Di padang rumput hijau yang berwarna kekuningan terkena terpaan sang raja siang, berlarilah seorang anak berambut hijau yang memakai baju longgar. Rambutnya yang panjang terurai kesana kemari terkena hembusan angin.
Mata anak itu berwarna kuning cerah yang dilebur oleh warna jingga kehitaman.
Ia berlari tergesa-gesa menuju suatu rumah di ujung jalan, tak ada satupun yang tau bagaimana atau kenapa ia berlari dengan sangat cepat,
tapi kita bisa lihat dari raut wajahnya bahwa ia berlari bukan karena ketakutan.
Senyuman lebar terpampang secara jelas diwajahnya. Terlukiskan sangat manis menghiasi wajahnya yang cantik dan berseri.
Tak lama ia berlari, sampailah ia dirumah tersebut. menatap gagang pintu yang berbentuk bulat sempurna sambil terengah-engah. Nafasnya masih tidak beraturan karena berlari.
Setelah beberapa saat ia mengatur nafas, ia memegang dengan erat gagang pintu dan membukanya dengan cepat hingga menimbulkan suara keras.
Bang!
Suara keras dari pintu tersebut membuat burung-burung yang berada diatas rumah mengepakkan sayapnya dan terbang menjauh.
Anak itu berhenti sejenak, ia menatap menelusuri seluruh ruangan rumah tersebut dengan senangnya. matanya seakan melahap seluruh pemandangan yang secara terang-terangan disajikan untuknya.
Puas melihat kesana-kemari, ia akhirnya menemukan apa yang dicarinya sedari tadi.
Disudut ruangan rumah berkayu ini, terdapat sebuah kursi yang tentu saja ada seseorang mendudukinya. Orang tersebut menutup wajahnya dengan sebuah buku seakan menolak cahaya matahari yang datang menyelimuti dirinya.
Bermandikan cahaya mentari dipagi hari, orang itu mendengkur cukup keras. Dihadapannya terdapat meja dan sebuah cangkir yang terisi oleh kopi yang masih mengebulkan uap panas, menandakan itu belum lama ditaruh disana.
Anak itu berjalan dengan meloncat-loncat kearah orang tersebut. lalu berhenti satu langkah didepannya. Menatap kopi di meja sebentar lalu memalingkan dengan cepat kearah orang itu kembali.
Seakan tak memerdulikan apa yang nanti terjadi, ia mengangkat kedua tangannya kelangit-langit. Dan dengan cepat menjatuhkannya kearah perut orang itu.
"Ayah!!" teriaknya gembira.
Sang ayah yang terkena pukulan keras dari anaknya tersebut, mengeluarkan suara "Guhuk-!" dan menjatuhkan buku yang menempel diwajahnya.
"Huh? Apa? ..?" ayah terbangun lalu menatap anak itu, dan menemukan bahwa anaknya telah banjir oleh keringat. Wajahnya penuh kotoran tapi senyuman tetap melekat seakan tak mau pergi.
"Ayo berburu!" ucap anak itu dengan lantang.
"Berburu?" balas ayahnya bingung. "Iya!, ayo berburu!" saut anak itu kembali.
"Naia, tidak bisakah kau tinggalkan aku dan bermain saja dengan kakakmu?", ucap ayahnya kepada Naia.
"Tapi kakak masih bekerja jam segini, lagi pula dia akan langsung tertidur saat sampai dirumah." Jawab Naia bertolak pinggang.
Menghela nafas, ayahnya pun berdiri seakan sudah tidak mempunyai pilihan. Disaat berdiri ia melirik kearah meja, ternyata sudah ada kopi disana, masih mengeluarkan sedikit uap panas dari permukaan.
'Sepertinya ini sudah disiapkan dari tadi oleh ibu', pikir ayah sejenak. Menggapai kopi tersebut, ia dengan cepat menghabiskannya lalu berjalan menuju keluar.
Pintu sudah terbuka lebar membentang, sepertinya Naia tidak menutupnya saat masuk kedalam kerumah.
Melangkah keluar pintu, ia disambut oleh hembusan angin bukit yang sejuk. Membuatnya ingin kembali kedalam dan melanjutkan tidur kembali.
Naia mengikuti ayahnya dari belakang, hanya berbeda selangkah saja. Ia mendongak keatas dan menyadari bahwa ayahnya ternyata memiliki badan yang sangat tinggi.
Ia sudah mengetahui bahwa ayanhya bukanlah seorang manusia, tetapi seorang yang berdarah campuran. Kata ibunya, ayah memiliki setengah darah dari ras Titan.
Ras titan adalah ras yang seperti manusia, tapi memiliki kekuatan dan tinggi badan lima kali lebih besar dari manusia. Umurnya pun lebih panjang, bisa mencapai lima ratus tahun.
Dan Naia adalah anak yang memiliki tiga darah campuran pada dirinya.
Ibunya adalah seorang Elf berdarah murni, jadi darah ibunya lebih mendominasi dalam tubuhnya. Bisa dikatakan lima puluh persen adalah darah Elf, tiga puluh lima persen adalah darah Titan dari ayahnya, dan sisanya adalah darah manusia.
Naia memiliki kuping yang runcing seperti ibunya dan kebanyakan Elf lainnya, tetapi kulitnya tidak putih susu, melaikan kuning langsat.
Ayahnya berjalan kearah belakang rumah dan melangkah menuju gudang penyimpanan.
Pintu gudang yang dibuka mengeluarkan suara decitan yang dapat membuat kuku jari bergidig.
berjalan masuk kedalam, Ayah melirik sekitar dan memutuskan untuk membawa sebuah kapak dan busur.
Setelah itu ia mengarahkan kedua alat tersebut kepada Naia.
"Kapak atau busur?", Tanya ayahnya kepada Naia, dan tanpa basa-basi lagi "Kapak!" sautnya sambil memperlihatkan gigi-gigi kecil miliknya.
Dan ...
"... Mimpi?" Ucap seorang gadis diatas ranjang. Ia terbangun dan terduduk disana beberapa saat. "Sudah cukup lama aku tidak memimpikan ayah ... huh, sudah lah sebaiknya aku bergegas bangun sebelum Kak Agnes mengomel" Celotehnya sembari berdiri dan menjauh dari Kasur.
Berjalan menuruni tangga, Naia melihat kakanya yang sedang menyiapkan sarapan.
"Pagi kak Agnes" Ucap naia sambil menguap. Kakaknya melirik kearahnya dan menyauti salam adiknya itu. "Pagi, mau sarapan?" Ucapnya ramah masih menata piring dimeja.
"Yup!, apa sudah siap?" balas Naia kepada Agnes.
"Sebentar lagi, kau pergi dan bangunkan paman saja dahulu." Saut Agnes membelakangi Naia. Naia diam sejenak, lalu menyeringai dan berlari kearah kamar pamannya tersebut.
Sampai dihadapan pintu kamar Pamannya, Naia membuka pintu secara perlahan agar tidak membuat suara. Ia berjalan berjinjit mendekati Pamannya.
Setelah itu dia berhenti tepat satu langkah dari Kasur. Ia melihat pamannya masih tertidur pulas hingga meneteskan air liur.
Naia melihat ini dengan cepat melompat lalu melesat melandaskan serangan sikut kearah perut pamannya hingga membuatnya berteriak seperti hewan yang sekarat. Setelah itu Naia berlari keluar kamar dengan cepat dan mengitip dari balik pintu.
Agnes yang berada di ruang tamu sadar apa yang terjadi, ia hanya menggelengkan kepalanya dan bergumam "Anak itu ..." lalu menghela nafas.
Pamannya terbangun dan melirik kesana kemari mencari tahu apa yang terjadi. Setelah itu ia menemukan seseorang dibalik pintu sedang cekikikan menahan tawa.
"Nyahahaha! Itu akibatnya jika kau tidak bangun dipagi hari!" melepas tertawaannya yang tertahan, Naia terbahak-bahak dan berlari kearah Agnes.
"Bocah sialan! Berhenti disana!" teriak pamannya berlari mengejar.
Berlari berputar-putar mengelilingi meja makan, mereka saling mengejek satu sama lain.
"dasar bocah sial!, apa yang kau lakukan pada orang yang sedang tidur! Apa kau tidak punya adab!?" Teriak Pamannya kesal.
"NYAHAHAHAHA-!! Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti, mungkin kau sedang mengigau? Jangan meracau tidak jelas dipagi hari!" Saut Naia kepadanya.
Disaat mereka sedang asik mengejek, Agnes yang dari tadi sudah tidak tahan melihat tingkah laku adiknya yang kekanak-kanakan dan pamannya yang bertingkah berisik dipagi hari menancapkan Pisau dapur kemeja.
Zreb-!
"Apa kalian tidak memiliki pekerjaan selain membuat keributan?" ketus Agnes tersenyum ramah sambil menatap mereka berdua dengan seksama.
Naia dan pamannya berhenti berkelahi, mereka tau jika mereka membuat keributan lebih dari ini, mereka akan menghadapi amukan dari Agnes.
"Sekarang, duduk manis dan makanlah makanan yang telah aku siapkan. HABISKAN, atau kalian akan tidur diluar malam ini." lanjut Agnes berbicara.
Pamannya yang bernama Chuuni, ingin membalas perkataannya seperti "Tapi ini rumahku –" hanya disambut dengan tatapan tajam dari Agnes dan mengurungkan niatnya untuk protes.
Meskipun ini memang rumah Chuuni, yang berkuasa didalamnya bukanlah dirinya, Melainkan Agnes.
Chuuni bisa saja melawan, tetapi dia tau bahwa segala sesuatu yang ada dirumah ini, segalanya diurus oleh Agnes. Meskipun ia pemilik rumah, ia tidak akan setidak tau malu untuk melawan sosok yang seperti seorang ibu dirumah.
Ibu itu menyeramkan.