Hari ini, seorang gadis yang bernama Fani berangkat ke sekolah seperti biasa, dia hanya mencium tangan ibunya sebelum berangkat ke sekolah, meskipun dia juga ingin mencium tangan sang ayah, hal itu bukanlah hal yang mudah. Bagi Fani jangankan mencium tangan ayahnya, melihat wajahnya saja dia tidak pernah, selama 11 tahun terakhir.
Tahun ini umur Fani beranjak 17 tahun, jika dihitung sejak tahun ayah dan ibunya berpisah, maka sudah 11 tahun lamanya dia tinggal berdua dengan ibunya. Meskipun Fani sudah terbiasa tinggal berdua dengan ibunya, itu tidak menghapus fakta bahwa dia membutuhkan kehadiran seorang ayah di hidupnya.
Fani gadis yang periang, dia mudah bergaul dengan siapapun yang dia temui, hal itu membuatnya menjalani kehidupan sekolahnya dengan baik, dia bahkan tertawa dengan mudah hanya karna mendengar candaan dari teman-temannya.
Setiap hari, Fani berangkat ke sekolah menaiki angkutan umum, hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai ke sekolahnya dengan angkutan umum itu,
Setelah sampai di sekolah, Fani menuju kelasnya.
"Hai.. selamat pagi teman-temanku yang sangat cantik,ganteng dan rajin"
ucap Fani yang memasuki kelas sambil tersenyum pada semua teman kelasnya.
Teman-teman Fani sudah terbiasa dengan ucapan selamat pagi Fani saat dia memasuki kelas, itu karna dia melakukan hal itu setiap hari, sebagian dari mereka menjawab ucapan Fani dan sebagian lainnya memilih mengabaikannya. Saat Fani duduk di kursinya, ketua kelas membagikan sebuah amplop di setiap meja siswa di kelas itu. Fani tersenyum pada sang ketua kelas saat memberinya amplop itu.
Raut wajah Fani seketika berubah saat membuka amplop yang sudah berada di tangannya itu.
Fani hanya menatap datar amplop yang berisi undangan rapat orang tua siswa. Sejak dulu dia tidak pernah suka dengan surat undangan, yang lebih tepatnya undangan orang tua siswa. Bagi Fani, itu hanyalah undangan yang membuat orang-orang memiliki waktu untuk mencela keluarganya. Jika salah satu dari mereka tahu yang menghadiri undangan itu adalah ibunya, mereka akan mulai bertanya, mengapa bukan ayahnya yang menghadiri.
Saat orang-orang mulai tahu bahwa orang tuanya berpisah, mereka akan mulai bertanya hal-hal yang suka menyinggung, seperti bertanya apa alasan orang tuanya berpisah, apakah salah satu dari orang tuanya selingkuh hingga akhirnya berpisah? atau karna hal lain. Fani tidak suka dengan pertanyaan seperti itu, karna itu adalah masalah keluarganya. Cukup dengan kenyataan bahwa dia tak punya ayah di sisinya, tak perlu menambahkan gosip aneh tentang keluarganya.
Fani memasukkan amplop undangan itu ke dalam tasnya, lalu mengambil beberapa buku karna pembelajaran sebentar lagi akan berlangsung. Setelah pembelajaran selesai, Fani mengajak salah satu temannya ke kantin sekolah.
"Lina, kita ke kantin yuk"
ucap Fani pada Lina
"Iyya, bentar tunggu dulu ya"
ucap Lina yang sedang membereskan buku-bukunya.
Fani dan Lina ke kantin bersama, saat mereka sedang menikmati makanannya, Lina tiba-tiba mengingat surat undangan orang tua siswa.
"Fani, ibu kamu bisa hadir di rapat orang tua siswa?"
Lina tahu bahwa orang tua Fani sudah bercerai sejak lama, karna itu dia bertanya kepada Fani dengan mudah tentang ibunya.
"Iyya, ibuku akan menghadirinya...karna aku tidak bisa memberikan undangan itu pada ayahku"
ucap Fani yang mulai berhenti makan saat membahas tentang ayahnya.
"Kamu belum tahu tempat tinggal ayahmu?"
Lina tahu semua tentang masalah keluarga Fani, karna Fani menceritakan semua masalahnya pada Lina.
"Tidak, kurasa aku tidak akan pernah bisa tahu dimana dia tinggal"
Lina merasa prihatin dengan Fani, tapi Fani bukan anak yang lemah, buktinya sebagai teman fani, Lina bahkan tidak pernah melihat Fani menangis di hadapannya.
Saat pulang sekolah, Fani langsung memberikan undangan itu pada ibunya.
"Ini undangan rapat orang tua siswa Bu.."
ucap Fani sambil tersenyum pada ibunya
"Kapan rapatnya di adakan?"
ucap ibu Fani
"Sepertinya besok Bu, di surat undangnya lengkap waktu dan tempatnya Bu..baca saja".
ucap Fani lalu menuju ke kamarnya.
Saat Fani selesai mengganti seragam sekolahnya, dia duduk di meja belajarnya lalu membuka buku diary yang berisi semua kejadian yang dia anggap penting. Tapi dalam buku itu ada selembar surat yang terselip, surat itu bukan bagian dari buku diary fani, karna memiliki warna yang berbeda.
Fani membuka surat yang terlipat rapi itu dengan pelan, saat dia mulai membaca surat itu, mata Fani mulai berkaca-kaca...hingga akhirnya dia selesai membacanya, buliran bening membasahi pipinya dengan cepat, dia menutup mulutnya agar tak ada yang bisa mendengar isakannya.
Ayah...
jika suatu hari nanti kau membaca surat ini, bisakah aku bertanya mengapa kau meninggalkanku? apa aku begitu tidak penting hingga kau membuangku dengan ibuku?
Aku tahu aku bukan anak yang baik...tapi, jika kau setidaknya pernah mengingatku saat kau sedang tersenyum dan merindukanku saat kau sedang sedih, aku akan sangat bahagia...
terimakasih karna telah menjadi ayahku, perlu ayah tahu, aku menulis surat ini di hari ulang tahunku yang ke 15, aku harap surat ini kukirim padamu sebelum umurku 16 tahun.
Bulan ini Fani akan berumur 17 tahun, itu artinya surat untuk ayahnya sudah dia simpan selama 2 tahun terakhir. Fani menghapus air matanya dengan cepat, lalu melipat kembali surat itu saat mendengar panggilan dari ibunya.
"Nak...makan malam dulu baru tidur"
ucap ibu Fani
"Iyya Bu"
Keesokan harinya karna diadakan rapat di sekolah, maka proses pembelajaran tidak berjalan dengan lancar, beberapa guru tidak mengajar karna ikut menghadiri rapat tersebut. Lina mengajak Fani untuk jalan-jalan keluar sekolah, di kelas mereka guru yang seharusnya mengajar sedang sibuk mengurus rapat orang tua siswa.
"Fani, kita jalan-jalan aja yuk"
ucap Lina
"Kamu mau jalan-jalan kemana Lina?"
ucap Fani
"Kemana aja boleh Fani"
Lina dan Fani akhirnya pergi ke pantai dengan pasir putih, tempat wisata itu ramai pengunjung bahkan ada beberapa orang yang memperhatikan mereka, karna masih menggunakan seragam sekolah, tatapan mereka seolah berkata "anak-anak SMA itu sedang bolos sekolah".
Fani dan Lina tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka, setelah cukup puas bersenang-senang dan bermain air laut, Fani dan Lina memutuskan untuk kembali ke sekolah. Fani menyuruh Lina untuk menunggunya di parkiran, karna Fani ingin ke toilet, Lina menyetujui permintaan Fani, dia menuju parkiran setelah beberapa lama dia akhirnya melihat Fani dari kejauhan, karna itu Lina ingin mengeluarkan motornya dari parkiran namun saat dia memundurkan motornya, sebuah mobil tanpa sengaja menyenggol motornya.
Lina terjatuh bersama motornya, Fani yang berdiri agak jauh dari Lina melihat kejadian itu, dia ingin langsung menghampiri Lina, namun saat dia melihat seorang pria yang terlihat berumur 40-an tahun turun dari mobilnya dan membantu Lina mengangkat motornya, Fani tidak jadi menghampiri Lina dan hanya berdiri memperhatikan pria tersebut itu.
"Maaf nak, saya tadi tidak sengaja"
ucap pria itu
"Tidak apa-apa pak, saya juga tidak lihat mobil bapak"
ucap Lina
Pria itu membuka dompetnya lalu memberikan beberapa lembar uang kepada Lina.
"pergilah ke rumah sakit nak, kalau masih kurang silahkan hubungi saya di nomor ini"
Pria tersebut memberikan kartu nama yang memiliki nomor teleponnya.
"Tidak perlu pak, saya baik-baik saja"
ucap Lina menolak uang dan kartu nama tersebut.
"Saya merasa tidak nyaman karna telah menabrak seseorang, tolong periksakan diri mu di rumah sakit nak"
pria tersebut kembali menyodorkan uang dan kartu namanya.
Lina akhirnya mengambil uang dan kartu nama tersebut. setelah pria itu pergi, Fani menghampiri Lina.
"Apa kamu baik-baik saja?"
ucap Fani
"Iyya, bapak yang tadi menabrakku sangat baik dia memberika uang 500 ribu rupiah dan kartu namanya padaku, dia menyuruhku ke rumah sakit"
Fani yang sejak tadi menahan air matanya kini tak mampu lagi melakukan itu, tetesan air matanya tidak berhenti keluar saat dia mencoba menghapusnya. Lina yang melihat Fani tiba-tiba menangis, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Fani..kenapa kamu tiba-tiba nangis?"
ucap Lina, sambil memeluk Fani
Fani semakin terisak saat Lina bertanya padanya. Lina akhirnya membiarkan Fani untuk menangis dalam pelukannya, setelah beberapa lama, Fani mulai berhenti menangis dan Lina melepaskan pelukannya.
"Ada apa Fani?"
ucap Lina
"Lina..Tadi itu ayah aku"
ucap Fani sambil menghapus sisa air matanya, lalu menatap Lina.
"Ayah kamu? kenapa kamu tidak menghampirinya fani?"
"Aku takut jika dia tidak mengenaliku"
Fani menundukkan kepalanya, saat dia merasa air matanya akan keluar lagi.
"Aku punya nomor teleponnya Fani, sekarang kamu bisa menelfonnya"
ucap Lina
Fani terdiam sejenak, lalu tersenyum pada Lina. Setelah kejadian itu, Lina berencana menelfon nomor tersebut, tapi Fani meminta agar lina tidak meminta uang, namun bertanya alamatnya.
Setelah mendapatkan alamat dari pria tersebut, Lina memberikannya pada Fani. Fani berencana mengirim surat untuk ayahnya, tanpa mencantumkan alamat dirinya. Fani ingin tahu apa yang akan dilakukan ayahnya saat menerima surat dari putrinya yang tidak dia temui selama 11 tahun.
Keesokan harinya, Fani mengirimkan surat yang sudah diberi amplop berwarna biru ke alamat rumah ayahnya.
Seorang Pria yang sedang menyeruput kopinya meletakkan cangkir kopi tersebut saat mendengar suara bel yang berbunyi.
Pria yang berumur 40-an itu menuju pintu lalu membukanya.
"Misi pak ada kiriman surat untuk Bapak"
ucap seorang kurir
"Kiriman untuk saya? nama pengirimnya siapa?"
ucap Pria tersebut
Kurir tersebut mengecek Amplop yang dia pegang, tapi dia tidak melihat adanya nama dan alamat dari sang pengirim.
"Maaf pak, nama dan alamat pengirimnya tidak dicantumkan"
ucap kurir tersebut, lalu memberikan amplopnya.
"Baiklah, tidak apa-apa terimakasih"
Setelah Kurir tersebut pergi, dia menutup pintu rumahnya dan kembali ke kursi yang dia duduki tadi. Dia mengeluarkan sebuah surat di dalam amplop itu, lalu membacanya dalam hati.
Ayah...
jika suatu hari nanti kau membaca surat ini, bisakah aku bertanya mengapa kau meninggalkanku?
apa aku begitu tidak penting hingga kau membuangku dengan ibuku?
Aku tahu aku bukan anak yang baik...
tapi, jika kau setidaknya pernah mengingatku, saat kau sedang tersenyum dan merindukanku saat kau sedang sedih, aku akan sangat bahagia...
terimakasih karna telah menjadi ayahku, perlu ayah tahu, aku menulis surat ini di hari ulang tahunku yang ke 15, aku harap surat ini kukirim padamu sebelum umurku 16 tahun
Setelah membaca surat dari putrinya, matanya berkaca-kaca tetapi daripada meratapi keegoisannya, dia memilih bangkit dari kursinya lalu mencari kunci mobil untuk menghampiri Fani.
Selama ini dia tahu tempat tinggal mantan istri dan putrinya, hanya saja setiap kali dia ingin menemui Fani, dia mengurungkan niatnya karna dia takut jika Fani mungkin akan membenci dirinya. Seorang ayah yang tidak pernah mengunjungi putrinya selama 11 tahun bukanlah ayah yang baik, karna itulah dia tidak ingin menemui Fani.
Dia berdiri di depan sekolah Fani, menunggu putri yang dia rindukan selama 11 tahun itu pulang sekolah. Tak lama kemudian beberapa siswa keluar dari gerbang sekolah itu, saat dia melihat Fani berdiri di gerbang sekolah, dia langsung berlari ke arah putrinya.
Melihat Ayahnya yang kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum, Fani meneteskan air matanya tanpa henti, dia benar-benar bahagia melihat ayah yang selama ini dia rindukan berdiri di hadapannya lalu tersenyum padanya.
"Maafkan Ayahmu ini nak"
Pesan yang dapat kita ambil dari cerpen ini adalah, saat kita merindukan keluarga, jangan berfikiran sempit dan menganggap bahwa pertemuan itu terlalu sulit untuk dilakukan, bisa saja keluarga yang kita rindukan lebih merindukan kita.
Karya: Khairunnisa