ku sugguhkan kisah tentang kedua saudara yang terpisah jauh selama bertahun tahun kisah mereka tak terdengar bagai ditelan bumi pada pagi yang cerah ini Rivano yang ber ada di luar rumahnya diiringi dengan embun pagi yang menetes bak sebuah berlian bagi Rivano sedangkan bagi Alvaro belajar adalah hidupnya dan resiko adalah jiwanya mereka berdua adalah anak yang sangat berbeda
Pagi ini Rivano akan ikut bersama ibu angkatnya untuk pergi ke sebuah hotel sesungguhnya ia masih ingin mencari tau tentang adiknya yang sudah tak bertemu dengan dirinya selama bertahun tahun
sedangkan Alvaro masih setia membaur dengan tumpukan buku bukunya sebab nilai ujiannya 95, aneh bukan? tapi itu lah kenyataan yang di alami sendiri oleh Alvaro
"Varo ayo makan dulu, jangan menghukum dirimu sendiri! kau boleh belajar namun jangan sampai menyiksa dirimu!"
"...."
tapi sama sekali tak ada jawaban dari sang pemilik kamar sehingga bibi pun menyerah dan membiarkan Alvaro kembali berbaur dengan buku bukunya
sementara disisi lain Rivano sedang menatap embun pagi yang menetes di dedaunan segar, mendengar senandung angin yang merdu, dan matahari pagi indah yang muncul secara malu malu
perlahan namun pasti Vano mengotak atik laptopnya ia masih berjuang untuk mendapatkan data dari adik nya meski ia tau jika sampai sampai ibu angkatnya yang bernama Rosie tau maka ia akan akan dimarahi habis habisan tapi rasa sayangnya terhadap sang adik membuat nyali Vano menjadi sangat besar bahkan ia siap menerima resiko apapun itu
tapi selalu saja usaha Vano gagal data data yang ia cari tak pernah ia temukan
jujur saja Varo memang anak yang benar benar tertutup ia sangat jarang membuka topi yang selalu menutupi wajah tampannya itu
"aishh mengapa adikku sangat tertutup DNA nya sudah sama namun mengapa nama dan lain sebagainya tak kutemukan!?"
"Vanoooo kamu ada dimana nak???"
"astaga gimana ini!? mama Rosie bakal marah kalau tau aku lagi cari adikku! ah aku bilang aku lagi belajar aja lah!"
"astaga Vano kamu bikin mama panik tau!"
"kenapa mah? ada masalah?"
"kamu ngapain main laptop lagi!" menatap intens sang anak
"aku lagi belajar mah soalnya nilai bahasa inggris ku menurun" menunduk
"aishhh kenapa ngga bilang dari dulu kan mama bisa ngasih kamu fasilitas lagi! malah diem aja lagi"
"ya maaf ma"
"yasudah kamu ke kamar besok mama akan membeli komputer untukmu"
"benarkah ma?"
"tentu saja apa sih yang ngga demi Vano ku inii hmm?"
"hehe terima kasih ma"
"iya"
Vano pun membuang nafasnya lega saat melihat sang ibu mulai menjauh dari pandangan matanya seolah olah dia baru saja akan dibawa ke alam baka
keesokan paginya benar saja sebuah komputer keluaran baru sudah berada di depan mata Vano pagi itu pun menjadi pagi terbaik untuknya
"hm... mama"
"ada apa Vano?"
"em aku ingin pindah sekolah..." kata Vano memberanikan dirinya
"eh!?"
"ah kalau tidak boleh juga tidak apa apa kok ma" tersenyum
"hah siapa yang bilang ngga boleh?"
"jadi boleh ma?"
"ya boleh dong nanti sore kita berangkat... tapi kamu mau bersekolah dimana??"
"aku mau di L 'a school mah"
"wah selera mu tinggi juga ya... yasudah kamu packing dulu nanti sore kita berangkat"
Vano sangat tak sabar menunggu sore hari datang bahkan rasanya hari ini berjalan sangat lambat bagi Vano namun beberapa saat kemudian hal hal yang ditunggu Vano datang ya jam 3 sore tepatnya
Rosie dan Vano sudah sampai di tempat baru nya namun kini Vano harus membaur dengan daerah perkotaan yang jauh dari kata pemandangan yang indah
Sesungguhnya Vano tak ingin kemari namun ia sangat ingin menemukan adikknya itu membuat semangatnya membara
malam pun semakin larut angin dingin menerpa tubuh Vano itu membuat pikirannya kembali ke masa lalu ia masih ingat jelas bagaimana ia dan adiknya dipisahkan secara paksa
bahkan ia melihat bagaimana kedua orang tuanya pergi tak menghiraukan mereka yang menangis semakin keras
jujur hatinya sangat sakit setiap mengenang semua hal itu tapi ia berusaha menenangkan dirinya sendiri karena esok adalah hari yang sangat ia tunggu tunggu
dan pagi ini Vano sudah siap dengan sangat rapi padahal ini masih jam setengah 6 pagi
"wah Vano kamu sangat rajin ya? pagi sekali kamu sudah bersiap...."
"hehe aku sangat bersemangat mah"
"yasudah ayo sarapan"
"iya"
Vano dan ibu angkatnya menikmati makanan yang ada disediakan dengan lahap tanpa disadari waktu mulai berjalan dan menunjukkan pukul 6 yang artinya Vano harus segera berangkat ke sekolahnya
sesampainnya ia disekolah Vano langsung berlari menuju kelas 6C dengan tergesa gesa meski ia tak yakin adikknya ada disini namun ia akan mencobanya dulu
tiba tiba saat Vano berlari ia menabrak seorang anak yang sangat tertutup
"e-eh m-maaf"
"....."
"oh ya namamu siapa??"
"......"
anak itu langsung meninggalkan Vano sendiri dengan jabat tangan yang terabaikan
"yak jawab aku atau aku akan menerormu!"
"....."
"cepat jawab aku!"
"....."
"jawab atau aku tak akan berhenti!"
"Alvaro Slints Whingston"
"APA!?"
"apa sih? berisik! jangan ganggu aku!"
"Hey berhenti disana!"
"apa lagi??"
"apa kau tak mengenal Rivano Sean Whingston!?"
"HEY JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA ITU!"
"kenapa! aku kakakmu! aku berjuang mati matian demi kau!"
"ck kenapa lo datang lagi! gw ngga suka seseorang berisik seperti anda!" pergi begitu saja
"yakh!---"
"sudahlah tuan Vano, Varo sudah berubah dia bukan Varo yang dulu"
"b-bibi!? apa maksud bibi?"
"Varo sudah banyak berubah ia tak pernah mau menyayangi siapapun ia membenci ssemua orang dan ia tak akan mau menurut pada siapapun termasuk pada bibi jadi saya sarankan tuan Vano jangan mengganggu Varo dulu mood nya sedang sangat tidak baik"
"aku tidak memperdulikan apapun! aku hanya ingin adikku kembali padaku! aku sangat rindu akan tawa dan kenangan kita bersama"
Vano berlari entah kemana namun tak ada lagi yang bisa mencegahnya keiinginan bulatnya untuk menemui sang adik sungguh sangat besar
"hosh hosh.... Varooo kau dimana!?"
tiba tiba Vano mendengar suara isak tangis seseorang yang mungkin sangat familiar di telinga Vano, tanpa basa basi lagi Vano langsung mencari tau tentang suara tersebut dan apa yang ia dapati? orang yang tadinya sangat dingin dan tertutup ternyata adalah seseorang yang melankolis
"hiks kenapa!? kenapa orang yang sangat ku usahakan untuk ku lupakan justru ia kembali ke dalam hidupku!? mengapa!? mengapa dia harus kembali aku tak mau jika dia kembali lagi!"
"kenapa hm? apa salahku hingga kau membenci ku?"
"k-kau!?"
"iya ini aku, mengapa kau sangat membenciku hm? bahkan bibi mengatakan kalau kau juga kasar padanya? apa salah kami semua? bukankah yang bersalah orang orang yang telah memisahkan kita? apa salah ku dan bibi??"
"....."
"Jawab aku! mengapa kau diam saja?"
"....."
"hey adikku jangan hanya diam saja!"
"diam lah aku bukan adikmu! dan ya kau ingin tau kan mengapa aku sangat membenci mu dan bibi? aku tak membenci kalian aku hanya tak ingin menyayangi siapapun! perasaan hubungan adalah sebuah kelemahan yaang membuatku sangat sangat lemah jika kehilangan namun jika aku tak menyayangi dan menjalin hubungan yang terlalu dalam maka aku tak akan lemah saat kehilangan"
"hey dengar kan aku baik baik hubungan itu kelemahan atau kekuatan kau lah yang membuatnya kau ingin membangun pilar rumah yang lemah atau kuat itu juga pilihanmu, jadi sekarang semuanya adalah pilihanmu apa kau tak ingin membuka lembaran lembaran masa lalu kita yang bahagia? apa kau tak mau?"
"......"
"hm.. baik aku akan memberimu waktu dulu, sampai jumpa" Vano menghapus air matanya dan ingin pergi ke kelasnya
"tunggu dulu!"
"ada apa?"
"k-kau b-benar"
"apa!?"
"ku rasa kau benar! jujur aku ingin disayangi tapi aku takut orang yang ku sayangi akan pergi meninggalkan ku seperti ayah dan ibu😭"
"tenanglah aku disini bersamamu"
secara tiba tiba Vano memeluk Varo yang sudah tertunduk sedih ia ingin mengulang segalanya ia ingin agar adikknya bahagia dan ceria seperti dulu dan hari hari pun berlalu deperti biasanya namun kali ini terukir senyum di wajah mereka dan bahkan mereka tak akan melupakan satu sama lain hingga mereka menemukan pasangan mereka masing masing.
~END~