Namaku Nadya...Aku terlahir tanpa memiliki emosi...
Aku tidak mengerti apa itu bahagia, sedih, marah, atau bentuk emosi lainnya.
Orang tuaku tidak pernah melihatku tersenyum, menangis, apalagi tertawa lepas!
Mungkin pernah, ketika aku masih bayi namun, entahlah!
Mereka seringkali bertanya kepadaku, apakah ada yang menyakitiku, atau pertanyaan lain yang menurutku aneh, dan aku hanya menjawab.
"Tidak ada."
Itulah mengapa mereka membawaku kepada seorang psikolog, hingga sang psikolog mengatakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku, mengidap 'Alexythimia'.
Saat itu aku melihat ibuku menangis histeris, dan ayahku memeluk ibu, sambil terus mengusap-usap punggungnya.
Jika kau bertanya kepadaku, apa yang aku rasakan saat itu, aku sendiri tidak tahu!
Hanya saja, ada rasa aneh di hatiku ketika ibu berkata dalam tangisnya.
"Bagaimana mungkin, aku yang melahirkannya, namun tidak dapat mengetahui bagaimana perasaan putriku sendiri..."
Saat itu aku menghampirinya, kemudian menatapnya, lalu berkata.
"Ibu, ku pikir aku baik-baik saja. Berhentilah menangis." Ucap diriku yang saat itu masih berusia delapan tahun.
Ibu menatapku dengan tatapan yang tidak dapat ku pahami, kemudian memelukku erat sekali, dan kembali menangis histeris.
17 tahun kemudian, walau orang-orang di sekitarku menganggap bahwa aku adalah orang aneh, bahkan mereka menyebutku 'flat girl', aku berkerja di sebuah perusahaan yang cukup bergengsi, dengan gaji yang fantastis menurutku!
Ya! Aku adalah sekretaris pribadi seorang direktur.
Beliau adalah sahabat karib Ayahku.
Beliau memiliki seorang putra yang juga bekerja di perusahaan ini, namanya Anthony. Dia tampan, dan sering memberiku perhatian lebih. Usianya tiga tahun lebih tua dariku, dan saat itu, dia sedang menduduki posisi sebagai manager keuangan.
Karyawan lain berkata, posisinya sangat strategis, dan itu bukanlah hal yang mengherankan, mengingat siapa ayah Anthony.
Anthony sering mengajakku untuk makan siang bersama, bahkan dia sering mengajakku keluar ketika kami libur.
Oh ya! Walaupun jarang sekali, setidaknya beberapa tahun terakhir, sedikit demi sedikit aku sudah mulai bisa tersenyum, walaupun tidak 'lebar'!
Aku belajar tersenyum, ketika orang lain tersenyum kepadaku, namun aku tidak dapat tertawa, ketika mereka tertawa, entahlah!
Namun setidaknya, kedua orang tuaku sepertinya bahagia melihat progres ini! Mereka tersenyum, namun mengeluarkan air mata, ketika melihatku dapat tersenyum, bukankah itu aneh?
Kembali lagi ke Anthony.
Suatu hari, dia mengajakku ke sebuah bukit, kemudian berlutut di hadapanku, lalu menunjukkan sebuah kotak kecil berisi sebuah cincin kepadaku. Aku tidak mengerti apa maksudnya, hanya saja, semua menjadi jelas ketika dia berkata.
"Maukah kau menikah denganku?" Ucapnya sambil tersenyum lebar, dengan mata yang berkaca-kaca.
Ya! Dia ingin menikahiku!
Jangan tanya, bagaimana perasaanku saat itu, karena aku sendiri tidak mengetahuinya! Lagi-lagi aku merasa aneh! Tapi sepertinya aneh yang positif, karena rasanya tidak sesak, berbeda dengan kejadian saat ibuku mengetahui bahwa aku mengidap Alexythimia. Rasa aneh itu, sungguh menyesakkan!
Aku hanya menjawab.
"Ok."
Dan Anthony memelukku erat sekali! Dia bahkan mengecup bibirku setelahnya! Matanya terpejam ketika melumat lembut bibirku, aku ikut terpejam hanya untuk mencari tahu, mengapa Anthony terpejam ketika bibir kami berpagut, dan... Ini aneh! Aku merasa ada suatu ikatan yang terlepas di dalam hatiku! Ini aneh, jantungku berdegup dengan kencang!
Aku tidak sedang berlari, atau berjalan dengan cepat, tapi mengapa jantungku berdebar?
Aku segera membuka kedua mataku, sesaat setelah Anthony melepas ciumannya. Dia menatap mataku sambil tersenyum lebar, kemudian berkata.
"Terima kasih, aku sangat mencintaimu..."
Cinta? Aku bahkan tidak tahu, apa itu cinta!
Anthony dan keluarganya mengetahui tentang keadaanku, namun mereka tidak mempermasalahkan itu, hingga akhirnya pernikahan kami dilaksanakan.
Malam pertama adalah momen paling aneh yang pernah ku alami sepanjang hidupku.
Kecuali saling berpagut bibir, karena Anthony dan aku pernah melakukannya waktu itu, selebihnya, semuanya sungguh pertama bagiku!
Anthony sepertinya menyukai kegiatan ini, karena kami melakukannya terus menerus, selama bulan madu, bahkan selama beberapa bulan pernikahan kami, kecuali ketika aku sedang datang bulan.
Suatu hari, ketika usia pernikahan kami tepat 1 tahun, saat aku merias diriku di depan meja rias, Anthony datang, kemudian memasangkan sebuah kalung di leherku, lalu menatap pantulan bayangan kami melalui cermin. Dia bertanya kepadaku sambil tersenyum lebar.
"Apa kau menyukainya, sayang?" Katanya sambil menatap wajahku.
Aku menoleh kepadanya, dan berkata.
"Apa yang akan terjadi, jika aku menyukainya?" Kataku.
Anthony tersenyum lebar, dengan mata yang berkaca-kaca, entahlah! Ada sensasi aneh di hatiku melihat senyumnya!
"Aku sudah pasti sangat bahagia..." Ucapnya dengan suara yang agak bergetar.
Aku tersenyum! Bahkan tersenyum lebar! Aneh! Entahlah! Ini sungguh aneh!
Dan semenjak hari itu, setidaknya aku dapat mengetahui alasan mengapa aku harus tersenyum, ataupun tertawa! Ya! Semenjak hari itu, aku sudah mulai bisa tertawa!
Hari-hari berlalu, setidaknya salah satu bentuk emosi, telah dapat ku deteksi. Pernah ketika aku bertanya kepada ibuku, mengapa aku tidak dapat menangis, ibuku hanya menjawab.
"Dalam hidupmu, kau hanya memiliki kebahagiaan! Kau hanya harus mengetahui itu! Kau tidak perlu mengetahui mengapa orang menangis! Dan kau tidak perlu mencari tahu tentang itu." Ucap ibuku sambil memelukku, dan akupun tersenyum.
Bahagia! Ya! Bahagia! Setidaknya, aku dapat mengerti, apa itu bahagia!
Aku bahagia, walaupun hingga 5 tahun pernikahanku dengan Anthony, kami belum juga di anugerahi malaikat kecil...
Kehidupan kami tetap bahagia, hingga suatu hari...
Suatu malam sebelum hari ulang tahun Anthony, aku berniat untuk memberikannya kejutan.
Sebelum berangkat ke kantor, Anthony sempat berpesan bahwa hari ini dia akan lembur.
Oh ya, aku berhenti bekerja beberapa hari sebelum pernikahan kami.
Pukul 10 malam, aku memacu mobilku menuju kantor suamiku. Setelah menempuh 1,5 jam perjalanan, akhirnya aku tiba di depan pintu masuk gedung perusahaan. Seorang satpam telah mengenalku, dan mempersilakanku untuk masuk.
Aku berjalan sambil membawa kue tart yang telah ku pesan siang tadi.
Ketika keluar dari dalam lift, aku menyalakan lilin yang tertancap di atas kue bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Suamiku Tersayang'
Aku berjalan mengendap-endap, agar suamiku tidak menyadari kedatanganku.
Ketika aku baru saja menyentuh kenop pintu ruangannya, aku dapat mendengar sama-sama suara desahan dari dalam sana.
Entah mengapa, hatiku bergemuruh hebat! Rasanya aneh! Dan ini membuatku semakin ingin membuka pintu ini, untuk memastikan apa yang terjadi!
Setelah pintu terbuka...
Anthony, suamiku... Laki-laki yang selalu bersikap layaknya suami idaman, laki-laki yang mengajarkanku bagaimana cara untuk tersenyum, laki-laki yang mengajarkanku tentang apa itu bahagia... Laki-laki yang... Saat ini tengah melakukan apa yang kami lakukan di saat malam pertama pernikahan kami, bahkan sepanjang pernikahan kami.
Dadaku terasa sesak! Sepertinya sakit, entah! Hanya saja...
Anthony menyadari kehadiranku! Wajahnya begitu pucat! Begitupun gadis yang beberapa detik lalu berada di bawahnya.
Anthony menyambar pakaiannya, begitupun gadis itu! Mereka terburu-buru mengenakan pakaian, sedangkan aku disini terpaku, menyaksikan apa yang ada di hadapanku saat ini, sambil terus memegang kue tart dengan lilin yang menyala.
Gadis itu segera berhambur keluar, ketika telah mengenakan pakaiannya.
Bukankah itu Agnes? Tetangga kami?
Dan Anthony, dia menghampiriku dengan wajah yang tidak dapat ku mengerti.
"Sayang, dengar... Maafkan aku... Aku tidak bermaksud..." Suara dan nafasnya saling memburu, ketika berucap...
Dan entah mengapa, setiap kata yang keluar dari mulutnya, terasa sungguh menghujam jantungku... Aku meneteskan air mata... Ya... Akhirnya aku dapat meneteskan air mata...
Anthony memelukku, dia menangis histeris, bahkan berlutut, memohon pengampunan dariku.
Aku ikut berlutut, dan menyodorkan kue tart yang lilinnya telah padam.
"Selamat ulang tahun, suamiku..." Kataku dengan suara bergetar, dan air mata yang masih terus mengalir.
Anthony menatapku lirih, air matanya semakin deras. Dia menangis seolah ditinggal mati ibunya! Aku pernah melihat tangisan seperti itu suatu masih kecil dulu, ketika tetanggaku ditinggal mati ibunya.
Melihatnya seperti ini, hatiku semakin terasa sakit, dan air mataku mengalir semakin deras... Aku bangkit, hendak pergi, namun Anthony menghalangiku.
Dia kembali memelukku sambil terus menangis.
Akhirnya kami memutuskan untuk pulang bersama.
Sesampainya di rumah, Anthony tidak henti-hentinya meratap kepadaku, dia meminta pengampunanku, pengampunan yang bahkan aku sendiri tidak mengetahuinya.
Dia tidak pergi bekerja selama berhari-hari, selama sikapku yang berubah drastis.
Aku kehilangan rasa lapar, dan juga dahaga. Bahkan aku juga kehilangan senyumku.
Tiap kali melihat Anthony, aku kembali mengingat kejadian malam itu, dan kembali menangis.
Dan itu membuat Anthony semakin terlihat depresi.
Suatu malam, lebih tepatnya dua minggu setelah kejadian malam itu, Anthony kembali meratap seperti biasa.
Kami tetap tinggal di satu atap, bahkan aku tetap melakukan kegiatan seperti biasa, kecuali berhubungan badan.
Hanya saja, aku kembali menjadi Nadya yang dulu. Nadya yang tidak memiliki emosi, namun mengerti apa itu sakit. Nadya yang selalu menangis tiap kali melihat wajah suaminya, Nadya yang tidak pernah tersenyum...
Anthony merengek kepadaku dan memintaku untuk memaafkannya. Hatiku sungguh nyeri tiap mendengar ucapannya yang satu ini.
Maaf? Mengapa itu begitu menyakitkan, ketika Anthony yang mengucapkannya?
Aku bahkan sampai menutup kedua telingaku, dan berteriak dengan kencang, sambil menangis histeris.
"HENTIKAAAANNNN!!!"
Aku menatap wajahnya yang sembab, karena terus menerus menangis. Anthony berusaha untuk memelukku, bahkan mengecup bibirku namun aku terus mengelak, hingga akhirnya aku berkata...
"Menyakitkan rasanya tiap kali melihat wajahmu! Bahkan jantungku terasa remuk, walau hanya melihat bayanganmu." Ucapku dalam tangis
Anthony tersentak, dia membisu namun air matanya tetap mengalir.
"Pergilah, atau aku yang pergi?" Kataku
"Tidak, tidak sayang... Jangan seperti ini ku mohon..."
"Aku tidak ingin bertemu denganmu sampai rasa sakit ini benar-benar pergi." Ucapku kemudian menyeka air mata.
Anthony memutuskan untuk pergi dari rumah kami. Sesekali dia menghubungiku melalui sambungan telepon, namun aku tidak menjawabnya.
Setiap hari dia mengirimiku pesan, dan foto tentang semua kegiatannya setiap 1 jam sekali, namun itu tidak mengurangi rasa sakitku atas perbuatannya.
Suatu hari, aku merasakan mual yang hebat. Bahkan aku sampai muntah berkali-kali karenanya. Asisten rumah tanggaku begitu mengkhawatirkan keadaanku, dan menyarankanku untuk memeriksakan kesehatanku, mengingat pola makanku yang kacau beberapa minggu terakhir.
Benar apa yang dikatakan oleh asisten rumah tanggaku, kemungkinan lambungku terganggu karena pola makanku, dan ini menjadi semakin mengganggu akhir-akhir ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Dan betapa terkejutnya aku, ketika dokter umum menganjurkanku untuk menemui dokter kandungan yang juga berada di rumah sakit tersebut!
Benar saja! Setelah aku menemui dokter kandungan, dokter tersebut berkata...
"Selamat, nyonya... Janinmu telah berusia 9 minggu." Ucap dokter itu sambil tersenyum lebar.
9 minggu? Aku bahkan tidak menyadari hal itu!
Aku kembali mengingat, kapan terakhir kali aku datang bulan.
Ya! Aku ingat! 2 bulan! Aku berhenti datang bulan semenjak 2 bulan yang lalu!
Sepulang dari rumah sakit, aku menatap potret bayiku melalui foto USG di kamar. Entah mengapa, rasa sakitku menghilang begitu saja ketika menatap potret itu.
Aku bahkan tersenyum lebar!
Ya! Foto ini kembali menghadirkan senyum yang hampir sebulan ini, lenyap dari hidupku...
Asisten rumah tanggaku menghampiriku, dia tersenyum lebar melihatku yang saat itu menatap hasil USG. Dia bahkan menghubungi kedua orang tuaku, juga kedua orang Anthony mengenai kabar kehamilanku ini!
Dan Anthony... Akhirnya aku menjawab panggilannya yang entah sudah ke berapa ribu kali.
Aku memberitahunya tentang kehamilanku ini. Dia luar biasa bahagia, bahkan berteriak! Aku tersenyum mendengarnya.
Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menerima kehadiran suamiku, toh, aku tidak lagi merasa sakit tiap kali melihatnya.
Aku kembali bisa tersenyum, dan melalui kehidupan layaknya suami-istri pada umumnya.
Semua kembali seperti semula, seolah kejadian malam itu, tidak pernah terjadi.
Anthony begitu menunjukkan rasa bersalahnya. Dia bersikap lebih baik dari sebelumnya, ditambah lagi, kini aku tengah mengandung darah dagingnya.
Aku begitu di perlakukan layaknya seorang Ratu.
Namun suatu pagi, di saat suami hendak berangkat ke kantor, dan aku selalu mengantarnya sampai di depan gerbang, beberapa menit setelah suamiku berlalu, aku melihat mobil Agnes melintas ke arah yang sama dengan suamiku.
Sesuatu terjadi dengan hatiku, entahlah!
Aku segera memeriksa ponselku. Ya! Aku memasang alat penyadap di mobil suamiku seminggu yang lalu, dan alat itu terhubung dengan ponselku!
Aku segera masuk ke dalam rumahku, dan meraih kunci mobil! Ya! Aku ingin memastikan kecurigaanku!
Di perjalanan, aku mengemudi dengan rasa yang campur aduk, sambil mengusap gundukan kecil berusia 5 bulan di perutku.
Menurut GPS, suamiku saat ini berada di sebuah restoran yang berada beberapa kilometer dari rumahku! Hatiku kembali merasa sakit! Mataku terasa perih mengetahui fakta ini.
Ketika telah tiba di lokasi yang tertera di GPS, benar saja! Mobil suamiku terparkir disana! Begitupun mobil Agnes!
Tubuhku melemas seketika!
Selama ini, Anthony hanya berpura-pura kepadaku? Ya Tuhan... Mengapa seperti ini!
Aku melangkahkan kakiku menuju ke dalam restoran itu, dengan langkah gontai, ku cari suamiku di setiap sudut tempat ini.
Tidak ada! Namun ku yakin, mereka berdua ada disini! Ya!
Ketika aku kembali melangkahkan kakiku, seorang pelayan menghampiriku dan berkata.
"Maaf, nona... Apa kau mencari seseorang?" Sapanya ramah.
Aku menoleh ke arahnya, sambil berpikir sebelum menjawab...
"Yeah, sebenarnya aku memiliki janji temu dengan seseorang, namun sepertinya dia belum datang." Jawabku meyakinkan.
"Apa anda telah menghubungi orang tersebut?"
"Yeaah... Dia bilang dia telah sampai, namun aku tidak dapat menemukannya." Ucapku
"Aaahhh... Ku rasa dia berada di private room di lantai dua, mari." Kata pelayan itu, kemudian mengarahkanku ke ruangan yang dia maksud.
Ketika berada di lantai dua restoran ini, kami menyusuri sebuah lorong yang di apit ruangan. Langkahku terhenti di depan sebuah ruangan. Samar ku dengar suara Anthony.
"Ku mohon, aku akan memberi berapapun yang kau pinta, aku mohon, aku ingin hidup bahagia bersama istriku... Aku mencintainya..." Sayup ku dengar suara Anthony.
Dan ketika lawan bicaranya berkata, pelayan tadi menghampiriku.
"Nona..."
"Aku telah menemukannya, Terima kasih." Kataku, sebelum dia melanjutkan ucapannya.
Setelah pelayan itu meninggalkanku, aku kembali mendengar ucapan suamiku di balik pintu.
"Aku tidak akan menghancurkan rumah tanggaku! Istriku sedang mengandung..."
"Kau pikir janin siapa yang saat ini sedang ku kandung!"
'Deeegggghhhhhh!!!!'
Agnes! Ya! Dapat ku pastikan, gadis yang berteriak itu adalah Agnes!
Dia juga tengah mengandung!
Tubuhku bergetar hebat!
Tanpa sadar aku menumpu tanganku di kenop pintu ruangan itu hingga menyebabkan pintu tersebut terbuka, dan tubuhku bergeser hingga terduduk...
Mereka terbelalak... Anthony bergegas menghampiriku, dan memapah tubuhku. Sedangkan Agnes, dia terpaku...
Malamnya, aku memutuskan untuk mempertemukan keluarga besar kami, termasuk Agnes beserta ibunya, mengingat ayahnya telah lama tiada.
Banyak fakta yang terungkap malam itu, selain kehamilan Agnes yang memasuki usia 3 bulan, mereka telah menjalin hubungan selama 3 tahun! Lebih tepatnya, 2 tahun setelah aku dan Anthony membeli, serta menempati rumah kami...
Sakit... Sungguh sakit, bahkan terlampau perih!
Ayahku memelukku erat sekali, beliau berusaha menenangkanku yang tengah menangis sejadi-jadinya...
Anthony? Entah apa yang tengah dilakukan ayah mertuaku terhadapnya di luar, sedangkan ibu mertuaku... Ibuku kini tengah menenangkan beliau yang sejak awal mengetahui tentang fakta hubungan putranya dengan Agnes, begitu ingin melukai gadis itu.
Agnes dan ibunya akhirnya pergi, dan kedua keluarga kembali berkumpul.
Anthony kembali berlutut di hadapanku, namun aku enggan untuk mengindahkannya!
Aku menginginkan perceraian! Masa bodoh dengan janinku! Aku bisa merawatnya walau seorang diri... Namun keluarga kami, terlebih Anthony, mereka berusaha untuk mencegah perceraian itu terjadi!
Namun keputusanku telah bulat!
Kini, aku tengah menanti kehadiran putraku... Beberapa jam lagi, aku akan menjalani operasi untuk menyambut kehadiran malaikat kecil, yang telah lama ku nanti...
Ayah dan ibuku, begitu setia mendampingiku hingga saat ini. Dan kedua mertuaku, mereka secara rutin menemuiku untuk menanyakan keadaanku dan juga calon cucu mereka...
Sedangkan Anthony... Sejak kejadian malam itu, aku memutuskan untuk tidak lagi menemuinya... Aku meminta kedua orang tuaku, serta mertuaku untuk melarangnya untuk menemuiku.
Setidaknya, itulah yang ku pinta sebagai syarat untuk mempertimbangkan keputusanku.
4 bulan yang berat ini, terhapus dengan kehadiran malaikat tampan yang kini telah berada di dalam dekapanku... Semua rasa sakitku hilang... Semua sirnah... Dan aku memutuskan untuk menemui Anthony...
Anthony datang... Dia menangis... Dia memeluk, lalu mengecup kening, serta puncak kepalaku sebelum meraih putra kami.
Kedua orang tua kami, menatap kami haru...
Dan malamnya, ketika putra kami telah kembali berada di ruang bayi, aku dan Anthony berbincang hangat...
Anthony sesekali mengecup punggung tanganku. Dia bercerita bahwa dia telah mempersiapkan semua keperluan di rumah baru kami.
Ibu mertuaku berkata bahwa Anthony telah menjual rumah lama kami, dan membeli rumah baru untuk memulai kehidupan baru kami. Aku hanya tersenyum.
Wajah Anthony terlihat muram, ketika aku bertanya tentang Agnes. Dia tampak enggan untuk membahas tentang Agnes. Aku tersenyum, kemudian bertanya tentang kehamilannya. Anthony menghela nafas panjang, dia berkata bahwa Agnes mengalami keguguran. Dan ketika aku bertanya, apakah itu adalah permintaan dari Anthony, dia menggeleng.
Anthony... Terima kasih...
Setidaknya, berkat dirimulah aku dapat mengerti, apa itu bahagia... Terima kasih, telah mengajarkanku, mengapa aku harus tersenyum... Terima kasih, telah mengajarkanku apa itu bahagia...
Anthony, tidak peduli bagaimana rasa sakitnya, namun setidaknya, Terima kasih telah mengajarkanku, apa itu sedih, kecewa, dan rasa sakit lainnya...
Terima kasih telah mengajarkanku, bagaimana cara untuk menangis...
Anthony... Aku mencintaimu, diatas rasa sakitku... Aku membencimu, dengan seluruh rasa cintaku...
Anthony... Terima kasih... Darimu, aku dapat merasakan apa itu cinta, dan benci...
NOTE :
Dua hari setelah kelahiran putra Nadya dan Anthony, Nadya menghembuskan nafas terakhir, karena perdarahan internal... Putra mereka diberi nama 'Gabriel Nathaniel'.