Tap tap tap tap!
Ditengah gelapnya malam disertai udara dingin yang menususk, seseorang sedang berlari mencoba menyelamatkan hidupnya. Malam ini akan mrnjadi malam yang sangat panjang dan menegangkan untuknya.
Hosh ... hosh ... hosh ...
Sesekali ia mengamati keadaan dibelakangnya dan beristirahat sejenak untuk menstabilkan deru nafas yang memburu. Gadis itu duduk meringkuk dibalik sebuah pohon besar. Berharap tak ada yang menemukannya.
"Hallo ..." tiba-tiba dari balik pohon yg sama, muncul sesosok berbaju serba hitam yang sama sekali tidak ingin ia lihat. Suara yang terdengar familiar berhasil membuatnya tercengang dan seketika ia membulatkan matanya. Perlahan tubuhnya meringsut mundur, kemudian merangkak sebelum akhirnya berhasil berdiri dan berlari.
JLEB!
tak lebih dari 3 langkah ia berlari, sebuah samurai menancap di pinggang sebelah kiri hingga menembus bagian perutnya. Langkahnya terhenti seketika kala rasa sakit mulai melemahkan kondisinya. Tubuhnya ambruk dan sosok itu menarik dengan kasar benda yang ditancapkannya.
"To-long, to-long a-ku," Gadis malang tersebut berusaha bangkit dan meminta pertolongan dengan suara tersenggal lirih.
"Hahaha ... aku akan menolongmu segera! Jleb ... jleb ... jleb ... jleb ...." sosok misterius itu dengan kejam dan bertubi-tubi menghunuskan samurai ditangannya. Hingga gadis itu meregang nyawa dengan sangat mengenaskan.
Keadaan hutan yang gelap gulita tak menghalangi aksi brutalnya, untuk memutilasi tubuh gadis yang hampir hancur akibar puluhan luka tusuk. Tanpa penerangan cahaya sedikitpun, ia mulai bekerja dengan mengiris setiap bagian tubuh tak bernyawa itu.
Gerakannya cukup lihai dengan perhitungan yg sungguh tepat. Ia berhasil menjadikan mayat dihadapannya menjadi tumpukan daging yang tak lagi berwujud manusia. Tak lupa baju dan segala aksesoris gadis itu ia letakkan kedalam karung dan segera membakarnya.
Bau sisa asap pembakaran bercampur anyir darah menyeruak bersamaan dengan bau khas tanah yang muncul akibat hujan. Ia menatap langit dengan puas karena hujan lebat membantunya menghilangkan jejak darah pembunuhan yang telah dilakukan.
Tanpa menunggu lama, ia mengulurkan kedua tangannya untuk mengangkut tumpukan daging dihadapannya. Tumpukan itu ia masukkan ke dalam kantung plastik besar. Lalu segera membawanya menuju penangkaran buaya untuk dijadikan santapan oleh hewan buas tersebut.
Ia melangkah santai ditengah hutan yang gelap dan hanya ditemani oleh ribuan rintik air yang turun membasahi bumi.
"Saatnya makan malam," Ia melempar potongan-potongan daging tersebut ke dalam kandang buaya yang ada dalam hutan dan jauh dari pemukiman warga. Bagian terakhir, ia melemparkan sebuah kepala yang masih berlumuran darah. Dibalik tudung hitam yang menutupi sebagian wajahnya, tampaklah senyum puas akan hasil karyanya malam ini.
~~
KRING!
Bel istirahat berdering. Seluruh siswa berhamburan keluar kelas untuk menuju kantin dan sebagian hanya beristirahat tanpa melakukan apapun.
Ditempat lain tampak dua orang siswa sedang keluar dari ruang UKS. Aron sedang memapah tubuh Rizu karena pergelangan kakinya terkilir saat pelajaran olahraga pagi tadi. Aron dan Rizu menuju ruang kelas mereka di salah satu deretan ruang kelas 12 yang tak jauh dari kantin. Laki-laki bertubuh tinggi itu memapah Rizu hingga ke dalam kelas dan membantunya untuk duduk di kursi.
"Rizu, tunggu sebentar ya, aku belikan kamu makanan di kantin," ucap Aron seraya tersenyum lembut pada gadis yang dipujanya selama ini. Meskipun Rizu tak pernah memberinya kepastian, namun Aron tetap tak gentar mendekatinya. Rizu hanya mengangguk dan tersenyum menatap langkah Aron saat meninggalkan kelas.
Bruk...
Tiba-tiba seseorang menggebrak meja milik Rizu.
"Dasar kau wanita munafik. Kau telah melenyapkan teman-temanku." Gadis cantik bertubuh langsing itu langsung melempar tuduhannya pada Rizu.
"Mona, jaga ucapanmu!" Rizu menatap Mona dengan penuh amarah, namun ia berusaha mehanannya.
"Mona, mana mungkin Rizu melakukannya. Dia kan sangat pendiam, berbeda denganmu," timpal salah satu teman sekelas mereka yang berusaha membela Rizu.
"Diam!" Mona berteriak lantang sehingga membuat suasana kelas menjadi senyap.
Mona adalah ketua di geng. Wajar saja jika dia ditakuti oleh teman-teman sekelasnya.
"Kalian semua berpikirlah! semenjak gadis ini bersekolah disini, beberapa dari teman kita menghilang. Bahkan mereka yang menghilang adalah orang-orang yang pernah membulinya. Dua bulan lalu Sidne menghilang dan belum juga ditemukan. Sekarang Tessa juga tak ada kabar selama hampir 1 bulan. Siapa lagi kalau bukan gadis ini yang melakukannya karna dendam!" Mona mengarahkan jari telunjuknya pada Rizu. Ucapannya membuat semua orang yang ada di kelas seketika ikut berpikir sama.
"Mona, kau.."
Plak !
Tak usai kalimat yang akan diucapkan Rizu, ia malah mendapat tamparan keras dari Mona.
"Gadis pelenyap. Enyah kau!" Mona mendorong tubuh Rizu hingga terjatuh dari kursi tempatnya duduk. Ia mengerang kesakitan karena pergelangan kakinya yang terkilir membentur kaki meja.
"Rizu!" Aron segela berlari dan menghampiri Rizu yang terduduk di lantai. Ia meletakkan sembarang makanan yang telah dibawanya dari kantin. Aron memapah tubuh Rizu dan kembali mendudukkannya di kursi tempatnya semula. "Mona, cukup! apa kau belum puas setiap hari membuli Rizu. Lihat, dia baru saja terkilir," tegas Aron sembari menunjuk pada pergelangan kaki Rizu yang bengkak dan memar.
"Kau telah dibutakan olehnya. Kau seharusnya sadar Aron, dia tak pernah menerima cintamu. Tapi kau malah mengabaikanku yang benar-benar tulus padamu, bahkan sebelum dia pindah ke sekolah ini. Aron, dasar kau laki-laki bodoh!" Mona menyilangkan tangan didada sembari menatap Aron dengan tatapan merendahkan.
Sebenarnya ia mulai membenci Rizu karena kecantikan gadis itu mengalahkannya. Wajar jika Aron mulai jatuh cinta padanya.
"Dasar, Mona kau ...."
"Apa?" tantang Mona seakan tak takut apapun.
"Cukup!" Rizu berteriak berusaha menghentikan perdebatan dianrata Aron dan Mona.
"Apa? Kau mau mengakui perbuatanmu hah? Kau kan yang melenyapkan mereka berdua?" tangan Mona mencengkram kerah baju Rizu sehingga badannya sedikit terangkat.
"Bagaimana mungkin seseorang yang phobia terhadap darah akan melakukan pelenyapan? Kecuali jika kalian memiliki musuh lain selain aku dan mereka yang melakukannya." Rizu melepaskan cengkraman tangan Mona dari kerahnya.
Mona menyadari apa yang diucapkan Rizu benar. Tak hanya Rizu yang menjadi sasaran pembuliannya, bahkan beberapa siswa dikelas lain pun tak luput dari tindakan semena-mena Mona dengan kedua temannya yang kini menghilang. Dengan tatapan benci, Mona pun berjalan keluar dan pergi meninggalkan kelas. .
Sejak kecil Rizu telah phobia terhadap darah. Semua bermula ketika ia menyaksikan sendiri di hadapannya sang ayah menusuk ibunya berkali-kali hingga akhirnya tewas. Karena tak ingin menjadi tawanan, akhirnya ayah Rizu melalukan bunuh diri menggunakan alat yang sama dengan yang ia gunakan untuk membunuh istrinya.
Rizu kecil hanya bisa menangis tanpa tau harus melakukan apa. Statusnya sebagai yatim piatu, mendorong nurani seorang wanita untuk mengadopsi Rizu. Ia merawat Rizu dengan sangat baik, karena ia sendiri tak memiliki keturunan dari mendiang suaminya.
Enam bulan yang lalu setelah sepuluh tahun lamanya, Ibu angkat Rizu meninggal dan mengharuskan dirinya kembali ke kampung halaman orangtuanya. Disana ia tinggal berdua dengan sang nenek yang telah renta, untuk kebutuhan sehari-hari Rizu mengandalkan uang tabungan dari mendiang Ibu angkatnya.
Namun penderitaan Rizu tak berhenti sampai disitu, saat kepindahannya di sekolah barunya ini, dia telah menjadi sasaran pembulky-an Mona dan teman-temannya. Namun Rizu beruntung karena ada Aron yang selalu membelanya, bahkan gadis itu tak pernah membalas perbuatan mereka. Seluruh teman sekelasnya pun tahu bahwa Rizu memang anak yang pendiam dan tak mudah terpancing dengan pembullian yang diterimanya.
~~
Ciitttt ....
Aron menarik rem motornya dan berhenti tepat di depan Rumah Rizu yang sederhana. Hampir setiap hari mereka pulang sekolah bersama.
"Aron, terimakasih!" Rizu membuat gerakan sedikit menundukkan kepalanya seraya tersenyum pada pemuda itu.
"Sama-sama, Rizu." Aron tersenyum manis pada Rizu. "Aku bantu masuk ke dalam ya." Ia mengulurkan tangannya, namun tak disambut oleh Rizu.
"Tidak usah, Ron. Kakiku sudah tidak terlalu sakit. Aku akan mengompresnya dengan es supaya lebih baik." Gadis berambut coklat itu mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum sopan menolak tawaran Aron. "Apa kau mau mampir sebentar?" tanya Rizu.
"Ah, tidak usah Rizu. Kapan-kapan aku akan mampir jika ada waktu. Kau obati saja pergelangan kakimu, aku akan pulang." Aron hanya tersenyum sembari memegang stang motornya. "Rizu salam pada nenekmu ya. Bye" Aron melambaikan tangan sebelum akhirnya ia pergi melaju dengan motornya untuk pulang kerumah.
Rizu berdiri menatap punggung Aron yang perlahan menghilang. Dan ia pun segera melangkah masuk ke dalam rumahnya. Dalam hati Rizu, ia bersyukur memiliki Aron yang sangat tulus padanya walau ia sendiri masih belum memberi kepastian pada laki-laki itu.
~~
Gemercik hujan memecah keheningan suasana malam. Bau harum tanah yang sangat menyengat ditambah dengan udara dingin menusuk tulang membuat pemukiman rumah Rizu tampak sepi. Tidak ada satupun warga yang melintas atau bahkan hanya sekedar bersantai di teras rumah mereka.
Dari balik jendela kamarnya, Rizu menatap hujan yang mulai mereda. Dirinya merasa bosan karena sudah dua hari tak masuk sekolah akibat pergelangan kakinya yang terkilir. Ia berniat keluar sebentar untuk menghilangkan rasa bosan yang melandanya. Dengan segera, Rizu memakai hoodie hitam miliknya dan tak lupa membawa jas hujan sebagai persiapan bila hujan tiba-tiba turun.
"Nek, Rizu mau keluar sebentar," ujar Rizu seraya berjongkok memakai sneakersnya yang terletak di samping pintu.
"Mau kemana? Sudah malam Rizu, hujan juga baru saja reda." Nenek Rizu tampak khawatir bila cucunya berjalan seorang diri di malam hari.
"Tidak terlalu malam nek, masih pukul 8 kurang 5 menit, Rizu harus ke warnet mengerjakan tugas." Rizu beranjak dari posisi jongkoknya dan berdiri menghadap wanita tua itu. Ia sedikit berbohong pada sang nenek mengenai akan mengerjakan PR dari sekolah. "Nenek masuk sana, tidur duluan. Jangan menunggu Rizu. Kalau selesai, Rizu akan langsung pulang kok, Nek." Rizu tersenyum dan memapah sang nenek berjalan menuju kamarnya.
"Hati-hati ya, Rizu. Cepat pulang!" ujar sang nenek yang telah berbaring di peraduannya.
"Iya nek, Rizu berangkat dulu." Rizu berpamitan pada neneknya dan berjalan menutup pintu rumah.
Sepanjang perjalanan gadis itu tak nampak gugup sedikitpun walau ia hanya berjalan seorang diri tanpa ada seorangpun yang berlalu lalang. Dikanan jalan adalah hutan yang begitu luas. Dab sebelah kiri jalan adalan hamparan persawahan. Rasa sakit di pergelangan kakinya membuat ia sedikit kesulitan melangkah.
Gerimis mulai turun bersamaan dengan suara guntur yang bersautan dan disertai kilat yang menyambar. Dari cahaya kilat itu Rizu dapat melihat sekilas dengan jelas keadaan di kanan kirinya yang hanya disinari temaram lampu kuning. Ia memakai jas hujan yang dibawanya untuk mengantisipasi bila hujan sewaktu-waktu akan turun dengan lebat.
Setelah cukup lama berjalan, Rizu berteduh sesaat di warung kecil yang terletak di ujung gang untuk membuka jas hujan yang dikenakannya. Gadis itu pun tiba di warnet yang tak jauh dari warung kecil tadi. Ia segera menuju bilik warnet yang kosong dan sibuk mengutak-atik keyboard seraya menatap layar monitor dengan serius. Setelah 20 menit berlalu, ia menuju penjaga warnet untuk membayar.
Baru saja gadis itu melangkah, ia melihat Aron membonceng Mona dan mereka berhenti di warung kecil untuk membeli 2 botol air mineral. Rizu yang mengetahui keberadaan mereka, segera memakai jas hujan hitam miliknya supaya ia tak dikenali. Rizu memerhatikan gerak gerik Aron dan Mona. Mereka berdua memasuki gang yang dilalui Rizu barusan.
"Sepertinya itu Aron dan Mona?" pikir Rizu seraya menerka-nerka apa yang dilihatnya.
Rizu berjalan perlahan mengikuti gerak nyala lampu belakang motor yang ia yakini adalah Aron dan Mona. Ia kemudian mempercepat langkah kecilnya saat melihat motor Aroon memasuki area hutan yang gelap. Sesekali gadis itu meringis kesakitan karena pergelangan kakinya yang masih sedikit bengkak.
Rizu ikut memasuki area dalam hutan dan mengamati kedua orang itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Dengan bantuan sinar lampu jalan yang temaram, ia bisa sedikit melihat bayangan gelap mereka sedang berpelukan di tengan hutan.
"Aron, akhirnya kau sadar dan lebih memilih aku dari pada wanita munafik itu."
Samar-sama Rizu mendengar percakapan mereka berdua yang tak lain memang Aron dan Mona. Ia melihat Mona melingkarkan tangannya di bahu Aron.
"Aron apa kau akhirnya mencin ... aaaak," Mona belum menyelesaikan kata-katanya, suara lembut itu dalam sekejap berubah menjadi pekikan yang menyiratkan rasa sakit.
Rizu terkejut dan memalingkan wajahnya seketika saat menyaksikan Aron menghunuskan sebuah benda tajam tepat diperut Mona. Pemuda itu lantas menariknya kembali dengan kasar.
Tubuh Mona pun ambruk membentur pohon. Ia terkulai lemas di tanah dengan cairan merah kental yang mengucur deras membasahi bajunya. Beruntung keadaan yang gelap membatasi pandangan Rizu dengan kejadian di hadapannya. Jika tidak, ia akan menjadi pusing dan tak sadarkan diri jika melihat darah.
"A-aron, ke-kenapa kau me-melakukannya?" Mona mencoba bangkit dan menarik kaki Aron. Namun dengan sadis ia menendang tepat dibagian luka tusukan itu sehingga Mona mengerang kesakitan.
"Mona, aku tak suka jika kau mengganggu wanita yang ku cintai. Maka dari itu, terima akibatnya!" Aron dengan kalap bertubi-tubi menghunuskan senjata di tangannya hingga wanita itu benar-benar tewas dengan mengenaskan. Aron kemudian memutilasi tubuh wanita itu hingga menjadi bagian-bagian kecil.
"Aron, kau butuh ini ?" Rizu memberikan sebuah benda di tangannya pada Aroon. Gadis itu memalingkan wajah sembari mencapit hidungnya. Sesekali ia terlihat mual.
"Rizu?" Aron mengambil benda tersebut yang tak lain adalah kantung plastik besar. Ia segera memasukkan semua potongan tubuh Mona.
Mereka berdua berjalan menuju kedalaman hutan yang gelap. Disana ia berhenti pada sebuah tempat yang dikelilingi kawat besi. Aron segera mengeluarkan potongan daging tersebut dan melemparkannya kedalam. Tak lama kemudian, beberapa buaya muncul. Mereka dengan rakus berebut potongan daging yang dilemparkan Aron.
Suara guntur mulai menggelegar memekakkan telinga. Tak lama kemudian awan hitam nan pekat berlanjut melepas beban yang dikandungnya. Hujan deras mengguyur membasahi bumi. Aron dan Rizu tertawa puas, karena sekali lagi hujan membantunya menghilangkan bekas jejak darah diantara daun-daun kering yang berguguran. Begitupun darah yang menempel di bajunya ikut membaur bersama air hujan dan akhirnya hilang.
"Rizu, aku telah melenyapkan mereka bertiga. Sekarang tak ada lagi yang akan menyakitimu. Apa aku sudah berhasil memenuhi syarat untuk menjadi kekasihmu?" Aron menggenggam tangan Rizu yang berada di hadapannya. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Rizu.
"Aron, kau memuaskanku. Untuk itu kau layak menjadi kekasihku!" Rizu berbisik di telinga Aron. Ia tersenyum puas karena akhirnya dendam akibat perundungan yang mereka lakukan bisa terbalaskan dengan setimpal.
Mereka berdua berpelukan mesra di tengah hujan diantara rimbunnya pepohonan hutan. Kedua pasangan psycopat itu menjalin kasih setelah Aron berhasil menghabisi nyawa Mona sebagai sasaran terakhir atas persyaratan dari Rizu, sang dalang.
Epilog :
Rizu terpaksa pergi ke warnet untuk mengirim sebuah email pada Aron agar segera menghabisi Mona. Ia tak memiliki ponsel untuk menghubungi Aron, karena Mona dan teman-temannya telah dengan sengaja menghilangkan ponsel satu-satunya milik Rizu selama ia menjadi bahan perundungan mereka bertiga.
Rizu berdiam diri cukup lama dalam bilik warnet untuk menunggu Aron memberi kabar tentang kesediaan Mona untuk bertemu dengannya. Aron segera membalas E-mail Rizu dan mengatakan bahwa Mona menyetujuinya. Rizu tertawa jahat dengat mata berkilat saat menatap layar monitor yang mengatakan, "Rizu, tunggu aku di hutan. Aron."
-TAMAT-