Di angkasa, ruang akan lebih berbeda.
Bahkan waktu akan membuat dirimu bingung.
🌌🌌🌌
Bip! Bip! Bip!
Suara alarm berbunyi, Will masih berusaha mengatur deru nafasnya. Dia diselimuti rasa ketakutan kala itu. Apalagi setelah melihat Ben dan Steve sudah tergeletak tak bernyawa. Keduanya meninggal karena kehabisan oksigen.
Kapasitas oksigen Will tinggal 35%. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang. Lelaki itu hanya bisa berharap keajaiban akan datang. Namun apalah daya, makhluk asing yang tadinya menyerang pesawat mereka sudah berkeliaran di dalam ruangan.
Deg!
Jantung Will berdegub kencang, ketika makhluk asing itu berjalan mendekat. Tidak seperti yang digambarkan dalam film Alien ataupun Star Wars, makhluk yang ada di depannya sangatlah mengerikan. Matanya merah, berkuku runcing, lidahnya juga sesekali menjulur bagaikan reptil. Selain itu tubuhnya transparan, bisa terlihat jelas urat nadi dan darah merahnya yang mengalir.
Tubuh Will semakin gemetaran. Semakin takut ia, maka makin banyak juga oksigen yang dipakainya. Hingga kapasitas oksigen sekarang turun menjadi 25%. Astronot berkebangsaan Australia tersebut hanya bisa mematung di tempat. Tubuhnya kesakitan karena membentur benda keras. Hingga dia tidak sanggup berdiri dengan beratnya beban pakaian yang sedang dia kenakan.
Mata Will membola kala melihat makhluk itu melahap tubuh rekannya Ben. Pertama-tama dipecahkannya helm yang menutupi kepala Ben, lalu dirobeknya dengan mudah pakaian astronot yang kuat dan keras tersebut. Tidak butuh waktu lama cairan kental berwarna merah mulai membanjiri lantai.
Tanpa diduga makhluk dengan jenis yang sama perlahan datang dan segera menghampiri Will. Sekarang lelaki itu bisa melihat dengan jelas gigi-gigi runcing yang dimiliki makhluk tersebut.
Kapasitas oksigen Will sekarang sudah mencapai 10%. Tulisan berwarna merah menjadi peringatan untuknya. Sekarang makhluk itu mencoba melepas helm yang sedang dikenakan oleh Will.
"Kumohon... siapapun... tolonglah..." gumam Will yang masih terus berharap, di detik-detik terakhir sisa oksigennya. Dalam keadaan begitu, barulah dia menyadari pentingnya oksigen untuk kehidupan. Sekarang Will merindukan bumi yang melimpah akan oksigen.
BRAKK!
Tiba-tiba datang seorang wanita berambut ungu dengan menembus atap pesawat. Seketika mode gravitasi terhenti, tubuh Will melayang di udara dan langsung keluar dari pesawatnya. Will berusaha meraih benda apapun agar bisa berpegangan. Namun angin di angkasa lebih kencang dibandingkan dengan yang ada di bumi.
"AAAARKKKH!" Will memekik ditengah tubuhnya yang terbang melayang menembus antariksa.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Will berpacu lebih cepat, bahkan sekarang tubuhnya mulai mati rasa dan membeku. Perlahan dia memejamkan matanya sembari terus mengingat Tuhan dan keluarga tercinta.
Namun sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada nasib Will. Sepercik cahaya tampak mendekat ke arahnya. Cahaya itu terasa hangat dan membuatnya tenang. Perlahan cahaya tersebut membentuk seorang wanita yang tadi menerobos masuk ke pesawatnya.
🌌🌌🌌
Silaunya cahaya berhasil menusuk penglihatan Will. Hingga sampai membuatnya terpejam. Dan saat lelaki itu membuka mata kembali, dia pun langsung dibuat kaget. Ketika melihat dirinya sudah berada di sebuah lempengan batu tanpa perlindungan baju astronot. Dia bahkan bisa bernafas dengan lancar.
"Hai!" sapa seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari samping Will.
"Siapa kau? dan dimana ini? ba-ba-bagaimana?" Will masih tampak kebingungan.
"Kau-astronot paling beruntung di dunia, karena bisa melihat sisi lain dari galaksi," ujar wanita itu.
"Sisi lain galaksi?" Will terperangah sekaligus terpesona akan keindahan benda-benda antariksa di sekelilingnya.
"Kenalkan, aku Nebula..." wanita tersebut mengukir senyuman. Di sekeliling tubuhnya terlihat kerlap-kerlip cahaya yang menyinari. Nebula sangat cantik dengan rambut ungunya.
"Aku William Christhoper..." sahut Will pelan, lalu kembali mengedarkan pandangannya ke benda-benda angkasa yang ada di depannya.
"Apa aku bermimpi?" gumam Will sembari mengucek-ucek kedua matanya. Nebula yang mendengarnya tertawa geli dan berkata, "Anggap saja begitu..."
"Kalau boleh tahu, apa misimu? kok bisa sampai terbang hampir menembus bima sakti? apa kau-tahu itu sangat berbahaya untuk manusia?" sambung Nebula.
"Kami berhasil menemukan planet yang memiliki kehidupan seperti bumi, tetapi benar-benar tidak menyangka akan pergi sejauh itu," jelas Will dengan penuh sesal.
Syuutt...🌠
Tiba-tiba nampak batu bercahaya melesat lewat di atas kepala Will. Hal itu sontak membuatnya kembali terperangah. Lelaki penggemar dunia antariksa tersebut tidak pernah kecewa akan keindahan benda-benda angkasa.
"Itu bintang jatuh... indahkan?" ujar Nebula yang juga menatap benda bercahaya itu. Will meresponnya dengan anggukan pelan.
"Boleh aku bertanya?" sekarang Will menatap Nebula lewat ujung matanya. Wanita itu pun membalas tatapan Will.
"Kau-ini apa? manusia atau..."
Nebula tersenyum dan berucap, "Aku Nebula, itu saja. Bukankah kamu angkasawan? masa tidak tahu arti dari Nebula?"
"Aku tahu, hanya saja wujudnya tidak..."
"Seperti manusia?... setidaknya itulah yang semua kaum-mu kira, wujudku dianggap sebagai awan antarbintang yang terdiri dari debu, gas dan plasma, itu kan?" Nebula sedikit terkekeh. "Iya..." Will ikut tertawa kecil bersama wanita itu.
"Mau melihat-lihat?" tawar Nebula sembari menyodorkan tangannya. Tanpa pikir panjang, Will langsung menerima tawaran tersebut.
Perlahan tubuh Will melayang mengikuti Nebula. Dia tidak pernah menyangka bisa menelusuri galaksi tanpa pakaian perlindungan bahkan oksigen. Semuanya benar-benar terasa seperti mimpi baginya.
🌠🌠🌠
Will tidak hanya bisa melihat bintang-bintang bertaburan di depan mata. Tetapi juga pemandangan planet-planet penghuni galaksi bima sakti. Yang tidak lain adalah planet bumi dan kawan-kawannya.
"Apa planet yang kami cari benar adanya?" tanya Will pada Nebula.
"Ada banyak planet Will, tapi di galaksi lain. Dan manusia sepertimu tidak akan bisa ke sana, bahkan dengan teknologi yang sangat canggih sekali pun!" jawab Nebula.
Dari kejauhan tiba-tiba tampak bulatan hitam yang semakin membesar. Nebula yang pertama kali menyadarinya langsung dibuat kaget.
"OH TIDAK!" Nebula memekik keras tatkala menyadari bulatan hitam tersebut adalah black hole.
"Nebula apa itu?! black hole?!" Will memgang erat tangan Nebula.
Wush!
Asteroid tiba-tiba menghantam Will dan Nebula. Pegangan mereka pun terlepas. Will merasa tercekik karena kehabisan nafas. Deru angin dari black hole menarik tubuhnya lebih cepat dari biasanya. Tubuh Will berputar-putar di udara karena hantaman asteroid.
"WILL!!!" Nebula dengan cekatan kembali menggenggam erat Will, lalu membawanya menjauh dari black hole. Meskipun begitu, keduanya tetap harus melewati asteroid-asteroid yang masih bertebaran dan sesekali menghantam tubuh mereka.
Setelah melewati beberapa hambatan, Will dan Nebula pun sekarang berada di tempat yang aman. Tubuh Will saat itu semakin lemah.
"Will! berjanjilah! kamu dan teman-temanmu tidak akan lagi pergi keluar dari bima sakti!" itulah kalimat terakhir yang diucapkan Nebula, sebelum cahaya kembali menyilaukan penglihatan Will. Hingga membuat lelaki tersebut sampai tidak sadarkan diri.
🛰🛰🛰
"Haaa!" Will menarik nafas begitu dalam kala dia sudah bisa terbangun.
"Will! kau-tidak apa-apa?" mata Will membola saat Ben dan Steve yang merupakan dua rekan astronotnya, sudah ada di depan mata.
"Kalian.. bagaimana..." respon Will dengan raut wajah penuh tanya.
"Ada apa Will? dari tadi kamu tidur terlalu nyenyak sampai berakhir dengan mimpi buruk begitu!" ejek Steve dengan kekehnya.
"Cepat bersiaplah! kita akan mencari planet yang kita temukan semalam!" ujar Ben sembari memasang pakaian astronotnya.
Perkataan Ben itu sontak membuat Will kaget. Dia segera menengok ke jam tangannya yang tergeletak di atas nakas. Deg! jantung Will berdegub kencang saat melihat tanggal dan waktu kembali, tepat sebelum kecelakaan pesawat menimpa dirinya dan kedua rekannya.
"Ben! Steve! sebaiknya kita batalkan saja pencarian, ini sangat berbahaya!" Will mencoba mencegah pelaksanaan misinya.
"Will, sejak kapan kamu peduli dengan bahaya di antariksa. Kamu itu yang paling berani dan bersemangat di antara kita loh!" Steve malah merespon kekhawatiran Will dengan entengnya.
"Steve! i am not kidding!!!" Will mengerutkan dahi sembari mencengkeram erat kedua bahu Steve.
"Will! ada apa denganmu?" Ben mencoba mendorong Will menjauh dari Steve.
"Cepat! kita tidak punya waktu!" lanjut Ben lagi dengan tak acuh.
"Terserah Will, kamu ikut atau tidak. Yang jelas kami akan tetap melakukan misi pencarian!" ucap Steve seraya beranjak pergi meninggalkan Will.
"Steve! Ben! tunggu!" panggilan Will membuat kedua rekannya langsung menoleh.
"Entahlah aku tadi bermimpi atau tidak, yang jelas jika kita melakukan misi ini pesawat kita akan kecelakaan, dan makhluk mengerikan itu akan melahap tubuh kita!" jelas Will berharap kedua rekannya mengindahkan peringatannya.
"Haha! Will! sejak kapan kamu percaya dengan sesuatu yang tidak logis. Kita astronot, melihat fakta dan berhitung menggunakan fisika dan matematika!" sahut Ben dengan santainya lalu kembali melangkahkan kaki.
Kala itu Will benar-benar bingung. Hingga dia tidak mempercayai dirinya memilih untuk ikut melakukan misi. Hal itu dia lakukan, demi Ben dan Steve yang sudah bersama dengannya sejak Will menjadi bagian dari NASA.
🚀🚀🚀
[Di dalam pesawat]
Awalnya semua tampak baik-baik saja. Bahkan pesawat melaju tanpa adanya hambatan. Will berharap apa yang sebelumnya ia lalui benar-benar hanya sebuah mimpi.
CRASSSH! BRAKK!
Tiba-tiba pesawat dihantam oleh benda asing secara tidak terduga. Will, Ben dan Steve sontak begitu panik. Ketiganya segera mengenakan pakaian astronot mereka untuk berjaga-jaga.
BRAK! BRUK!
Pesawat kembali berguncang hebat, hingga membuat tiga sekawan itu menabrak benda-benda keras. Ditambah pakaian yang sedang mereka kenakan benar-benar membuat kewalahan. Hingga akhirnya Will, Ben dan Steve langsung tidak sadarkan diri.
Will membuka matanya perlahan. Kali ini dia ingat bahwa kejadian yang di alami sebelumnya bukanlah mimpi. Tetapi masa depan.
"Nebula, maaf..." gumam Will dengan kondisi tubuh terkulai lemah. Tidak lama setelah itu, makhluk asing datang menghampiri untuk mengoyak dan memakan tubuh kedua rekannya.
~TAMAT~
*NASA (National Aeronautics and Space Administration) atau dalam bahasa indonesianya adalah Badan Penerbangan dan Antariksa.