Alunan nada merdu terdengar indah, membuat ku hanyut dalam keindahan nya. Ku pejam kan mata, menghayati isi di dalam nya, nada cinta terdengar manis di indra pendengaran ku.
Ku pejamkan mata untuk beberapa saat. Lantas ku buka kembali, namun alangkah terkejutnya aku. Kini aku bukan berada di kamar ku melainkan, di sebuah padang rumput yang luas dengan hamparan bunga berwarna-warni.
"Dimana aku? Kenapa aku bisa ada di sini?" Aku mengedarkan pandangan ke semua arah, namun yang ku lihat hanya padang tak berujung.
Namun, aku suka tempat ini, ini begitu indah. Langit biru, gumpalan awan putih yang berpendar di angkasa, serta semilir angin lembut membelai pipi ku. Untuk sejenak aku tak ingin pulang, aku ingin tetap di sini, menetap dan tinggal di sini. Aroma bunga yang tertiup angin membuat ku betah berada di tempat ini.
Nada itu...Aku kembali mendengar musik yang mengalun merdu, seolah memanggil ku dan ingin aku mendatangi nya.
Aku berjalan mengikuti asal suara itu, tangan ku dengan sigap menyibak dedaunan yang menghalangi pandangan, aku menyeruak di antara ilalang-ilalang yang yang berdiri rapat. Hingga aku sampai di depan seorang Pria yang begitu tampan bak malaikat, sosok nya seolah tiada cela dia begitu sempurna dan memukau.
Dia menatap ku seraya tersenyum, ternyata musik tadi berasal dari seruling di tangan nya.
"Hay Ella!" senyuman nampak merekah di bibir tipis nya.
'Hah? Kenapa dia bisa tau nama ku?' batin ku bergumam.
"Si-siapa kau? Kenapa kau bisa tau nama ku?"
"Siapa aku? Kau tidak ingat?" aku menggeleng pelan.
"Dimana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" tempat ini terasa begitu asing di netra ku.
"Ini Rumah ku, dan ini dunia ku dan aku...adalah kekasih mu," aku terperangah mendengar jawaban nya, bagaimana dia bisa mengaku menjadi kekasih ku? Sedangkan aku tak mengenal nya sama sekali bahkan, melihatnya pun baru kali ini.
"Kau sudah tidak waras? Aku bahkan tidak mengenal mu, bagaiman aku bisa menjadi kekasih mu," cibir ku.
"Mungkin kau tidak pernah melihat ku, namun aku selalu mengawasi mu dari sini," senyumnya nampak misterius.
"Apa? Kau benar-benar gila!" umpat ku padanya.
"Terserah apa yang ingin kau katakan, yang jelas aku mencintai mu Ella," dia menyandarkan tubuh nya di sebatang pohon.
Aku memutar bola mata ku jengah, "terserah, tapi sekarang aku ingin pulang. Di mana jalan pulang nya?" tanya ku ketus.
Dia terkekeh pelan, "kau belum menyadari nya rupanya. Kau tidak bisa kembali dari sini," aku berdecak kesal.
"Jangan bercanda dengan ku, cepat katakan ke mana arah pulang?" Paksa ku padnya.
"Kau tidak akan pernah bisa pulang dari sini, kau akan selama nya tinggal bersama ku di tempat ini. Sudah sejak lama aku menanti mu datang Ella. Takkan ku biarkan kau pergi dari sini," tawa nya terdengar nyaring di telinga ku.
'Kenapa aku merasa dia ini aneh, bagaimana aku bisa pergi dari sini?'
"Sudah ku bilang, kau tidak akan bisa pergi dari sini," dia tersenyum smirk. Apa dia bisa membaca pikiran ku?
"Ya aku bisa membaca pikiran mu!"
Lari Ella...lari, pikiran ku memerintah, aku mundur beberapa langkah, dan aku berlari tunggang langgang, menuju tempat ku tadi datang untuk yang pertama kali.
Aku memutar tubuh ku, mencari sebuah pintu tidak, sebuah celah atau sebuah lubang atau apa pun itu. Dimana jalan itu? Aku kebingungan bagaiamana aku keluar dari sini dari tempat ini.
Tiba-tiba tempat ini berubah menjadi gelap, pun dengan bunga-bunga dan padang rumput itu kini menghilang, di gantikan dengan akar-akar pohon yang nampak mengering, daun-daun nampak berguguran. Sebuah benda melayang mendarat tepat di hadapan ku.
Aku beringsut mundur, kala aku melihat sosok dengan jubah hitam menjutai hingga ke tanah, rambutnya bewarna putih pucat tergerai panjang, dia mendongak menatap ku.
Ternyata itu pria yang tadi, mata ku membola seketika, pun dengan degupan jantung ku yang kian memacu dengn cepat.
Dia menyeringai, menampakan sepasang taring yang mencuat dari kedua sudut bibir nya, mata nya merah menyala, wajah pucatnya bak tak teraliri darah.
"Menjauh dari ku!" teriak ku ketakutan.
Dia menelengkan kepala nya seraya tersenyum, senyum yang nampak mengerikan bagi ku.
"Kau tidak akan bisa pergi dari sini," Grep...dia menyergah ku tiba-tiba.
"Aku ingin darah mu," gumamnya. Aku menatap taring tajam di bibir nya itu, dia begitu mengerikan.
"Lepaskan aku...!" Aku meronta berusaha melepaskan cengkaraman nya di tangan ku.
"Kau miliku Ella!"
"TIDAK...AKU BUKAN MILIKMU DASAR MAHLUK ANEH..." Maki ku.
"Kau memanggil ku aneh! Dasar manusia tak berguna," geram nya. Bhuk...dia menghempaskan tubuhku hingga membentur sebatang pohon. Membuat punggung ku terasa nyeri. Aku meringis ke sakitan, aku merasai ada yang basah di punggung ku yang ternyata itu adalah darah.
Makhluk itu mengendus-ngendus seperti anjing, "Darah...aku suka bau darah!" dia menghirup aroma darah ku seolah itu makanan lejat bagi nya.
Aku semakin ketakutan, aku mencoba menyeret tubuh ku menjauhi nya, namaun tiba-tiba dia menarik kaki ku dan menyretnya hingga rasa sakit dan perih muncul di kaki ku, karena tergores batu dan kerikil yang ada di tanah. Dia mencoel darah yang ada di kaki ku dan menjilatnya.
Seketika perut ku seolah di aduk, aku merasa mual dan jijik kala melihat aksi nya itu.
Dia kembali memainkan seruling yang ia pakai untuk memanggil ku ke tempat ini.
AAARRRGGGHHH....Aku menjerit kala mendegar alunan nada yang menyakiti gendang telinga ku. Nada ini sungguh mengerikan, sama sekali tak seindah tadi, aku menutup telinga ku.
'Ah sakit...ini sungguh sakit, seolah gendang telinga ku akan pecah karena suara ini.' "HENTIKAN...!" teriak ku lanatang.
Namun, dia terus memainkan nya membuat aku menggelpar karena rasa sakit yang teramat, tubuh ku seolah akan hancur berkeping-keping.
"Ella...Ella...Ella..." suara itu dalam dan memanggil ku.
"Bangun Nak, jangan tinggalkan Ibu."
'Suara ini aku mengenal nya, Ibu! Ya ini suara Ibu!"
"Ibu...Aku ingin pulang, hiks," gumam ku dengan tangan terus menutupi telinga.
'Ingatlah selalu pada sang pencipta Nak, jika kau berada dalam masalah,' seketika aku mengingat pesan dari Ibu ku.
Aku merapal kan do'a yang ku tau dengan khusu seraya memejam kan mata, berharap Tuhan akan membantu ku.
Beberapa saat kemudian suasana menjadi hening, takada lagi nada seruling yang terasa menyakitkan itu. Perlahan ku buka mata, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling.
'Ini kamar ku, benar ini kamar ku. Aku berhasil kembali,' aku beranjak duduk.
"Ibu...!" ucapku kala melihat sosok Ibu ku tengah menangis di sopa sambil menutupi wajah nya.
"Ella...kamu sudah sadar Nak!" Ibu langsung memeluk ku, seolah aku baru saja pergi jauh.
"Ella hanya tidur Buk," aku menangkan Ibu seraya mengusap punggung nya pelan.
"Kau tidur selama satu bulan Ella, semua orang berpikir kau telah tiada. Tapi, Ibu yakin jika kamu tidak akan pernah meninggalkan Ibu," isak nya lirih.
'Aku tidur selama satu bulan bagaimana bisa? Aku merasa tidak lama berada di sana,' batin ku.
"Sudahlah Buk yang penting aku sudah bangun!" Ibu memeluk ku dengan erat.
Sungguh aku masuh belum percaya aku tertidur selama satu bulan, tapi sudahlah semua telah terjadi aku berharap aku takkan pernah mengalami nya lagi.
Tamat.