Aulia Putri cahaya itu adalah namaku, umurku 21 tahun. Sekitar 2 hari yang lalu aku mendapatkan surat wasiat dari mendiang pamanku, Hari ini aku hendak datang ke tempat pamanku untuk melihat rumah yang diwariskan padaku.
Rumah itu adalah rumah mendiang dari kakek buyutku, karena Paman tidak mempunyai anak maka warisan itu jatuh ke tangan ku. Aku begitu senang, saat mendengar kalau aku akan mendapatkan warisan rumah dari kakek buyut.
Terima kasih Ya Tuhan.
"Akhirnya aku tidak akan mengontrak lagi," ucapku semangat.
Aku mengontrak sebuah rumah kecil bersama temanku yang pertama Ani, kami berdua adalah anak yatim piatu sejak kecil. Ani adalah temanku satu-satunya, karena aku tidak mempunyai teman lain selain dia. Aku berniat untuk tinggal di rumah warisan paman bersama dengan temanku Ani.
Pagi ini aku mengajak Ani untuk pindah ke rumah warisan Paman. Pagi itu kami bergegas dan mengemasi barang-barang kami, ya.. barang-barang kami memang tidak terlalu banyak, tapi lumayan capek untuk mengepak barang-barang yang ada di sana.
"Apa semua sudah selesai, An?" tanyaku kepada Ani.
"Semua sudah selesai," jawab Ani.
"Ok, kita berangkat," jawabku.
Akhirnya aku dan Ani pergi menuju sebuah alamat yang ada di surat warisan itu, sebuah sertifikat kepemilikan atas namaku. Aku selalu tersenyum saat melihat surat warisan dari almarhum Paman.
1 hari kemudian...
Akhirnya, setelah 24 jam perjalanan.. aku telah sampai di tempat yang telah ku tujuh, namun tempat yang aku tuju itu berada di daerah pegunungan. Saat kami telah sampai, betapa terkejutnya aku, rumah megah dan asri yang aku impikan tidak seperti yang ada di dalam benakku.
"Wow..ini rumah apa musium, Put?" tanya putri padaku.
"ini tepatnya bukan sebuah museum, An. Tapi ini tepatnya nya rumah buat uji nyali." jawabku kepada Ani.
Saat aku menatap rumah itu, aku begitu terkejut karena rumah itu sebagian terbuat dari kayu, dan bernuansa kuno yang sangat menyeramkan.
"Ih ngeri banget put," ucap Ani kepadaku.
"Bukan banget lagi, tapi buanget..," jawabku saat menatap wajah Ani.
Tiba-tiba aku dan Ani sama-sama saling menatap, kami berdua seolah mengetahui apa yang ada di dalam pikiran kami, setelah melihat rumah yang ada di depan kami.
"Masuk gak, put?" tanya Ani.
"Emang lho berani, An?" tanyaku kepada Ani. karena entah kenapa, tiba-tiba tubuhku merinding saat menatap lantai 2 rumah itu.
Sesaat kemudian, saat aku ingin masuk ke dalam rumah itu.. nampak pintu rumah itu langsung terbuka, hingga membuatku dan Ani langsung terkaget dan berteriak.
"Kyaaa!!" aku dan Ani berteriak karena kaget pintu rumah yang langsung terbuka.
"Kenapa kalian berteriak!" seru seorang pria. yang keluar dari rumah paman.
Saat kami melihat sosok pria yang keluar dari rumah paman, sontak mataku dan Ani langsung menatap ke tanah. Entah apa yang ada dipikiran kami, namun saat kulihat kaki pria itu menyentuh tanah.. kami berdua langsung bernafas lega.
"Manusia," ucapku kepada Ani.
"Bener put, manusia." jawab Ani. yang kemudian menghela nafasnya.
Keringat sudah bercucuran di tubuh kami saat melihat rumah angker itu, apalagi saat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka. betapa terkejutnya kami seperti kami berada di ambang kematian karena ketakutan.
"Kamu manusia kan!" seruku dan Ani.
Kami berdua saling berpelukan karena merasa ketakutan.
"Tentu aku manusia, kau kira aku ini hantu apa!" seru pria itu kepada aku dan Ani. Lalu kami berdua memandang pria itu begitu intens.
"Siapa kau? dan mau apa kau ada di tempat ini?" tanyaku kepada pria itu.
"Namaku adalah Bayu. Aku diminta oleh tuan Haikal untuk selalu memantau tempat ini dan tinggal di sini menjaga dirimu," jawab pria itu kepadaku.
"Benarkah, Kenapa kami harus percaya denganmu!" seru ku kepada pria itu.
"Aku membawa bukti yang ingin kau lihat!" seru pria itu.
Kemudian Bayu mengeluarkan sebuah surat dan rekaman dari Paman Haikal, kulihat rekaman sebelum Paman meninggal, disana terlihat Paman menitipkan aku kepada pria yang bernama Bayu.
Akhirnya aku dan Ani mengangguk, Kami bertiga memasuki rumah yang sangat..sangat..sangat angker itu.
"Ini rumah bisa di dihuni tidak?" tanyaku kepada Bayu.
"Tentu," jawab Bayu.
"Di sini ada hantunya tidak?" tanyaku lagi kepada Bayu.
"Banyak," jawab Bayu.
Hal itu membuat aku dan Ani langsung berhenti di ruang tamu rumah angker itu, sesaat kemudian aku dan anila saling menatap satu sama lain.
"Angker beneran dong," ucapku kepada Ani.
Terlihat Ani hanya diam saja sambil mengangguk dan memeluk erat tanganku, terlihat tangan Ani begitu gemetar dan sangat dingin, jangan kan Ani.. aku pun juga seperti berada di dalam lemari es, tubuhku terasa dingin dan gemetar.
"Kalian carilah kamar yang kalian inginkan, aku akan berada di lantai 1 di kamar yang ini," ucap Bayu sambil menunjuk sebuah ruangan yang agak kecil.
Sesaat kemudian, aku langsung menatap pintu yang berada di samping kamar yang yang ditunjuk oleh Bayu.
"Di sebelahmu itu apa? kamar atau tidak," tanyaku kepada Bayu.
"Itu juga kamar," jawab Bayu.
"Kami akan tidur di sana!" seru Ani.
Saat Ani berbicara, aku langsung menatapnya dan melongo menatap wajah Ani.
"Kau jangan keluar-keluar, kalau tidak mengajak kami!" seru Ani kepada Bayu.
Hal itu membuat Bayu tersenyum, terlihat pria itu itu lumayan manis kalau sedang tersenyum. Akhirnya aku dan Ani menempati kamar di sebelah Bayu.
"Bismillah," ucapku. saat aku menyentuh handle pintu kamar itu, sesaat kemudian.
"Ceklek."
Kamar itu terbuka, Ani sudah memeluk erat tanganku.
"Assalamualaikum." kemudian aku membuka pintu kamar itu, saat aku sudah berada di dalam, terlihat kamar yang cukup luas dengan nuansa yang tidak seperti luar rumah ini. ternyata kamar ini itu begitu indah dan mempesona, namun sesaat kemudian... ada sesuatu yang membuat aku dan Ani langsung pucat seketika.
Saat kami sudah memasuki kamar itu dan hendak duduk di ranjang besar itu, tiba-tiba kami berdua mendengar suara rintihan seorang wanita yang menangis. Hal itu membuat aku dan Ani langsung terdiam seribu bahasa.
"Suara apa itu?" tanya ani padaku, seketika Ani langsung menempel erat di tubuhku.
"An, jangan nakutin dong," ucapku kepada Ani.
Setelah mendengarkan rintihan tangisan itu, aku dan Ani langsung mendekat ke arah kamar mandi yang ada di kamar yang kami tempati. Aku berada di depan Ani, sedangkan Ani menempel erat di tubuhku seperti seekor cicak.
"Buka An," ucap ku kepada Ani.
"Kamu kan ada di depan, kamu yang buka dong put!" seru Ani seruan ini kepadaku. Kemudian aku mengulurkan tanganku dengan gemetar, kubuka pintu kamar mandi. Saat pintu itu sudah terbuka nampak kami berdua melihat sosok seorang wanita yang sedang menangis, wajahnya tidak terlihat. Namun kami hanya melihat dari punggungnya.
"Siapa dia, put," tanya Ani kepadaku.
"Nggak tahu an," jawab ku.
"Tanyain, ngapain dia nangis di kamar mandi," ucap Ani padaku.
"Kamu aja yang tanya," seruku kepada Ani.
Sesaat kemudian, nampak sosok wanita itu semakin menangis dan histeris. hal itu membuat aku dan Putri langsung berpelukan erat karena ketakutan. Tak lama kemudian, tiba-tiba wanita itu itu menatap kami berdua. Hal itu membuat kami langsung gemetar tak karuan, saat melihat sosok wajahnya yang penuh dengan darah dan wajah yang remuk setengah.
"Aaaa!!" teriak kami berdua, saat melihat wajah menyeramkan dari wanita yang ada di kamar mandi.
"Ada apa!"
Bayu yang tiba-tiba datang dan mendobrak kamar kami, hingga membuat aku dan Ani bertambah ketakutan.
"Setan!!" seruku dan Ani.
Kami berteriak dengan sangat keras.
"Kenapa kalian berteriak seperti orang gila seperti ini!" seru Bayu. yang marah karena kami tiba-tiba berteriak.
"Ada hantu, ada hantu di kamar mandi," ucapku kepada Bayu.
"Benar, mukanya sangat," jelek sambung Ani.
Hal itu membuat Bayu langsung tersenyum dan tertawa saat melihat kekonyolan kami.
"Sebaiknya kita tidur di ruang tamu saja," pinta Bayu.
"Peduli setan, yang penting kau menjaga kami," seru Ani.
Aku, Ani dan Bayu akhirnya memutuskan tidur di ruang tamu. Saat malam sudah menjelang.. entah kenapa rasanya kepalaku ada yang membelai.
"Uda, An. tidur sana jangan usil melulu,"Seruku pada Ani. karena aku mengantuk berat, aku tidak mampu untuk membuka mataku.
Sesaat kemudian, kembali...terasa kakiku ada yang menggaruk. Hal itu membuat aku menjadi sedikit marah. Karena tidurku terganggu terus.
"Ya ampun, An! jangan ganggu terus kenapa."
Aku yang berteriak kepada Ani, namun saat aku membuka mata karena kesal. Tiba-tiba yang terlihat di depanku bukan sosok Ani, melainkan sosok wanita yang memakai baju merah.. dengan wajah pucat, sebelah mata tidak ada dan linkarang mata yang begitu hitam.
Ingin sekali aku berteriak, namun... tiba-tiba suaraku tak bisa keluar, wanita itu menatapku..terus menatap ku dengan wajah yang sangat menyeramkan, sebelah mata yang tidak ada namun terus mengeluarkan darah. Tercium bau anyir yang begitu tajam.
"Ya Tuhan... nih, memedi ngapain liat terus," ucapku. Dengan suara yang ketakutan.
"Ikutlah dengan ku," ucap hantu dengan suaranya yang menakutkan.
Sesaat kemudian, dapat aku lihat kuku jarinya yang panjang mulai di tempelkan di wajahku. Dadaku serasa mau berhenti, serasa mau akan menjemputku melalui hantu itu. Namun beberapa detik kemudian, serasa aura yang ada di rumah paman sangat menakutkan apalagi di tambah penampakan hantu pria dengan bentuk yang tak bisa aku gambarkan.
Serasa aku akan mati hari ini juga, aku hanya pasrah dan meminta tolong kepada Tuhan. Sesaat kemudian, saat aku memejamkan mata karena hantu itu mulai menggores wajahku dengan kukunya, hatiku berdebar serasa ingin berhenti.
"Pergi kalian!" seru suara seorang pria yang langsung menarik tubuhku dari atas sofa yang aku tiduri. Aku membuka mataku, kulihat sosok Bayu yang menarik tubuhku dari sofa.
"Seram.. seram banget Bay!' seruku kepada Bayu.
Tubuhku terasa menggigil karena ketakutan yang luar biasa, sedangkan Ani yang masih tertidur.. nampak sangat lelap di alam mimpinya. Sedangkan aku seperti akan berjalan di alam kematian, karena bertemu dua hantu yang sangat menakutkan.
"Kenapa kau diam saja!" seru Bayu kepadaku.
Terlihat Bayu dapat melihat wajah pucatku karena ketakutan.
"Takut, aku takut. Rumah ini sangat menakutkan," ucapku dengan nada yang bergetar.
"Kau tidak boleh ketakutan seperti ini, Putri! kalau tidak mereka akan semakin meneror mu," ucap Bayu sambil menenangkan aku.
Sesaat kemudian, dapat kulihat Bayu meninggalkan ruang tamu menuju dapur yang ada di rumah angker paman.
"Minumlah!" seru Bayu. kemudia dia menyodorkan air mineral kepadaku.
"Aku tidak mau tinggal di sini, Bay.. Aku mau pergi," jawab ku lirih kepada Bayu.
Sesaat kemudian, nampak Bayu menatapku dengan wajah yang seolah mengerti Kalau aku sedang ketakutan.
"Kau tidak boleh kalah dengan para hantu itu, Put. kalau tidak mereka akan terus meneror mu," seru Bayu.
Enak banget Bayu berkata seperti itu, Aku yakin Bayu bukanlah orang sembarangan. karena dapat aku lihat dia begitu tenang saat menghadapi sosok sosok hantu yang ada di rumah paman, aku menelan ludahku dengan susah payah.. aku mengatur nafasku yang sudah ketakutan.
Akhirnya aku mendengarkan perkataan Bayu, aku selalu mencoba untuk menenangkan diriku saat para makhluk tak kasat mata yang ada di rumah paman selalu bermunculan. Rasa takut itu berusaha Aku taklukkan, namun tetap saja terkadang aku ketakutan hingga aku harus spot jantung.
Waktu berjalan dari hari, Minggu dan bulan.
aku, Bayu dan Ani menempati rumah itu. Kami bertiga berusaha membuat rumah paman hidup kembali, bukan sebagai sarang hantu seperti waktu aku pertama kali pindah ke sana, bulan pun berganti hingga aku sudah menempati rumah angker milik Paman 6 bulan lamanya.
Suasana di rumah itu tidak seperti waktu aku datang, sekarang di sana terlihat tidak semenyeramkan waktu aku datang dulu. rumah itu aku renovasi sedikit demi sedikit, tidak ada yang aku ganti hanya saja aku mengecat ulang rumah Paman.
Akhirnya rumah yang aku tempati itu sering dijadikan orang untuk tempat menginap di puncak, beberapa di antara mereka harus terkejut, dengan penampakan para makhluk tak kasat mata yang di rumah yang aku huni. Akhirnya aku mendapatkan pemasukan dari para orang-orang yang menginap di sana.
Rumah berlantai tiga itu memang sangat menyeramkan, namun dari hal yang menyeramkan itu beberapa orang malah tertarik untuk menginap di sana selama beberapa bulan.
Akhirnya aku Bayu dan Ani mengelola rumah warisan Paman, untuk dijadikan sebuah Wahana wisata, apalagi ada seorang investor dari tempat lain yang membuka sebuah wisata gunung.
END..