Wajar-wajar saja bukan aku yang anak rantau harus menggunakan google maps untuk berpergian. Apalagi aku berada di tempat baru dengan suasana baru. Aku Ria mahasiswi baru UMM, jadi setiap berangkat kuliah dan untuk pulang ke kontrakan aku harus penggunaan google maps selain karna anak rantauan juga karna jarak kontrakan dan kampus yang lumayan renggang.
Dan selama semester pertama, kemanapun kapanpun jika keluar untuk hunting apapun sendiri atau bersama aku selalu menggunakan google maps.
Itu dulu saat semester satu dan saat ini aku adalah mahasiswi semester akhir yang sedang sibuk-sibuknya.
Aku memiliki salah seorang teman baik namanya Sekar, belum bisa dikatakan sahabat, karna sahabat adalah orang yang ada saat suka maupun duka. Dan sampai saat ini ia hanya selalu ada ketika suka dan sedikit galau 😂😂😂
Masalahnya intinya bukan disana, tapi di kekasih temanku ini yang bernama Bramasyah yang biasa disapa Bram. Aku bukannya mau sok tau atau lainnya, tapi aku adalah salah satu orang yang rajin ibadah, kurang lebih aku bisa merasakan firasat ataupun atau karakter seseorang.
Tapi dalam Diri Bram ini ada semacam hawa negatif yang lumayan pekat. Ia adalah orang yang pergaulannya bebas, Sekar memang kekasihnya tapi temanku ini terlalu cantik dan lugu untuk pergaulan macam Bram. Itu sebabnya aku menyukainya ia baik dan lugu tapi berotak.
.
.
.
Kejadiannya beberapa hari yang lalu dan saat ini aku sedang ada di kediaman keluarga Sekar untuk menenangkan hati dan diri.
Hari itu tepat hari kamis 28 Januari 2021, Bram mengundang Sekar ke acara keluarga nya dengan alasan untuk memperkenalkannya. Karna tak mungkin pergi sendiri, akhirnya ia pergi denganku walaupun Bram memintanya untuk datang sendiri.
Singkat cerita sore itu kami berangkat ke alamat yang sudah diberikan Bram melalui share location. Karna kemungkinan pulang malam, aku dan Sekar memilih menggunakan mobil. Diperjalanan saat melewati sebuah kuburan aku sudah mempunyai firasat lain. Karna mulai gelisah aku segera zikir dengan istighfar, selama sisa perjalanan hanya ditemani suara navigasi dan suara lirihku yang sedang istighfar.
Setengah jam kemudian kami sampai,,,
"Udah sampai?" aku bertanya pada Sekar yang sibuk dengan beberapa paper bag yang dibawanya
"Belom... ko menurut maps sih, tinggal turun dan jalan masuk ke jalan di belakang, itu kan gak cukup masuk mobil" Sekar menjelaskan
Ada yang aneh, karna kami berhenti di sebuah daerah yang lumayan terpencil. Masalahnya sepanjang jalan ini dipengaruhi dengan kebun tampa pemukiman.
"Misi neng... mau ngapai atu sore-sore kesini?" aku yang turun lebih dulu tiba-tiba dihampiri seorang bapak-bapak yang jika dilihat dari penampilannya baru pulang berkebun
"Maaf pak... saya kesini nemenin temen saya, katanya mau hadirin acara keluarga pacarnya"
"Maaf neng, tapi acaranya dimana ya?" bapak tersebut bertanya kembali karna ia terlihat kebingungan
"Katanya sih masuk jalan yang itu pak" aku menunjuk jalan yang dimaksud Sekar
"Aduh neng, disana gak ada apa-apa, cuma kebun sama sungai"
"Sebelumnya terimakasih infonya pak, tapi saya mau memastikan aja sama temen saya, kalo boleh tau rumah bapak dimana?"
"Oh iya neng, rumah bapak ma jauh dari sini, "
tiba-tiba seorang pemuda datang membawa motor
"ini jemputan bapak neng, hati-hati neng, siapa tau temennya diguna-guna"
"Iya makasih pak 🙏🙏🙏" bapak itupun segera pergi
"Ngomong sama siapa Ya?" Sekar baru saja turun dari mobil
"Ada bapak-bapak nanya Kita mau kemana.."
"Ooo... tadi aku telp Bram mastiin alamatnya, dan katanya, udah bener, tinggal masuk gang itu doang."
"ok..."
Kami berjalan menelusuri gang tersebut, dan disisi kanan dan kiri gang hanya ada tembok setinggi 2 meter. Tiba diujung gang kami menemukan satu pohon besar yang merupakan pintu masuk ke sebuah kuburan, tapi entah itu kuburan siapa saja dan langit sudah sepenuhnya menghitam, karna jalan yang gelap aku dan Sekar menggunakan senter ponsel sebagai pencahayaan.
"Sampai deh..." Sekar berucap lega
Sampai? kami berdiri didepan pohon besar yang entah apa namanya, dan Sekar bilang sampai???
"Kamu mau ikut masuk apa nunggu diluar? "
Saat Sekar kembali bertanya aku sadar apa yang terjadi, entah ini hipnotis atau guna-guna aku tidak tahu tapi jelas di penglihatan Sekar dan penglihatanku berbeda.
"Ini rumah siapa emang?" aku bertanya pura-pura tidak tahu
"Rumah sodaranya Bram, itu Bramnya lagi duduk sama sodaranya, bentar aja Ri, aku mau kasi kado aja" Sekar sedikit ngotot untuk masuk kearea kuburan
"Sekar... mending kamu istighfar deh" aku memegang kedua tangan Sekar dan memintanya menatapku
"Ih apaan sih Ri..." Sekar melepaskan tangannya
"Aku serius, yang kamu liat sekarang sama yang aku liat itu beda, itu kuburan, bukan rumah orang..."
aku meninggikan nada suaraku berharap Sekar sadar
"Ri.... kamu kok parnoan gitu, udah lah... yuk kamu ikut masuk aja" Sekar malah balik menggenggam tanganku
"Gak... kita balik sekarang..." aku berteriak dan menyeret Sekar keluar dari gang tersebut, tapi karna memang jaraknya yang lumayan jauh membuatku kesusahan membawa Sekar apalagi ia masih kukuh jika yang dilihatnya adalah rumah saudara Bram
"Loh... Sekar kok gak jadi masuk?" Bram yang entah datang dari mana menghampiriku dan Sekar
"Eh... tadi mau masuk tapi gak di bolehin Ria..." Sekar menjawab dengan senyuman
Aku tersenyum paksa dan beristighfar dalam hati.
"Titip kado aja ya buat saudara-saudara kamu" aku menarik Paper bag dari tangan Sekar dan segera menyerahkan nya pada Bram
"Gak mampir dulu?"
"Iya/enggak" aku dan Sekar menjawab serentak
"Kami permisi... ayo Sekar" aku kembali menyeret Sekar
"Sekar..." Bram memanggil Sekar dan menarik tangan kanannya
"Sekar bilang mau mampir, yuk masuk sama aku"
"Ayo..." Sekar tersenyum menanggapi Bram
"Gak makasih, gak usah... kita pulang Sekar." aku menarik sebelah tangan Sekar dan kembali menyeret Sekar keluar dari gang tersebut
Azan berkumandang... aku berlari kecil menyeret Sekar, tepat azan tersebut selesai aku melihat jalan raya serta mobil Sekar. Tapi ternyata Bram menyusul kami,
"Sekar..."
"Iya..."
Aku menoleh kebelakang melihat Bram tersenyum mengulurkan tangannya pada Sekar. Aku reflek memukul tangan Sekar dan segera menyeretnya ke mobil.
"Mana kunci mobilnya Sekar?" aku mengadahkan tanganku padanya
"Gak... aku mau mampir sebentar, sebentar aja"
"Yuk masuk sama aku" Bram kembali mencoba membujuk
"Gak Sekar... kita pulang Sekarang" aku membentaknya saking frustasinya, setelah mengeledah kantong celana lalu ke tas, aku menemukan kunci mobilnya
"Ria... kalo kamu mau pulang, pulang sendiri, nanti Sekar aku yang anter pulang" Bram mencoba negosiasi denganku
"GAK ! aku gak mau ngasi temen aku kesempatan buat dihancurin orang kayak kamu " aku memaksa Sekar untuk masuk ke mobil dan memintanya bergeser, karna aku yang akan menyetir
"Sekar..." Bram mencoba merayu Sekar kembali, tapi aku tetap memegang sebelah tangan Sekar.
Aku mulai mengemudikan mobil kami keluar dari daerah tersebut, sambil mengingat jalan yang tadi kami lalui dan menghiraukan semua gerutuan Sekar yang marah.
Kami sampai dijalan Raya, karna takut Sekar nekad meminta Bram menyusulnya aku membawa serta tasnya di pangkuanku. Dan juga mengabaikan waktu sholat magrib berharap segera sampai dirumah Sekar.
Dua jam kemudian kami sampai dirumah Sekar, aku segera turun dan menjelaskan keadaannya.
"Ibu... Ria mau izin sholat dulu" setelah selesai bercerita keadaan Sekar aku pamit kekamar Sekar, sedangkan Sekar sedang dipegangi ayah dan adik laki-laki ya
"Iya... "
Saat turun aku menemukan banyak orang di ruang tamu rumah Sekar. Dan ternyata itu adalah keluarga Sekar dari Pondok pesantren, akhirnya aku dan Sekar harus ikut mereka untuk di titip sementara dan untuk mengobati Sekar yang ternyata terkena guna-guna.
.
.
.
Dan disini lah aku saat ini di sebuah pondok pesantren di Malang.
Pelajaran yang kudapatkan saat itu adalah, selalu berhati-hati pada orang baru, siapapun kapanpun dan di manapun.