Semua ini berawal dari Papa ku sendiri ia telah menghancurkan kebahagiaan yang ada , yah semua ini di mulai 8 tahun yang lalu.
8 tahun lalu :
" mas aku tak mau di madu! istri mana coba yang rela berbagi suami dengan wanita lain, mas tega! dia itu sahabat ku mas! sahabatt kuu! " ucap mamaku , bertengkar dengan papa ku di sebelah papa ada tante RINI yah tante Rin , dia ini sahabat mama dan papa ku, ia sering sekali datang dan bermain di rumah kami dan tak jarang tante Rin mengendong cium peluk aku di kala itu.
" kamu harus mau Tata tolongg restui lah hubungan ini, apa salah nya coba kalian saling mengasihi bukan nya bagus ya kamu ada teman mengobrol di rumah, taa.. pliss kasihani aku kasihani Riniii.. " ucap papaku sembari memegangi kedua bahu mama ku, dalam keadaan mama menangis kedua tangannya menutupi mulutnya.
" kau gila! mas dan kau.. kau jahatt Rin kenapa kamu tega sama aku kita kan sahabat " mamaku menunjuk tante Rin lantas menguncang dan memukul-mukuli tante Rin .
"tata! hentikan! kau menyakiti Rin " papaku lantas menarik kuat tangan mama dan mama memandang benci sekaligus tidak percaya atas perlakuan papaku ini.
" a-apa mas a-apa aku ngak salah dengar hiks mas! kau sungguh jahat, kalian berdua sungguh berhati iblis, kalian binatang! dan apa kata mu tadi mas, mad memohon belas kasihan padaku, heh.. haha hiks hiks aku ngak mengerti lagi mas semua ini kar'na apa dan apa yang terjadi ini, i-ini semua mimpi kan? hiks " mama ku memundurkan langkah kaki nya dan pergi entah kemana ..
" Kak tata kak tata maafkan aku hiks kakakkk" panggil tante Rin saat melihat mama ku pergi begitu saja, sedari tadi ia pun ikut menangis ia tak tau harus berbuat apa bagi nya rasa cinta itu nyata sekaligus mistetius dan tak dapat tertahankan sehingga ia mau dan berjuang akan cinta terlarang nya dengan papaku , sedangkan papa ia terduduk sembari memijit kepala nya.
" ahhhh kacau! " ucap nya , sedangkan aku hanya menyaksikan pertengkaran itu di muka pintu kamar ku, aku bersembunyi di balik tirai kamar ini.
Dan menangis namun tak bersuara entah krnapa seketika aku kehilangan jiwa semua nya terasa kosong hanya ada rasa takut yang menghantui pikiran ini , bagaimana mungkin aku bisa mengerti sedangkan usia ku baru 10 tahun .
Saat ini abang satu-satu nya yang aku miliki ikut bersrmbunyi entah kemana aku yakin ia pun ikut mendengarkan pertengkaran tadi cuman di tempat lain di rumah ini.
1 minggu kemudian mama ku pun kembali ke rumah ia tak banyak bicara , secara langsung mama mengemasi semua pakaian dan segala yang ia punya dan butuhkan di rumah ini tanpa perduli kalau aku memanggil-manggil nya.
"mama mama maaaamaa! " tapi tak di respon entah apa yang ada di pikiran mamaku saat ini yang jelas hati dan pikirannya melayang entah kemana , hancur itu pasti.
" tata!! apa kau sudah tidak waras tata! tataa! kau sinting tata " ucap papa ku.
" kau jali! kauuu!! " teriak mama ku spontan papa menampar pipi mama ia tak suka nama nya di sebut-sebut seperti tadi.
" lancangg! istri durhaka kamu tata! bukan nya kamu tau kalau di dalam agama mempunyai istri lebih dari satu itu di perbolehkan? " ujar papa
" di perboleh kan kalau mendapat restu dari istri pertamamu ini, jali!! " jawab mama ku sembari menatap tajam.
"maka dari itu tata, mas meminta restu mu, ayolah tata restui aku dan Rin , dan kamu mau kemana dengan koper-koper ini? " tanya papa ku ia mengikuti langkah mama ku keluar dari kamar utama sedangkan aku yang menyaksikan lagi pertengkaran mereka tak di hiraukan.
" aku mau kita cerai, jalii! dan aku sudah mengajukan cerai ke Pengadilan Agama dan ini surat nya kau tanda tangani lah, aku sudah muak, enggan untuk hidup bersama mu " ucap mamaku
"apaa?? kau bercanda kan ta. Apa kamu tidak kasihan sama anak-anak " papa pun melihat ke arah ku begitu juga dengan mama dan mama pun akhirnya melihat serta menghampiri ku ia berlutut dan mengelus rambut panjang ku.
" SOVIA sayang maafkan mama mulai hari ini sovia akan tinggal bersama papa dan istri baru nya , kamu tau siapa orang nya kan , mama janji akan sering mengunjungi mu " ucap nya padaku, mama pun berdiri lalu mengeluarkan pulpen ia meminta papa untuk menandatangani berkas cerai mereka dan yah papa pun tak bisa berbuat banyak ia pun menandatangani berkas itu.
" jio ikut bersamaku kar'na ia putra pertamaku" ujar mama pada papa dan mama pun naik ke lantai atas untuk menjemput abang jio, rupanya abang jio sudah siap sedari tadi yah abang jio memang sudah mengerti kar'na ia sudah sedikit besar 15 tahun , abang jio tergolong remaja yang cuek ia lebih pro sama mama ku ketimbang papa dan mungkin aku pun begitu juga. Abang jio sudah lama tau hubungan terlarang papa dengan tante Rin dan abang jio membenci itu.
Hari pun berganti keadaan rumah pun ikut berubah semua nya tak sama lagi, aku bagaikan kertas bertinta seakan tak di perlukan lagi. hari -hari ku ku jalani dengan penuh kesedihan dan kesepian, tak ada yang mengerti tak ada yang mau tau kesedihan dan kesepian ku ini.
" papa papa papa hiks hiks " ku ketuk pintu kamar utama untuk membangunkan papaku sungguh suara petir dan gemuruh angin serta hujan membuat ku ketakutan , tapi tak ada sahutan dari papa aku hanya mendengar suara mendesah dari dalam kamar entah apa yang mereka lakukan di cuaca seperti ini , hujan yah hujan .
" hiks hiks hiks papa papa buka pa sovia takutt " ucap ku , gagang pintu kamar pun ku tarik ke bawah lalu terbuka lah pintu itu di dalam sana ada pemandangan yang tak layak untuk ku saksikan di bawah cahaya neon temaram hanya bayangan kedua insan keasikan dan kenikmatan yang kulihat.
Aku terdiam tak bergerak menyaksikan adegan panas papa dan mama tiri ku entah kenapa aku suka dengan pemandangan itu , ku saksikan permainan panas mereka hingga selesai dan pergi kembali ke kamar tidur ku.
" a-apa itu tadi " aku duduk di atas kasur ku peluk kedua lutut dan mengigiti kuku-kuku tak berdosa ini
Keesokan hari nya.
" sovia nak bangun sayang " ku buka kedua mata ku terlihat lah wajah bahagia dari tante Rin.
" mau apa tante di sini, pergiii! " usir ku , sejak kepergian mama dan kedatangan tante Rin di rumah ini, aku tak banyak bicara 'jarang'.
" hehh sayang apa tante tak salah dengar apa sayang mengusir tante? , oh iya mulai sekarang sovia harus panggil tante dengan sebutan mama, gimana mau kan? "
" ngak mauuu.. tante bukan mamaku!!" jawab ku lalu masuk lah papa ia merangkul bahu tante Rin.
" beri Sovia waktu Rin " ucap nya dan keduanya pun keluar meninggalkan ku sendiri di kamar.
MEJA MAKAN :
" mas seperti nya sulit bagi Sovia untuk menerimaku "
" tenang lah sayang ini kan masih baru tunggulah sedikit lama lagi mas yakin ia pasti mau menerima mu dan bahkan memanggilmu mama " jawab papa ku, ia pun menciumi kening mama.
" mas mau ronde kedua? " senyum genit tante Rin membuat papa bersemangat dan kedua nya pun masuk kembali ke dalam kamar utama dengan kegiatan yang sama seperti malam tadi .
Tidak begitu lama aku pun keluar dari kamar kar'na rasa menyesal ku .Namun saat aku di dapur tak kudapati kedua nya .
Aku pun mencari dan sampai lah aku di depan pintu kamar utama , lagi, lagi dan lagi aku mendengar desahan mereka dan lagi hal itu membuat ku penasaran , lantas aku pergi ke dapur di mana ada jendela antara kamar utama dan dapur yah benar saja di balik jendela ini aku dapat melihat adegan panas seperti malam tadi .
Pikiranku seakan melayang kemana-mana entah kenapa aku puas , bahagia dan perasaan lainnya saat melihat adegan itu. Hari demi hari lalu bulan ke tahun 2 tahun sudah pernikahan papaku dan tante Rin , yah istri baru papa ku ini pun sudah hamil malahan sekarang ngak lama lagi berojolan.
Hati ku pun menjadi lebih benci saat berfikir kalau anak di kandungan tante Rin akan merebut kasih sayang papa dari ku.
Usia 12 tahun aku sudah berfikir untuk menyakiti tante Rin dan bayi di dalam kandungan nya, hingga suatu hari...
" biar mampus sekalian " aku memasukan obat serbuk di susu hamil tante Rin entah obat apa itu yang jelas ku temukan di laci kamar papa ku.
" dimana ya obat pencahar ku " papa ku tengah mencari obat yang aku ambil tadi .
Papa pun menghampiri tante Rin yang tengah menengak habis susu hamil nya.
" sayang kamu lihat ngak obat di dalam laci"
" obat apa sayang umhhh" jawab tante Rin, ia pun memeluk tubuh papaku.
" ahh tak ada , kamu cantik sekali pagi ini sayang, apa jangan-jangan udah mau lahiran ya? " papa mengelus perut buncit tante Rin, sedangkan aku selalu saja mengintip mereka yah kar'na aku mahluk hidup tak kasat mata di rumah ini aku tak di anggap , menghilang dari hati dan pikiran mereka selalu tak di perhatikan kehilangan kasih sayang lagi dan lagi yah aku yakin itu 'bayi'dalam kandungan tante Rin itu salah satu nya. Sudah lah kasih sayang yang ku dapat selama ini selalu kurang di tambah lagi kehadiran anak satunya itu.
Haaahh tak bisa ku bayangkan nasip ku.
Beberapa menit kemudian.
" auu auu hiks paa sayang auuh hiks" tante Rin pun merasakan mulas yang luar biasa di perut nya , papa panik dan bersegera membawa nya pergi ke rumah sakit tentu aku pun ikut pergi juga dengan tawa jahat di bibir tak kasat mata ku. Hati ku puas sekali dan tertawa bahagian "sukurin!" batin ku.
RUMAH SAKIT .
" argkk sakittt paa! argkkk" tante Rin meramas tangan papaku ia kesakitan yang luar bisa sekali , sedangkan aku menunggu di lorong rumah sakit ini
"sukurin biar mampus sekalian , dasar perusak!" gumam ku pelan sembari berpangku bulu , dan mengoyang - goyang kan kedua kakiku .
Berhari-hari lama nya tante Rin menderita sakit hingga akhir nya tante Rin pun melahirkan yah melahirkan seorang anak laki-laki dan aku benci akan hal itu menatap bayi itu pun aku tak sudi padahal apa lah kesalahan nya ia tak berdosa.
" nak kemari lah lihat lah adik mu ini " panggil tante Rin, ia mengendong bayi nya sedangkan papa tersenyum bahagia sembari mengelus pipi si bayi , seakan hanya anak nya Rin saja yang ia punya terus aku sama abang jio apa nya papa? .
" ogahhh aku mau pergi beli minum " jawab ku lantas keluar dari ruangan ini , tante Rin sedih dengan sikap ku.
" maafkan Sovia ya rin " ujar papa
" ah iya paa aku maklum kok, cuman aku sedikit cemas " tante Rin pun memandangi bayi nya yang baru lahir.
Di luar rumah sakit.
" uuh apa'an sih suruh-suruh aku lihat tuh bayi yang ada malah bikin aku benci pengen ku cekik tuh bayi iiihh!! " teriak dan umpat ku.
8 bulan kemudian.
" oo owa bubu da-dah ta-ta " suara bayi lucu yang bernama vais tengah mengajak ku berbicara yah posisi ku tengah duduk di sofa ada papa dan tante Rin juga.
" ihh apa'an sih huss jauh-jauh , papaaa" teriak ku dan papa pun bangun dari duduk nya yang tengah asik membaca surat kabar.
" soviaa... itu adik mu loh kamu nya sedarah sama dia biar lah adik mu ikut main , tuh dia nya aja suka sama kamu masa kamu cuekin sih " ucap papa sembari mengangkat tubuh dede vais yang tengah merangkak di lantai.
" ngakk mauu iiih " aku pun merajuk ngambek lantas pergi masuk ke dalam kamar. Papa geleng-geleng melihat tingkah ku dan bercuk-cuk.
" sovia - sovia kapan kamu akan berubah nak" gumam papa dan tante Rin pun menghampiri papa
" mungkin sovia merasa tersisih kali pa kasihan dia nya " ujar tante Rin.
" udah berlebihan kayak gitu loh sayang, papa jadi cemas " papa pun melihat ke arah dede vais.
" tenang aja pa ngak bakalan terjadi apa-apa kok, mama yakin sovia diam - diam menyayangi adik nya ini " jawab tante Rin.
Suatu ketika.
" ta-ta ta-ta " dede vais mengikutiku naik ke anakan tangga dan aku cuek saja masa bodoh mau jatuh ke mau engak ke terserah.
Sampai lah aku di ujung paling atas tangga ini dan kulihat di bawah sana dede vais tengah merangkak di anakan tangga.
Namun tiba-tiba di pertengahan tangga vais terjatuh dan terguling ke bawah karna ia hendak turun kembali ke bawah, bisa saja aku meraih kaki nya vais agar tak terjatuh namun aku berfikir ah biar lah biar dia mati sekalian.
Brakkk benturan kering keras di kepala vais pun terdengar spontan darah pun mengalir di kening nya dede vais pun pingsan dan aku berdir menjadi panik di atas sana. Papa dan tante Rin pun datang dari dalam kamar saat mendengar suara keras tadi.
"vaissss... " teriak tante Rin.
" soviaa! apa yang kamu lakukan ha! " papa naik ke atas lantas menampar ku dan menarik rambutku, ia pun menarik, menyeret ku ke bawah hingga tubuh ku terjatuh dan ikut terseret di anakan tangga ini.
Bruuuk.. tubuk ku terlempar di lantai.
" dasar anak tak berguna kamu sovia kamu tak pantas sebagai seorang kakak, kamu tak pantas lahir ke dunia ini! " maki papa kepadaku spontan air mata pun merembes keluar membasahi pipiku.
" tega kamu sovia apa salah adik mu padamu , yang salah itu aku, seharus nya kau marah padaku" ucap tante Rin dan beliau pun ikutan menampar pipi ku yah ku akui ini salah ku tapii yang lebih salah lagi mereka, mereka lah yang membuat ku seperti ini . Mulai saat itu aku tak berbicara sama sekali dan menghibur diri dengan menonton film-film dewasa , anime-anime echhi dan semua genrenya . Mulai kejadian jatuh nya dede vais papa, tante Rin dan bahkan aku sendiri tidak berbicara satu sama lain nya seakan bisu dan tuli.
8 tahun sekarang.
Usia ku sudah 18 tahun sejak berumur 15 tahun tepat nya 4 tahun yang lalu aku memutuskan untuk hidup sendiri di sebuah apartemen pemberian mama kandung ku. Hanya harta itu lah yang ia berikan padaku sebelum mama pindah keluar negri bersama abang jio dan suami bule nya mama.
Cerpen ini masih berlanjut di SOVIA 2. kalau suka like dan komen ya man teman.. trima kasih.