Ketika malam hari telah tiba, rasa lapar dan haus menyergapinya. Dia keluar dari makamnya dengan banyak kelelawar sekelilingnya, dan dia berkeliaran dengan menunjukkan taringnya yang runcing dan dia menghisap darah siapapun yang dia lihat.
Tema 12 #Ruangasing By.Eouny Jeje
***
"Aku tidak pernah percaya Vampire itu ada! Penghisap darah itu tidak ada!" ujar Azalea usai menekan tombol off, mematikan telivisi, mengakhiri tontonan drama Vampire, yang terlihat membosankan baginya.
"Jika aku bertemu Vampire, aku akan membunuhnya dengan garpu, dan membakarnya menjadi santapan makan malamku, ha ... ha ... ha...," geli Azalea pada dirinya sendiri dan menusuk potongan hotdog dengan garpunya, dan mengunyahnya dengan cepat.
Selesai makan, dia kembali berbaring di atas sofa, dan mulai membaca beberapa artikel tentang Vampire. Tanpa sadar waktu membawanya tertidur dengan sangat cepat, dan terlelap pulas.
***
Azalea terbangun dan melihat sekelilingnya telah berubah seketika. Dia kembali ke rumah sakit, tempat dirinya bekerja, dan saat ini adalah posisi dirinya berjaga sampai larut malam.
"Secepat itukah hari berlalu." Azalea merasa aneh. Namun, dia tidak menggubrisnya kembali. Dia hanya menatap banyak kantong darah di atas meja. Dia mengira-ngira dirinya telah tertidur saat memeriksa sampel darah. Azalea melanjutkan pekerjaannya.
Tidak memakan waktu lama, Azalea dengan waktu singkat menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang teknisi laboratorium klinis. Dia meletakkan kembali semua perkakas setelah dia menyelesaikan pemeriksaan sampel darah dari setiap kantong darah yang akan dia antarkan ke lemari penyimpanan darah.
Azalea membawa beberapa kantong darah dalam tampungan kedua tangannya, dia berjalan dengan menahan kantuknya. Terlihat sekali-kali dia menguap menuju ruang peyimpanan darah.
"Aneh! padahal aku telah tidur cukup. Masih saja lelah dan mengantuk," keluh Azalea usai menguap sekali lagi.
Ketika, ruangan itu telah berada di depan matanya. Sepasang matanya membulat, rasa mencekam terasa mengikutinya. Azalea segera menepis kantuknya. Kret! Dia mendorong pintu perlahan dengan lutut kakinya, karena kedua tanganya penuh dengan kantong darah.
Kres! Kres! Kres! Azalea menghentikan langkahnya, dia mendengar suara berisik seperti seseorang yang sedang menyeruput sesuatu dengan sangat rakus. Azalea menajamkan pendengarannya, dan berjalan mengikuti ke arah asal suara tersebut.
Kresssss!!! suara itu makin jelas. Azalea terperanjat sesaat, dia tidak berani melangkah lebih jauh lagi, dia bergindik akan setiap kantong darah yang berserakan di lantai, dan setiap ubin keramik terlihat cipratan darah yang menghias lantai marmer putih itu.
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘬𝘶𝘵𝘬𝘢𝘯 ..., bisik batin Azalea menerka-nerka suara yang terdengar rakus di balik meja yang dia lihat. Kres! Kres! Kres!
Azalea berbalik dan berencana pergi dengan berteriak. Tetapi suara Blam! mendahului langkahnya. Pintu ruang peyimpanan tertutup. Lampu padam seketika.
Raga Azalea bergetar kuat. Setiap kakinya kaku, dan lidah ya kelu, dia kehilangan setiap katanya. Lalu, sepasang matanya membulat besar, seakan setiap biji matanya bersiap melompat kala dia melihat sosok pria yang merangkak keluar dari kolong meja, dia terlihat merangkak dengan lidah yang menjilat setiap cipratan darah di lantai.
"A- apa i-ini ha-hantu?" gugup Azalea merosot ke lantai. Sosok tersebut mengangkat kepalanya kala dia mendengar suara yang terdengar merdu dan manis.
"Suara manusia hidup memang sangat menggugah diriku untuk menyantapnya hidup-hidup."
Azalea mengerjapkan matanya, rasa takut dan cemas menyelimutinya seketika, kala dia mendengar ancaman yang nyata dan jelas. Sosok tersebut merangkak sangat cepat mendekatinya.
Makin dekat makin jelas sosoknya. Taring yang panjang dengan darah yang menghias sekeliling bibirnya, sepasang matanya biru terkesan sangat menawan.
"K-kau vam-vampire!" Azalea berlonjak ketakutan. Berusaha menggapai ganggang pintu, untuk membantunya berdiri. Namun, tubuhnya kembali tersentak oleh satu kekuatan yang tidak terlihat.
"Apaan sih?" Azalea melempar satu kantong darah pada sosok tampan sekaligus sosok yang mengerikan juga. "Makanlah!"
Sosok tersebut mengindahkan kantong darah yang di lempar padanya.
"Aku hanya ingin menghisap darahmu!"
Mangsa di depannya terlihat lebih menarik naluri dirinya sebagai Vampire yang haus akan darah segar. Dalam sekejap dia menerkam sosok tersebut, dan membuat batang leher wanita tersebut di bawah cengkraman bibirnya. Bibirnya terbuka perlahan, dan gigi taring yang runcing terlihat, dan perlahan jatuh menerkam batang leher tersebut. Gigi taring tersebut menancap seketika. Mata Azalea membulat dan raganya mengejang seketika, gigi taring itu telah melubangnya, dan menghisap darahnya.
"Aaaaa!" teriak Azalea berusaha mendorong kekuatan taring gigi yang mengisap seluruh darah miliknya. Perlahan pandangan Azalea menjadi sangat gelap dan makin tak terlihat. Lalu, napasnya tersisa satu hanya satu. Jantungnya mulai berdetak pelan dan sangat pelan.
Sosok tampan bermata biru langit tersebut elah terpuaskan rasa hausnya, dan dia mendadak lapar, "Dagingmu pasti sangat lembut!"
Sosok tersebut berdiri, dan dalam sekejap raga Azalea berada dalam gendongan tangannya, "Pastilah kau akan menjadi daging manis yang harum jika di bakar."
Azalea samar-samar mendengar ancaman tersebut. Namun, dia tidak memiliki tenaga untuk bangun, dan untuk membuka matanya saja, dia tidak memiliki kemampuan tersebut. Dia hanya merasakan angin seakan membawanya pergi ke suatu tempat yang asing. Tanah yang lapang, dan terdengar suara ranting kayu yang di lahap api yang berkobar merah.
"I-ini!" Azalea ketakuatan, mendorong dirinya segera membuka mata, dan melihat api yang berkobar di depan matanya.
"Aku ingin membakarmu!"
Azalea menggelengkan kepala dengan ketakutan.
"Bukankah kau ingin menusukku dan membakarku. Tetapi, akulah yang akan lebih dulu melemparmu ke api yang berkobar merah dan panas!"
Azalea terkesiap teringat akan apa yang pernah dia katakan sendiri.
𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘝𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳𝘦, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘨𝘢𝘳𝘱𝘶, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘵𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮𝘬𝘶, 𝘩𝘢 ... 𝘩𝘢 ... 𝘩𝘢....
Azalea meronta dalam gendongan pria bermata biru. Namun, di detik selanjutnya dia merasakan tubuhnya terbang di atas udara, dan gravitasi mengantarnya turun ke api yang berkobar dan rasa panas dan api merah mulai membakar seluruh tubuhnya. Setiap lapisan kulitnya bagai tergoreng dan melepuhkan lemak. Rasa terbakar yang sangat menyakitkan.
"Panas sekali! Tidakkkkkk!"
****
"Tidak! " Azalea terbangun seketika dan peluh keringat membanjir seluruh tubuhnya. Dia menatap langit-langit ruang tamunya. Tatapannya kosong sesaat. Dia segera beranjak bangun, memposisikan dirinya duduk di sofa.
Azale mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada yang berubah. Hanya saja, Hotdog di piring terlihat belum dia sentuh. Seingatnya, dirinya telah memakannya habis.
Lalu, pandangannya jatuh pada Telivisi terlihat masih menyala. Seingatnya, dia telah mematikan telivisi.
Azalea mengerjapkan matanya berkali-kali melihat sosok tokoh utama yang terlihat sangat mirip dengan sosok yang menghisap darahnya dan membakar dirinya hidup-hidup, sosok tersebut terlihat menyeringai dengan taring yang runcing padanya. Kemudian, sosok tampan bermata biru itu kembali masuk ke dalam makamnya yang terlihat sangat gelap, dan dia berbaring masuk ke dalam peti matinya, dengan di ikuti banyak kelelawar yang mengelilingi peti mati tersebut.
"Ternyata Vampire itu ada." Azalea bergindik takut memeluk lututnya.
*****
Tamat
Jangan lupa dukung cerita dengan like dan tinggalkan komentar yang mendebarkan.