Suatu hari yang cerah, aku duduk di kamarku dengan selembar kertas kosong di tangan. Guru memberikan tugas untuk mengarang tentang persahabatan.
Aku tidak tau apa yang harus aku tulis di kertas kosong itu. Selama ini tidak ada yang mau berteman denganku, baik itu di sekolah ataupun di desaku.
Aku hanya seorang gadis kecil yang hidup dalam keluarga yang kurang mampu. Mungkin sebab itulah tidak ada yang mau berteman denganku. Ku hela nafasku sekali dan berhenti menatap kertas kosong itu.
“Ayako ...!!!”
Ku palingkan wajahku saat mendengar panggilan dari ayah. Dengan segera aku bangun dari dudukku dan berlari ke luar kamarku. Aku tersenyum saat mengingat janji ayah kalau dia akan memberikan aku sebuah hadiah sebagai kado ulang tahunku yang sempat tertunda satu bulan yang lalu.
“Ayah ...!” seruku dengan riang.
“Ayako, ini hadiah yang ayah janjikan untuk putri Ayah!”
“Wahhh ...!!!”
Mataku berbinar saat melihat hadiah yang diberikan ayah untukku. Aku benar-benar sangat senang sekali. Seekor anjing putih imut berbulu lebat seperti gumpalan awan di langit. Aku meloncat-loncat kegirangan melihat hadiahku itu.
“Ambil lah, Nak” ucap ayah mengulurkan tangannya yang menggendong anjing itu kearahku.
Segera ku sambut uluran tangan ayahku itu, aku begitu terkejut saat menyentuh bulu putih anjing itu. Bulunya sangat lembut dan putih seperti salju, matanya berbinar melihat kearahku. Ekornya mulai bergerak-gerak, sepertinya dia menyukaiku.
“Terima kasih Ayah, aku sayang Ayah ...!”
Ku peluk erat hadiahku itu, rasanya ini adalah hadiah terbaik yang pernah ku terima. Dulu aku sangat suka melihat anjing peliharaan teman sekelasku yang sering dia bawa ke sekolah. Dan sekarang aku sudah punya anjing peliharaanku sendiri. Aku akan merawatnya sepenuh hati dan akan selalu menyayanginya.
Miki adalah nama yang aku berikan untuk anjing kesayangnku itu. Hari-hariku sekarang tampak lebih berwarna. Saat di sekolah aku selalu teringat dengan Miki, rasanya aku tidak sabar untuk segera pulang dan bermain dengan Miki. Saat bel pulang sekolah berbunyi, aku bergegas memasukkan bukuku ke dalam tas dan segera berlari pulang ke rumah.
“Miki ....!!!” sorakku diambang pintu rumah.
“GUK-GUK ...!!!” (suara Miki)
“Miki ...!!! hahahaha.... aku menyayangimu Miki ...” seruku senang saat Miki berlari ke arahku dengan tingkah lucunya.
Ku tinggalkan tasku di pintu dan berlari ke luar bersama Miki. Aku tertawa dan bercanda bersama Miki, aku sangat bahagia karna sekarang aku tidak sendirian lagi. Sekarang aku punya teman yang selalu berasamaku, bermain denganku, berlari bersamaku, dan selalu menghiburku saat aku sedih. Miki adalah sahabatku, dia akan selalu menjadi sahabat terbaikku. Aku akan selalu menyayangi Miki sepenuh hatiku, apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan Miki sedirian.
“Miki, kita adalah sahabat sejati! Aku tidak akan meninggalkanmu, kau juga harus berjanji padaku kalau kau juga tidak akan meninggalkanku dan selalu bermain denganku, ya!”
“GUK! GUK!” (suara Miki)
“Hahaha haha ... geli ...! Miki ... itu geli!” seruku saat Miki menggosokkan wajahnya ke wajahku.
Hari ini aku juga harus meninggalkan Miki di rumah, karna aku tidak boleh membawanya ke sekolah. Aku sedikit tidak rela meninggalkannya sendirian, hatiku rasanya sakit saat melihatnya terus mengeluskan wajahnya di kakiku.
“Miki, aku harus ke sekolah. Nanti setelah aku pulang kita akan bermain lagi, ya!” ucapku pada Miki.
Aku segera berjalan ke luar, tapi saat memalingkan wajahku ke belakang, aku melihat Miki juga mengikutiku. Ku bawa Miki mendekat ke pagar kayu rumahku.
“Miki! Aku harus ke sekolah sekarang, kau tidak boleh mengikutiku!”
“GUK! GUK!” (suara Miki)
Miki terlihat sedih dengan ucapanku, tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa membawanya ke sekolah bersamaku. Namun, ada satu kata yang sangat dipatuhi Miki dari ku. Jika aku mengatakan kata itu, dia tidak akan melanggarnya sebelum aku kembali padanya. Hari ini aku harus mengataknnya, aku tidak ingin guru mengambil Miki kesayanganku.
“Miki! Tunggu di sini!” seruku dengan suara sedikit tinggi.
Miki langsung duduk ditempatnya berdiri, dan dia tidak lagi mengikutiku. Dia tidak akan bergerak jika aku belum memanggil namanya lagi. Aku langsung bergegas ke sekolah, Miki hanya melihat kepergianku di depan pagar kayu rumahku. Dia akan setia menungguku kembali padanya.
Hari sudah siang, bel pulang sekolah akan segera berbunyi. Hari ini aku akan pulang sedikit terlambat, karna aku harus melakukan tugas piketku. Aku segera bergegas membersihkan kelas agar aku bisa cepat pulang dan menemui Miki. Selesai merapikan semua kursi dan membersihkan semua sampah dan debu, aku segera mengambil tasku dan bergegas pulang ke rumah. Saat hampir sampai di rumah, aku melihat Miki tengah dikerumuni oleh anak-anak di lingkungan rumahku. Mereka terlihat suka dengan Miki, aku segera menghampiri Miki yang masih duduk di tempat yang sama saat pagi tadi.
“Miki!” panggilku.
Miki langsung berlari kearahku, dia sepertinya sangat senang melihat aku pulang. Semua tatapan anak-anak itu tertuju padaku, aku tidak berani melihat kearah mereka. Aku hanya menundukkan kepalaku kearah Miki yang berada dalam pelukanku.
“Dia anjingmu?” tanya salah satu dari mereka.
Sontak aku segera melihat kerahnya, “I... iya, dia anjingku.” Jawabku singkat dengan suara terbata-bata.
“Wahhh! Benarkah! Dia anjing yang lucu sekali ...!” seru mereka.
Aku hanya diam melihat respon mereka, aku tidak tau apa yang harus ku jawab. Haruskah aku berterima kasih karna mereka memuji Miki? Aku tidak tau harus berkata apa, sudah lama sekali aku tidak bicara dengan anak-anak sebayaku.
“Namanya Miki ya?!” tanya mereka.
“E... eumh,” anggukku sekali.
“Wahhh! Dia punya nama yang lucu! Kami sangat menyukai Miki, apa boleh besok kami berkunjung lagi ke rumahmu?” tanya mereka padaku.
Aku begitu terkejut mendengar pertanyaan mereka barusan. Aku tidak yakin apa jawaban yang harus aku berikan. Selama ini tidak ada yang mau berteman denganku, tapi mereka tiba-tiba ingin berkunjung ke rumahku. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku biarkan saja mereka berkunjung ke rumahku?
“Bagaimana? Boleh kami ke rumahmu?” tanya mereka kembali.
“GUK! GUK!” (suara Miki)
Aku menurunkan pandanganku kearah Miki yang melihat ku dengan bola matanya yang berbinar. Aku rasa Miki menyuruhku untuk menjawab iya. Baiklah, aku akan setuju kali ini, mungkin saja ini adalah awal kebahagianku yang baru.
“ Boleh, kalian boleh berkunjung ke rumahku lagi. Aku akan mebiarkan kalian bermain dengan Miki,” Putusku.
“Wahhh ...!!! terima kasih! Oya, siapa namamu?” tanya mereka.
“Ayako! Namaku Ayako.” Jawabku dengan senyuman.
Akan kah hari-hariku sekarang semakin berwarna? Aku benar-benar sangat berterima kasih pada Miki, karna dia aku bisa memiliki teman sekarang. Aku memeluk Miki dengan erat, Miki adalah penyelamatku.
Hampir setiap hari teman-teman baruku berkunjung ke rumahku, sekarang aku sudah tidak canggung lagi dengan mereka. Aku sudah berteman baik dengan mereka, mereka juga sering mengajakku dan Miki bermain keluar bersama mereka. Namun, tidak dengan hari ini, mereka hanya ingin bermain denganku.
“Ayako, aku dengar ada pertunjukan di lapangan, ayo kita ke sana!” ajak temanku.
“Benarkah?! Ayo!” seruku semangat.
Aku dan tiga teman perempuanku bergegas ke luar dari rumahku menuju ke lapangan. Namun, seperti biasa Miki akan mengikutiku. Ku palingkan tubuhku dan mendekat kearah Miki.
“Miki! Tunggu di sini!” perintahku pada Miki.
Miki segera duduk di depan pintu rumah, dia tidak mengikutiku lagi. Hari ini aku tidak keluar bermain dengan Miki. Aku membiarkan Miki tetap di rumah sendirian menelan perintahku dalam pikirannya. Akhirnya aku pergi bersama dengan teman-temanku kelapangan.
Hari sudah senja, matahari sudah memerah di langit. Aku dan teman-temanku mengakhiri petualang kami hari ini. Aku segera berpamitan pada mereka dan pulang ke rumah. Saat aku membuka pintu rumah, terlihat Miki masih duduk di sana tanpa bergerak. Mungkin sudah cukup lama Miki duduk dalam posisi itu. Aku segera masuk dan menutup pintu, hari ini sangat melelahkan dan mengasyikkan.
Sekarang aku sudah tidak sering lagi menghabiskan waktuku dengan Miki. Aku lebih sering pergi bermain bersama teman-temanku. Miki hanya duduk diam di rumah sambil menanti kepulanganku. Dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku.
Suatu ketika, di malam yang sunyi dan gelap, orangtuaku berencana untuk pergi dari desa yang kami tinggali. Ayah sudah tidak sanggup membayar hutangnya kepada rentenir yang setiap saat menagihnya pada ayah. Ayah sudah tidak ada pilihan lagi selain pergi dari desa. Ibuku sempat menolak keputusan ayah, tapi setelah melihat situasi yang semakin menekan, akhirnya ibu setuju dengan saran dari ayah untuk pergi dari desa. Aku sebagai anak hanya bisa duduk diam mendengarkan mereka. Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku hanya bisa mengikuti ke mana mereka pergi. Aku memeluk Miki dengan erat, setidaknya Miki bersamaku. Namun, aku membeku saat ayah mengatakan padaku kalau kami tidak bisa memelihara Miki lagi. Jika Miki masih bersama kami, maka pelarian kami akan terganggu dan kami tidak bisa leluasa bersembunyi dari para rentenir.
“Tidak Ayah! Ayako tidak mau maninggalkan Miki! Tidak mau!” kupeluk erat tubuh Miki dalam dekapanku.
“Ayako, kita tidak bisa menbiarkan Miki bersama kita lagi. Biarkan saja dia dirawat oleh orang lain.” Kata ibuku.
“Tapi Bu ... jika terjadi sesuatu pada Miki bagaimana?! Jika tidak ada yang ingin merawatnya bagaimana?” tanyaku diiringi isakan.
“Ayako, ibu mohon ... jangan keras kepala seperti ini, Miki tidak akan kenapa-napa. Dia akan baik-baik saja, ya!” tekan ibuku.
Aku semakin erat memeluk tubuh Miki yang hangat. Air mataku terus mengalir ke pipiku. Hatiku begitu sakit jika harus berpisah dengan Miki, dia adalah sahabatku. Namun, tidak ada yang bisa aku lakukan, aku tidak bisa egois seperti ini. Aku juga harus memikirkan orangtuaku, mereka sudah banyak mencucurkan keringat untukku. Baiklah, aku akan melepaskannya, aku akan meninggalkannya demi mereka.
Pagi itu, aku membawa Miki ke persimpangan jalan desa. Miki terlihat senang karna aku mengajaknya jalan-jalan. Dia tidak hentinya menggong-gong dan mengibaskan ekornya. Miki terlihat begitu ceria dan bahagia. Aku tidak bisa menahan air mataku saat melihatnya. Hatiku sangat sakit, andaikan saja Miki tau kalau aku akan meninggalkannya di sini, dia pasti tidak akan mau ikut bersamaku.
“Miki ... maafkan aku ... aku tidak bisa menepati janjiku padamu, aku ... hiks ... aku tidak bisa bersamamu lagi, aku tidak bisa bermain dengan mu lagi.” Ku lepaskan tali gengamannya dari tanganku.
“GUK! GUK!” (suara Miki) berjalan mengikutiku.
“Miki! Tunggu di sini!” perintahku.
“Guk-guk!” (suara Miki)
Aku segera berpaling dan berjalan meninggalkan Miki yang duduk di sana tanpa bergerak.
“Guk-guk ... guk-guk!” (suara Miki)
Hatiku begitu perih saat mendengar suara Miki yang seakan memanggilku. Apa dia sedih? Apa dia takut? Apa dia akan baik-baik saja? Apa ada orang yang mau merawatnya nanti? Otakku dipenuhi dengan kecemasan yang tidak ada ujung. Pada akhirnya aku meninggalkan Miki dan melanggar janjiku.
Dua bulan telah berlalu, dua bulan tanpa Miki di sampingku. Pasti Miki sudah dirawat oleh seseorang sekarang. Dia adalah anjing yang baik dan ramah, dia pasti akan disukai oleh siapapun, begitu pikirku. Namun, hatiku berkata lain, aku merasa gelisah. Aku merasa sesuatu telah terjadi pada Miki. Tanpa sepengetahuan orangtuaku, aku memutuskan untuk kembali ke desaku yang dulu untuk memastikan keadaan Miki di sana.
Hanya perlu satu jam perjalanan aku sampai di desaku yang dulu. Aku segera bergegas menuju ke tempat di mana dulu ku tinggalkan Miki di sana. Tiba-tiba tubuhku begitu berat, seakan aku tak bisa melangkahkan kakiku lagi saat melihat sesuatu yang sangat ku kenal tergelatak di tanah. Aku mencoba terus melangkah dan mendekat, tapi tubuhku tiba-tiba gemetar dan nafasku tidak teratur.
“Mi ... Miki ... Miki ... Miki!!!” teriakku.
Tubuhku terjatuh terjerembab ke tanah yang dingin. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Tubuh Miki sangat kotor, bulu halusnya sudah tak mengembang lagi. Mata kecilnya tak sepenunya terbuka lagi, nafasnya tak beraturan. Dia begitu kecil, dia begitu lusuh, dia terlihat sangat kesakitan. Apa yang terjadi denganmu sahabatku?
“Mi ... Miki...” panggilku dengan suara yang bergetar.
Dia tidak menjawabku, dia tidak melihat kearahku, dia tidak berlari ke pelukanku.
“Miki... ini aku ... kau tidak merindukanku? Miki ...?” bisikku padanya.
“Apa kamu pemiliknya?” tanya seseorang di belakangku.
Aku segera memalingkan wajahku ke belakang. Terlihat seorang kakek tua berdiri tegak di belakangku.
“Iya, saya pemiliknya,” jawabku.
“Baguslah kalau begitu, diakhir hidupnya dia bisa melihat tuannya lagi.” Ucap kakek tua itu.
“Apa maksud Kakek?” tanyaku tidak mengerti dengan ucapannya.
“Dia tidak mau ikut dengan siapapun. Banyak sekali orang yang ingin merawatnya, tapi dia tidak mau ikut sama sekali. Bahkan, dia juga tidak ingin makan atau minun. Di terus duduk sepanjang waktu di sana. Dia tidak bergerak sama sekali, bahkan hanya untuk berdiri. Dia terus menunggu dengan setia di sana. Sampai seluruh tenaganya telah hilang, dia masih tidak mau ikut dengan siapapun. Dia begitu setia menunggu tuannya. Syukurlah kau di sini Nak, setidaknya dia bisa melihat wajahmu sekali lagi.” Jelas sang Kakek.
Hatiku seakan dihantam palu yang besar, rasa bersalahku ini tidak akan pernah bisa ku hapus dari ingatanku. Semua salahku, jika saja aku tidak meninggalkannya di sini, mungkin saja Miki tidak akan seperti ini. Dia tidak akan menderita seperti ini, dia tidak akan sakit seperti ini, dia tidak akan menungguku di sini.
“Maafkan aku Miki, maafkan aku ... maafkan aku ...”, “Miki ... lihatlah aku di sini, aku di sini bersamamu, Miki ... kau bisa mendengarku ... jawablah aku Miki ... kumohon!”
“Guk ...” (suara Miki)
“Miki! Miki ... kau tidak apa-apa?! Miki!”
“Dia sudah tiada, Nak.” Ucap sang kakek yang menghujam tepat ke lubuk hatiku.
“Miki ... Miki ku mohon jangan tinggalkan aku ... Miki! Miki! MIKI ...!!!!!!” jeritku penuh kepedihan.
Akhirnya aku yang meninggalkanmu, aku yang bersalah padamu. Aku menghancurkan hari-hari bahagia bersama denganmu. Aku yang melanggar janjiku padamu. Disaat kau bahkan tidak pernah berpikir untuk meninggalkanku, dengan kejamnya aku meninggalkanmu sendiri. Miki, jangan pernah maafkan aku, dan terima kasih untuk semua kebahagiaan dan tawa yang kau berikan untukku. Terima kasih telah menjadi sahabatku, Sayonara MIKI.
~The And~
like and komennya 👍😎