Aku berlari kembali ke kelas, salah satu bukuku tertinggal, padahal besok ujian. Aku berlari tergesa-gesa, karena hari hampir petang. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
“Maaf!” Seruku sambil kembali mengambil langkah untuk segera masuk ke kelas. Namun, tiba-tiba ia menarik tanganku. Aku berpaling ke arahnya, ia tampak gugup, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Ada apa?” tanyaku keheranan.
“Emmm... ini bukumu kan?” tanyanya kemudian dengan sedikit ragu.
“Loh?? Iya, ini bukuku, bagaimana bisa ada denganmu?” tanyaku semakin heran.
“Tadi aku menemukannya di kantin,” jawabnya.
“Kantin?”
“Iya,”
Aku mengernyitkan kening, mengingat-ingat. Oh, iya! Aku memang meninggalkannya di kantin. Dasar aku, pelupa! Aku merutuki diriku sendiri dalam hati.
“Terimakasih,” ucapku seraya menerima buku itu.
“Tapi, bagaimana kau bisa tahu kalau ini bukuku?” tanyaku kemudian. Aku tidak pernah melihatnya di kelasku, aku yakin dia tidak sekelas denganku. Tapi bagaimana dia bisa tahu? Kulihat pemuda itu malah tersipu malu mendengar pertanyaanku. Aneh sekali!
“Bagaimana kalau mengobrolnya sambil berjalan saja, ini sudah hampir petang,” ujarnya kemudian.
“Ya ampun! Iya kau benar!” aku tersentak, lalu segera berjalan cepat meninggalkan kampus. Aku berhenti. Lagi lagi aku meninggalkan sesuatu! Aku menoleh kebelakang. Pemuda itu mengejarku tergesa-gesa. Aku menunggunya.
“Kau suka berlari ya?” tanyanya sambil tertawa.
“Tidak juga,” kali ini ia yang membuatku malu karena keanehanku sendiri.
Kali ini ia yang mendahuluiku. Ia menuju ke parkiran lalu mengambil sepedanya. Kemudian ia mengayuhnya kembali ke arahku yang masih berdiri menunggunya. Aku segera menghentikannya, “Hey! Kau belum menjawab pertanyaanku!”
“Ayo naik!” ajaknya.
Aku menurut saja. Lagi pula hari sudah hampir larut, dan aku tidak melihat ada taxi yang lewat. Ia mulai mengayuh sepedanya setelah aku naik di belakangnya sambil memegangi pundaknya.
“Tidak penting bagaimana aku tahu namamu!” ujarnya cuek, tapi aku bisa melihat ia berusaha menyembunyikan senyumnya.
“Bailah kalau begitu. Karena kau sudah tahu namaku, sekarang kau harus memberitahuku siapa namamu?”
“Aku bisa tahu namamu tanpa bertanya padamu. Jadi, kenapa aku harus memberitahumu namaku agar kau tahu namaku?”
“OK, aku juga bisa tahu namamu tanpa bertanya denganmu!” jawabku sambil cemberut. “Dasar aneh!” gerutuku.
“Kau bilang apa barusan?” tanyanya.
“Tidak ada.”
“Bohong! Tadi aku mendengar sesuatu.”
“Mungkin itu angin lewat.”
“Begitu ya?”
“Hihi..” Aku menahan tawa karena kepolosannya.
Aku baru sadar ternyata senja hari ini begitu indah. Saat melewati taman, aku merentangkan kedua tanganku. Menikmati hembusan angin senja. Semburat mentari mewarnai langit yang cerah, sesekali burung-burung terbang melintas di langit. Mungkin mereka akan kembali ke sarangnya.
Tidak terasa, aku dan pemuda aneh ini sudah tiba di depan rumahku.
“Berhenti disini, itu rumahku!” ucapku sambil menunjuk rumahku yang memang lumayan besar dibanding rumah-rumah disekitarnya.
“Wah... Jadi ini rumahmu?” tanyanya dengan tercengang.
“Iya, terimakasih tumpangannya,” ucapku sambil menyodorkan sejumlah uang.
“Mau mampir dulu?” tanyaku kemudian.
Kulihat ia masih melompong menatap rumahku.
“Hey!” aku menepuk bahunya.
“A... Apa ini?” tanyanya melihatku menyodorkan uang padanya.
“Untuk ongkos karena kau telah mengantarku pulang,” jawabku.
“Tidak perlu,” tolaknya.
“Tapi...”
“Sudah ya, aku pulang dulu. Sebentar lagi malam,” ia menyela perkataanku lalu segera pergi melesat dengan sepeda ontelnya.
“Ya sudah,” aku segera masuk ke rumah. Merebahkan badan di kamar. Lalu, memikirkannya. Sayang sekali, aku lupa menanyakan dia jurusan apa. Ah, semoga saja besok aku bertemu lagi dengannya.
***
Dan, benar saja. Esok dan hari-hari selanjutnya, kami semakin sering bertemu dan pulang bersama. Hari itu aku melihatnya membawa sesuatu berbentuk persegi yang cukup lebar, dibungkus plastik berwarna hitam.
“Apa itu?” tanyaku.
“Sesuatu,” jawabnya.
“Iya, aku tahu itu sesuatu. Sesuatu pasti punya nama, kan?”
“Iya, namanya sesuatu.”
Ia membuatku geram sekaligus penasaran dengan benda apa itu. Karena dia tetap tidak mau memberitahuku, maka aku mengambilnya secara paksa untuk melihat isinya. Ternyata isinya adalah papan yang biasa digunakan sebagai alas untuk melukis, beserta kanvas dan cat airnya.
“Wow! Jadi, kau anak seni ya?” tanyaku kagum.
“Iya,” jawabnya.
“Mau melihat lukisanku?”
“Mau,” jawabku antusias.
“Kalau begitu, besok mau tidak ikut denganku ke pantai?”
“Pantai?”
“Iya, aku mau melukis pemandangan yang indah.”
“OK. Sekalian jalan-jalan!” ujarku senang.
“Ayo, sekarang kita pulang.”
“Ayo!”
***
“Jadi, kau akan mulai melukis di sini?” tanyaku pada pemuda itu yang mulai menyiapkan segala sesuatu yang akan digunakan untuk melukis.
“Iya,” jawabnya singkat. “Kau tahu? Di sini ada hal yang sangat indah di sini, yang tidak bisa kutemukan di tempat lain.”
“Begitu ya?” Aku melirik pemuda disampingku ini. Ia tersenyum simpul sambil mengaduk-aduk cat air.
Pandanganku beralih pada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain pasir. Aku menghampiri mereka.
“Huaaaa...!!! Doni jahat!!” Salah satu dari mereka berteriak.
“Kenapa kau menangis?” tanyaku.
“Dia merusak istana yang baru saja kubuat!” ujarnya sambil menunjuk salah satu temannya.
Bukannya meminta maaf, yang ditunjuk justru mengejek dengan menjulurkan lidahnya, “Weeekk..”. Membuat tangisan gadis kecil itu semakin keras.
“Sudah, sudah! Jangan menangis lagi, aku akan membuatkan yang baru untukmu,” ucapku berusaha menenangkannya. Aku pun membuatkannnya istana dari pasir. Aku ingat, dulu, ketika aku masih kecil aku juga suka membuatnya. Gadis kecil itu akhirnya berhenti menangis.
“Terimakasih, Kak!”
“Sama-sama. Kakak pergi dulu ya.”
Aku kembali menghampiri pemuda itu. Ia masih sibuk dengan lukisannya.
“Hey!” sapaku sambil menepuk bahunya dari belakang.
“Cepat sekali kau kembali? Aku belum selesai. Sana pergi dulu!” Ia berbalik arah menghadapku.
“Kenapa memangnya? Aku mau melihat lukisanmu.”
“Jangan sekarang!” Ia berusaha menutupi lukisannya dengan punggungnya, membuatku semakin penasaran.
“Wah, itu bagus sekali!” seruku saat melihat sebagian lukisannya. Aku mendorong tubuh pemuda itu, agar aku bisa melihat semuanya. Aku tidak peduli ketika dia jatuh.
Aku mengamati setiap detil lukisan itu. Wanita cantik dengan rambut terurai, duduk di tepi pantai. Aku begitu mengenali siapa wanita ini. Sedangkan, di sudut bawah kirinya terdapat nama, Alhaz Husam. Oh, jadi itu namanya.
“Kenapa kau melukis diriku?” tanyaku.
“Aku kan sudah bilang. Aku akan melukis sesuatu yang paling indah di sini. Dan, itu adalah kamu,” jawabnya sambil tersipu malu.
Aku tercengang mendengarnya, tidak menyangka bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
“Aku ingin mengatakan sesuatu,” ucapnya tiba-tiba.
“Apa?” tanyaku penasaran.
“Sudah lama, aku... Aku menyukaimu.”
Entah kenapa tiba-tiba aku tidak bisa mendengar deburan ombak di sampingku. Yang kudengar hanya suara detak jantungku yang tak menentu.
“Benarkah?”
“Aku tahu, tidak akan mudah bagimu apalagi bagi orang tuamu untuk menerimaku. Aku tahu siapa aku.”
Hening sejenak, lalu ia melanjutkan kata-katanya. “Tapi, aku akan berusaha agar kau dan keluargamu mau menerimaku.”
“Husam... Kau tahu? Aku sangat bahagia bersamamu. Bukankah setiap orang tua ingin anaknya bahagia? Aku yakin, begitu juga orang tuaku.”
Ia menunduk dalam-dalam. “Iya, aku tahu itu. Tapi terkadang mereka berpikir bahwa hanya dengan harta mereka akan bahagia.”
***
Siang ini panas sekali. Aku pergi keluar untuk membeli es krim di sebrang jalan. Aku melihat kiri kanan jalan, terlihat kosong. Aku segera berlari ke sebrang. Tapi, sebelum sampai ke seberang jalan, tiba-tiba ada truk yang melaju sangat kencang. Tiba-tiba aku merasa tubuhku melayang, lalu semuanya tiba-tiba gelap.
“Dimana ini?” tanyaku setelah sadar. Aku mencoba mengingat-ingat, kepalaku rasanya sakit sekali, terutama bagian telinga. Aku merasa sangat aneh. Kenapa semuanya sangat sepi? Kenapa aku tidak bisa mendengar apapun? Bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri. Aku mencoba berteriak sekeras-kerasnya, berharap agar dapat mendengar suaraku. Tapi sia-sia.
Kulihat orang-orang berdatangan untuk melihatku. Kulihat ayah dan ibuku menangis. Dokter berusaha menenangkan mereka. Tapi, aku tetap tak mendengar apapun. Aku mencoba berteriak sekali lagi, tetap sia-sia. Hingga akhirnya aku merasa lemas, lalu aku tak merasakan apa-apa. Semuanya kembali menjadi gelap.
Setelah aku tersadar kembali, kulihat ibuku duduk disampingku sambil membelai kepalaku. Kulihat matanya bengkak dengan air mata yang tak henti mengalir. Ingin ku bertanya, apa yang terjadi? Tapi semuanya diam, tidak ada yang mau menjelaskannya padaku.
***
Aku mengunjungi pantai ini lagi. Tempat dimana pertama kali Husam mengutarakan perasaanya padaku, sekaligus tempat terakhir kali aku bertemu dengannya. Entah sudah berapa lama aku tidak melihatnya. Aku tak pernah lagi menghitung waktu, hari, tanggal, bulan, dan tahun. Karena bagiku, setiap waktu itu sama, sama-sama tidak berguna bagi gadis tuli sepertiku. Bahkan, karena ketidak bergunaan ini, ia meninggalkanku. Wajar saja! Siapa yang akan bertahan dengan gadis tuli sepertiku?
Aku melihat ricuh anak-anak yang bermain pasir di sana. Aku melihat senyum dan tawa mereka. Ah, andai aku masih bisa melihat senyummu, Husam. Mungkin, aku tak akan merasa sesepi ini, walaupun aku tak bisa mendengar suaramu lagi.
Hari beranjak sore, aku memutuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, aku melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumahku, dan seorang pemuda di sampingnya. Siapa dia? Aku mendekatinya.
“Husam?!” seruku, walau aku tak bisa mendengar suaraku sendiri.
Ia melihatku, ku lihat matanya berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Salma.” Ia bicara padaku dengan bahasa isyarat, gerakan tangan yang biasa diajarkan untuk tunarungu. Entah dari mana ia belajar bahasa itu.
“Jika aku tahu kau seperti ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Maafkan aku... Maafkan aku...” ia terisak. Tapi aku terlanjur membencinya.
“Dari mana saja kau selama ini? Kenapa kau tidak menemuiku? Apa kau sudah melupakanku, dan baru teringat sekarang?”
“Tidak, aku selalu merindukanmu. Aku pergi ke Amerika untuk melanjutkan studiku, aku mendapat beasiswa. Sekarang aku kembali untuk menemuimu. Hatiku hancur setelah aku tahu apa yang terjadi padamu. Lalu aku mempelajari bahasa ini agar aku bisa bicara denganmu lagi.”
Ia menyodorkan sesuatu padaku.
“Apa ini?” tanyaku. “Undangan? Jadi kau menemuiku hanya untuk memberiku undangan pernikahanmu?”
“Iya, aku sangat mencintaimu!”
Aku membaca undangan itu. Tertulis, Husam dan Salma.