Tersesat Ke Masa Depan
Namaku Jo, aku adalah seorang siswa kelas 9. Di sebuah Sekolah Unggulan di Jakarta. Ini adalah kisahku. Kisah diluar Nalar namun benar-benar terjadi. Begini ceritanya.
Aku tersadar dari pingsan. Merasakan sakit terbakar di seluruh tubuh. Kucoba mengingat yang terjadi sebelumnya. Sambil sesekali menggelengkan kepalaku yang terasa pusing.
Sedikit bayang-bayang kabur memenuhi pikiranku. Sesaat aku terdiam, mencoba mencerna memori itu.
Aku teringat sebelum nya bersama teman-teman kelasku sedang bermain Sepak Bola di Lapangan Sekolah. Ketika tiba-tiba sebuah Petir menghantam keras Lapangan Bola itu. Hingga bergetar seperti Gempa Bumi.
Kaca-kaca di setiap kelas, terdengar pecah berhamburan. Setiap murid, dan Guru yang sedang dalam proses belajar mengajar berteriak, dan menjerit histeris. Bahkan beberapa Siswi menangis.
Suara keras seperti menghantam telak jantungku. Aku merasakan rasa panas mendera.
Masih sempat kulihat teman-temanku terpelanting, jatuh terkapar. Setelah Blitz Petir menghilang. Kesadaranku juga perlahan menghilang.
Tersadar kembali sudah berada di Dunia yang sangat asing. Tidak ada Gedung Sekolah. Lapangan Sepak Bola. Teman-teman sekelas. Semua menghilang.
Yang terlihat kini, sejauh mata memandang. Hanya hamparan Bukit Pasir, tanpa sebatang Pohon. Udara yang kuhirup pun menyesakan dada. Penuh bau timbal.
Aku mencoba berdiri, awal nya sulit. Terasa sakit, dan perih, tapi tidak aku hiraukan. Sekuat tenaga mencoba berdiri. Tubuhku sedikit terhuyung, tertiup angin kencang yang terasa panas. Ingin sekali mencari tahu di mana saat ini aku berada?
Mencoba berjalan terseok-seok, jatuh bangun. Tubuhku yang sudah tidak karuan. Semakin kotor oleh debu, dan pasir. Perasaan lelah, lapar, dan sakit menjadi satu. Hingga aku pun pingsan kembali.
****
Dua ratus tahun pasca Perang Dunia ketiga. Keadaan Bumi telah sangat berubah.
Benua kini hanya ada tiga. Benua Amerika menjadi Samudra luas. Samudra Pasifik naik ke permukaan menjadi daratan luas.
Asia sebagian hilang. Hanya menyisakan Asia sebelah barat, yang menjadi satu dengan Benua Afrika, dan sebagian Eropa.
Benua Australia juga menjadi samudra. Benua Antartika menjadi daratan luas. Semua Es yang menutupi permukaan nya mencair.
Semua ini akibat Bom Nuklir Super. Memporak-porandakan Dunia. Merubah Wajah Bumi, seperti sekarang ini.
Sebagian kecil Manusia, yang memiliki Teknologi telah pergi dari Bumi. Mencari Planet Hijau lainnya untuk ditempati.
Sisa Makhluk hidup bermutasi. Ada yang menjadi Monster, atau Humanoid.
Manusia yang kebetulan selamat, kini hidup di bawah tanah. Baik Bunker buatan berteknologi canggih. Atau tinggal di Gua-gua bawah tanah. Hanya sesekali ke permukaan Bumi, mengais sisa perang.
Manusia pada saat itu, sebelum perang Dunia ketiga, juga sudah bisa menciptakan Robot.
Dua ratus tahun setelah perang Dunia. Robot buatan mereka semakin canggih. Variannya adalah Cyberman, Robot Binatang Mecca, dan Robot Pekerja.
Bahkan produk terbaru adalah Robot Android. Robot yang mirip dengan manusia. Bahkan tingkat kemiripan nya dengan Manusia sudah 99,9 %. Hanya Robot Android itu tidak bisa bereproduksi.
****
Aku kembali tersadar. Saat ini tubuhku berada dalam sebuah Tabung Kaca, berair jernih kehijauan. Mulutku terpasang selang pernafasan. Di beberapa bagian juga terdapat selang, yang aku tidak tahu pasti kegunaan nya.
Beberapa orang dengan dandanan seperti Ilmuwan melihat kondisiku yang telah sadar. Hal ini mereka ketahui dari alat indikator yang terdapat di samping Tabung Kaca ini.
"Profesor, Gun! objek no. Tujuh telah sadar. Siap beralih ke prosedural selanjutnya," kata Wanita berseragam yang sama, dengan orang yang dipanggil Profesor Gun.
"Iya, profesor Lin! lakukan pemindaian. Pastikan semua bagian tubuhnya telah murni dari Radiasi!" perintah profesor Gun, kepada Wanita yang dipanggil Profesor Lin.
Segera Profesor Lin, melakukan pemindaian. Dia menekan beberapa tombol di Alat yang berada di samping Tabung Kaca.
Cahaya laser berwarna merah terlihat naik turun di permukaan Tabung Kaca, memindai tubuhku. Lalu kudengar suara wanita, yang mungkin sebuah program pintar dari alat itu. Menjelaskan kondisi tubuhku.
"Objek no. Tujuh, status bebas Radiasi. Semua bagian tubuh, status baik. Kondisi Prima."
Mendengar itu Profesor Lin, segera menekan kembali Tombol. Air jernih kehijauan itu, surut. Tersedot ke dalam saluran yang ada di bawah. Tabung kaca itu juga perlahan naik ke atas.
Setelah semua itu, beberapa orang mengenakan pakaian khusus. Tertutup semua tubuhnya. Mirip seorang Astronot, yang sering kulihat di film, mulai membuka semua selang yang ada di tubuhku.
Memberikan sebuah pakaian berbahan khusus, yang aku tidak pernah melihatnya. Karena malu, pada saat itu tubuhku polos. Tanpa ada sehelai benangpun menutupinya. Dengan sangat cepat aku mengenakan pakaian yang diberikan.
Karena penasaran, aku segera bertanya dimana sebenarnya keberadaanku. Untung nya bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Inggris. Jadi aku bisa berkomunikasi dengan mereka.
Setelah mereka menjelaskan, dan juga bertanya balik padaku. Aku langsung shock.
Aku kini tersesat ke masa depan. Tahun ini adalah tahun 2222. Pantas saja semua yang kulihat begitu asing.
Lalu bagaimana aku kembali ke masa lalu? Masa darimana aku berasal.
Sejuta pertanyaan yang tak terjawab, memenuhi kepala, dan pikiranku.
Apakah aku harus hidup di zaman ini? hidup di era yang benar-benar aku tidak bisa bayangkan. Bagaimana aku bertahan di zaman ini? bagaimana kedua orang tuaku? mereka pasti panik mencariku. Apakah aku harus terkena Petir lagi, untuk kembali kemasa lalu?
Semua pikiran itu menghantuiku. Sampai aku tak menyadari perkataan-perkataan Profesor Gun, dan Profesor Lin.
Untungnya mereka menyadarinya. Memang mereka telah mengidentifikasi. Bahwa aku memang berasal dari masa lalu. Dengan Teknologi Canggih mereka.
Oke aku menerima takdir ini. Sekarang masalahnya, aku hidup dimana? pekerjaan apa yang seharusnya aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupku? sedangkan aku, lulus sekolah tingkat menengah saja belum. Pekerjaan apa yang bisa aku lakukan disini? sedang semua pekerjaan, hampir sebagian besar dilakukan oleh Robot.
****