Aku berjalan diatas hamparan tanah yang luas, dan ditumbuhi rerumputan yang hampir mirip rumput Zoysia. Warna merah jambu dengan semburat warna oranye menyatu, menghasilkan pemandangan langit yang begitu cantik. Matahari tak nampak disudut langit sebelah manapun, tetapi bisa aku pastikan dengan warna langit ini menunjukkan waktu telah memasuki senja.
Aku berjalan tanpa alas kaki, dan hanya menggunakan selembar kain hijau yang melilit tubuhku. Semilir angin terasa sejuk saat menerpa wajah dan mataku yang sengaja mulai terpejam, agar aku dapat lebih menikmato suasana di tempat ini.
Aku sempat merasa bertanya-tanya, dimanakah aku berada sekarang? Tapi aku tak menghiraukannya. Aku lebih tertarik pada sebuah pemandangan dihadapanku, yaitu sebuah hamparan air yang juga berwarna merah jambu. Entah itu akibat persebaran cahaya langit oleh atmosfir tempat ini atau memang air ini yang berwarna unik. Perairan dihadapanku terbentang begitu luasnya, hingga sejauh mata memandang tempat itu terlihat seperti luasnya lautan. Kualihkan pandanganku ke segala penjuru tempat, namun aku tak melihat apapun disini kecuali perairan merah jambu yang berhasil menarik perhatianku.
"Apakah air yang luas itu adalah laut? Tapi yang kupijak bukan daratan berpasir," gumamku seraya menunduk melihat tanah yang kupijak.
Tiba-tiba aku merasakan hawa dingin dari jari-jari seseorang yang sedang menggandeng kedua lenganku.
"Bukan laut. Tapi inilah telaga Merah. Telaga untuk menyucikan sukma yang telah sengaja dinodai oleh bangsa Jin," ucap salah seorang wanita berbaju hijau panjang yang berjalan di sebelah kiriku. Kedua tangannya menggandeng lenganku seraya menarik pelan raga ini.
"Ketika kakimu berada di bibir telaga. Bacalah beberapa amalan yang akan aku berikan. Sampai dimana kau selesai membaca amalan itu, disitulah kau harus berendam dan memohon pertolongan pada Tuhanmu," sahut gadis di sebelah kananku. Ia kemudian membisikkan beberapa amalan yang harus aku baca. Anehnya aku menghafal amalan yang diberinya hanya dengan satu kali bisikan. Mereka melepaskan gandengannya setelah kami berdiri tepat diantara dua buah gapura bernuansa cirebon yang menggunakan arsitektur kerajaan Majapahit.
"Kalian tak ikut berendam bersamaku ?" Aku membalikkan badan dan melihat mereka yang berdiri di belakangku.
"Tidak Ana. Lakukanlah seperti apa yang kami perintahkan." Mereka seketika pergi meninggalkanku sendiri di tempat asing ini.
Setelah menatap kepergian mereka yang semakin menjauh, ku lanjutkan langkahku. Dan kini aku berdiri tepat di bibir telaga dengan menatap lurus kedepan. Kedua kakiku mulai melangkah bergantian, seraya membaca amalan-amalan seperti yang mereka titahkan. Langkahku berhenti disuatu titik dimana amalan itu selesai kubaca. Rasa sejuk air telaga ini mampu menghanyutkanku, sehingga tanpa sadar mata ini mulai terpejam dengan sendirinya. Dan aku merasa seluruh tubuhku menjadi ringan. Aku tak melakukan apapun saat berendam kecuali berdiri tegak, tak bergerak sedikitpun bahkan dengan mata tertutup.
"Ana ... Ana ... " Sayup-sayup aku mendengar seseorang sedang memanggilku.
Aku membuka kelopak mataku, namun tak kutemukan satu orang pun di sekitar telaga ini. Ketika aku membalikkkan badan dan akan menuju bibir telaga, aku terkejut melihat jarak antara diriku saat ini dengan bibir telaga yang terbentang dengan amat sangat jauh. Padahal rasanya aku hanya berjalan 3 langkah saja dan amalan yang kubaca hanyalah sedikit, tapi mengapa aku melangkah dengan sangat jauh? Padahal saat aku berendam, aku tak mengubah posisiku. Beragam pertanyaan mulai muncul di benakku. Perasaan aneh itu mulai timbul sesaat. Tapi aku tak terlalu memikirkannya, karena kutau tak akan pernah ada jawaban yang kudapat bila bertanya pada diriku sendiri.
Aku berjalan menuju tepi, dan bingung entah harus kemana karena aku tak tahu dimana letak jalan keluar dari tempat ini.
"Aaaakh ... aaakh ... tolong." Tiba tiba terdengar suara teriakan seorang wanita yang sedang meminta tolong, sontak hal itu membawaku untuk mencari sumber suara tersebut. Aku merasa enggan namun juga terlalu penasaran untuk menghentikan langkahku. Kuputuskan untuk tetap mencari sumber suara tersebut dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja akan ada di antara mereka yang bisa menunjukkan padaku dimana jalan keluarnya, pikirku.
"Tolong ... tolong ... hentikan." Dari jauh aku melihat suara teriakan itu berasal dari seorang gadis sebayaku yang diikat di sebuah tiang bangunan besar. Ia dikerumuni oleh orang-orang yang terus menyusahkannya.
"Tolong, tolong aku!" Ia menangis dan menatapku seolah meminta pertolongan. Tanpa sadar kakiku melangkah mendekati kerumunan itu dengan sendirinya.
"Tolong aku ...," tangisnya yang begitu lirih membuatku tak tega dan ingin segera membuka ikatan rantai yang menyiksa tubuhnya.
Semua orang yang mengelilingi gadis itu menatapku dan membuka jalan untukku. Aku merasa aneh dengan tatapan mereka semua yang terasa menerawang jauh ke dalam mataku. Langkahku mendekati gadis tersebut terhenti kala seorang wanita yang mengantarku ke telaga tiba-tiba datang, dan menarik lenganku serta mengubah posisi pandanganku.
"Ana, jangan tertipu dengan tangisannya yang kau dengar lirih itu," ucap wanita tersebut mencoba menghalangi niatku.
"Tapi dia hanya seorang gadis belasan tahun sepertiku, mengapa kalian menyiksanya?" Aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis malang itu.
Wanita itu secara spontan meletakkan telapak tangannga di dahiku dan membisikkan beberapa kata di telingaku. Mendadak mataku mulai terpejam dengan sendirinya. Perlahan ia menurunkan tangannya yang menutupi wajahku serta mengubah posisi hadapku ke posisi semula.
"Ana, buka matamu," ucapnya berbisik di telingaku.
Entah percaya atau tidak, rasanya mataku membulat seketika saat melihat gadis malang yang semula terikat di hadapanku kini lenyap, dan berganti sesosok Iblis wanita yang sangat menyeramkan. Tanduk yang mencuat di kepalanya menyerupai tanduk banteng. Sekujur tubuhnya berwarna merah padam dan mengeluarkan bau busuk. Ia merintih dan memohon ampun. Air mata yang berhasil menipuku ternyata adalah darah segar yang mengalir dari kedua sudut matanya.
Tak kuat menatap hal mengerikan di hadapanku, rasa sakit yang begitu dahsyat tiba-tiba menyerang kedua mataku dan semuanya terlihat kabur. Hingga akhirnya seluruh badanku terasa lemas dan aku tersungkur menghantam tanah.
~~
"Ana ... Ana ...." Aku mendengar suara seorang lelaki sedang memanggil-manggil namaku.
Ku buka kedua kelopak mataku yang terpejam. Atensiku mengedar ke seluruh ruangan yang begitu gelap. Aku merasakan sejuk seperti telah berendam. Yang membuatku bingung adalah, sejak kapan aku berada di ruangan ini?
"Assalamu'alaikum, Ana. Bisa jawab Abi?" Tanya laki-laki bersorban di depanku yang menyebut dirinya Abi.
Sontak aku terkejut dan segera mengubah posisiku yang awalnya berbaring menjadi duduk dengan kedua kaki masih menjulur. Kulihat Ibu sedang menunggu disebelahku dan satu lagi seorang pria paruh baya seperti ayahku.
"Wa'alaikumussalam," jawabku singkat.
"Alhamdulillah. Bu, sekarang boleh buka kain hijau penutupnya," ucap lelaki itu seraya menunjuk kain hijau yang menyelimuti tubuhku. Aku ingat betul kain itu yang menjadi pakaianku saat berendam di Telaga Merah. Aku ingin sekali bertanya, namun rasanya lisanku masih malas untuk berkata. Entah karena rasa lelah di tubuhku, atau mungkin perasaan bingung yang masih memenuhi kepalaku.
"Ini diminun dulu jangan lupa membaca basmalah," ucap lelaki itu seraya menyodorkan segelas air putih padaku.
Kubaca bacaan basmalah kemudian segera meminumnya hingga tak tersisa setetespun, karena aku baru menyadari dahaga di tenggorokanku kala melihat air putih tersebut.
Laki-laki itu mengajak kami untuk keluar ruangan dan duduk di teras rumahnya dengan beralaskan tikar nilon. Disana terlihat Ayah duduk menunggu seorang diri.
Sesekali Abi keluar masuk ruangan tadi dan kembali dengan membawa sebotol air mineral ukuran besar.
"Minumlah air ini dan jangan lupa berdoa sebelum meminumnya. Ini, bacalah doa ini dengan tulus, dengan yakin, supaya kau bisa normal kembali dengan izin-Nya," ujar laki-laki tersebut seraya memberikan sebotol air mineral yang dibawanya tadi beserta selembar kertas putih bertuliskan doa dan dzikir. Aku hanya mengangguk pelan karena rasanya lisanku masih terlalu malas untuk berucap.
"Enakan, Nduk?" tanya ibu padaku.
"Ya," aku mencoba memaksakan diri untuk berbicara walau hanya satu kata.
"Setelah sukmamu abi bawa ke telaga gaib semoga saja bisa melunturkan sisa-sisa energi negatif yang ditimbulkan oleh makhluk itu."
Deg !
Aku baru ingat, jadi pemandangan yang aku lihat barusan adalah alam gaib ?
Telaga Merah tempatku berendam barusan adalah Telaga gaib?
Sontak aku kembali mengingat dengan jelas saat-saat aku berhadapan dengan makhluk menyeramkan yang mewujudkan dirinya sebagai gadis malang tadi. Dan akupun kembali mengingat bisikan terakhir wanita itu...
"Ana, dia bukan gadis manis yang sebaya denganmu. Dia adalah Iblis jahat yang telah berumur ratusan ribu tahun. Dia memanfaatkan kelebihanmu yang dapat melihat wujud bangsa kami, bangsa jin. Dan dia berusaha menggoyahkan keimananmu pada Tuhan dengan berusaha untuk membuatmu meng-Tuhankan dia selain Tuhanmu. Ana kubuka satu tingkat lagi mata batinmu. Lihatlah wujud aslinya, dan kembalilah pada keyakinan pada Tuhanmu. Tuhan yang menciptakanmu."
-TAMAT-
Catatan :
Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menyinggung siapapun dalam hal apapun. Semoga para readers setia MT bisa mengambil makna positif dari cerita di atas.
Terimakasih... 😊