"Bayanganmu hadir dalam setiap napas kehidupan, setiap kedipan mata, setiap denyut nadi dan setiap detak jantung Ku. Mengalir dalam aliran darah memasuki pikiran Ku, terjerat dalam bayang dan cinta tak terucapkan".
Karin tetap acuh menatap ke layar laptop memantau semua angka di hadapannya. Nadine menggeser duduknya merapat di samping Karin.
"Beneran lho Rin,Aku gak bohong. Malam tadi kata-kata itu seakan dibisikkan di telinga. Seperti ini". Nadine mendekatkan bibirnya ke telinga Karin membuat gadis rambut sebahu itu bergidik ngeri.
"Ihh apaan sih, Nadine".
"Kamu gak dengar Aku sih dari tadi. Dua hari Aku tu selalu mimpi yang sama dan mendapat bisikan kata-kata cinta ini atau jangan-jangan dia ya?. Eh kamu percaya gak kalo kita memimpikan orang yang sama bearti dia memikirkan kita?".
"Itu hanya khayalan yang terbawa dalam mimpi, gak lebih. Lagian bisa gak mimpi mu bisikkan saham mana yang bagus Ku beli?".
"Ahhh, Kamu nyebelin sih Karin".
"Palingan kamu kelamaan jadi jomblo akut , berkhayal dirayu deh". Karin kembali fokus ke layarnya. Dia memang sedang mencoba bermain saham. Mengumpulkan modal dari jualan online lalu dibeli saham dan selalu ikut seminar tentang bursa saham.
"Ih kayak kamu pernah pacaran aja". Nadine mencibir ke arah Karin, tetangga sekaligus sahabatnya sedari kecil.
"Aku jomblo itu prinsip saat ini fokus kuliah sambil cari duit. Jadi saat umur 40 tahun, Aku bisa leha-leha masalah cowok nanti akan ada saatnya dia datang kalau kamu kan masih terjebak cinta pertama mu".
Nadine manyun memandang Karin. Sahabatnya memang tidak percaya hal seperti itu. Aku bukan mengingkari adanya dunia lain tetapi terus menerus mengaitkan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan sains atau ilmu pengetahuan dengan takhayul adalah hal konyol. Begitu lah ucapan yang sering dia utarakan.
Jadi tak heran ketika kelulusan SMA, mereka dan teman lain menginap di villa kala pintu tertutup sendiri atau beberapa teman mereka tubuhnya lebam tanpa alasan yang jelas. Karin tetap molor dan anteng sedangkan teman lainnya sudah mengkeret ketakutan.
***********************
Sudah 3 hari Nadine bermimpi sama, suara bisikan yang begitu jelas din telinganya. Hembusan napas dingin, bayangan wajah Aldi yang semakin lama begitu jelas.
Ah mungkin benar kata Karin. Aku berhalusinasi akan cinta pertama. Aldi adalah teman satu kelas Nadine dan Karin di Kursus bahasa Inggris semasa SMA. Nadine begitu menyukai Aldi dari pandangan pertama tapi terlalu malu untuk menyapa Aldi. Dia sering menangkap Aldi meliriknya. Pandangan mereka bertubrukan menimbulkan getaran yang terasa sampai detik ini.
Lamat-lamat mata Nadine mulai meredup kantuk telah menyerangnya. Mengantarkan diri dalam buaian mimpi.
Jangan ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข, ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ถ๐ด๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ถ๐ต ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ด๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ
๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ณ๐ข๐ช๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด
๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐จ๐ข ๐๐ถ, ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ถ ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ.
Nadine terbangun keringat dingin mengucur deras, secepat mungkin dia menyalakan lampu. Sepi hanya dirinya dikamar tetapi bisikan itu semakin nyata. Nadine melirik jam, pukul 02.10 wib. Masih dini hari, kantuknya sedikit menghilang. Nadine terduduk di kursi meja rias, menatap bayangan dengan bayangan hitam dibawah matanya. Dia kurang tidur karena bisikan ini.
Nadine melirik gawai membuka sosial media dan menuliskan semua kata bisikan yang dia dengar. Dia tidak ingin melupakan semua kata indah itu. Nadine menatap cermin di meja rias nya tiba-tiba cermin tampak berkabut putih membentuk gulungan asap kabut seakan Nadine bisa masuk ke dalamnya.
"Nadine tolong Aku". Nadine terkesiap ketika dalam samar kabut tampak samar Aldi.
"Aldi ini kah kau?.. Bohong ini pasti bohong. Ini mimpi". Nadine berdiri dari kursinya, refleks melangkah mundur.
"Bukan Nadine ini jiwa Ku, Aldi. Aku terperangkap dalam sini. Selamatkan Aku". Tiba-tiba sepasang lengan transparan keluar dari cermin menarik Nadine. Gadis itu merasakan tangan yang lembut seperti sentuhan permen kapas yang tiba-tiba lenyap ketika Nadine tersadar dia berada dalam sebuah ruang asing.
Nadine melihat sekelilingnya dirinya seakan terbang diantar aurora dengan cahaya lembut yang menari disekitar Nadine. Awalnya Nadine berpikir dia hanya mimpi tapi pijakan di kakinya terasa nyata.
Mata Nadine menangkap bola sebesar bola pingpong melayang. Berwarna pink,ungu,jingga berpendar dalam bola transparan. Nadine meraihnya untuk sesaat dia terkesima melihat bola dalam genggamannya.
๐๐๐๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐ ๐ผ๐ ๐ช, ๐
๐๐ฌ๐ ๐๐ช ๐ฉ๐๐ง๐ ๐ช๐ง๐ช๐ฃ๐ ๐๐๐ก๐๐ข ๐จ๐๐ฃ๐. ๐๐๐ฅ๐๐จ๐ ๐๐ฃ ๐ผ๐ ๐ช ๐๐ฃ๐ ๐๐๐๐ก๐๐ ๐๐๐ฌ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ง๐ฅ๐๐ง๐๐ฃ๐๐ ๐๐ฅ ๐๐ฃ๐ฉ๐๐ง๐ ๐๐๐ ๐๐๐ฃ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐. ๐พ๐๐ฅ๐๐ฉ๐ก๐๐ ๐๐ช๐ฃ๐๐ ๐๐ฃ ๐๐ค๐ก๐ ๐๐ฃ๐ ๐จ๐๐๐๐๐๐ ๐ฅ๐๐ฃ๐๐ง๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฃ ๐ฅ๐๐ฃ๐๐ฃ๐๐ ๐ ๐๐๐๐ง๐๐๐๐๐ฃ Ku
Suara itu lagi sekarang terdengar begitu nyata ketika Nadine kembali menatap ke depan dia melihat jembatan muncul satu persatu dihadapannya. Dibawah jembatan ada sungai biru muda mengalir meliuk indah. Nadine merasakan tempat berpijaknya goyah tanpa pikir panjang dia segera berlari menyusuri jembatan.
Nadine terengah-engah berlari di jembatan sampai kakinya menginjak rumput dengan bentuk seperti tetesan embun. Nadine berpikir rumput itu akan pecah menjadi air tapi tebakannya salah rumput itu tetap utuh hanya seperti menginjak rumput basah.
Ini adalah padang rumput ada gazebo dengan tiang ditumbuhi mawar indah, Nadine melihat Aldi bersender di tiang Gazebo tangannya memegang cangkir memberi gestur menawarkan air minum kepada Nadine . Tenggorokan Nadine terasa haus ketika berlari tadi, dia segera menghampiri tapi ketika melihat mata runcing Aldi dan lipatan sayap dibelakang. Nadine memutar balik langkahnya.
Jangan ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข, ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ถ๐ด๐ต๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ถ๐ต ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ถ๐ด๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ
Dia harus segera berlari, Nadine merasakan sinar bola yang dipegang meredup. Disaat bersamaan dia melihat bola kristal sebesar bola voli terbang mengelilingi dirinya. Bersinar lebih terang dari bola yang dipegangnya.
๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ
Ah tidak dia terlalu besar, sulit untuk Ku pegang nantinya. Nadine terus berjalan tiba-tiba dia merasa melayang, rumput embun itu menghilang berganti hamparan awan dan ada istana es. Tidak ada pilihan Nadine harus berjalan di awan yang terasa empuk. Ketika memasuki istana matanya menangkap seorang ratu dengan wajah familiar. Nadine mencoba mengingat
"Nadine tolong Aku". Nadine melihat Aldi di samping sang ratu tiba-tiba ratu itu berdiri menggerakan jari lentiknya. Dari bawah kaki Nadine muncul sulur berwarna abu melingkari kaki Nadine. Refleks Nadine menghindari dan sulur itu terlepas tetapi semakin Nadine berlari semakin banyak. Naluri berkata untuk melempar bola kristal di genggamannya kearah sang ratu.
Nadine mengambil ancang-ancang melempar bola. Beruntung bola kristal itu mengenai tubuh ratu lalu jatuh berkeping. Cahaya didalamnya menyilaukan
๐๐ข๐ณ๐ช ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ณ๐ข๐ช๐ฉ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด
Nadine tahu bisikan itu adalah klue untuk menyelamatkan Aldi. Segera dia menghampiri Aldi.
"Terimakasih Nadine, Ayo cepat berlari sebelum ratu tersadarkan. Aku tahu jalannya lari terus melewati awan".
Mereka berlari melewati hamparan awan yang semakin lama membentuk gulungan kabut. Nadine meloncat ke arah gulungan kabut. Dia terjatuh dan menyentuh karpet kamarnya. Butuh waktu untuk tersadar ketika dia melihat bayangan tubuh Aldi.
๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐จ๐ข ๐๐ถ, ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ด. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ถ ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ.
"Dimana Aldi Ku cari tubuh mu?"
"Kau akan segera menemukannya".
Trrtttttttt. trttttttt suara alarm dari gawainya menyadarkan Nadine. Aldi telah menghilang dan ia juga sudah selamat keluar dari ruang asing. Nadine mematikan gawai dan ketika melihat pesan masuk. Kesadarannya benar-benar pulih.
********************
"Kau menganggu tidur Ku,Nadine". Karin mendengus kesal. Nadine membangunkan Karin dan memaksa gadis itu mengantar ke rumah sakit. Dia menerima pesan dari adik Aldi yang heran mengapa statusnya sama persis dengan Aldi padahal status Aldi dibuat jauh sebelum status Karin. Saat ini Aldi sedang koma karena terjatuh dari tangga.
"Semua yang Ku katakan pada mu kemarin pertanda dari Aldi ternyata kami saling mencintai dalam diam. Dia sekarang... ah sudahlah kau pasti tak mengerti". Nadine memalingkan wajahnya ke arah jendela. Karin menaikkan alis dan bahunya, dia kembali fokus menyetir. Nadine menangkap sepertinya Karin tak mau ambil pusing dengan ketidakmustahilan ini.
Mereka telah tiba di rumah sakit tempat Aldi dirawat, Adik Aldi telah menyambut kedatangan mereka dan mereka langsung menuju ke ruangan Aldi dirawat.
Karin keluar dari kamar Aldi. Perlahan dia menutup pintu, sepasang anak manusia saling menggenggam tangan di kelilingin keluarga Aldi dan tenaga medis yang masih takjub akan keajaiban. Aldi terbangun dari koma karena kehadiran Nadine.
Karin mencuci wajah di wastafel tidak jauh dari kamar Aldi dirawat. Nadine membangunkannya dengan paksa meminta antar ke rumah sakit ini bahkan cuci muka pun belum sempat Karin lakukan. Dia menatap datar Pantulan dirinya di cermin dan pantulannya membalas tatapan Karin kemudian tersenyum lebar".
"Puas, kau belum berterima kasih pada Ku". Bayangan di cermin itu membulatkan bola matanya yang bersinar seperti berlian.
"Aku lebih puas jika kamu memberitahukan Aku saham apa yang Ku beli agar kaya".
"Huhhh.. kau meminta Ku melakukan ini. Begitu menyusahkan hanya supaya cinta sahabat mu bersatu". Pantulan itu tampak kesal.
"Aku tidak membantu hanya menyingkirkan mereka yang begitu menganggu berapa tahun ini. Aldi yang memaksa Ku menerima cintanya dan Nadine yang tak bisa berpaling dari cinta pertamanya. Nadine selalu berpikir Aldi meliriknya padahal kami duduk berdampingan. Aldi melihat kearah Ku, itu menyebalkan. Mereka selalu mengoceh, jika aku membuat sedikit keajaiban seperti ini mereka akan percaya kalau cinta mereka tulus tak tergoyahkan.
"Huuhh, bukan kau tapi Aku yang membuat keajaiban ini dan kau tahu Aldi hampir jatuh cinta karena melihat Ku mirip dengan mu. Merepotkan dia tidak mau pergi dari istana Ku jadi terpaksa Aku mengganti wajah ini menjadi menyeramkan dan Aldi pun Ku beri sedikit pertanda untuk bisa berkomunikasi dengan Nadine".
"Hahahaa , Aldi memang merepotkan. Aku harus menjaga agar Nadine tidak tahu tentang cinta Aldi kepada Ku jika Nadine tahu ini dia akan terluka. Pria yang seperti itu bukan selera Ku". Karin membasuh wajahnya dengan tissue. Pantulan bayangan di cermin tetap pada posisi biasa.
"Kau percaya cinta? Sekarang percaya kah kau dengan keberadaan alam lain?". Bayangan cermin itu memutar bola matanya membiarkan anting-anting embun bergerak kesana kemari.
"Bertahun-tahun kau selalu muncul ketika Aku bercermin menurut mu?". Pantulan diri Karin mencibir kearahnya.
Karin mendengus kesal, dia selalu merahasiakan kelebihan dirinya yang bisa melihat keberadaan dimensi lain dalam cermin selanjutnya Karin tertawa di depan cermin bersama pantulan dirinya. Lalu wajahnya kembali datar ketika dua orang perawat berbisik-bisik memandangnya.
"Huhhh kau membuat Ku jadi perhatian orang". Karin berkata pada pantulan dirinya sebelum berlalu dari depan wastafel.
-End