Dia Prince Aditama. Lelaki yang selalu ada untuk Emely. Keduanya adalah Teman kecil, dan kini mereka telah tumbuh menjadi Laki - laki dan gadis yang dewasa.
"Prince!"
Laki - laki dengan punggung tegap itu menoleh ke arah gadis yang kini tersenyum. Perempuan itu mendekat.
"Hai!" sapa gadis itu, Emely. Prince Menyerngit menatap gadis yang merupakan teman kecilnya itu.
"Apa?" tanya Prince datar. Emely sontak cemberut mendengar nada yang keluar dari laki - laki di depannya.
"Prince, senyum dikit, bisa gak? ekspresi kamu hilang atau di culik? Mau aku bantu cariin?" Tanya Emely kesal.
Prince diam dan berbalik melanjutkan langkahnya. Emely melongo, ia mencebik dan ikut melangkah menyusul langkah lebar Prince.
"Prince, tunggu!"
"Ck, tunggu!"
"Prince!!"
Prince mendengus. "Apa?" Hanya itu yang keluar. Emely dengan wajah kesalnya berkata,
"Bisa pelanin gak, jalannya? Pagi - pagi jangan ngajak jalan maraton, dong."
"Lama." Ucap Prince. Emely mencibir.
"Dasar!"
***
"Prince, tau gak apa yang berharga di hidup aku selain orang tua aku?" tanya Emely. Gadis itu menatap ke depan seperti menerawang.
Prince menoleh. "Gue?"
"Ge-er. Tapi, kamu emang berharga" Emely tersenyum setelah mengucapkan itu.
"Lo kenapa?" Tanya Prince meneliti wajah Emely yang terlihat lelah.
Gadis itu menggeleng dan kembali tersenyum.
"Ga, cuma cape dikit."
"Lo sakit?"
"Ngga."
"Lo sakit."
"Ngga."
"Sakit."
"Aku sehat."
"Pulang!"
Emely melongo. Apa apaan lelaki di samping nya ini?
"Pulang? Prince, ini masih jam sekolah, tahu!"
Prince menatap datar.
"Trus?"
Emely mengelus dadanya sabar.
"Aku balik ke kelas deh, Sama kamu bikin darah naik terus." Ucap Emely beranjak.
"Ayo pulang."
Langkah Emely terhenti karena tangan nya di cekal oleh lelaki tanpa ekspresi ini.
"Prince, aku gak mau pulang. Lagian ini kan masih sekolah, kamu ngada - ngada, deh."
"Kita izin."
"Lah? ngapain pulang, sih?"
"Lo sakit."
"Hah? Aku? Aku baik baik aja kok, Prince. Jadi, jangan pulang, ya?" pinta Emely memelas.
"Ga mau tau, kita pulang sekarang." Ucap Prince tak terbantahkan. Lelaki itu menyeret Emely menuju kelas lalu mengambil tas gadis itu. Tas nya?Gampang.
"Prince, Ayolah, Aku baik baik aja."
"Diem."
Emely menghentak hentakkan kakinya kesal. Ia masih di seret oleh Prince. Berbagai tatapan murid di sepanjang koridor membuat nya merasa tak nyaman.
Dengan wajah cemberut nya ia memasuki mobil, lalu duduk tepat di samping kemudi di ikuti Prince.
Prince tersenyum kecil. Tangan nya bergerak menyentuh kening gadis di samping nya. Terasa sedikit panas.
Emely menepis tangan Prince lalu melirik lelaki itu kesal. "Orang baik baik aja malah di paksa pulang."
"Lo panas." Ucap Prince mulai menjalankan mobilnya.
"Ya tapikan panasnya dikit doang."
"Yang penting panas."
"Ck."
***
"Prince ..." panggil Emely pelan. Kini keduanya tengah berada di taman, Hari telah malam tetapi Emely tiba - tiba saja ingin ke taman.
"Hm." Gumam Prince. Emely mendengus pelan.
"Aku ngerepotin gak?" Pertanyaan itu membuat Prince menoleh cepat. Ia menatap bingung.
"Kenapa nanya gitu?"
Emely menggeleng pelan. "Gapapa." Emely menatap lurus ke depan.
"Lo gak ngerepotin sama sekali." Ucap Prince lalu kembali mengalihakn pandangan nya.
"Bener? Jangan bohong, Prince."
"Gue ga bohong."
"Maaf, aku sering nyusahin kamu."
"Hm, lo emang nyusahin."
Emely memukul bahu lelaki itu kesal. "Kamu ngerusak suasana tahu gak!"
Hening.
"Prince, suatu hari nanti kamu bakal pergi, gak, ninggalin aku?"
"Semua pasti bakal pergi, Mely.."
Emely tertunduk sedih dengan mata yang berkaca kaca. "Berarti, Di hari itu aku bakal bener bener sendirian." gumam nya sedih.
Prince kembali menoleh. Tangan nya terangkat mengelus kepala rambut gadis di samping nya itu.
"Jangan cengeng."
Emely mencebik kesal.
"Belum juga nangis, Udah di katain cengeng."
"Gue bakal selalu ada buat lo, selagi gue bisa." Ucap Prince tenang.
"Jangan pergi." cicit Emely pelan. Lelaki itu tersenyum kecil.
"Mely.. Ada saatnya semua memang harus pergi. Jangan terlalu bergantung sama orang lain termasuk gue, Karena suatu saat nanti semua bakal ninggalin lo."
"Kamu bakal pergi kemana?"
Prince, lelaki itu tersenyum teduh. "Kapan saja gue bisa pergi. Bukan buat ninggalin lo, tapi karena emang tuhan udah manggil gue."
"Prince, ngomong apa sih? Jangan ngomong gitu, aku gak suka."
"Eme, mulai sekarang cari teman. Jangan terlalu suka menutup diri, itu hanya akan buat lo semakin kesepian."
"Aku udah punya kamu, Prince."
Prince menggeleng.
"Gue gak bisa ada di samping lo terus, ly. Cari temen ya? biar kalau gue gak ada, lo gak kesepian lagi."
"Prince, kok ngomong nya kayak kamu bakal pergi, sih? Aku kan udah bilang, jangan ngomong gitu, Aku gak suka!"
"Eme, Gue suka lo."
Emely terdiam.
"Itu wajar, kita kan teman."
"Gue suka lo, tapi itu bukan perasaan teman ke teman. Tapi, ini tentang perasaan lelaki terhadap perempuan."
"M-maksud kamu?"
"Gue sayang lo."
"Prince, kamu kenapa? Sakit ya? kok makin kesini makin ngelantur ngomongnya?"
Prince tidak memedulikan perkataan Emely. "Boleh gak, gue minta satu hal?"
"Apa?"
"Jangan suka nangis, gue ga bisa selalu ada buat hapusin air mata lo."
"Prince, kamu kenapa sih?" Heran Emely.
"Gapapa." Prince kembali menatap ke depan.
***
Prince ... Pergi?
Emely menggeleng keras. Ia kembali menatap Handphone nya. Air mata nya sudah tak bisa di bendung lagi.
+62***
Dengan nona Emely?
Maaf kami mengganggu waktu anda, Kami dari pihak Rumah sakit ingin menyampaikan bahwa saudara Prince Aditama menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada pukul 03.00.
Mohon kehadiran nya
Haha .... Jadi, tadi malam merupakan hari terakhir nya bersama Prince? Jadi, Prince membuktikan perkataan nya?
Prince.. Kenapa pergi?
***
T.A.M.A.T
Cerpen > Prince 🤴
Selesai > Minggu, 31 Januari 2021
***
Terima Kasih telah Membaca Cerpen ini :)
Semoga Terhibur :)
Jangan lupa Mampir di Novel saya :)