Imbas pandemi Covid 19. Gue, Ali Satria, yang hanya seorang pekerja baru di sebuah kantor Swasta. Belum juga mereguk manisnya gaji pertama. Harus dirumahkan, dengan waktu yang tidak ditentukan.
Bayangin coba, senang setinggi langit karena mendapatkan pekerjaan, yang seleksinya ketat abis. Sejuta rencana langsung tersusun rapi di kepala. Mau ini, mau itu, mau melamar si ini atau si itu.
Tapi semua tinggal mimpi belaka. Ketika HRD Personalia memanggil Gue, menghadap ke kantor nya.
"Nak Al, karena Perusahaan terdampak Covid. Jadi mohon maaf sebelumnya. Nak Al, termasuk sepuluh orang yang dirumahkan, hingga batas waktu yang belum ditentukan. Jika Perusahaan membutuhkan kembali. Nak Al akan segera dihubungi." Begitu katanya, yang langsung membuat Dunia berhenti berputar.
Musnah sudah rencana. Hancur sudah semua cita-cita luhur Gue, membahagiakan kedua Bonyok Gue.
Sedih? jangan ditanya. Kesel? pasti. Nyesek? banget. Akan tetapi sebagai warga negara yang baik, Gue terpaksa menerimanya dengan 'Legowo' keputusan itu.
Dengan berat hati meninggalkan Perusahaan sejuta impian ini.
Seribu tatapan iba mengiringi kepergian Gue meninggalkan Perusahaan impian Gue sedari TK. Di iringi lagu shela on 7, 'Aku pulang ....'
Sampai dirumahku, istanaku. Nyokap nanya, "Kenapa jam segini kamu sudah pulang?"
Asli Gue nggak bisa jawab. Mau nangis, tapi malu. Nggak nangis nyesek banget. Baru dua minggu kemarin Syukuran. Mana gede-gedean acaranya. Sampai Bokap, nanggep Dangdutan segala. Ya ampun, mau ngomong apa sekarang coba?
"Kenapa Ali? jujur aja, nggak apa-apa, kok!" kata nyokap sambil meluk Gue. Dia tahu banget Bagaimana anaknya, kalau lagi ada masalah. Memang hanya seorang ibu, yang ikatan batinnya kuat, dengan anak-anaknya.
"Ali dirumahkan, Mam!" Mam, itu panggilan kesayangan Gue, kependekan dari Mamake, buat Nyokap.
"Dirumahkan ...? enak dong, baru masuk kerja dua minggu sudah di kasih rumah." tuh apa coba? tanggepan begitu. Emang Nyokap Gue tuh kurang makan bangku sekolahan. Tapi jangan segitunya juga, kali ... Mam.
"Bukan dikasih rumah, Mam! maksud nya dipecat secara tidak langsung," kata Gue, nerangin sudah Kaya Guru aja gaya Gue.
"Apa ... Dipecat! kurang ajar! siapa ..., siapa yang fitnah anak Mamake tersayang! yang jujur, baik hati, dan rajin ini! biar Mamake sambelin, mukanya!" cerocosnya, mirip petasan.
Lah, lah ... makin salah paham ini. Mana lagi sedih gini, kan jadi ilang feel sedihnya. Jadi malah pusing ngejelasin nya.
"Bukan difitnah, Mam. Ini akibat Covid, jadi disuruh ngaso di rumah sementara." bagitu akhirnya Gue jelasin ke Nyokap, dengan bahasa yang sangat merakyat. Biar nggak 'Galfok' lagi.
"Ooo, bilang suruh ngaso, kan Mamake, ndak bingung. Besok kalau udah ngasonya, kamu kerja lagi, kan?" Aduh tepok jidak Gue, masih belum paham juga.
"Iya, Mam! tapi suruh ngasonya lama. Kalau mau masuk kerja lagi, nunggu ditelpon, Mam." Sekarang pasti paham, nih Mamake.
"Ya sudah, makan, gih! Noh, ada sayur asem, sambel trasi, sama ikan asin Gabus," katanya nyuruh Gue makan. Tapi bagaimana Gue nafsu, biarpun itu menu favorit Gue.
****
Hari berganti. Nggak kerasa sudah sebulan Gue jadi 'Pejabat' kependekan dari Pengangguran Jakarta Sobat.
Biar ngganggur, kebutuhan hidup tetap berjalan. Yang utama pulsa HP. Cepet banget abis gegara streaming, sama nge-Game. Trus rokok, yang ngebul terus mirip kereta uap. Gegara dipakai mikir, cari solusi jitu menghadapi Pandemi ini.
Untungnya nggak sia-sia. Dari gaji kerja dua minggu. Mau Gue puter bisnis kuliner. Ini bahasa kerennya. Aslinya mau Gue pakai jualan Gorengan, nah ini bahasa yang merakyat.
Akibat otak Gue yang jenius ngelecein anak kecil tetangga sebelah rumah. Walhasil kandang ayamnya berhasil Gue modifikasi jadi gerobak pikul ala-ala abang Gorengan. Dengan iming-iming akun Game Gue, yang level Dewa.
Dua hari kemudian Gue resmi menjadi member Abang Gorengan se-Ibu kota. Pertama dagang, Awalnya malu. Pake masker rangkap tiga, pakai topi Kupluk.
Pokoknya rapet-pet sampai Mamake nggak ngenalin. Nyangkain Gue mau maling dirumah sendiri.
Untungnya dia belum teriak. Coba kalau sempet kejadian. Bisa tercoreng nama baik Gue, sebagai Pria Mushola.
Buru-buru Gue buka penyamaran ala-ala Super hero, yang nggak tau siapa? jadi Nyokap ngenalin anaknya yang tamvan ini.
Pas mulai ngider. Pelanggan pertama Gue seorang bocah, yang Gue apal banget siapa dia. Yups, dia adalah Bocah yang Gue klecein kandang ayamnya.
Sebut saja dia Tole. Jelas nih si Tole ngenalin Gue, melalui Gerobak pikulan, yang aslinya memang kandang ayamnya.
"Bang Sat ...! beli Gorengannya, lima ribu, campur. Cabenya sekilo!" Nah, panggilan dipotong setengah gini, nih! yang Gue paling benci.
Kalau manggil nama depan Gue, di kasih imbuhan Si, kan jadi Si Al. Kalau panggil nama belakang Gue, pakai imbuhan Bang, kan jadi Bang Sat.
Makanya Gue paling benci di panggil setengah-setengah.
"Hey, Tol ... kalu panggil nama yang lengkap! kaya gini contoh nya, 'Bang Satria, beli gorengan nya lima ribu. Jangan disingkat, oke!" kata Gue ngajarin, sampai Gue juga nggak nyadar kalo manggil dia juga setengah.
"Lah, Bang Sat, aja manggil nama Tole setengah!" jiah Gue lupa, mana ini anak komplain lagi.
"Oke Tole ... mulai sekarang panggil Gue Bang Ali!"
"Oke, Bang Sat ... Tria ...! Ha ha ha ...." Dia ketawa, sambil ngacir.
"Sial ... Sial ...!" Tuh, Gue jadi ikutan manggil nama Gue, setengah.
****