Biarlah seperti ini, aku yang terbiasa dengan kesendirianku dan sisa dari ingatanku. Lagi dan lagi, bahkan hampir setiap detiknya aku bisa menghitung satu persatu ingatan yang terus memaksa hilang. Hari-hariku sulit, setiap hembusan napasku sesak karena terus menghirup rindu. Rindu untuk bisa memeluk kembali ingatan-ingatanku yang kian mengikis. Aku bersyukur untuk hidup ini, tapi aku benci untuk menjalaninya. Pallas Athena, namaku, dan ini kisahku.
Lima tahun berlalu sejak aku remaja di usiaku yang ke tujuh belas, aku sudah terbiasa dengan kerumunan orang berpakaian putih yang silih berganti menemuiku untuk sekadar mengontrol kondisiku setiap harinya. Aku bosan melihat orang-orang disekelilingku yang menangis karenaku, bosan bergantung hidup pada alat, obat dan para medis. Aku benci saat berhadapan dengan cermin, aku benci melihat diriku yang menyedihkan ini. Aku tidak pernah ingin dilahirkan sebagai seorang Pallas Athena, jika aku tau akan kehilangan masa remajaku. Sesuatu yang bersarang di otakku semakin lama semakin mengerogoti, hingga aku menyerah untuk hidup. Dan sampai detik ini aku tersenyum bukan karena bahagia, tapi aku lemah. Aku menangis bukan karena aku sedih, tapi aku lelah. Seperti biasa, aku duduk di bangku besi yang dingin ini, menatap jauh langit temaram dengan sebuah buku kecil dan pulpen yang sering aku gunakan untuk mencatat apapun yang aku lakukan di hari ini, karena aku akan melupakan ingatanku saat ini di esok harinya.
"Athena, apa kau menanti Senja?" tanya seorang wanita dengan jas putihnya.
"Tentu, Dok. Bukankah senja adalah waktu ajaib terindah yang selalu dinanti" jawabku.
Dokter Anna tersenyum kecut. Dari senyumnya aku tau sepertinya ada yang salah dengan jawabanku, bukan, atau ada yang salah dengan ingatanku.
"Lihatlah, dia datang" ucap Dokter Anna melempar tatapan pada seseorang di belakangku.
Aku pun menoleh dan orang itu langsung mencium keningku. Nyaman, rasanya begitu nyaman.
"Kenapa kau menciumku?" tanyaku pada orang itu.
Dia tak menjawabku, dia malah mengelus pucuk kepalaku yang nyaris tak berambut lagi. Aku bingung dan langsung membuka buku kecilku, membaca lembaran-lembaran putih dengan tulisan tanganku yang sudah bosan aku baca setiap kali aku melupa. Dan aku menemukan selembar foto yang dibawahnya bertuliskan 'AthenaKeano'. Aku semakin bingung melihat foto itu, kami terlihat begitu akrab, mungkinkah dia sahabatku? Atau saudaraku? Atau?
"Dia kekasihmu, Senja Keano" ucap Dokter Anna memecah kebingunganku.
Senja beralih duduk di sampingku, dia menatapku dan menggenggam lembut tanganku yang diinfus.
"Apa kau melupakan kekasihmu, lagi? Ms.Athena?" tanya Senja menaikkan sebelah alisnya.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Senja, lucu bukan? Bahkan aku melupakan orang yang aku cintai, Tuhan sampai kapan aku harus begini?
Hampir setiap sore menjelang malam aku duduk di bangku besi taman rumah sakit tempatku dirawat, hanya sekadar untuk menikmati senja. Bagiku keajaiban di dunia hanyalah senja, ketika waktu berganti dengan warna indah langit temaram favoritku dan juga genggaman hangat tangan seorang Senja Keano, sempurna.
“Sudah malam, udara semakin dingin” ucap Senja padaku yang masih menatap indah langit malam.
“Sebentar saja, aku ingin tinggal lebih lama. Aku tidak pernah tau, kapan hari terakhirku melihat senja bersamu lagi” pintaku.
Senja menghela napas, memejamkan mata lalu tertunduk sejenak, sepertinya dia sudah muak mengadapiku.
“Athena, ku mohon. Berhenti bicara seolah-olah setiap harinya adalah hari terakhirmu, bisakah kau menatapku dan kita bicara tentang masa depan” ucap Senja.
Aku tertawa lirih, padanganku muram dan air mata menetes begitu saja. Jangankan bicara tentang masa depan, untuk menatapnya lebih lama saja aku tak mampu karena aku tak sanggup melihat matanya.
“Apakah mungkin untukku bertahan jauh lebih lama?” tanyaku.
Senja menyentuh pipiku yang basah dan langsung memelukku, erat, begitu erat. Sakit, sesak rasanya dalam situasi seperti ini. Senja menguraikan pelukannya lalu menatapku dengan senyum yang terukir di wajah tampannya.
“Dunia akan kiamat, jika Senja Keano tanpa Pallas Athena” jawabnya. Aku terkekeh geli mendengarnya.
🍂🍂🍂
Aku mengerjap-ngerjapkan mata silau, sinar mentari leluasa masuk melalui jendela yang dibuka lebar oleh Mama. Kesadaran mulai menghampiriku dan rasa sakit menyerang kepalaku. Setiap pagi hari ketika aku bangun tidur, penyakit yang bersarang di otakku akan bereaksi dan membuatku menjerit kesakitan. Lalu para medis datang menyuntikkan cairan yang dapat meredam rasa sakitku. Setelah cairan itu masuk ke dalam tubuhku dan menjalar dengan cepat, rasa sakitku sedikit berkurang.
“Apa kau merasa lebih baik?” tanya Dokter Anna. Aku menghela napas perlahan, dan menjawab dengan senyumku seolah aku baik-baik saja.
“Bagaimana dok? Ini sudah menginjak lima tahun, apa tidak ada perubahan?” tanya Karin, Mama Athena.
Dokter Anna menatapku seolah tak yakin, lalu dia berjalan mendekati Mama untuk duduk di sofa.
“Sejauh ini kemoterapi hanya membantu untuk bertahan lebih lama. Tapi untuk operasi kemungkinannya sangat kecil, lagi pula Athena sejak dulu menolak untuk dioperasi mengingat mendiang ayahnya” jelas Dokter Anna.
Aku yang terbaring di ranjang samar-samar bisa mendengar perbincangan mereka, rasanya aku ingin mati saja seolah tak menemukan titik temu untuk penyakit ini. Aku muak dengan kemoterapi yang hanya membantuku untuk bertahan lebih lama, tapi di sisi lain aku juga takut, bahkan sangat takut jika operasi itu justru membunuhku. Apa yang akan terjadi bila aku pergi meninggalkan Mama? Tapi bagaimana jika operasi itu berhasil? Mama pasti akan sangat bahagia jika aku sembuh total, dan tentunya aku tidak perlu melihat mata sembab Mama tiap kali melihatku menjerit menahan sakit. Aku berdebat dengan hati dan pikiranku hingga akhirnya aku memutuskan hal yang paling menakutkan.
“Dokter Anna, Mama” panggilku. Dokter Anna dan Mama beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati ranjang, mereka menatapku bingung.
“Aku berpasrah dan mempercayakan hidupku entah pada siapa” ucapku tiba-tiba, aku menarik napas pelan dan mengumpulkan sisa tenaga yang aku miliki.
“Aku muak dengan kemoterapi, aku bersedia untuk di operasi dan siap dengan hal terburuk apapun yang bisa terjadi” lanjutku.
Dokter Anna dan Mama terlihat begitu syok dengan ucapanku, selama ini kami menunda operasi karena dua hal. Pertama adalah kemungkinan yang sangat kecil dan kedua adalah aku yang takut dengan kemungkinan pertama.
🍂🍂🍂
Pov Senja Keano :
Aku tercekat, napasku sesak setelah mendapat kabar bahwa Athena bersedia dioperasi. Selama lima tahun ini dia memilih untuk kemoterapi karena trauma mengingat mendiang ayahnya yang meninggal tujuh hari setelah operasi pengangkatan sel kanker yang bersarang menggerogoti otaknya.
Jujur aku senang, karena dengan operasi Athena bisa sembuh total. Tapi, di sisi lain aku takut bahkah jauh lebih takut mengingat resiko terbesar dari operasi itu adalah kematian. Tapi aku rindu melihat senyum bahagia di wajah cantiknya, aku rindu menatapnya sebagai wanita yang seutuhnya, aku rindu rambut panjangnya, aku rindu mata coklatnya yang bersinar, aku rindu hingga aku bosan tapi aku tak pernah berhenti mencintainya. Aku selalu takut, jika mata indahnya tak bisa ku tatap lagi, jika tangan hangatnya tak dapat ku genggam lagi, dan jika bibir ramunnya tak mampu bicara lagi. Aku mencintainya melebihi rasa takut akan kehilangannya.
Malam ini aku tiba di rumah sakit dengan hati yang berkecamuk, perasaan yang tak karuan dengan pikiran yang menjalar liar. Aku hanya bisa berpasrah dan mendoakan yang terbaik untuk Athena. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang operasi, tiga puluh menit lagi operasi akan dimulai.
Di ruangan itu, aku melihat Athena yang terbaring dengan wajah pucatnya ditemani mamanya. Aku yakin dia takut, dan kami semua juga takut. Athena yang menyadari kehadiranku lalu menatapku sambil tersenyum tipis.
"Senja" panggil Athena lembut. Aku senang, dia mengingatku. Lalu Tante Karin beranjak keluar, dia memberi kami waktu berdua.
Aku duduk di dekat ranjang dan menatap Athena seraya menggenggam tangannya yang diinfus.
"Percayalah, semua akan baik-baik saja" ucapku.
Aku sendiri tidak yakin, tapi aku percaya keajaiban itu ada dan semua akan baik-baik saja. Athena memejamkan mata sejenak lalu tersenyum.
"Apa kau takut, Athena?" tanyaku.
Athena menggeleng pelan "Tidak, karena seseorang mengatakan padaku semua akan baik-baik saja" jawabnya.
Kemudian para medis datang dan memintaku keluar karena operasi akan dilakukan sebentar lagi.
Aku bangkit berdiri, mencondongkan tubuhku dan mencium kening Athena. "I promise to love you in every moment and till forever, Pallas Athena" bisikku.
Di luar, aku dan Tante Karin sangat khawatir dan terus berdoa untuk kelancaran operasi Athena. Tante Karin tak henti-hentinya menangis memikirkan Athena dan mengingat mendiang suaminya yang meninggal tujuh tahun yang lalu akibat penyakit yang sama diderita oleh Athena saat ini.
"Jangan khawatir, Athena akan sembuh, percayalah" ucapku menguatkan.
Tante Karin tersenyum padaku lalu memelukku.
"Terimakasih, Senja. Terimakasih untuk menjaga Athena, terimakasih karena tulus mencintainya, terimakasih sudah bertahan hingga saat ini disisi Athena, terimakasih" ucapnya.
Lalu Tante Karin mengeluarkan sebuah buku kecil yang ku kenal, ya, itu buku yang selalu dibawa Athena untuk mencatat kesehariannya.
"Athena berpesan untuk memberikan ini padamu, sepertinya dia menulis untukmu" jelas Tante Karin.
Aku meraih buku itu dan mulai membuka lembar demi lembar putih yang berisi tulisan tangan orang yang aku cintai. Isinya hanya catatan harian, daftar obat, makanan favoritnya, nama-nama teman dekatnya dan juga beberapa foto. Tapi, aku menemukan sebuah pesan pada 3 halaman terakhir di buku itu.
Teruntuk Senja
Aku pernah berpikir menyesal terlahir sebagai seorang Pallas Athena karena penyakit ini. Maafkan aku yang hidup seolah-olah setiap harinya adalah hari terakhirku, bagaimana tidak? Setiap napas ini terasa berat, bahkan aku benci bangun di pagi hari, kenapa? Karena apa yang bersarang di otakku bereaksi agresif di pagi hari, hingga aku menjerit kesakitan dan para medis mulai menggerumuniku untuk menyuntikkan cairan yang dapat meredam rasa sakitku. Bagaimana bisa aku menjalani lima tahun yang mengerikan ini? Aku tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang berusia dua puluh dua tahun saat ini, dengan tubuh keringku, mata gelap sayuku dan rambut indah yang tak dapat ku miliki.
Aku beruntung memilikimu, Senja Keano. Tidak, tapi aku yang beruntung karena bisa dimilikimu. Terimakasih karena telah mengajariku arti cinta yang sesungguhnya. Kini aku tau, jika cinta bukanlah soal raga yang sempurna, melainkan hati yang tulus. Terimakasih karena selalu menatapku sebagai wanitamu, walau aku tak pernah terlihat seperti wanita-wanita sempurna di luar sana. Terimakasih karena tak pernah bosan mencium keningku dan mengatakan bahwa kau mencintaiku. Terimakasih, Senja Keano.
Pallas Athena.
🍂🍂🍂
Lima belas hari berlalu sejak operasi malam itu, Dokter Anna mengatakan bahwa aku koma selama empat belas hari. Terimakasih Tuhan untuk kehidupan ini, aku masih belum percaya ketika dokter mengatakan sendiri padaku bahwa aku sembuh total dari penyakit yang menyiksaku selama lima tahun lamanya. Aku sangat senang saat melihat Mama tersenyum bahagia melihatku, karena kini aku benar-benar sembuh.
Aku tidak sabar melihat rambutku tumbuh kembali, aku tidak sabar menyapa teman-temanku lagi dan aku tidak sabar bertemu Senja Keano. Mama mengatakan bahwa Senja harus pergi ke luar kota untuk perjalanan bisnisnya, aku bisa mengerti karena selama ini aku hanya membebaninya yang membuatnya harus bulak-balik rumah sakit.
Aku tidak marah, tapi sedikit kecewa saat kali pertama aku membuka mata yang aku lihat hanya Mama, yang tersenyum bahagia dan langsung memelukku begitu erat. Andai Tuhan mengijinkan Papa untuk sembuh sepertiku, pasti keluarga kami akan lengkap kembali.
Hari semakin sore, sebentar lagi senja. Seperti biasa aku meminta dokter untuk mengijinkanku pergi ke taman rumah sakit untuk sekadar duduk di bangku besi yang dingin sambil menikmati senja dengan warna temaram favoritku.
Dokter mengijinkanku, bahkan Dokter Anna bersedia menemaniku dengan syarat aku tidak boleh turun dari kursi roda. Baiklah, hari ini sedikit berbeda karena aku harus duduk di kursi roda untuk menikmati senja.
"Apa kau merasa jauh lebih baik?" tanya Dokter Anna saat dia berhenti mendorong kursi roda tepat di sebelah bangku taman.
"Aku merasa seperti aku pernah mati, dan kemudian hidup kembali" ucapku lalu menghela napas panjang seraya mendongakkan kepala menatap indahnya senja.
Dokter Anna menggeleng pelan lalu melempar senyum padaku.
"Nikmati senjamu. Aku akan mengecek pasien di kamar 505, lalu menjemputmu di sini sekitar lima belas menit lagi. Nikmati waktumu, Athena" Dokter Anna berpesan padaku lalu beranjak pergi.
Aku duduk di sini, membayangkan seorang Senja Keano yang duduk di sampingku dan menggenggam tanganku yang diinfus, aku merindukannya. Tapi untuk beberapa hari ke depan aku harus menahan rindu, karena dia pergi sekitar tiga bulan. Aku memejamkan mata sejenak dan air mata menetes begitu saja, inilah rindu yang datang menari dibenakku hingga aku meronta karena ingin bertemu.
Lima belas menit berlalu, Dokter Anna tak kunjung datang. Apa dia melupakanku? Aku mengedarkan pandangan melihat sekelilingku, sepi. Tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan yang menutup kedua mataku.
"Siapa kau?" tanyaku. Tak ada suara, orang itu tak menjawabku.
"Ku mohon jangan bermain seperti ini" pintaku. Tak ada suara, orang itu masih tetap menutup mataku dengan kedua tangannya.
"Dokter Anna, apa ini kau?" tanyaku lagi dan orang itu menyingkirkan tangannya lalu aku membuka mataku.
Aku kaget mendapati Senja Keano yang berdiri dan sedikit membungkuk dihadapanku dengan sebuah kotak beludru berwarna merah. Aku tak percaya jika di hadapanku ini adalah pria yang aku rindukan.
Tapi aku lebih tidak percaya lagi ketika dia membuka kotak itu, isinya sebuah cincin. Aku tersenyum dan air mata menetes spontan, kali ini bukan karena sedih tapi bahagia. Senja menyematkan cincin itu di jariku lalu dia mencium keningku dan berbisik.
"Will you marry me?" bisiknya, aku hanya mengangguk dengan senyum yang terus mengembang lalu memeluknya.
Dia adalah pria tulus yang sederhana, melamarku dengan cincin berlian yang indah di taman rumah sakit ini, dibawah langit temaram favoritku, tanpa alunan musik romansa dan tanpa puisi cinta. Terimakasih, Senja Keano.