Harem bukan sekadar tempat tinggal, bagi Roxelana alias Alexandra Lisowska, ia adalah sangkar emas yang penuh ular dan bisa. Gadis berambut merah asal Ruthenia, Ukraina, ini datang sebagai rampasan perang. Dari seorang gadis merdeka lalu menjadi hamba sahaya yang kehilangan segalanya. Saat ia melangkah masuk ke Istana Topkapi. Istana indah milik negara adidaya Ottoman, sang penguasa tiga benua, ia bersumpah: Aku tidak akan mati sebagai korban. Aku akan memerintah sebagai pemenang. Aku, si budak cantik yang menolak tunduk!
Namanya berganti menjadi Hürrem—"Ia yang selalu ceria dan gembira". Dan keriangannya adalah senjata. Saat gadis-gadis lain menundukkan kepala di depan Sultan Suleiman Al-Qanuni, Hürrem justru menatap langsung ke mata tajamnya. Sebuah tindakan nekat yang bisa membuatnya dihukum pancung, namun justru membuat sang Sultan terjatuh dalam pesona cinta yang tak bisa dijelaskan oleh logika dan kata-kata.
Bagi Hürrem, mencintai Suleiman bukan sekadar urusan hati. Mencintai Suleiman adalah satu-satunya cara terbebas dari belenggu sekaligus upaya untuk bertahan hidup!
Harem yang ia masuki tahun 1520, ternyata ibarat sekolah tempat para gadis yang menjadi budak dan dilatih tata krama, musik, sastra, menjahit, hingga bahasa. Mereka memiliki struktur pangkat. Mulai dari Cariye (pelayan/pemula), Kalfa (asisten), hingga Gözde (favorit Sultan). Pangkat tertinggi adalah Valide Sultan (Ibu Suri). Bagi Hürrem ia harus berjuang meraih posisi hingga pangkat tertinggi untuk membebaskan dirinya apapun tantangan dan risikonya!
Di sisi lain, dan ini paling penting: rasa cintanya yang besar kepada sultan sejak pandangan pertama membuatnya rela menanggung apapun!
“Ya Tuhan, kabulkanlah semua pintaku untuk selalu menjadi hambaMu dan hambanya!” Bisiknya sangat serius sambil menatap dari jauh Sultan nan gagah penuh karisma itu.
---
Di koridor istana yang dingin, Hürrem harus berhadapan dengan Mahidevran Gülbahar Sultan, "Mawar dari Muscovy", istri pertama Sultan yang sudah lebih dulu memberikan pewaris utama, Pangeran Mustafa.
"Kau hanyalah penyihir berambut api yang akan segera padam," bisik Mahidevran suatu hari di pemandian istana.
Hürrem tersenyum tipis, meski wajahnya masih memar akibat serangan fisik Mahidevran sebelumnya. "Mawar akan layu saat musim berganti, Sultanim. Tapi api? Api akan menghanguskan siapa pun yang mencoba memadamkannya."
Persaingan mereka bukan tentang siapa yang paling cantik, tapi tentang siapa yang putranya akan duduk di tahta terhormat. Di Ottoman, berlaku Hukum Fratrisida: Saat seorang sultan naik tahta, ia berhak membunuh saudara-saudaranya demi mencegah perang saudara.
Artinya, jika Mustafa naik tahta, anak-anak Hürrem—Mehmed, Selim, Bayezid, dan Cihangir—akan dieksekusi. Hürrem tidak punya pilihan. Ia harus menjadi monster untuk menyelamatkan buah hatinya. Perang dingin dengan Mahidevran entah sampai kapan akan berakhir. Tapi Hurrem yakin ia akan menjadi pemenangnya karena ia akan menjadi istri sah sekaligus permaisuri sultan, sedangkan Gülbahar, meskipun telah melahirkan pangeran, tetaplah Hatun dan Selir yang tak dinikahi secara sah!
---
Sejatinya rintangan terbesar Hürrem bukanlah Mahidevran, melainkan Pargalı Ibrahim Pasha, Wazir Agung sekaligus adik ipar dan sahabat karib Sultan. Ibrahim adalah mentor Mustafa. Ia adalah benteng baja yang melindungi masa depan Mahidevran.
Bagi Ibrahim, Hürrem adalah ancaman bagi kestabilan negara. Bagi Hürrem, Ibrahim adalah tembok yang memisahkan dirinya dari cinta dan keamanan mutlak Suleiman.
"Istana ini terlalu sempit untuk kita berdua, Putri Hürrem," tantang Ibrahim di teras istana yang menghadap Selat Bosphorus. “Kita awalnya sama-sama budak, dan berkat kebaikan Yang Mulia Sultan kita bisa berdiri di istana ini!”
Hürrem mendekat, aromanya yang khas menyengat hidung pria poliglot itu. "Kau benar, Pasha. Tapi bedanya, aku punya tempat tidur Sultan, sedangkan kau hanya punya ambisi yang akan mencekikmu sendiri."
Selama bertahun-tahun, Hürrem menanamkan benih keraguan di hati Suleiman. Ia menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Ibrahim, betapa sang Wazir mulai merasa dirinya setara dengan Sultan. Puncaknya, saat Ibrahim menjuluki dirinya sendiri sebagai "Sultan" dalam sebuah negosiasi, Hürrem memastikan kabar itu sampai ke telinga Suleiman dengan narasi yang paling mematikan.
Malam itu, saat salju turun di Istanbul, Ibrahim dieksekusi saat ia tidur di istana. Satu musuh telah tumbang.
---
Tahun-tahun berlalu. Mustafa tumbuh menjadi pangeran yang sempurna—dicintai rakyat dan didukung tentara Yanisari. Hürrem tahu, selama Mustafa masih bernapas, anak-anaknya berada dalam bayang-bayang kematian.
Dengan jaringan mata-matanya, Hürrem mulai menyusun skenario terakhir. Surat-surat palsu yang menyiratkan bahwa Mustafa sedang merencanakan pemberontakan bersama Safawi dari Persia dikirimkan ke tangan Suleiman.
Suleiman, sang penguasa dunia, hancur hatinya. Antara cinta pada putranya atau kestabilan tahtanya.
Pada tahun 1553, di sebuah tenda militer di Konya, Mustafa dipanggil menghadap ayahnya. Ia masuk tanpa senjata, percaya pada cinta sang ayah. Namun, di dalam tenda, bukan pelukan yang ia terima, melainkan jeratan tali sutra dari algojo bisu.
Di balik tirai sejarah, Hürrem berdiri di balkon istana, menatap jauh ke arah timur. Ia menangis, tapi bukan untuk Mustafa. Ia menangis karena ia tahu, dengan kematian Mustafa, ia baru saja mengutuk suaminya—pria yang paling ia cintai—pada rasa bersalah yang tak akan pernah sembuh seumur hidup.
---
Hürrem Sultan mencapai apa yang tak pernah dicapai perempuan mana pun sebelum dan setelahnya. Ia menjadi istri sah dan dinikahi Baginda Sultan, ia memindahkan Harem ke Istana Topkapi agar selalu dekat dengan Sang Pujaan hati, dan ia mengendalikan politik Ottoman di dunia.
Namun, di balik semua intrik itu, surat-surat cintanya kepada Suleiman tetap menjadi bukti paling otentik:
"Sultan-ku, cahaya mataku... namamu tertulis di setiap detak jantungku. Jika aku harus membakar dunia agar kau tetap aman di tahtamu, maka biarlah aku menjadi apinya."
Hürrem menghembuskan napas terakhir sebelum melihat siapa putranya yang naik tahta. Ia pergi dengan tenang di pelukan Suleiman. Sang Sultan begitu terpukul hingga ia tak pernah mencintai wanita lain lagi. Ia membangun makam yang indah untuk Hürrem, memastikan bahwa bahkan dalam kematian pun, mereka tetap berdampingan.
Ia adalah Hürrem. Ia tidak dilahirkan untuk menjadi ratu, ia menciptakan tahtanya sendiri dari air mata, darah, dan cinta yang membara tiada tara.