Clara dan Aldo adalah pasangan kekasih. Mereka adalah pasangan yang bahagia. Clara seorang gadis yang periang dan baik hati. Begitupun Aldo, dia adalah pemuda yang baik dan penyayang.
Hubungan mereka sudah terjalin cukup lama, sejak duduk dibangku SMA malah. Clara adalah adik kelas Aldo. Aldolah yang pertama jatuh cinta kepada Clara. Dan Aldo juga yang mengejar- ngejar Clara duluan. Karena kebaikan dan ketulusan Aldo, Clara pun menerima cinta Aldo.
Aldo menjanjikan Clara hubungan yang serius dimasa depan. Bahkan kedua keluarga pun sudah mengetahui hubungan mereka berdua. Kedua orang tua mereka merestui dan mendukung hubungan Clara dan Aldo.
Tapi yang namanya hubungan percintaan, tidaklah selalu mulus dan bahagia. Aldo lulus duluan, dia melanjutkan Kuliah di luar kota. Itu artinya hubungan mereka harus LDR.
Setahun berikutnya Clara lulus sekolah. Clara tidak melanjutkan kuliah, dia langsung memutuskan untuk bekerja saja. maklumlah, Clara dari keluarga yang sederhana. ayahnya hanya pekerja serabutan. Beda dengan Aldo. Aldo berasal dari keluarga yang mapan. Tapi untungnya baik Aldo dan keluarganya tidak mempermasalahkan status sosial.
Aldo berjanji setelah lulus S1, dia akan langsung melamar Clara,dan dengan disaksikan kedua keluarga mereka. Clara menyanggupi menunggu Aldo sampai hari kelulusan itu. Bahkan ayah Clara sangat percaya kepada ucapan Aldo, sampai- sampai kalau ada pemuda yang coba-coba mendekati Clara akan kena omel olehnya.
Tak terasa hubungan Clara dan Aldo sudah berjalan 6 tahun lamanya. bukan waktu yang singkat memang. Clara menantikan hari demi hari janji Aldo yang hampir sampai tujuan. Sebentar lagi Aldo akan wisuda. itu artinya semakin dekat Aldo akan melamar Clara seperti yang dijanjikannya dan kedua orang tuanya.
kring....kring..,.
"halo yank...." jawab clara.
"sayang... aku besok pulang. besok datang ya kerumah. ." ucap Aldo.
"beneran pulang??? asyik..... hati-hati dijalan ya..." kata Clara.
"oke sayang.. i miss you." tutup Aldo.
Clara melompat kegirangan mendengar Aldo besok mau pulang. Padahal Aldo sekarang lagi sibuk-sibuknya menyiapkan wisudanya. Tapi Clara tidak berfikir sampai kesitu. Yang ada difikirannya hanyalah kerinduan kepada kekasihnya itu.
Memang ada ataupun tidak Aldo dirumah, Clara sering main ke rumahnya. Entah itu disuruh orang tuanya Aldo ataupun atas kehendaknya sendiri. Ibu Aldo selalu baik kepada Clara, itu sebabnya Clara sudah menganggap ibu Aldo sebagai ibunya sendiri.
***
Keesokan harinya, pagi begitu cerah. Clara bersiap pergi kerumah Aldo. jam menunjukkan pukul 9. Dia begitu tidak sabar bertemu dengan kekasihnya.
Sesampainya di rumah Aldo, suasana begitu sepi. Clara masuk kedalam rumah. Hanya ada Aldo yang sedang tiduran di sofa ruang tengah. Dilihatnya muka kekasihnya itu, terlihat murung. Tidak seperti Aldo yang selalu cerah ceria. Clara berfikir mungkin Aldo kecapekan menyiapkan keperluan wisudanya.
Aldo terbangun lalu menarik tangan Clara dan langsung memeluknya. Seketika suasana jadi aneh. Tidak biasanya perasaan Clara menjadi canggung. Dia merasa akan ada badai siang ini.
Clara hanya terdiam. Sedangkan Aldo memeluk Clara begitu erat, seakan itu adalah pelukan terakhir mereka.
satu jam kemudian......
Ibu Aldo pulang dari rumah kerabatnya. Saat itu matahari bersinar begitu teriknya. Hari yang benar-benar panas. Tapi berbeda dengan suasana rumah Aldo, terasa dingin seperti es. Firasat Clara mengatakan ada yang aneh disini. Tapi apa???? Clara pun bertanya-tanya dalam hati.
Ibu masuk kedalam rumah menuju dapur. Dia melewati Clara dan Aldo yang sedang duduk disofa. Ibu Aldo hanya melirik Clara. Disinilah perasaan Clara campur aduk. Tidak biasanya Ibu Aldo sedingin itu. Biasanya Ibu Aldo selalu murah senyum padanya. Tapi, kenapa hari ini berbeda????
Ibu Aldo duduk disebelah Aldo sambil melipat baju yang akan Aldo bawa nanti. Dia hanya tertunduk tanpa sepatah kata. Clara merasa berada di situasi beku, semacam berada di antara gunung es.
"ini kunci dan surat- surat kendaraan. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi." ucap Aldo sambil meletakkan kunci dan surat-surat diatas meja.
hiks...hiks...hiks.... Ibu Aldo mulai meneteskan air mata. Clara kaget melihat adegan itu.
meletakkan uang di meja." Ini uang sakumu nak." kata ibu Aldo.
"tidak usah!!! aku tidak butuh uang." jawab Aldo. "Aku ingin berangkat sekarang. tidak usah mengantar! aku diantar Clara saja ke terminal bis." kata Aldo.
hiks...hiks...hiks...
" anakku Aldo.., selama 22 tahun ibu membesarkanmu. Tak pernah sekalipun kamu berkata kasar apalagi membentak kepada kedua orang tua. aku tahu Anak ibu." ucap ibu. " pasti ini ada yang memprovokasi mu. Apakah kamu Clara?" tambah Ibu Aldo sambil terus meneteskan air mata.
Bagai tersambar petir disiang bolong. Sontak Clara kaget dengan ucapan ibu Aldo. Clara yang tidak tahu menahu menjadi tersangkanya. Clara benar- benar tidak mengerti percakapan antara Aldo dan Ibunya. Clara terdiam. Dia tidak tahu harus berbicara apa lagi.
" Maafkan aku bu.... aku sudah salah. aku pamit sekarang. Besok aku ada acara penting yang tak bisa ditinggalkan." kata Aldo pamit.
Aldo menggandeng tangan Clara. Mereka keluar rumah untuk menuju ke terminal. Ibu Aldo mengantar anaknya keluar rumah. Aldo dan Clara berpamitan dengan mencium tangan ibu Aldo.
"maafkan Clara bu...." ucap Clara sambil mencium tangan ibu Aldo.
Ibunya hanya mengangguk dan kembali masuk kedalam rumah. Walaupun Clara tidak tahu menahu masalahnya, tapi dia tetap meminta maaf kepada Ibu Aldo.
***
Di sepanjang perjalanan menuju terminal, Aldo hanya diam seribu bahasa. Begitupun Clara. Clara merasa sakit hati dan kecewa dengan kejadian hari ini. Sampai-sampai Clara tak bisa membendung air matanya. Clara menangis dalam diam sehingga Aldo pun tidak mengetahuinya.
Aldo sama sekali tidak menjelaskan duduk permasalahannya. Clara juga tidak meminta penjelasan kepada Aldo. Hatinya cukup sakit hari ini.
Sampailah Aldo dan Clara diterminal bis. Aldo memeluk dan mengecup kening Clara, lalu berpamitan. Dilihatnya Aldo masuk kedalam bis dan melambaikan tangan.
***
Clara lalu kembali pulang. Matahari bersinar begitu panas tepat diatas kepala. Jam menunjukkan pukul 12 siang. Clara menangis sejadi-jadinya di sepanjang perjalanan. Perasaan campur aduk menjadi satu. Clara tetap menarik gas motornya untuk menyusuri jalan yang panjang.
Seketika Clara menghentikan motornya sejenak untuk menghapus air matanya. Dia mencoba menenangkan hati dan mengatur nafas. Tidak mungkin dia pulang dengan menangis. Bisa-bisa orang tuanya khawatir dengannya.
°°°°°°°
Lima hari lagi Aldo akan di wisuda. Clara berjanji kepada Aldo dulu, bahwa dirinya akan menghadiri acara wisudanya Aldo kelak. Sebab, Aldo mengancam kalau Clara tidak datang, dia tidak mau di wisuda.
UIJanji adalah hutang. Clara harus menepati janji itu. Clara mempersiapkan pakaian yang bagus sesuai konsep yang Aldo suruh. Harus ada warna hitam, serasi dengan jas yang ia kenakan nanti. padahal warna hitam adalah warna berkabung bukan???
Saat itu Clara diberitahu rencana keberangkatannya besok melalui pesan singkat. Bukan orang tua Aldo yang mengabari, melainkan adik perempuannya Aldo yaitu Intan.
Intan mengatakan kalau besok Clara harus datang tepat waktu ke rumah Aldo. Nanti berangkatnya bareng-bareng satu mobil dengan keluarga Aldo.
Ada kedua orang tua Aldo, kakek neneknya, dan adik perempuannya.
Clara hanya mengiyakan pesan tersebut. Dia sudah mencium bau aneh. Kenapa harus Intan yang memberitahunya. Kenapa tidak Ibu Aldo yang menyuruhnya? Tapi Clara tidak terlalu ambil pusing akan hal itu.
HARI KEBERANGKATAN.
Clara harus cuti bekerja hari itu. Dia bergegas pergi kerumah Aldo. Hatinya was-was mengingat kejadian seminggu yang lalu. pikirannya ngelantur kemana-mana. Ntah hal apa lagi yang akan terjadi nanti. Dalam hidup mungkin kita tidak bisa menebak kejutan apa yang menanti kita di depan.
Sesampainya di rumah Aldo, kakek nenek dan ibunya Aldo sudah menunggu diruang tamu. muka mereka masam. Tak sekalipun enak dipandang. Apa yang sebenarnya akan terjadi? Perasaan Clara semakin tak karuan.
Clara dipersilahkan masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Clara hanya diam karena tidak tahu harus memulai pembicaraan.
"Sebenarnya apa yang terjadi Clar???" tanya nenek Aldo memulai pembicaraan. " kenapa Aldo bisa membahas soal melamarmu kepada kedua orang tuanya? Aldo kan baru lulus S 1. Belum kerja. mbok ya sabar dulu!!" tambah nenek Aldo.
Barulah kini Clara mengetahui duduk masalah yang sebenarnya. Ternyata Aldo menagih janji kepada kedua orangtuanya untuk segera melamar Clara. Tapi entah dengan bahasa yang bagaimana sehingga membuat salah paham. Aldo tak pernah sekalipun bercerita tentang hal itu.
"Sebenarnya nek.... para tetangga sudah mulai membicarakan Clara. Mereka menyalahkan ayahku karena tidak tegas kepadaku. mereka menganggap, kalau Clara hanya dijadikan mainan Aldo. Mereka mengatakan kalau hubungan sudah lama tapi belum ada status yang jelas. sebenarnya ayahku tidak mempermasalahkannya. Tapi kan, ini jangka waktu yang sudah dijanjikan nek?? Clara juga tidak tahu apa yang Aldo berbicarakan kepada ayah dan ibunya." jawab Clara.
Ibu Aldo hanya diam. Tapi raut mukanya kecut. Dia seperti tidak suka melihat Clara.
" Aku tahu lah, mulut tetangga itu macam apa??? Tapi seharusnya keluargamu bisa mikir. Tidak bisa dipungkiri memang,, ayahmu hanya orang biasa. lulusan SMP. sedangkan ayah Aldo setidaknya punya S dibelakang namanya. wajarlah kalau pikiran orang tuamu sempit." kata kakek Aldo.
Apa?????¿??
Kata apa yang barusan Clara dengar???
Hanya orang biasa?
Tidak punya gelar S????
Clara seperti terkena tamparan yang hebat seketika.
Lalu selama 6 tahun ini dianggap apakah dia????
percakapan tak mengenakkan itu pun terus berlanjut, dengan ucapan Bla...Bla... dan bla.... yang semakin menusuk hati Clara. Tapi Clara mencoba menahan semua itu, demi janji untuk datang ke wisuda Aldo.
Entah itu Clara yang bodoh atau bagaimana? Mungkin kalau orang lain yang ada diposisi seperti itu, mereka akan berlari pulang. Tapi tidak dengan Clara. Dia menahan kekacauan perasaannya dan tetap ikut pergi, hanya karena sebuah janji.
Waktu pun berlalu. Hati Clara seperti teriris seribu pisau. sakit sampai tak tertahankan. Dia hanya ingin janji yang dia buat kepada Aldo impas terbayar, yaitu datang diwisuda kekasihnya itu. Dia rela menahan seribu tusukan yang setiap menit menghujam hatinya.
Di sepanjang perjalanan menuju tempat wisuda Clara hanya diam dan pura-pura tertidur. Dia berfikir sampai kapan dia bisa memendam amarah dihatinya yang kapan saja bisa meledak seperti bom.
Semua kejadian silih berganti memenuhi isi kepala Clara. Kata- kata kakek Aldo, ekspresi raut wajah ibu Aldo semua terngiang dibenak Clara. Dia sama sekali tidak bisa menerima penghinaan atas ayahnya. Dia berfikir hina saja dirinya, asalkan jangan menghina orang tuanya.
***
Beberapa jam kemudian....
Rombongan sudah sampai di parkiran gedung tempat wisuda Aldo. Clara turun dari mobil dan di sambut pelukan oleh Aldo. Clara tidak bisa menahan kemarahan. Raut mukanya datar dengan senyum sinis yang dipaksakan.
Aldo tak menyadari sama sekali apa yang sudah terjadi kepada kekasihnya itu. Aldo mengajaknya berfoto didepan gedung. Clara hanya mengiyakan ajakan Aldo. Ia berharap waktu cepat berlalu dan dia bisa secepatnya pulang ke rumah. Clara benar- benar tidak tahan lagi berkumpul dengan sekelompok orang-orang munafik yang mengobral janji belaka.
Ibu Aldo melihat ke arah Clara dengan sinis. Dia seperti tak suka kalau Clara berfoto dengan anaknya. Sungguh hari itu hari yang dramatis.
Serangkaian acara wisuda pun berakhir. Aldo masih harus tetap tinggal di sana untuk mengurusi hal-hal yang belum selesai. Sedangkan keluarganya harus segera pulang. Mereka berpamitan diparkiran gedung itu. Aldo memeluk Clara dengan erat. Seakan ini memang pelukan terakhir yang akan mengakhiri segalanya. Dia mencoba mencium kening Clara, tapi Clara mengelak.
Di dalam hati Clara berkata,( ini adalah akhir dari segalanya. Baik kamu ataupun aku sekarang tidak akan ada hubungan lagi. Aku sudah menepati janjiku untuk datang ke wisudamu. tapi kamu dan keluargamu masih punya satu hutang yang tidak akan bisa kalian bayar kepadaku.) ucap clara dalam hati.
Clara sama sekali tidak melambaikan tangan kepada Aldo dan langsung masuk kedalam mobil. Clara tahu Aldo sebenarnya tidak salah. Tapi lantaran Aldo, dirinya harus menghadapi penghinaan dalam hidupnya.
***
Perjalanan panjang telah usai. Hari sudah sangat gelap. Sampailah Clara di rumah Aldo. Tanpa basa basi, Clara mengambil motornya dan berpamitan untuk kembali pulang. Dia tidak perduli pukul berapa ini? Kepalanya dipenuhi dengan rasa marah dan malu atas penghinaan yang terjadi kepadanya.
Dalam perjalanan, dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk meninggalkan Aldo dan keluarganya. Disaksikan langit malam dan jalanan beraspal, Clara berjanji tidak akan menginjakkan kaki lagi dirumah Aldo. sudah cukup penghinaan ini.
Clara menyesal harus mempunyai hubungan yang panjang dan berujung menyakitkan. Clara menyesal mencintai Aldo. Andai saja dia dulu tak menerima cinta Aldo, mungkin dia tidak harus merasakan sakitnya dihina. Sebenarnya bukan Clara yang dihina. Melainkan ayahnya. Ayahnya yang selama ini susah payah membesarkannya. Ini lah yang menyebabkan Clara tidak bisa menerimanya.
Walaupun Aldo tidak tahu penghinaan yang diberikan keluarganya kepada Clara, dia harus menerima hubungannya harus berakhir begitu saja. Clara pun tidak pernah memberitahu Aldo tentang ucapan dan juga sikap buruk keluarganya terhadap Clara. Clara hanya menyimpan itu semua untuk dirinya sendiri di dalam hati. Dia menganggap itu semua sebagai pisau yang siap menusuk jantungnya kapan saja.
-THE END-