungkukkan badannya.
"Hamba Dayang Sekar, yang akan mendandani anda", kata Dayang satunya lagi sambil membungkukkan badannya.
Dayang Arum mendekati Sukma hendak membukakan pakaiannya.
"Tidak... tidak... aku akan berganti pakaian sendiri saja... serahkan saja pakaiannya padaku", kata Sukma. Ia tidak nyaman kalau pakaiannya dibuka oleh orang lain.
Dayang Arum menyerahkan pakaian yang dibawanya.
"Tolong kalian berbalik, aku akan ganti pakaianku"
Kedua dayang itupun berbalik, menuruti kemauan Sukma.
"Ya sudah selesai" Gaun yang dikenakan Sukma juga berwarna merah, hanya saja lebih indah dan gemerlap.
Kedua dayang itupun berbalik kembali. Dayang Sekar mendekati Sukma dan mempersilahkannya untuk duduk di tepi tempat tidur. Kemudian Dayang Sekar mulai menata rambut Sukma dan menyanggulnya. Setelah itu ia pun mulai merias wajah Sukma.
Setelah selesai, semua dayang membungkukkan badannya dan meninggalkan kamar itu.
"Aku tidak tahu... bagaimana rupaku kini... tak ada cermin di kamar ini" gumam Sukma. Ia meraba rambutnya yang sudah di sanggul kemudian meraba wajahnya.
"Tok... tok... tok", terdengar suara ketukan di pintu.
"Ya, silahkan masuk".
Dari balik pintu muncul sosok Raja Jaya Kusuma. Sukma membungkukkan badannya sedikit.
"Kau sudah makan?" Sang Raja bertanya sambil melirik ke arah meja yang penuh dengan makanan.
"Belum... saya baru berganti pakaian".
"Marilah kita makan bersama, aku pun belum makan".
Raja Jaya Kusuma mendahului duduk diatas bantal menghadap ke meja yang penuh dengan makanan.
"Duduklah disini", Sang Raja menepuk bantal yang ada didekatnya.
Sukma menuruti kehendak Sang Raja, ia duduk di dekatnya.
"Makanlah... engkau pasti lapar" Sang Raja memotong paha ayam dari bakakak ayam yang terhidang di meja.
"Kamu mau ini?" Sang Raja hendak memotongkan paha ayam untuk Sukma.
"Tidak... terima kasih, aku mau ikan saja", Sukma mengambil ikan dengan sendok yang ada di meja. Ia tidak melihat ada nasi. Oh mungkin penduduk di kerajaan ini tidak makan nasi... pikir Sukma.
"Ayo tambah makannya..." kata Sang Raja ketika melihat Sukma sudah menghabiskan ikannya.
"Sudah cukup... saya sudah kenyang" kata Sukma sambil tersenyum.
"Sesudah makan temani aku berjalan-jalan di taman"
"Baik", jawab Sukma pendek.
***
Sukma berjalan mengikuti Raja Jaya Kusuma, menyusuri taman yang tertata sangat indah. Pepohonan dipotong rapi berbentuk bulat atau kerucut. Bunga bermekaran berbagai warna. Ada jembatan hias yang di bawahnya terdapat kolam ikan yang mengelilingi taman.
"Berjalanlah disampingku... jangan dibelakangku" Sang Raja menghentikan langkahnya, menunggu agar Sukma sejajar dengannya.
Dibelakang Sang Raja dan Sukma, ada dua orang pengawal yang berjalan mengikuti mereka.
Raja Jaya Kusuma menghentikan langkahnya diatas jembatan, lalu memandang ikan di kolam yang berenang kesana kemari.
"Lihatlah Sukma ikan-ikan itu... mereka berenang kesana kemari seperti tanpa tujuan".
"Bukankah ikan seperti itu? Adakah maksud lain yang ingin dikatakan Paduka?"
"Seperti halnya dirimu Sukma... engkau tidak perlu pergi kesana kemari lagi tanpa tujuan... tetaplah disini, di kerajaanku... aku akan menjadikan engkau sebagai ratuku", Sang Raja berkata sambil menatap tajam kearah Sukma.
Sukma tertegun mendengar perkataan Raja Jaya Kusuma.
"Bagaimana mungkin jadi ratu? Saya baru sebentar ada di kerajaan ini... Kenapa tidak memilih ratu yang berasal dari kerajaan ini saja?"
"Aku menyukaimu dan aku akan menikahimu", Sang Raja berkata dengan suara tegas.
"Bolehkah saya memikirkannya dahulu?" Sukma bingung harus berkata apa.
"Baiklah... ayo kita kembali ke istana, aku akan mengantarmu kembali ke kamarmu".
***
"Badanku capek sekali, aku akan tidur... sebentar saja", Sukma bergumam. Tapi ia merasa sayang kalau gaunnya yang indah dipakai tidur.
Sukma pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia melihat baju miliknya masih teronggok di sudut ruangan. Ia mengambilnya dan kemudian memakainya.
Gaun merah yang sudah dilepasnya, ia simpan di sudut tempat tidurnya.
Sukma merebahkan tubuhnya di atas kasur, matanya terasa begitu berat. Tak lama kemudian ia pun tertidur.
"Sukma cucuku... bangunlah... Sukma... bangunlah!"
Sukma merasa ada yang mengguncang -guncangkan tubuhnya. Dengan susah payah, Sukma membuka matanya. Dilihatnya ada seorang kakek berbaju putih dan bersorban putih.
"Duduklah Sukma! Sadarlah!"
Sukma seperti terhipnotis, ia duduk dipinggir tempat tidur.
"Ingatlah Tuhanmu! Sebutlah nama Tuhanmu! Berdoalah... berdoalah cucuku" kata kakek berjubah putih itu sambil memegang pundak Sukma.
Sukma pun berdoa dengan semua doa yang ia bisa.
Tiba-tiba... Sukma merasakan gempa, tempat tidur yang didudukinya berguncang keras. Ia pun panik.
"Tenanglah... aku akan membantumu keluar dari tempat ini... peganglah jubahku dan ikuti langkahku", kakek itu membawa Sukma keluar dari kamarnya.
Betapa kagetnya Sukma, ketika ia melihat ke sekelilingnya. Istana indah yang berwarna kuning keemasan sudah tidak terlihat, berganti dengan bangunan yang disusun dari batu yang menyeramkan.
"Sukma... ketahuilah... kamu telah dibawa ke negeri siluman", kata kakek berjubah putih itu.
Tentu saja Sukma sangat kaget. Ia mempererat pegangannya pada jubah si kakek.
Tidak ada pilar-pilar indah, itu adalah orang-orang yang dijadikan penyangga bangunan, mereka seperti mengerang-ngerang kesakitan.
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah menukar jiwanya dengan kekayaan berlimpah di dunia", kata kakek berjubah putih.
"Mau dibawa kemana calon ratuku itu?"
Tiba-tiba ada makhluk tinggi besar berdiri menghadang jalan yang akan dilalui oleh Sukma dan kakek berjubah putih. Matanya bulat melotot, ada taring dikedua sudut bibirnya. Seluruh tubuhnya berbulu lebat.
"Itu adalah Raja negeri ini", kakek berjubah putih berbisik pada Sukma.
Sukma bergidik ketakutan. Ia menyembunyikan tubuhnya dibelakang tubuh si kakek.
Kakek berjubah putih itu berdoa dengan suara lantang. Tiba-tiba Raja Jaya Kusuma yang berwujud makhluk mengerikan itu menutup telinganya, ia seperti mengerang kesakitan.
Kakek itu terus mengucapkan doa dengan lantang sambil terus berjalan bersama Sukma menuju keluar dari istana yang sekarang jadi tampak menyeramkan.
Banyak makhluk dengan wujud menyeramkan berdatangan hendak menyerang kakek berjubah putih. Tapi ketika mendengar doa-doa yang diucapkan kakek, makhluk-makhluk itu berperilaku sama seperti sang Raja, mereka menutup telinga dan mengerang kesakitan.
Akhirnya, kakek berjubah putih dan Sukma bisa keluar dari istana yang menyeramkan itu. Kakek memegang erat pangkal lengan Sukma. Tiba-tiba mereka seperti melesat terbang meninggalkan tempat itu.
Pandangan Sukma mengabur, kemudian ia tidak ingat apa-apa lagi. Sukma pingsan.
***
"Sadarlah... neng! sadarlah!" Sukma merasa ada yang sedang mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan keras, kadang pipinya ditepuk-tepuk. Sukma pun membuka matanya. Dilihatnya banyak orang yang mengerumuninya.
"Ia siuman... tolong panggilkan ambulans", terdengar seseorang berteriak.
"Kakek... Kek... Kakek", Sukma memanggil Kakek yang telah menolongnya.
TAMAT