Namaku adalah Allea, usiaku 20 tahun. aku barusan mendapatkan kabar dari pamanku, kalau Nenek ku telah meninggal dunia karena serangan jantung. Kakek menjadi sakit-sakitan setelah Nenek meninggal, aku sudah tidak mempunyai orang tua.
Aku seorang gadis yatim piatu, jalan kehidupan ku adalah jalan Seorang Gadis miskin. Aku bekerja dari pagi sampai malam, hanya untuk menutupi hutang-hutang dari kedua orang tuaku.
Orang tuaku meninggal dengan memberikan warisan hutang yang sangat menumpuk, ayahku gemar berjudi.. ibuku selalu bersenang-senang. hal itu membuat aku harus menanggung kepahitan yang telah mereka berikan padaku.
Aku selalu bekerja siang dan malam, tanpa menghasilkan sepeser uang untuk aku buat bersenang-senang. Dunia ini terasa kejam bagiku, Aku seorang gadis muda namun hidupku terasa pahit. Bagaimana tidak terasa pahit Aku bekerja dari pagi hingga malam. Namun, saat aku aku mendapatkan gajian... di depan rumah akan ada sederet orang yang menagih hutang-hutang kedua orang tuaku, hal itu membuatku selalu miskin setelah membuka amplop gajian.
Kutatap amplop gajian, setelah para penagih hutang itu pergi dari rumah. Yang ada hanya beberapa lembar uang untuk kehidupanku selama 1 bulan. Yang jelas.. itu tidak akan cukup untuk mengenyangkan perut ku hingga gajian berikutnya.
Namun aku selalu bersyukur atas segala kenikmatan yang diberikan Tuhan untukku, apalah dayaku Jika garis Tuhan seperti in. Aku hanya selalu berdoa kepada Yang Maha Esa agar jalan hidupku diberikan yang lebih baik.
Saat aku pulang kerja, aku mendapati seorang pria berdiri di depan rumahku. Yang kulihat sosok pria itu seperti aku kenal.. wajahnya sekitar berumur 35 tahun ke atas, namun dia terlihat sangat berwibawa. Aku berjalan maju menghampiri sosok seorang pria yang berdiri di depan rumah kecilku.
Rumahku hanya berisi satu kamar saja, persis seperti rumah kos-kosan, namun aku bersyukur karena orang tuaku masih meninggalkan rumah untuk ku walaupun sangat kecil.
Kuhampiri pria itu dan menyapanya.
"Maaf tuan, ada apa kiranya Anda berada di depan rumahku?"
Aku bertanya kepada sosok pria yang berdiri tepat di pintu rumahku, pria itu menatapku sambil tersenyum.
"Apakah namamu Alea Farhan?" tanya pria itu kepadaku.
"Iya," jawabku, sambil menatap sosok pria yang masih berdiri mematung di depan rumah.
"Aku datang ke sini, karena disuruh oleh kakak Farhan untuk menjemputmu," jawab pria itu sambil menatap rumah kecil yang ku tempati.
Terlihat pria itu memutar matanya saat menatap rumah yang aku huni.
"Yang aku tahu, ayahmu mempunyai rumah yang cukup besar, Kenapa berubah jadi sekecil ini?" tanya pria itu kepadaku.
Aku tersenyum, karena tidak mungkin aku membuka aib kedua orang tuaku yang suka bersenang-senang dan berjudi.
"Kebutuhan selalu mendesak, Tuan," jawab ku.
Aku tersenyum menatap pria itu. terlihat pria itu tersenyum menatapku, lalu memberikan sebuah surat kepadaku.
"Apa ini Tuan?" tanyaku kepada pria itu.
"Tuan Farhan mengirimku ke sini, untuk membawamu ke tempat beliau," jawab pria itu sambil menatap rumahku terus-menerus.
Mungkin di dalam hatinya rumahku seperti rumah kos-kosan anak sekolahan, atau para pekerja pabrik yang jauh dari luar kota. Namun aku tidak peduli, beberapa saat kemudian aku membuka amplop yang diberikan pria itu dan membacanya. Terlihat disana tulisan itu adalah tulisan kakek Farhan, kakek Farhan adalah kakekku dari ayah.
"Apa yang terjadi dengan Kakek, Tuan?" tanyaku kepada pria itu.
"Kakekmu sedang sakit, dan dia memintaku untuk menjemputmu.. untuk pindah ke tempat beliau. Karena Nenekmu sudah meninggal, apalagi beliau sudah tidak punya keluarga semenjak adik ayahmu telah meninggal beberapa tahun yang lalu," jawab pria itu yang kemudian duduk di lantai bawah rumah.
"Ah Tuan! jangan duduk di sana itu kotor!" seruku kepada pria itu, yang kemudian tersenyum padaku.
"Panggil saja aku Aldi, jangan tuan-tuan seperti itu. Aku terlihat sangat tua ya!" seru pria itu sambil tersenyum padaku.
"Bukan seperti itu, tuh.. anu.. maaf kak Aldi." jawab karena kebingungan yang menatap pria pria yang selalu tersenyum, hal itu membuatku jadi salah tingkah.. jujur saja, pria itu walau tidak berkulit kuning, namun kulit coklatnya membuatku terpesona saat pertama kali melihatnya.
"Aduh, aku ini seperti seorang wanita yang gampang sekali untuk jatuh hati." gerutuku dalam hati saat menatap wajah manis dari pria yang disuruh oleh kakek untuk menjemputku.
"Ya.. aku bisa meminta tolong pada mu tidak?" tanya kak Aldi kepadaku.
"Iya kak, Memangnya ada apa?" tanyaku kepada kak Aldi.
"Bisakah aku meminta air padamu, karena tenggorokanku haus." jawab kak Aldi.
"Tentu"
Akhirnya aku masuk ke rumah dan mengambilkan segelas air kepada kak Aldi, sebelum itu aku meminta pria itu untuk masuk ke dalam rumah. Karena tidak sopan membiarkan seorang tamu berada di luar.
"Ini kak minumannya."
Aku yang kemudian menyodorkan segelas air putih kepada kakak Aldi.
"Cepatlah kau bereskan pakaianmu, karena aku takut Tuan Farhan sakitnya akan semakin parah." seru kak aldi.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Kakek?" tanyaku kepada kak Aldi.
"Tuan mengalami serangan jantung, semenjak Nenekmu meninggal.. kakekmu sering sakit-sakitan!" jawab kak Aldi.
Akhirnya aku masuk kerumah dan mempersiapkan semua pakaianku, untuk pindah ke rumah kakek Farhan
1 jam kemudian
"Aku telah ah mengemasi barang-barang."
"Akhirnya aku ikut dengan kak Aldi,"
Sekitar satu jam kemudian, akhirnya aku dan kakak Aldi telah sampai di rumah kakek Farhan rumah dengan nuansa kuno daron Amin ornamen yang sangat menyeramkan membuatku, Aku jarang untuk berkunjung ke rumah kakek. Karena aku tidak terlalu suka dengan kesukaan kakek mengoleksi barang-barang kuno yang menurutku sangat angker.
Akhirnya aku tinggal di rumah Kakek Farhan, aku merasa kasihan padanya. malam menjelang entah apa yang yang ada di rumah itu.
Namun tiba-tiba, sebuah cermin yang ada di kamar yang aku tempati bergerak tidak menentu hal itu membuatku langsung meloncat dari ranjang yang aku tempati. mataku lagi sir atau bagaimana ya Kenapa panjang itu cermin itu itu bergerak terus.
Aku bergumam dalam hati saat melihat sebuah cermin yang bergerak tidak menentu, karena aku tidak ingin in merasa ketakutan. Akhirnya aku tidak menghiraukan cermin yang bergerak, ku pejamkan mataku sembari menghibur hatiku agar tidak ketakutan.
"Namun beberapa saat kemudian, entah apa yang membuatku malah ingin bangun dan ke kamar mandi, saat aku selesai dari tempat kamar mandi kulihat sesuatu bayangan ada di dalam cermin. aku tetap mencoba menenangkan hatiku, agar tidak ketakutan, namun apa yang terjadi malah bulu kudukku merinding seluruhnya. hal itu membuatku malah semakin ketakutan.
10 menit kemudian
"Setelah aku tidur
Sesaat aku mendengar seperti seseorang yang sedang berbisik padaku, hal itu membuat bulu kudukku merinding. aku tetap berkonsentrasi dan tidak menghiraukan sosok yang berguman di telingaku karena aku tidak ingin melihat sesuatu penampakan di rumah kakek.
Entah mengapa, rasanya salah satu kaki ku merasa seperti ada yang mencengkram tiba-tiba aku langsung terbangun karena kaget dengan hal itu.
"Aaaa!"
Aku langsung berteriak karena kakiku merasakan ada yang mencengkram, karena di dalam kamarku tidak ada orang yang menempati selain diriku.
Sesaat kemudian
Nampak kak Aldi langsung masuk ke dalam kamarku, karena aku berteriak dengan sangat keras nya.
"Sda apa alea?" seru kak Aldi yang masuk ke dalam kamarku, aku langsung meloncat dari ranjangku dan memeluk kak Aldi.
"Tadi ada yang mencengkeram kakiku kak, dan menyeret ku." seruku kepada kak Aldi.
Nampak kak Aldi menatap ruangan yang aku tempati, di sana tidak ada orang. Sesaat kemudian kak Aldi langsung mengajakku keluar dari kamar menuju dapur, entah mengapa rumah kakek Farhan begitu menyeramkan. malam itu aku begitu ketakutan dan sulit untuk tidur, sesaat kemudian aku mendengar kakek yang sedang terbatuk di kamarnya dan Kak Aldi di langsung berlari menuju kamar kakek, aku mengikuti kak Adi berlari ke ruangan Kakek.
Di sana, kulihat kakek berdiri sambil berpegangan pada ranjangnya.
"Kakek!" seru kak Aldi kepada Kakek Farhan.
"Ambilkan aku air, Aldi!" seru Kakek Farhan.
Setelah hari itu, tiap malam aku selalu tidak bisa tidur. Seolah ada seseorang yang memperhatikan aku di kamarku, aku sering merasakan kehadiran seseorang di tempat ku, hingga suatu ketika aku begitu terkejut dengan bayangan hitam yang berada di atas tubuhku. Hal itu membuat aku langsung terkaget, namun entah mengapa tubuhku seolah tidak bisa digerakkan.
"Tol..tol-tolo-ng" aku berteriak, namun suaraku serasa tidak bisa keluar. Entah apa yang terjadi.. namun tubuhku serasa dingin seperti berada di kutub Selatan, sesaat kemudian nampak sosok hitam itu berubah menjadi sosok wanita tua, dengan kuku-kuku yang sangat panjang dan wajah yang sangat menyeramkan.
Kemudian dia mencekik leherku yang membuatku tidak bisa bernafas, aku terus meronta meminta pertolongan. Namun rasanya mulutku tidak bisa terbuka, karena yang aku lihat sosok di depanku adalah sosok hantu yang sangat menyeramkan, aku terus meronta berusaha melepaskan cekikan wanita menyeramkan itu. Namun yang terjadi malah rasanya suaraku tidak bisa keluar dan nafasku terasa hampir terputus.
Sesaat kemudian, Kak Aldi langsung masuk ke kamarku, dan menarikku dari Ranjang.Nafasku langsung tersambung seolah aku mendapatkan sebuah asupan nafas yang sangat banyak.
"Kak!" aku begitu terkejut melihat sosok Kak Aldi yang sudah masuk ke kamarku, dia menolongku seperti seorang malaikat yang baru memberikan nyawa kepadaku.
"Mengapa kau selalu mengganggu kami!" seru Kak Aldi. kepada sosok wanita menyeramkan yang melayang di atas tempat tidurku.
"Aku lapar! berikan aku makanan." seru hantu itu yang membuatku langsung merinding seketika.
"Pergilah dari sini! kau jangan mengganggu kami!" seru Kak Aldi yang kemudian mendekap ku.
Entah apa yang dibacakan Kak Aldi, yang membuat hantu itu lenyap seketika. Aku menatap wajah tampan pria yang ada di depanku, namun saat aku ingin berbicara... tubuhku serasa lemas, dan aku langsung pingsan.
Kak Aldi membawaku aku ke suatu tempat yang berada di rumah Kakek. Saat aku terbangun, nampak aku menatap ruangan yang ada di sana.
"Kau sudah bangun?" tanya Kak Aldi kepadaku.
Aku menganggukkan kepala sambil tersenyum padanya.
"Siapa dia Kak?" tanya ku kepada Kak Aldi.
Nampak Kak Aldi terdiam sambil menghela nafasnya berat.
"Hantu itu hampir membunuhku Kak!" seruku kepada Kak Aldi. hal itu membuat Kak Aldi langsung membelai rambutku dan memelukku.
"Sebenarnya, aku tidak ingin mengajakmu ke tempat ini. Namun kakek memintaku untuk membawamu kemari." jawab kak Aldi yang membuatku bertambah bingung.
"Memangnya ada apa Kak? Kenapa ada makhluk seperti itu di rumah kakek?" tanya ku kepada Kak Aldi.
Sesaat kemudian, Kak Adi menceritakan semua kejadian yang ada di rumah Kakek Farhan, kejadian beruntun yang membuat seluruh keluarga Kakek Farhan hanya tertinggal aku seorang. Aku begitu kaget mendengar cerita dari Kak Adi, ternyata kakekku melakukan perjanjian dengan cermin tua yang ada di kamarku.
Kamarku adalah kamar bekas dari kamar Paman, adik dari ayahku, anak kedua dari kakek Farhan. Sesaat kemudian, aku menangis meratapi kehidupan ku.
"Lalu Bagaimana ini Kak?" tanyaku kepada Kak Aldi, nampak Kak Aldi menatap wajahku sambil menunjukkan kebingungannya.
"Hantu itu menginginkan keturunan dari Kakek mu, sebagai ganti dari kekayaan yang diberikan kepadanya. Kakekmu merasa menyesal setelah keluarganya hilang semua, yang tersisa hanya dirimu.. kakekmu seperti orang gila sekarang karena itu sebagai keturunan yang terakhir kau tolonglah kakekmu, dan buatlah dia menjadi orang yang terbebas dari dosa-dosanya!" ucap Kak Adin sambil menatapku dengan lekat.
Kulihat bola mata hitam dari pria yang ada di depanku.
"Sudah berapa tahun Kak Ardi bekerja dengan kakek?" tanyaku kepada Kak Aldi.
"Sejak aku remaja." Jawab kak Aldi.
"Lalu, mengapa sampai sekarang kakak belum menikah?" tanyaku kepada Kak Aldi.
"Karena aku tidak akan pernah menikah, saat aku bertemu dengan wanita yang aku cintai. Mereka selalu bernasib mengenaskan." jawab Kak Aldi sambil memandang ke atas langit-langit kamarnya.
"Apakah kita bisa menghancurkan hantu itu?" tanya ku kepada Kak Aldi.
"Tentu bisa, namun saat hantu itu telah musnah mungkin nyawa kakekmu juga akan ikut bersamanya." jawab Kak Aldi.
"Lebih baik Kakek merasakan ketenangan dengan jalan kematian, dari pada Kakek harus tersiksa seperti ini, melihat satu persatu keluarga dan orang dekatnya meninggal dunia," jawabku sembari menatap wajah Kak Aldi, ku pegang tangan pria itu, lalu aku memberi semangat dan mengucapkan satu kalimat padanya.
"Kita temui kakek dan mencari tahu bagaimana cara membunuh hantu itu," ucapku kepada Kak Aldi.
Hal itu membuat Kak Aldi langsung mengangguk dan mengajakku ke ruang kamar Kakek, di sana terlihat kakek wajahnya sangat pucat seperti seorang yang akan kehilangan nyawa.
Aku mendekati tubuh Kakek Farhan dan kulihat pria itu menatapku dengan tatapan yang begitu menyedihkan. Sesaat kemudian terlontar sebuah kata yang membuat hatiku langsung tersentak.
"Maafkan Kakek, maafkan segala kesalahan Kakek." ucap Kakek Farhan sambil menatap wajahku.
"Dengarkan aku kek, aku minta tolong kepada kakek. Bagaimana cara untuk menghancurkan hantu itu." aku langsung bertanya kepada kakek dan hal itu membuat kakek langsung menatapku dengan sangat Nanar.
Kemudian kakek menceritakan semua mengenai hantu itu, dan memberitahukan cara untuk menghancurkan cermin itu. Aku dan Kak Aldi mendengarkan apa yang dikatakan oleh kakek.
Setelah aku dan Kak Aldi diberitahu kakek mengenai cara menghancurkan cermin itu, Akhirnya aku dan kak Aldi mencari semua barang-barang dan keperluan untuk menghancurkan hantu yang ada di dalam cermin.
Kak Aldi bertugas untuk membuat hantu itu kehilangan fokus kepada Kak Adi, sedangkan aku akan menghancurkan cermin yang ada di kamar. Kami bekerja sama.. kami saling melengkapi satu sama lain, dan di saat yang tepat. Akhirnya Kak Aldi membuat hantu itu keluar dari cermin dan mengejar Kak Aldi.
Saat dia mengejar Kak Aldi, aku langsung menuju kamarku dan mengambil cermin yang ada disana. kutatap cermin itu yang ternyata ada sebuah foto dibalik lukisan itu, foto seorang wanita cantik yang memakai gaun zaman dahulu. Aku langsung menghancurkan cermin itu dan membakar foto di balik cermin.
Setelah kejadian itu, Kakek meninggal dunia Dengan sangat damai. Aku menempati rumah itu berserta ke Aldi, dan beberapa bulan kemudian. Kak Aldi melamarku untuk menjadi istrinya, aku menerima lamaran itu. Kami berdua berkerja memulai dari nol.
Akun tidak pernah memakai kekayaan dari Kakek Farhan, karena aku takut harta yang dimiliki Kakek Farhan akan berbuntut pada keturunanku. Aku dan Kak Aldi berjuang mulai dari nol untuk merintis perusahaan yang kami dirikan.