Sifabella mendadak terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berada di ruang kelas yang tidak asing. Ruang kelas 10 Sekolah Menengah Atas. Padahal seingatnya ia sudah bukan lagi anak SMA. Ia sudah tamat kuliah dan saat ini ia sudah berusia 25 tahun. Bagaimana bisa ia berada di ruang kelas lengkap dengan seragam SMA dan berpenampilan layaknya anak sekolah. Ia menoleh ke sebelah kirinya dan bertanya kepada seorang teman karena rasa penasaran yang tinggi.
“Eh, sorry, mau nanya. Sekarang tahun berapa ya?” siswi yang ditanya sedikit terheran lalu menjawab.
“2009,”jawabnya singkat. Sifa terkejut.
“2009?? Bagaimana bisa? Bukannya sekarang sudah 2021, kenapa tiba-tiba 2009?” batin Sifa gusar. Ia merogoh saku rok sekolah yang di kenakannya lalu beralih mengecek isi tas.
“Hp gue mana? Kok gak ada sih!” Sifa panik. Ia membongkar seluruh isi tasnya namun tidak menemukan yang dicari. Justru ia malah menemukan sebuah benda berbentuk persegi di dalam tasnya. Sebuah ponsel jadul miliknya dulu.
“Hah?? Ini kan Hp gue jaman dulu. Kok masih ada? Bukannya waktu tamat sekolah udah gue buang karena rusak!” Sifa semakin di buat kebingungan. Semua hal yang pernah ada di masa lalu kini berada di sekitarnya. Ia seperti sedang berada di masa itu. Sifa mencubit pipinya.
“Awh! Sakit!”pekiknya sambil mengusap pipi. Cubitannya menimbulkan rasa sakit. Artinya ini nyata. Bukan mimpi atau khayalan belaka. Sifa memang benar-benar berada di masa lalu. Di masa saat ia masih menjadi siswa kelas 10 di SMA Gemilang.
Sifa berlari keluar kelas menuju ke lapangan yang berada di halaman sekolah. Ia memutar badannya untuk melihat ke sekeliling. Suasana yang memang tidak asing untuknya. Ini adalah suasana di masa lalu. Dan Sifa benar-benar berada di masa lalu. Padahal ia masih ingat betul jika sebelumnya dirinya sedang duduk di depan meja rias di kamarnya lalu tanpa sadar ia tertidur sambil menopang kepalanya di atas meja rias. Saat terbangun ia sudah berada di dunia ini. Dunia masa lalu.
Sifa melangkah gontai. Dengan tubuh yang lesu. Ia tidak tahu mengapa ia bisa terlempar ke masa lalu. Dan bagaimana caranya untuk kembali. Sifa duduk di tepi lapangan. Ia mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu. Lama sekali ia berpikir. Saat mulai buntu tiba-tiba muncul sekelebat bayangan masa depan yang pernah ia alami.
Pertengkaran hebat yang menimbulkan luka dan perpisahan dengan Raditya membuat Sifa benar-benar terluka dan sempat ‘Down’. Hidupnya bergelung dengan rasa sakit yang mendera. Semua karena Raditya. Laki-laki yang ia cintai sejak mereka masih duduk di bangku sekolah. Sifa begitu mempercayai Raditya hingga suatu ketika hubungan mereka hancur karena ulah Raditya. 12 tahun menjalin hubungan ternyata Raditya bukanlah laki-laki yang baik. Ia hampir menghancurkan masa depan Sifa. Laki-laki itu hampir merenggut kesuciannya dan bahkan menganggap Sifa seperti wanita murahan. Sifa benar-benar terluka dan kecewa, ia pun melepaskan Raditya. Padahal hubungan mereka sudah cukup lama.
Kekecewaan dan luka yang mendera membuatnya menjadi seseorang yang pemurung. Bahkan Sifa nyaris hampir mengakhiri hidupnya. Di saat keterpurukannya muncullah seorang malaikat bagi Sifa. Laki-laki yang begitu tulus kepadanya, laki-laki itu bernama Gilang. Berat bagi Sifa untuk mempercayai laki-laki. Namun karena ketulusan Gilang membuat Sifa sedikit demi sedikit melupakan lukanya.
****
“Gilang?? Gue harus cari Gilang sekarang!”batin Sifa. Ia pun berdiri sambil membersihkan roknya yang kotor karena duduk di lantai lapangan. Ia yakin bahwa tujuan ia kembali ke masa lalu adalah untuk memperbaiki kisah pahitnya. Supaya ia tidak terluka di masa depan. Sifa bersemangat. Ia akan segera mencari Gilang. Ia harus menghindari pertemuannya dengan Raditya. Karena jika ia bertemu dengan Raditya maka kisah selanjutnya akan sama seperti yang pernah ia alami sebelumnya.
Sudah satu minggu Sifa belum juga menemukan Gilang. Berkali-kali ia mencari Gilang di sekolah namun semua laki-laki di sekolah itu tidak ada yang bernama Gilang. Kalaupun ada itupun bukan Gilang yang ia cari.
‘Bruk’
“Awh!” Sifa meringis. Bahunya menabrak seseorang. Ia menoleh, seketika terkejut.
“Lo!?”kedua bola mata Sifa membelalak. Laki-laki yang bertabrakan dengannya adalah Raditya. Sifa pun berlari menjauh membuat Raditya keheranan.
“Tadi--- kejadian tadi sama persis dengan kejadian yang dulu pernah gue alami. Itu adalah awal mula gue ketemu sama Radit. Setelah ini kita akan menjadi semakin dekat lalu----- akh! Gak! Ini gak boleh ke ulang lagi!” gerutu Sifa pada dirinya sendiri.
Apa yang di takutkan benar-benar terjadi. Raditya mulai mencoba mendekati Sifa. Kejadian itu benar-benar sama persis dengan kejadian sebelumnya. Tidak ada yang berbeda satu pun. Sifa semakin ketakutan.
“Gue harus bagaimana?”bisiknya lirih. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Berkali-kali ia menghindari pertemuannya dengan Radit namun hal itu sudah seperti takdir. Sifa memang harus bertemu dengan Radit. Meskipun hal itu di ulang untuk kesekian kalinya.
“Nasib! Gue memang ditakdirkan untuk terluka di masa depan.” Sifa menunduk sedih. Di kedua sudut matanya mengalir cairan bening. Ia pun sudah terisak meratapi nasibnya.
*****
Dengan rasa kecewa yang tinggi, Sifa pun menyerah pada takdir. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya merubah takdir. Sifa berjalan lunglai menyusuri trotoar yang sepi. Hanya saja jalan raya di sebelahnya terlalu ramai lalu lalang kendaraan bermotor. Sifa melayangkan pandanganya ke jalan raya. Menatap setiap kendaraan yang lalu lalang. Pandangan matanya sayu dan terlihat pasrah. Tiba-tiba sekilas ia melihat sesuatu. Di perjelas lagi pandangan matanya. Sampai ia berkali-kali mengusap kedua matanya supaya pandangannya menjadi jelas. Dan benar saja, seraut wajah yang tidak asing lewat di depan matanya. Ia mengendarai kendaraan bermotor. Melaju dengan kecepatan sedang melewati Sifa.
“Gilang??”bisik Sifa.
“Benar! Itu Gilang!!!” teriak Sifa. Ia pun spontan berlari ke jalan raya. Ia lupa jika jalan raya sedang ramai. Dan,
‘Ciiiiiiiittttt! Brakk!!!’
Terdengar suara rem kendaraan berdecit di barengi dengan suara benturan keras. Sifa merasa tubuhnya seperti melayang di udara lalu gelap dan tidak tahu lagi setelah itu ia tidak merasakan apa-apa lagi selain gelap.
*****
Tiit tiit tiit tittt----
Suara dari mesin pendeteksi detak jantung itu terus berbunyi. Pertanda bahwa masih ada detak jantung yang terdeteksi melalui alat itu. Sifa membuka kedua matanya. Ia melihat langit-langit kamar yang putih bersih dan hidungnya mencium bau obat-obatan. Aroma khas rumah sakit. Ia ingin menggerakkan tubuhnya namun terasa sulit dan kaku.
“Sayang? Kamu udah sadar?”sebuah suara terdengar. Sifa menatap seseorang itu.
“Mama----,”rintih Sifa lirih.
“Iya sayang, Mama ada di sini,” sebutir air mata mengalir di wajah wanita yang di panggil Mama. Ia mengusap kepala Sifa dan mengecup kepalanya.
“Gilang mana?” bisik Sifa. Mama mengerutkan dahinya.
“Gilang? Siapa Gilang?”tanya Mama heran. Baru saja putrinya terbangun dari koma selama satu minggu namun putrinya sudah menyebut nama yang asing di telinganya.
*****
Sekitar dua minggu Sifa di rawat di rumah sakit. Saat ini tubuhnya sudah pulih dan di bolehkan untuk pulang.
“Ma? Waktu Sifa koma, ada cowok yang datang menjenguk gak? Namanya Gilang” tanya Sifa.
“Mmm, Mama rasa gak ada. Emang Gilang itu siapa? Mama perhatikan kamu sering menyebutkan nama itu?” tanya Mama penasaran. Sifa tersenyum.
“Masa depan Sifa, Ma.” Jawab Sifa sambil melangkah pergi. Mama semakin dibuat bingung.
Sifa sudah berada di depan rumah sakit. Sembari menunggu mobil yang di bawa sopirnya untuk menjemput dirinya dan Mama. Sifa menangkap sebuah sosok yang pernah ia temui waktu itu. Sosok laki-laki yang ia cari. Sifa berbinar, ia segera berlari mendekati laki-laki itu dan mengabaikan teriakan peringatan Mamanya.
“Gilang!” panggil Sifa ketika sudah sampai di tempat tujuannya. Gilang menoleh. Keningnya berkerut.
“Elo??” tunjuk Gilang. Senyum Sifa merekah.
“Elo kenal Gue??? Ini gue, Lang! Gue Sifa! Lo ingat sama Gue?!” pekik Sifa kegirangan.
“Oh! Nama lo Sifa?? Maaf ya baru bisa kenalan sekarang. Gue memang Gilang. Gue pernah nolongin Lo pas Lo kecelakaan. Tapi ngomong-ngomong Lo tau nama Gue dari mana???” tanya Gilang. Sifa yang tadinya ceria mendadak lesu.
“Gilang benar-benar gak kenal gue. Berarti di sini cuma gue yang sadar kalau gue berasal dari masa lalu. Hmmmmm, gak apa-apa deh. Yang penting gue udah menemukan Gilang.” Batin Sifa. Bibirnya menyunggingkan senyum.
“Halooo????” Gilang melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sifa untuk menyadarkan Sifa yang seperti melamun.
“Eh! Iya! Kenalin Gue Sifa. Tentang Gue yang udah tau nama lo kita skip aja. Mungkin hanya kebetulan. Gue cuma ngerasa pernah kenal seseorang bernama Gilang dan lo mirip sama Gilang yang gue kenal” Ucap Sifa sambil tersenyum ramah. Ia sengaja berbohong supaya Gilang tidak semakin kebingungan. Gilang mengangguk-angguk tanda mengerti. Ia pun tersenyum.
“Baiklah. Nama gue Gilang!” ucap Gilang sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. Sifa pun menyambutnya dengan senyum bahagia.
Inilah perkenalan pertama Gilang dengan Sifa. Mungkin Gilang belum pernah mengenal Sifa namun Sifa sudah sangat mengenal Gilang di masa depan. Akhirnya Sifa berhasil merubah takdirnya. Ia tidak menjalin hubungan dengan Raditya dan di masa depan ia tidak akan pernah terluka seperti sebelumnya.
Sifa tersenyum lega, ia pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia sudah sangat mengantuk. Tidak berapa lama kemudian tertidur. Keesokan harinya ia terbangun karena mendengar teriakan Mamanya yang berkali-kali memanggil namanya dari arah dapur. Saat Sifa membuka mata, ia pun terkejut karena melihat suasana kamar yang berbeda. Ini adalah kamar miliknya di masa depan.
“Hah?! Gue balik ke masa depan! Mama!!!”pekik Sifa memanggil Mama. Mama sudah muncul di depan pintu, panik karena putrinya berteriak.
“Ma??! Ini tahun berapa??”
“2021. Kenapa???”Mama heran.
“Enggak papa.” Jawab Sifa sambil tersenyum. Mama menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya yang aneh. Ia pun bergegas melanjutkan aktifitasnya di dapur.
“Bangun Sifa!!! Waktunya untuk kerja!!!” teriak Mama sambil berjalan menuju dapur. Sifa beringsut, dengan langkah ceria ia pun bersiap untuk menyambut hari yang bahagia.
Setelah mandi dan berpakaian rapi ia pun berdiri di depan cermin. Menatap wajahnya yang ceria. Sifa menoleh ke arah deretan foto-foto yang terpampang di dinding kamarnya. Foto dirinya bersama Gilang dengan balutan seragam sekolah. Takdirnya benar-benar berubah. Ia dan Gilang sudah menjalin hubungan sejak SMA. Padahal sebelumnya, ia bersama Raditya. Keajaiban yang luar biasa, ia bisa mengubah takdir hidupnya. Sifa bahagia karena Gilang adalah laki-laki yang memiliki hati seperti malaikat. Dan minggu depan, kabar bahagia untuk mereka. Sifa dan Gilang akan bertunangan. Semoga kebahagiaan ini akan berlanjut hingga akhir hidupnya.
“I Love You So Much, Gilang Mahendra.” Bisik Sifabella dengan senyum bahagia.
Tamat