Surip bangun dari tidurnya, matanya tak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, tangannya meraba kanan, kiri mencari ponsel, tapi depan, belakang hanya dinding yang kasar dan dingin. " Dimana aku, sepertinya aku tadi tidur di sebuah hotel bintang 5 ?"
" Dimana jas mahalku, mengapa sekarang Aku tak berpakaian, hanya kain putih tak bermerk dan jelek ini berada di tubuhku !?" Rasa heran menyelimuti hati Surip . Dia meraba hidung, ada yang mengganjal dan membuat nafasnya tak lega, telinga juga ada sesuatu yang menyumbat, Surip meraba " lembut, sepertinya ini kapas !".
Sebelum Surip benar-benar tersadar dari rasa heran akan keberadaan dirinya, tiba-tiba dua sosok bercahaya datang, dengan mata memerah. " Hai siapa kalian ?!" Surip membentak dua sosok itu tanpa rasa takut, sudah menjadi kebiasaannya tak takut kepada penjahat di dunia manapun. " Katakan, dimana aku sekarang ?!" Satu pertanyaan belum dijawab Surip sudah kembali bertanya. Dia merasa dirinya disekap oleh gangster dunia hitam.
" Hai... Surip, tidakkah kau tahu bahwa dirimu sudah berada di alam kubur ?". Salah satu dari sosok bercahaya itu memberi jawaban.
" Apa..aku sudah mati ??". Surip meraba tubuhnya yang masih gagah dan kekar.
" Tubuhku masih sehat, kenapa aku bisa dibilang telah mati ?".
" Kematian bukan hanya untuk orang sakit atau tua, tapi kapan saja waktunya datang, temanku akan menjemput ruhnya kembali !".
Tubuh Surip bergetar, dalam hidupnya dia tidak pernah merasa setakut ini. Dia kini sadar bahwa dirinya sekarang berada di dalam kuburan, dimana tak ada yang bisa menolong kecuali belas kasih Sang Maha Pemberi.
" Hai...Surip !" Suara itu menggelegar memenuhi dinding sempit tempat Surip terduduk. " I..i.ya, aku di sini !"
" Apa kamu sudah siap menjawab pertanyaan kami Surip ?". " Tunggu dulu, tolong aku, kembalikan aku ke duniaku yang dulu !" Surip mencoba bernegosiasi. Sosok bermata merah itu mengeluarkan cemeti api dari balik jubahnya, dan akan mencambukannya ke tubuh Surip, tapi salah satu dari mereka mencegah.
" Tunggu dulu kawan, bersabarlah!".
" Aku sangat mengerti tuanmu sang Maha Baik, tolong katakan padaNya untuk memberi aku kesempatan hidup kedua, aku berjanji akan patuh !" Surip memohon.
" Bukankah kau tahu peraturan di alam ini haah !!, siapa yang sudah disini tidak ada kesempatan lagi untuk kembali !!". Sosok bermata merah itu mengayunkan cemeti akan mencambuk surip dan kembali dicegah oleh temannya.
" Oke, akan aku sampaikan kepada majikanku !". Tanpa banyak bicara dua sosok itu lenyap dari hadapan Surip. Tempat yang semula sangat terang dipenuhi dua cahaya menyilaukan itu kini menjadi gelap gulita. Surip duduk terpaku dengan hati berdebar menunggu dua sosok itu kembali, dia sadar selama ini dirinya bukanlah orang baik, dia milyader dari hasil transaksi barang haram.
"Jika nanti aku diberi kesempatan lagi, seluruh uangku akan aku amalkan untuk kebaikan, tidak akan ada lagi gelandangan di jalanan, fakir miskin semua akan aku bangkitkan dari kesengsaraan !". Hasrat menggebu muncul dari dalam diri Surip.
Tak lama kemudian dua sosok bercahaya itu kembali, " Majikanku mengabulkan permintaanmu ". Tanpa banyak bicara, dua sosok itu kembali lenyap. Surip mendapati dirinya sudah berada di tempat yang luas, matanya melihat remang cahaya di beberapa sudut, meski sepanjang mata memandang hanya nisan kuburan.
" Haah...aku kembali ke dunia, hahaha..!" Surip sangat gembira, karena dia akan kembali pada kekayaannya. Dia perbaiki kain kafan yang membalut tubuhnya dan berjalan dengan santai keluar dari pemakaman.
" Hantuuu!!", Surip mendengar teriakkan orang lari terbirit-birit karena mengira dirinya adalah hantu keluar dari gerbang pemakaman. Tanpa ambil pusing dia terus berjalan mencari rumahnya. Setelah satu jam berjalan, sampailah dia pada sebuah rumah megah penuh cahaya, itulah rumah Surip sebelumnya.
Rumah itu terkunci rapat, seorang satpam berjaga di pos, dia tidak akan membukakan pintu kecuali untuk orang-orang yang diizinkan masuk pemiliknya. " Hai.. Prapto, buka pintu !". Surip memanggil nama satpam itu. Prapto menoleh, dia merasa tidak asing dengan suara yang memanggilnya, tapi bulu kuduknya berdiri, karena suara itu sudah dikubur sebulan yang lalu.
" Hai.. Prapto, buka pintu !!" Surip kembali memanggil, Prapto melongok ke arah suara, dan dia mendapati sosok majikannya yang tak berpakaian, hanya bersarungkan kain kafan.
" Ha..hantuuu..!!" Prapto lari kocar-kacir menuju rumah. " Hemmh.!! Surip mendengus kesal.
" Nyonya... nyonya...!" Prapto mengetuk pintu ketakutan, seorang wanita muda membuka pintu, " Nyonya Jeny, tuan datang di pintu gerbang !".
" Haaah..ngacok kamu, mana ada orang sudah mati bisa kembali !" .
" Beneran nyonya, tuan Surip bangkit dari kubur !".
" Hoy...buka pintu !" Disaat Jeny masih diliputi ketidak percayaan, Surip berteriak memanggil untuk dibukakan pintu. Mereka berdua mendekat ke pintu gerbang, dan Jeny percaya bahwa itu adalah Surip, mantan suaminya yang dia bunuh dengan menyewa seorang ahli, sehingga tidak ada alibi yang bisa ditemukan kecuali Surip mati karena serangan jantung.
" Jeny istriku...ini aku, suamimu !" .
" Suamiku sudah mati, pengawal...tangkap orang ini !". Beberapa orang bertubuh kekar membawa tubuh Surip masuk ke dalam mobil, dan membawanya pergi jauh dari rumah mewah itu, kemudian melemparnya ke kolong jembatan dimana banyak gelandangan yang pernah dia nistakan.
" Gubrakkk..!" Tubuh Surip terjerembab.
" Uuugh.. sakitnya, kurang ajar benar mereka berani membuangku !". Surip kesakitan dengan luka lecet di beberapa bagian tubuhnya.
Udara malam yang dingin mulai menusuk tubuh Surip yang setengah telanjang. Seorang tua berjenggot dengan rambut gimbal datang membawa sepasang pakaian. " Pakailah !" Tanpa pilihan Surip menerima pakaian jelek itu untuk menutupi bagian tubuhnya.
Dalam remang lampu jalanan Surip termenung, rasa lapar mendera perutnya, kembali orang tua berjenggot itu membawa sebungkus makanan, " makanlah!" Surip bergegas menerima bungkusan itu, dan melahapnya dengan kalap. Setelah selesai dia memandang lelaki tua itu, lamat-lamat dia mengingat wajah orang tua di depannya. Tampak sangat tidak asing tapi siapa, Surip belum bisa mengingatnya.
Rasa kenyang membuat Surip mengantuk, dia pun terlelap beralaskan tanah, beratapkan jembatan. Dalam tidurnya dia bermimpi, seperti sebuah kenyataan, dua sosok bercahaya dalam kubur itu datang kepadanya " Wahai Surip, apa yang sekarang akan kau lakukan, semua hartamu bukan lagi menjadi milikmu, semua sudah berpindah pada nama mantan istrimu !"
Belum sempat Surip bicara , dua sosok bercahaya itu sudah menghilang, Surip tergagap bangun dari tidurnya dan mendapati lelaki tua itu duduk di sampingnya. " Apakah kau bermimpi ?". Surip mengangguk, lelaki tua itu seperti tahu betul kejadian yang menimpa Surip.
" Kau sudah diberi kehidupan kedua, meskipun kau sudah tak memiliki apa-apa, bersyukurlah karena Tuhan memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri setelah kehidupan lama bergelimang harta penuh tindakan nista ". Surip terperanjat mendengar kata-kata orang tua di hadapannya yang seperti tahu segalanya.
" Ikutlah denganku !". Orang tua itu berdiri, Surip mengikutinya. Dalam remah cahaya lampu jalanan mereka bergerak menuju sebuah tempat terpencil di pinggir sungai. " Kamu bisa berwudhu ?". Surip menggeleng. " Ikuti gerakanku!". Orang tua itu menyingsingkan lengan bajunya mulai membasuh muka, tangan dan kaki diikuti Surip menirukan semua gerakannya.
Surip ingat, ini adalah gerakan berwudhu yang pernah dia pelajari dulu ketika dia masih kecil yang pernah dia lupa. Setelah selesai mereka masuk ke dalam surau kecil, " Kau bisa sholat ?". " Dulu bisa, tapi sudah lupa pak tua !". " Ikuti gerakanku !" Surip mengikuti gerakan pak tua, dia mulai ingat kembali pelajaran yang pernah diajarkan gurunya waktu sekolah TK. Selesai sholat, dua orang itu duduk bersila saling berhadapan.
" Yang terpenting dari kesempatan hidup kedua adalah meluruskan jiwa, membesarkan nama Tuhan yang Maha Memberi segala, tiada ada di dunia ini selain Dia Sang Maha Kuasa dan semua adalah milikNya ". Pak tua itu memberi nasehat pada Surip. "Kalau boleh tahu , siapakah anda ?" . Pak tua itu tersenyum tanpa kata.
" Itu tidak penting bagimu, bertaubatlah sebelum datang kematian keduamu!".