Namaku Hijriah gadis remaja yang baru saja berumur 19 tahun, aku seorang yatim piatu untungnya diriku masih bisa hidup dengan layak di sebuah panti asuhan.
Sedari bayi aku tak pernah melihat ibuku, namun dengan begitu kasi sayang yang di diberi oleh Umi Jannah lebih dari cukup dari kasi sayang seorang ibu bagiku, yah Umi Janna atau biasa di kenal dengan Daeng janna adalah pengasuhku sekaligus pendiri panti asuhan di kota ini.
Sayang satu tahun lalu Umi Jannah harus menghembuskan nafas terakhir karena penyakit asma yang di deritanya, wanita baik hati yang hanya meninggalkan seorang putra bernama Andi Yusuf Qarib, yang tentunya lebih tua dariku.
Dirinya yang berstatus sebagai Ustadz disebuah pondok yang berada di kalimantan membuatnya jarang berkunjung ke Makassar, sedangkan suami Umi Janna sudah lebih dulu meninggalkan mereka ketika Yusuf masih duduk di bangku kelas 3 sd, walau dengan begitu Umi Janna tetap tegar menjalani ujian yang diberikan oleh Allah swt.
Setelah mendengar cerita itu dari tante Jira membuatku bangga bisa di rawat oleh Umi Jannah walau tak sempat berbalas budi kepadanya.
Tante Jira saudarah kandung dari Umi Janna dirinya baru saja menetap di Makassar, setelah berpindah dari jakarta. Ia memiliki seorang anak perempuan yang masih berumur 8 tahun bernama tag Zulaikah, dan suami yang bernama Kaliq yang berstatus sebagai pengusaha. Diriku mungkin tak memiliki Ibu dan Ayah tapi semua itu seolah terganti dengan kehadiran mereka semua di Dunia Hijriah.
Kota kelahiranku yang biasa di sebut kota ujung pandang atau Makassar disini diriku merintih karir sebagai seorang hafiz Qur'an, setiap harinya diriku hanya menghabiskan waktu dengan menghafal setiap ayat al-quran dan sesekali bermain dengan anak panti asuhan yang juga hampir bernasib sama denganku. Hari ini tante Jira memintaku untuk bersiap katanya kami akan berkunjung ke makam umi Jannah berhubung putra semata wayangnya juga tiba hari ini.
Setelah bersiap tante Jira memintaku menunggu di luar panti, sementara dirinya tengah mengurus anak perempuannya terlebih dahulu, beberapa menit berlalu sebuah mobil kini berhenti di depanku membuatku enggan berbalik tanpa di sadari sebuah suara dingin mengagetkanku.
"Assalamualaikum.." ucapnya membuatku sekilas menatap sang empu suara, yah dia Yusuf putra Umi Janna yang berhasil membuatku saat ini keringat dingin.
"Wa.. Waalaikum salam.. " jawabku masih dengan pandangan yang tertujuh kebawah, bukannya wajah pria di depanku galak sehingga diriku enggang menatapnya namun ketampannya lah yang membuatku ragu menatapnya, siapapun gadis yang melihat wajah pria itu munafik jika mereka mengatakan pria itu jelek. Tubuh kekar, kulit yang lumayan putih dan lensung pipi membuatnya semakin tampan.
Setiap kali dirinya berada di dekatku membuatku tak pernah berhenti untuk beristigfar, entahlah rasa apa yang saat ini ku rasakan tapi otakku selalu saja traveling kemana mana.
'Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban' "Maka nikmat tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan."
Beberapa menit berlalu suasana masih hening diriku dan dirinya masih enggang untuk memecahkan keheningan hingga saat suara tante Jita mengagetkan kami.
"Yusuf kapan datangnya sayang?" tanya tante Jira namun sama sekali tak membuat ku menatap pria itu.
"Baru aja Tant, tapi yang lama nunggu kayanya Hijriah" balasnya membuatku auto mendongak karena kaget namaku lagi lagi terjual olehnya, namun pada saat menatap pria itu mataku tak sengaja bertubrukan dengan manik matanya yang indah membuatku terasa tersengat listrik dan lagi lagi beristigfar di dalam hati.
"Haha, yaudah kita berangkat ajah mumpung Zulaiqah lagi asik main" saran tante Jira dan di angguki Yusuf sedangkan aku hanya ikut ikut saja.
Sepanjang perjalanan semuanya hanya diam, pria di depanku masih fokus menyertir sedangkan tante Jira sibuk dengan ponselnya dan dirinya sesekali tersenyum membuatku mengerti bahwa dirinya tengah chatting dengan sang suami.
"Ehkm asik banget Tant, Tetta gimana kabarnya" suara barito kini lagi lagi membuatku keringat dingin padahal dirinya berbicara ke wanita di samping ku bukan aku.
"Gitu gitu ajah Suf, cuman tambah ngeselin hehe" jawab tante Jira sedangkan aku masih fokus menatap keluar jendela.
Suasana hari ini sedikit mendung membuat kelopak mataku serasa ingin tertutup, tanpa disadari mataku menangkap seorang gadis kecil yang saat ini tengah bermain dengan sang ibu, wajahnya tampak ceria di barengi tawa di antara mereka, melihat pemandang itu membuatku rindu dengan perlakuan seorang Umi Jannah wanita yang senang hati menggantikan posisi ibu kandungku yang saat ini entah berada dimana.
"Hijriah liatin apa?" sebuah pertanyaan membuat lamunan ku buyar, benar saja tante Jira saat ini tengah melirik ke arah ku dengan tatapan bingung untung saja diriku belum meneteskan air mata, disisi lain pria yang tengah mengendarai mobil ternyata juga ikut melirik ke arah ku melalui kaca.
"Eh anggak kok tante itu cuman liatin anak kecil, pipinya lucu gemmoy lagi" ucapku asal asalan membuat tante Jira tersenyum ke arahku.
"Hijriah mau kuliah atau ada rencana lain kedepannya?" tutur wanita parubaya di sampingku membuat ku gelagapan bagaimana tidak semua yang dikatakan tante Jira sama sekali tidak terlintas di benakku untuk memikirkannya. Dengan sedikit jujur akupun menjawabnya
"Belum difikirin sih Tant hehe, apalagi urusan kuliah soalnya tabungan Hijriah kayanya belum cukup"
"Loh kok gitu sih, harus difikirin dongk dan untuk kuliah kamu kan Umi Jannah udah urus" balas Tante Jira membuatku sedikit tidak enak.
"Fokus hafalan dulu Tant, soal dunia kan bisa di tunda kalo akhirat gak bisa Tant" jawabku tersenyum tipis, sedangkan tante Jira sedikit tertawa.
"Nah tante mau nanya lagi, Hijriah kapan siap sempurnain agama?" pertanyaan kali ini membuatku menyengirtkan dahi membuat seulas senyum tercipta di wajah wanita di sampingku.
"Gini semisal ada seseorang yang mau nuntun kamu ke surganya Allah, ajak Nikah gitu Hijriah mau nggak?"
Deg!
Menikah di umur mudah seolah tak pernah terbayang di benakku, bukannya tidak ingin menyempurnakan agama hanya saja dirinya masih ragu berinteraksi dengan lawan jenis, contohnya saja dirinya dengan Yusuf yang sama sekali tidak pernah terlibat percakapan panjang.
"Kok diam? Tante salah omong yah?"
"Eh'nggak kok Tant, kalo soal itusi Hijriah serahin ke Allah, Hijriah cuman berharap kelak seseorang bisa mencintai Hijriah karena Allah dan benar benar tulus ingin menuntun Hijriah ke surganya Allah swt." jawabku sedikit tersenyum dan Tante Jira mulai mendekat mengelus puncak jilbabku.
Setelah mengendarai mobil beberapa jam akhirnya kami sampai di sebuah pamakaman, pemakaman yang berada tak jauh dari pemukiman warga.
"Yusuf tuntun doanya yah" ucap tante Jira dan langsung di jawab anggukan oleh Yusuf.
Beberapa menit kami masih menatap batu nisan yang bertuliskan nama Umi Jannah, Yusuf tak henti hentinya mengelus batu nisa itu sedangkan tante Jira masih membaca surah yasin, akupun hanya menatal sendu batu nisan itu berharap wanita parubaya itu tenang di alam sanah.
Setelah menyelesaikan bacaannya tante Jira kemudian berganti posisi dengan Yusuf dan kemudian mengelus batu nisan di depannya.
"Assalamualaikum Kak, maaf adikmu ini jarang berkunjung, walaupun begitu kami berharap Kaka tenang di sanah soal putramu tenang dia aman dengaku dan soal calon menantumu dia juga aman, pesan Kaka bentar lagi akan ku sampaikan semoga semuanya lancar" ucap tante Jira membuat Yusuf tersenyum sedangkan aku masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh wanita parubaya itu.
Langit mulai mendung membuat kami harus bergegas meninggalkan pemakam namun sebelum melangkah diriku kembali berjongkok menatap batu nisan di depanku.
"Hijriah pulang Umi makasih udah mau jadi dunia Hijriah, doakan Hijriah Umi" ucapku tersenyum simpul kemudian beranjak karena hujan mulai turun, air yang turun kini mulai membasahi jilbab panjang yang ku pakai membuat ku lebih cepat berjalan hingga sebuah benda bertenggar di atasku membuat air tak lagi menetesi tubuhku.
Dirinya semakin indah dimataku, bisa kah kukatakan saat ini diriku tengah dalam keadaan khilaf, bagaimana tidak diriku seolah teripnotis dengan kehadiran seorang bertubuh kekar dengan peci yang bertenggar indah di kepalanya, urat tangannya kini terlihat jelas yah dirinya kini tengah berada tepat di depanku dengan payung di tangannya.
Aku hanyut dalam pesona nya, waktu seakan terhenti namun detak jantungku semakin bekerja lebih giat rasanya kupu kupu kini tengah memenuhi seluruh isi perutku, oh tidak ini semua salah batinku dan segerah beristigfar.
"Maaf bisakah kita segerah berjalan" ujarnya membuatku salah tingkah sendiri.
Hujan mulai mengguyur kota Makassar membuat seluruh pejalan kaki berlarian mencari tempat untuk berteduh, sedangkan di dalam mobil kini diriku hanya hanyut dalam fikiran hujan ini seakan membawaku ke masa masa itu dimana umi Jannah memarahiku karena diriku slalu saja bermain hujan dan berakhir terbaring di kasur, diriku rindu dengan wanita itu.
Flashback
"Jia jangan main hujan, nanti kamu sakit sayang" teriak seorang wanita parubaya namun tak di gubris oleh gadis kecil yang saat ini masih asik menari di bawah hujan.
"Jia dengerin Umi!" lagi lagi teriaknya tak di gubris oleh gadis kecil itu hingga sebuah tangan kini menariknya membuat langsung cemberut.
"Jangan menarikku, Umii!!" teriakku membuat Umi langsung berlari ke arahku.
"Yusuf hati hati, tangan Jia sakit sayang" sebuah suara kini membuat senyumku terbit, yah dia penyelamatku dia duniaku.
Tanpa sepata kata anak lelaki itu berlalu dengan wajah khasnya "Dingin lebih dingin dari hujan"
Flashback off
"Hijriah"
"Eh, Iya" balasku gelapan ketika sadar bahwa tante Jira sedari tadi memanggilku.
"Apa yang kau fikirkan sayang, mari keluar Zulaiqah pasti sudah menunggu" ujar tante Jira pada saat menoleh keluar ternyata kami sudah sampai Yusuf pun sudah tidak berada di kursi pengemudi.
Malam tiba suasa masih seperti biasa suara anak anak yang tengah menghafal ayat suci kini menggelma di seluruh penjuru ruangan, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa nyaman dan damai.
Diriku yang menikmati suasana itu lagi lagi hanyut dan bersyukur bisa berada di tempat seperti ini, bukan hanya anak anak yang mecuri perhatianku tapi juga seorang pria yang saat ini tengah tersenyum menatap satu persatu anak anak didikan Umi, betapa besar rasa bangga itu.
Setelah tadarus mereka di ajak oleh tante Jira bermain di taman, akupun hanya ikut ikutan sampai ketika diriku tidak sadar bahwa kini seorang wanita parubaya ikut menatap ku membuat sedikit tidak enak.
"Zulaiqah hati hati!" teriakku ketika gadis kecil itu berlari ke arah seorang pria, kini sorot mata semua orang beralih kepadaku bagaimana tidak suaraku bisa dikatakan cukup keras.
"Hijriah ada apa sayang?" tanya tante Jira namun hanya kubalas gelengan dan sedikit senyum.
"Assalamualaikum.." sebuah suara nan lembut kini mengagetkan ku, entah mengapa diriku tidak asing dengan wajah wanita di depanku dengan perasaan penasaran akupun membalas senyum wanita itu.
"Waalaikumsalam.. Tante siapa yah kalau boleh tau?" balas ku sambil mengikutinya ke sebuah kursi panjang.
"Kenalin tante Hajja sodara kandung ibumu"
Deg!
Balasannya barusan bak sambaran petir bagiku, bagaimana tidak kini umurku sudah menginjak 19 dan dengan mulus seorang wanita parubaya datang dan mengaku sebagai saudara ibuku, lantas dimana ibu kandungku?
"Mohon maaf sebelumnya tapi saya sama sekali tidak mengetahui ibu kandung saya, jangankan wajah namanya saja saya tidak tau" tuturku membuat wanita di depannku tersenyum hambar kemudian mengelus puncak kepala ku.
"Mari bicarakan di dalam Nak, banyak yang belum kamu ketahui" ucapnya tanpa disadari diriku hanya mengikutinya.
Di sini di satu ruangan tante Jira, paman haliq, Yusuf, dan seorang wanita tengah menatapku, merasa di tatap akupun segera membuka suara tidak ingin larut dengan apa yang terjadi.
"Maaf sebelumnya tapi dalam rangka apa saya di panggil kesini"
"Ini tentang masalalu dan masa depanmu Nak" ucap wanita parubaya yang kukenali bernama Hajja.
"..."
Hening tak ada yang bersuara, mendengarnya mengatakan masalalu dan masa depan membuatku kalut, diriku yang memiliki masalalu buruk dan masa depan yang tak tentu arah membuatku enggang membahasnya.
"Hijriah sini duduk sama tante sayang" ujar tante Jira yang langsung ku patuhi tanpa bertanya kini tante Jira mulai menjelaskan secara detail apa yang terjadi.
Selama mendengar setiap peneluturan tante Jira membuat air mataku berhasil merosot, dan pada akhirnya diriku mengetahui aku bukannya di buang tapi seorang yang tidak menyukai ibu kandungku lah yang memisahkan kami.
Perlahan semuanya terbongkar dan kini apa yang dulunya ingin kukubur kini kembali terbuka dan perlahan di jawab oleh waktu.
"Jika ibuku bernama Dewi lantas dimana keberadaannya?" ucapku berhasil membuat semua orang yang berada di sana bungkam.
"Ibumu sudah lebih dulu menghadap ke maha yang kuasa, tiga tahun yang lalu karena depresi yang ia alami" jawab Yusuf dan berhasil membuat batin ku berteriak histeris, bagaimana bisa dirinya mengetahui semuanya sedangkan aku, anak kandungnya sama sekali tak mengetahui apapun.
"Apa maksudmu?" sentakku membuat Yusuf berjalan ke arahku.
"Sebelum Umi meninggal, almarhum berpesan untuk ku menghalalkanmu"
Pernyataan yang keluar dari mulut Yusuf lagi lagi membuatku syok, bagaimana bisa dan kenapa baru saat ini ia mengatakannya.
"Namun sebelum menghalalkanmu almarhum menyuruhku mencari keberadaan keluargamu dan di bantu oleh tante Jira, setelah kepergian Umi saya akhirnya mendapatkan sedikit petunjuk dari tante Jira dan akhirnya kemarin saya sudah bisa bertemu dengan tante Hajja dan saat itu pula saya mengetahui beberapa kebenaran dan tanpa basa basih saya dengan hati yang tulus meminang anda langsung ke tante Hajja sebagai perwakilan karena ibumu sudah lebih dulu di panggil oleh ilahi" tuturnya panjang lebar membuat bibirku bisu dan bungkam, perasaan haru kini memenuhi dadaku rasanya diriku ingin menangis, menangis karena mengetahui ibuku telah pergi dan bahagia seorang yang sudah lama kukagumi kini meminangku dengan rasa tulus yang amat mendalam.
Semua pertanyaan yang ada di diriku kini seolah hilang di terpa angin, namun rasa kehilangan juga kurasakan yah duniaku yang dulunya seolah hanya hanya itu saja sekarang perlahan berputar.
Harapanku cuma satu, kuharap duniaku yang dulu hampa bisa segerah berubah dengan terbongkarnya beberapa kebenaran dan kehadiran seorang pria yang dengan tekat meminangku di umur yang cukup muda.
Dunia Hijriah
Finish:)