Di sebuah desa yang agak jauh dari perkotaan, tempat yang jarang tersentuh oleh pemerintahan. Tempat yang jarang terjamah oleh polisi. Meski begitu tempat ini adalah desa yang indah karna keasriannya. Masih banyak pohon - pohon besar menjulang langit. Air sungai mengalir yang jernih. Desa ini juga memiliki pesona alam, air terjun setinggi 7 meter adalah kebanggaan penduduk setempat.
Dalam sebuah rumah berdinding anyaman bambu, seorang pemuda sedang duduk di dipan-nya, di tangannya tergenggam sebuah buku. Ternyata anak lelaki berusia 17 tahun ini sedang belajar.
"alexi..., kamu lagi sibuk nak? "
Seorang wanita paruh baya masuk kedalam kamar itu.
"....."
Alexi menurunkan buku yang menutupi wajahnya.
" Kamu bisa anter sayuran ini kepasar ? "
Wanita itu mengangkat sebuah keranjang penuh berisi sayuran.
" ..... "
Alexi tersenyum hangat pada sosok yang ia anggap pahlawan dihadapannya.
" taruh aja di situ mak!, Alexi mandi dulu,
Baru kepasar.
Wanita paruh baya itu membalas senyum putranya.
"tentu saja, mak juga udah siapin sarapan,
Kamu harus sarapan dulu sebelum pergi. "
" baik mak. "
Alexi langsung menuju kamar mandi yang berada di luar rumahnya untuk membersihkan diri.
Alexi mendongakkan kepala ke arah langit.
" kayaknya mau hujan "
Alexi membatin.
Memang, sekarang sedang musim penghujan. Hampir setiap hari langit di selimuti oleh awan Kelabu.
Untuk mencapai pasar, Alexi harus berjalan cukup jauh. Karena jalan yang di gunakan hanya jalan setapak, Alexi tidak bisa menggunakan kendaraan bermotor.
Setelah melewati hutan, tibalah Alexi ditepi sungai. Pasar yang ia tuju ada di seberang sungai ini. Jadi warga setempat harus menggunakan perahu atau rakit untuk sampai ke pasar.
Rintik hujan mulai turun. Alexi tergesa gesa menuju pinggiran sungai, disana sudah ada seorang laki-laki siap dengan rakitnya yang biasa bertugas mengantarkan warga yang ingin menyebrang.
Alexi menghentikan langkahnya.
Pemuda ini memandang berkeliling.
Kemudian dia terdiam sebentar.
" ada suara... "
Pikir Alexi.
Kemudian ia terdiam lagi, mungkin belum yakin dengan apa yang di terima telinganya.
Tapi Alexi kembali mendengar suara itu.
" suara seorang wanita.. "
Alexi mendatangi arah suara itu.
Pemuda ini menggosok - gosok matanya.
Ada seorang gadis sedang menangis di tepian sungai agak jauh dari penyeberangan rakit. Sementara hujan bertambah lebat.
" hei.... "
Alexi mencoba bicara pada wanita yang sedang menangis itu. Tapi wanita itu tak meresponnya.
" hei...., kamu lagi ngapain? "
Alexi kembali menyapa gadis yang seperti sedang sedih itu.
Tidak seperti sebelumnya, wanita ini merespon sapaan Alexi.
Wanita ini mengangkat kepalanya, kemudian menoleh ke arah Alexi.
" ya ampun..., cantik banget..!! "
Alexi langsung terpesona oleh kecantikan gadis di depannya.
Wanita ini menarik kembali pandangannya,
Kemudian kembali membenamkan wajah di kedua lututnya.
" ...... "
Alexi jadi kesal dibuatnya. Sepatah katapun tidak keluar dari mulut gadis itu atas perhatiannya.
" Kamu bisu ya...? "
Tanya Alexi karna gadis itu mengacuhkannya.
Gadis itu kembali mengangkat wajahnya.
" Kamu bicara padaku? "
Tanya gadis itu sambil menunjuk kearah dirinya sendiri.
Alexi terdiam sebentar. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
" memang ada orang lain di sini? "
Alexi jadi kesal.
Gadis ini terdiam. Wajahnya kebingungannya.
" Kamu......, bisa lihat aku? "
Tanya gadis ini putus putus.
Pelipis Alexi berkeringat meski cuaca tidak hujan.
" cewek aneh! Emang kamu hantu ?! "
Gadis itu merengut kesal,
" enak aja, aku belum mati ya! Jangan seenaknya bunuh orang dong! "
Alexi cuma bisa terdiam, heran dengan tingkah gadis itu.
" Kamu kenapa tadi nangis ? "
Alexi yang sedari tadi penasaran, akhirnya bertanya juga.
Gadis yang di tanya memandang lekat pada Alexi. Tidak ada jawaban darinya. Yang dia lakukan cuma menggaruk pipinya.
" gak papa kalau gak mau bilang, tapi mending kamu cari tempat berteduh. "
Alexi memandang kearah langit.
" sebentar lagi hujan akan semakin lebat. "
Alexi melepaskan jaketnya, kemudian ia pakaikan pada gadis itu supaya tidak kedinginan.
Gadis itu masih terdiam, ia memandang lekat Alexi.
" aku harus pergi sekarang. "
Alexi melambaikan tangan sebelum pergi.
*****
Malam hari di Desa Kembang Harum di mana Alexi tinggal, masih di rundung hujan juga.
" Alexi, ayo makan, kita makan bersama "
Seorang wanita tengah baya dibantu anak perempuannya sedang menyiapkan makan malam. Dalam keluarga kecil ini wanita inilah kepala keluarganya. Suaminya meninggal dunia saat Alexi masih kelas 6 SD
.
" Mak coba liat ini deh.! "
Nia, adiknya Alexi menyodorkan hpnya pada ibunya.
" kenapa Nia? "
Ibu dua anak itu, memerhatikan layar hp Nia.
" cantik kan mak? "
Ujar Nia kemudian.
Wanita itu mengangguk.
" pasti bukan orang sini, "
" wah, mak hebat, iya mak memang! "
Nia mengotak-atik hpnya.
" kemaren tu, di pinggir sungai ada mayat ditemuin. Dan penduduk kita gak ada yang kenal sama cewek ini. "
" cewek yang kamu maksud, yang kamu tunjukin ke mak tadi? "
" ya mak! Sayang ya mak padahal cantik banget! "
" siapa yang cantik? "
Alexi baru datang dari arah kamarnya.
" coba liat deh kak, cantik kan ? "
Nia menunjukkan sebuah phooto seorang gadis dalam hpnya.
Alexi membelalakan matanya.
" ini cewe yang tadi pagi kan ? " batin Alexi.
" gak usah melotot gitu kak!, ternyata bahkan Kak Alexi yang terkenal dingin sama cewek, bisa segitunya sama cewe ini. "
" dari mana kamu dapet poto itu? "
" ih..., kakak ketinggalan nih! , kemaren itu, ada mayat cewek ditemuin di pinggir sungai
. Iya ini nih ceweknya. "
Alexi menggigil seketika.
" mayat ? "
Alexi benar benar tidak mengerti apa yang terjadi padanya.
" udah makan dulu, jadi gak enak makanannya karena obrolan kalian "
" ya mak.. "
Malam itu pikiran Alexi banyak dipenuhi tanda tanya.
*****
Pagi itu berbeda dari biasanya. Langit Kelabu sedang bersembunyi saat ini. Langit cukup cerah meski berawan.
Alexi setengah berlari sekarang. Dia hampir terlambat kesekolah. Ini gara gara dia kurang tidur semalam.
" uh..., cewek itu bikin aku telat nih. "
Alangkah terkejutnya Alexi setelah sampai dipinggir sungai. Seorang gadis cantik tengah berdiri memandangi arus sungai.
" Kamu ngapain? "
Tanya Alexi setelah dekat.
Gadis itu menoleh kearah Alexi.
" ah...., gak jadi.. "
Alexi berpaling dan hendak meninggalkannya.
" tunggu... "
Cegah gadis cantik itu.
Alexi tak menghiraukannya. Terus saja ia berjalan. Saat ini satu satunya rakit sudah ada di tengah sungai dengan sekelompok anak berseragam sekolah.
" bakalan bener-bener telat nih "
Alexi menggerutu kesal.
" tunggu... "
Gadis tadi menarik lengan Alexi.
Refleks Alexi mengibas kuat tangannya.
" hah...., kamu bisa menyentuhku? "
Alexi keheranan.
" ...... "
" makanya aku kemaren bingung, karna kamu bisa liat aku, padahal yang lainnya enggak. "
Jelas gadis itu.
" gimana mereka bisa liat kamu, kamu kan udah mati... "
Jawab Alexi cepat. Sedetik kemudian tendangan kuat dari gadis dihadapannya mengenai tulang keringnya.
Alexi mengelus-elus kakinya.
" gimana, masih mau bilang aku hantu? "
Tanya gadis cantik itu.
Alexi menatap tajam pada gadis itu.
" memang aneh..., kalau dia hantu, kenapa aku bisa melihatnya, bicara dengannya, bahkan dia barusan menendangku! "
Alexi membatin.
" aku belum mati ! "
" apa buktinya? "
" dukun itu bilang aku masih hidup! "
" dukun? "
Alexi masih belum mengerti.
Gadis itu terdiam, memandang lekat pada Alexi.
" begini saja, kamu ikut aku, nanti aku jelasin "
Kini Alexi yang terdiam. Pemuda ini seperti sedang memikirkan sesuatu.
" nggak mau! Aku mau sekolah, udah telat. "
Alexi berbalik, dia tidak punya waktu mengurusi gadis hantu itu.
" tunggu! "
Gadis itu menarik seragam Alexi.
Alexi menghentikan langkah.
" tolong aku, aku dalam masalah,... "
Gadis itu menahan kata-katanya.
Alexi memandangi hantu cantik itu.
" Sebenarnya aku sudah putus asa, tapi sekeras apapun aku menangis tak ada yang menyadari keberadaanku, lalu saat itu kamu datang.... "
Gadis yang sebelumnya menunduk itu mengangkat wajahnya.
" cuma kamu yang bisa aku mintai tolong, jadi....., apapun permintaanmu, aku janji aku akan mengabulkannya... "
Alexi berfikir sebentar sebelum menjawab
" pulang sekolah nanti, tunggu aku disini. "
" lalu jangan berfikir kamu bisa mengabulkan keinginanku, kamu bukan tuhan. Aku akan menolongmu dengan ikhlas "
Kata-kata Alexi itu memberi secercah harapan bagi gadis Malang itu.
*****
Sore itu langit kembali bersedih, rintik hujan mengiringi langkah Alexi. Di sepanjang perjalanan tak ada yang menyadari keberadaan gadis hantu yang berjalan di samping Alexi.
" jadi memang cuma aku yang bisa liat "
Alexi membatin.
" kayaknya gitu... "
Gadis itu memandang berkeliling.
Alexi benar-benar kaget dibuatnya.
" aku bicara dalam hati lho..., kok dia denger...??! "
Gadis itu memandang Alexi
" gak tau, sejak keadaaku begini, aku jadi bisa denger yang orang sembunyiin dalam fikiran mereka "
" wah..., gawat juga... "
Alexi mencoba menenangkan debaran jantungnya. Bukan karena ucapan gadis itu, tapi karna paras cantiknya terlalu dekat dengan Alexi.
" terus aku harus panggil kamu apa?, kamu bilang kamu gak inget apa-apa kan? "
" panggil apa aja, sesuka hati aja "
Alexi berfikir sebentar" karna identitas kamu yang belum jelas, aku panggil kamu X aja sementara.
Gadis itu memancungkan mulutnya tidak suka dengan nama yang diberikan Alexi.
Alexi tak memperdulikannya, dia terus saja berjalan...
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, tibalah Alexi dan x di sebuah gubuk agak jauh dari desa.
Alexi mengurungkan niatnya mengetuk pintu itu karna ada yang membukanya dari dalam.
Alexi mematung kaget dengan apa yang dilihatnya.
" kak Harry...?! "
Seorang laki-laki berumur diatas 20 tahun dengan kacamata bundar berdiri dihadapannya.
" selamat siang Alexi, kamu sakit? "
Tanya pria yang bernama Harry itu.
" ah... Ngg .. .., oh iya saya mau ketemu dukun, ada nggak ya? "
Alexi berkeringat meski cuaca tidak panas.
" ada, kalau gitu kakak duluan.. "
Setelah beberapa langkah, Harry berhenti.
" datanglah kerumah kakak kalau butuh bantuan..."kata laki laki berkaca mata ini tanpa berpaling. Harry pergi dengan senyum lebar yang membuat x merinding dibuatnya.
" siapa dia...? " tanya x sambil memegangi lengan baju Alexi.
Alexi memandangi punggung Harry yang semakin menjauh.
" Harry, salah satu guru di sekolahku, laki-laki yang mengerikan. "
X benar-benar takut padanya.
" ayo masuk,! " ajak Alexi pada x, tapi gadis itu menolaknya.
" aku disini aja, ada orang yang gak aku suka didalam "
Sesuai dengan permintaan x untuk mencari tahu identitas gadis itu, Alexi masuk sendiri ke rumah dukun terkenal di kampung ini.
Di dalam rumah itu ada beberapa pasien, jadi Alexi harus antri dulu sebelum menemui dukun itu.
Setelah bersabar menunggu, akhirnya Alexi bertemu dengan seseorang wanita tua, yang berpakaian serba hitam. Di ruangan itu dipenuhi bau kemenyan membuat alexi menggapit hidungnya.
" apa kakek itu yang ditakuti x ? "
Alexi melihat pria jangkung dengan janggut panjang menjuntai ketanah. Kedua matanya berwarna merah bercahaya, pemandangan yang tak enak untuk dilihat.
" Kamu bisa melihatnya, makhluk dibelakangku.? "
Wanita tua, dukun didesa ini kembali membakar kemenyan.
" tentu saja, emang dia hantu? "
Alexi merasa pertanyaan wanita itu tidak masuk akal.
Tapi justru wanita tua itu tertawa karnanya.
Alexi terpaku bingung... .
" Kamu punya kelebihan rupanya, tapi tak menyadarinya. Jadi apa tujuanmu datang kesini ? "
Alexi tak langsung menjawabnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
" begini nek... "
" panggil saja mak jumah! "
Dukun itu memotong kalimat Alexi yang belum selesai.
" mak jumah...., apa ada seorang gadis yang belum sadarkan diri disini ? "
Mak Jumah, menatap tajam pada Alexi.
" jangan salah sangka, saya datang untuk membantunya. "
Alexi melihat kekhawatiran mak jumah.
" ikut mak..! "
Mak Jumah mengajak Alexi keruang lain setelah berfikir agak lama.
Alexi mengikuti mak Jumah dan disana Alexi melihat x yang lain terbaring disana.
" apa dia masih hidup mak? "
Tanya Alexi meyakinkan.
" iya, gadis ini terluka cukup parah, tapi dia masih hidup, saat ini rohnya sedang berkelana, mak juga nggak tau kenapa "
Jawab mak jumah.
Setelah memeriksa agak lama Alexi meminta ijin Mak Jumah untuk pamit.
Di sepanjang perjalanan pulang, Alexi menyesal karna dia tidak memiliki hp.
Harusnya tadi dia pinjam hp Nia, adik perempuannya. Tiba tiba Alexi mengingat sesuatu. Keningnya kini berkeringat.
" sepertinya memang harus kesana "
" kemana? " tanya x penasaran.
" sudah mau malem, kita pulang dulu, besok kita menemui seseorang yang menyeramkan
.... "
*****
Malam itu Alexi memikirkan banyak hal.
Seorang gadis yang tidak diketahui identitasnya di temukan tak sadarkan diri di pinggir sungai dengan luka cukup parah di sekujur tubuhnya. Entah kenapa menurut Mak Jumah dia memiliki kelebihan untuk berkomunikasi dengan makhluk kasat mata.
Sebab itulah dia kini bisa bicara, bahkan menyentuh x.
" Kamu bener gak inget satu hal pun ? "
Tanya Alexi pada gadis yang duduk di dekat jendela kamarnya.
X cuma menggelengkan kepalanya, enggan berpaling dari langit gelap diluar jendela.
Alexi mengingat baju yang dikenakan x ditempat Mak Jumah dengan noda darah membentuk tulisan d. 3. q ...... ...
Yang merupakan petunjuk yang harus di pecahkannya.
" tulisan itu..., sengaja di tulis orang lain, atau ditulis oleh gadis ini sendiri? "
Alexi membatin.
" seandainya aku bisa tau tulisan tangan cewek ini. "
Alexi memperhatikan tingkah x yang betah memandang langit gelap diluar.
X yang merasa dirinya diperhatikan, menoleh kearah belakang. Alexi terkejut, kecantikan x benar-benar membuat jantungnya berdebar tak beraturan. Kini mata mereka beradu tatap.
" cantiknya.... "
Kata - kata itu terucap begitu saja tanpa sadar oleh Alexi.
Gadis dipinggir jendela itu tertegun, pipinya merona karna Alexi. X cuma bisa menundukkan wajahnya, tak berani menatap mata Alexi langsung. Kini x merasakan hal yang sama di rasakan oleh Alexi. Jantung gadis itu mulai berdebar tak beraturan.
Sementara sikap malu malunya itu justru membuat Alexi tambah gemes padanya.
" manisnya... "
Sebaris senyum terukir diwajah Alexi.
*****
Pagi dihari minggu itu rintik hujan mengiringi langkah Alexi.
" kita kemana? "
Tanya x si gadis hantu yang berjalan dibelakang Alexi.
" ketempat kak Harry mungkin kita bisa dapat petunjuk lain disana. "
" oh..., tempatnya jauh ya.? "
X berusaha mengimbangi langkah Alexi.
" lumayan, tapi kita ketempat warga menemukan kamu dulu sebelum ke rumah guruku, mungkin kita bisa mendapatkan sesuatu. "
Meskipun Alexi menduga dia tidak akan menemukan apapun disana.
Sesuai dugaan, Alexi memang tidak menemukan petunjuk apapun di pinggir sungai itu.
" padahal aku berharap menemukan suatu petunjuk meski kecil. "
Alexi bergumam sendiri.
" wah mawar! Aku suka mawar... "
X memetik mawar liar disekitar situ.
" padahal namanya sendiri gak inget, tapi langsung tau aja sama bunga itu "
Alexi bergumam kesal.
Karna tidak mendapat petunjuk, Alexi dan x akhirnya pergi kerumah Harry.
" ini rumahnya? "
Tanya x pada Alexi begitu tiba dirumah besar berdinding permanen yang jarang di temukan di Desa ini.
Alexi menekan bel beberapa kali sebelum akhirnya seorang pria memakai kacamata bundar besar membukakan pintu.
" Aku tau kamu pasti datang, ayo masuk "
Harry tersenyum lebar, mempersilakan tamunya masuk.
" wah..., nyamannya..., udah lama gak ngerasa senyaman ini. "
X duduk disamping Alexi.
" ACnya hidup, padahal kan hujan.. "
Alexi tak setuju dengan tindakan Harry.
Harry kembali dari dapur membawa dua gelas coklat panas beserta sebuah toples berisi keripik pisang.
" jadi apa yang bisa saya bantu? "
Tanya Harry setelah duduk berhadapan dengan Alexi.
" anda pasti punya phooto gadis yang ada ditempat Mak Jumah. "
Harry tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan Alexi.
" apa ini tentang d. 3. q ? "
" Benar kan, pasti orang ini juga sedang menyelidikinya. "
Alexi membatin.
X disampingnya tertawa kecil.
" Sebenarnya saya mau tau dari baju yang ia kenakan mungkin saja seragam olahraga atau baju sebuah club. "
Harry mengangkat segelas coklat panas kemudian meneguknya.
" kenapa tidak terfikir olehku, kamu memang hebat Alexi "
Alexi hanya diam, menunggu kalimat Harry selanjutnya.
" tentu saja, foto itu ada dihp, kamu pasti butuh computer, gunakan saja. "
Harry menyerahkan hpnya pada Alexi.
" terima kasih kak.... "
*****
Sore itu hujan sudah reda, tapi jalan jadi becek dan licin. Hati-hati Alexi menyusuri
Pinggiran sungai hingga tiba di sebuah air terjun.
" mmm..., tempat ini tetap indah meski sudah sering kukunjungi ya... "
X duduk di atas batu besar dibawah air terjun, kakinya tenggelam memainkan air.
Alexi terkejut, sekaligus senang, dugaannya benar. Baju yang dikenakan adalah baju kleb arum jeram. Dan kelihatannya kecelakaan yang menimpa gadis itu berawal dari sini.
Setelah berkeliling, Alexi memang menemukan bekas perkemahan disitu.
Ada beberapa jejak ban mobil, yang sepertinya baru, belum sampai seminggu.
Alexi mengajak x untuk kembali menyusuri sungai ke hilir. Setelah lama menyusuri sungai, Alexi menemukan sebuah petunjuk baru. Alexi menemukan sebuah gelang cantik, dengan hiasan berlian, yang sudah pasti gelang mahal.
" Kamu menemukan sesuatu ? "
Tanya x melihat Alexi memungut sesuatu.
" Kamu tau ini ? "
Tanya Alexi memamerkan sebuah gelang pada x.
" !!!... "
" itu gelangku! "
X mengenali gelang yang ditemukan oleh Alexi.
" bagus kalau begitu.! "
Alexi tersenyum tipis.
" kenapa...? "
Tanya x merasa risih dengan senyum Alexi.
" aku mendapatkan namamu "
Alexi menyerahkan gelang itu pada x.
X mengambilnya, ada tulisan terukir di gelang itu.
" Raissa ? "
" sekarang kita pulang dulu, besok aku akan meminjam komputer kak Harry lagi, kita akan menemukan identitasmu x.
Malam itu langit bersih tanpa mendung yang menutupinya. Hamparan bintang bersinar terang malam itu. Alexi dan x duduk di bangku depan rumahnya untuk menikmati pemandangan indah malam itu.
" Kamu beneran gak laper ? "
Tanya Alexi pada gadis disampingnya.
Semenjak keadaanku begini, aku gak ngerasa haus ataupun laper."
Alexi memandangi wajah x lekat. Lagi lagi mereka beradu tatap. Tapi kali ini x seperti tak mau kalah. Mereka saling pandang cukup lama, sampai Alexi membuang pandangan karna malu.
" ngomong ngomong, kamu udah punya pacar ? "
Tanya x membuat Alexi terbatuk karna tersedak ubi bakar.
" pelan pelan dong makannya, ini minum dulu ! "
X menepuk-nepuk punggung Alexi.
" belum ada yang menarik hati ! "
Jawab Alexi setelah tenang.
" hm..., memangnya cewek kayak apa sih yang kamu cari ? "
Alexi menatap tajam x. Pandangan mereka kembali beradu. Wajah cantik gadis ini kembali merona karna tatapan Alexi.
" A... Apa sih...! "
X memalingkan wajahnya, dia tak ingin Alexi
Melihat wajahnya yang merah karna malu.
Alexi juga memalingkan wajahnya.
Kini mereka saling buang pandang, sama-sama tak ingin melihat wajah mereka yang merah karna malu dilihat yang lain.
*****
Sepulang sekolah, Alexi ditemani x kembali mendatangi Harry. Alexi menceritakan petunjuk petunjuk yang ia dapat pada Harry.
Setelah mencari informasi mengenai Raissa
Di kleb Arum Jeram, Alexi tak mendapatkan nama Raissa dalam kleb manapun.
" kita mendapatkan nama kleb yang cocok dengan baju yang dipakai gadis itu, tak ada nama Raissa disitu. "
Alexi mulai pusing...
" apa mungkin Raissa itu bukan namaku ? "
Tanya x yang hanya bisa didengar Alexi.
" coba kakak bantu "
Harry mengambil alih komputer.
Tak lama kemudian Harry menemukan sekolah tempat kleb Arum Jeram itu.
Dan mendapatkan foto Raissa. Kenyataannya gadis bernama Raissa difoto itu tidak mirip dengan x. Setelah mencari lebih banyak foto, akhirnya mereka menemukan titik terang. Alexi, x, Harry, terkejut melihat gadis yang bersama dalam foto itu benar-benar mirip x. Dan setelah berjuang keras, Harry mendapatkan nama x yang sebenarnya. Jessica!
" iya aku ingat, itu memang namaku "
X yang kini mengetahui namanya Jessica menangis senang.
Alexi menarik nafas panjang, seperti beban yang berat baru saja dilepasnya.
Belum sempat Harry menarik nafas lega, hpnya berdering. Sebuah panggilan dari Mak Jumah. Alexi benar-benar iri padanya, nenek tua itu punya Gadget, sedangkan dia tidak.
Kita harus ketempat mak Jumah sekarang. Gadis itu keadaannya memburuk! " tegas Harry setelah menyelesaikan percakapannya. Jadi mereka langsung bergegas dimana cuaca sore itu kembali bersedih.
Keadaan Jessica sudah membaik begitu Harry, Alexi dan roh Jessica tiba di kediaman Mak Jumah.
" jadi kalian sudah mengetahui namanya ? "
Tanya Mak Jumah setelah mempersilakan mereka duduk.
" gadis itu bernama Jessica, hanya saja kita belum tahu kebenaran tentang dia
" jawab Harry sebelum meneguk teh yang dihidangkan.
" kebenaran ? "
Tanya Alexi bingung.
" nak, pikiran ku ini memang jahat, aku sulit berprasangka baik pada seseorang ! "
Harry meletakkan kembali gelas tehnya.
" menurutmu kecelakaan yang menimpa Jessica bisa saja disengaja ? "
Tanya Mak Jumah menyelidiki.
" saya masih menyelidikinya, tapi banyak hal ganjil menurut saya , "
Harry memaparkan alasannya.
Mak Jumah beralih pada pemuda yang duduk disebelah Harry.
" lalu kamu, apa sekarang roh gadis itu ada disini ? "
Tanya dukun itu dengan sorot mata menyelidik.
" iya, tapi saat ini dia nggak inget apapun tentang dia, karna itu saya membantunya mencari tau apa yang terjadi padanya. "
Jessica memandang Alexi. Dia kagum dengan kelebihan pemuda itu. Kalau saja dia tidak bertemu Alexi sore itu dia tidak akan mencapai apapun sampai saat ini.
" Mak cuma mau ngasih tau, seandainya nanti gadis itu sadar, kemungkinan besar dia nggak inget tentang kamu. "
Alexi dan Jessica sama-sama terkejut mendengar kalimat Dukun Wanita itu.
Tapi Alexi sadar, kesembuhan Jessica lebih penting dari perasaannya saat ini.
" saya juga akan membantu mak, jadi kabari saya kalau ada perkembangan lagi. "
Kemudian Pria berkacamata bundar ini memberi isyarat pada Alexi untuk pamit.
Di perjalanan pulang Alexi berpisah dengan Harry, karna laki-laki dengan senyum lebar itu masih ada pekerjaan lain.
Alexi memandang gadis disampingnya yang sedari tadi diam.
" ayo pulang... "
Ajak Alexi pada Jessica.
" aku.... "
Jessica menggantung kata-katanya.
Alexi belum melepas pandangannya, dia masih menunggu kalimat Jessica selanjutnya.
" aku gak mau sembuh "
Teriak Jessica yang hanya bisa didengar Alexi.
Alexi cukup terkejut dengan pernyataan itu.
" Kamu..., kenapa bilang kaya gitu ? "
Alexi menggenggam lembut tangan Jessica.
" kalau harus lupa tentang kamu, aku gak mau sembuh...! "
Jessica menundukkan wajahnya.
Alexi menarik Jessica kedalam pelukannya.
" jangan khawatir, kamu pasti inget kok . "
Jessica mempererat dekapannya, seolah olah tak ingin kehilangan pemuda itu.
"*****"
Pagi ini disekolah, hari berjalan seperti biasanya. Hari mendung seperti biasa,
Murid murid riuh seperti biasa, guru telat datang sudah biasa. Tapi ada perasaan aneh yang dirasakan Alexi.
" ini kelas kamu ?, berisik banget ya ? "
Jessica duduk disebelah Alexi, karena Qolby teman sebangku Alexi tidak sekolah.
" udah biasa kok, emang gini ! "
Alexi meletakkan kepalanya dimeja.
" aku penasaran, sekolahku kaya apa ya ? "
Jessica juga meletakkan kepalanya di atas meja. Kini mereka berhadapan.
" aku juga penasaran, cowok kamu kaya apa ya ? "
Pertanyaan Alexi itu tidak di sukai Jessica.
" gak usah bahas cowok ah, jadi males kan?
Alexi hanya tersenyum melihat gemas ekspresi Jessica yang merajuk.
" baik anak anak..., tolong tenang ! "
Seorang guru masuk, seketika kelas menjadi sunyi.
" bapak minta perhatiannya sebentar "
" fitri, Adit , Sintya , Alexi , kalian ikut lomba cerdas cermat dikota, kak Harry sudah menunggu ! "
Alexi langsung gusar begitu namanya di sebut, dia hendak mengangkat tangan tapi ada yang mendahuluinya.
" pak, kok Alexi sih pak ? "
Fitri tidak setuju Alexi menjadi pasangannya di lomba ini.
" ya..., kita semua tau Alexi itu gak sebanding sama kami! "
Adit berpendapat sama dengan Fitri.
" Qolby yang seharusnya sudah ditentukan untuk ikut lomba hari ini tidak bisa mengikuti nya, kata orang tuanya dia sakit dan sedang dirawat di Rumah Sakit saat ini, kami para guru sudah sepakat Alexi yang akan menggantikannya. "
Fitri dan Adit tidak senang dengan keputusan guru itu.
" saya menolak ikut pak ! "
Alexi mengangkat tangannya.
" temen sekelasmu kelihatannya nggak suka kamu ya...? "
Jessica cekikikkan membuat Alexi tak nyaman.
" Kamu gak bisa menolak, keputusan ini sudah final! "
Guru itu tidak mau ada penolakan
" tapi pak..... "
" gak ada tapi - tapian, kak Harry sudah menunggu, jangan bikin bapak mengulangnya lagi ! "
Suka tidak suka anak anak itu pergi juga.
" ayo semangat, ini pengalaman bagus untuk kamu, kamu belum pernah kekota kan ? "
Jessica memapah Alexi.
" ukh....! "
Alexi cuma bisa mendenguh kesal.
Sepanjang perjalanan, suasana dalam mobil yang di kendarai Harry sangat tenang.
Fitri masih kesal dengan Alexi yang dianggapnya bodoh itu menjadi pasangannya.
" pokoknya nanti jangan bikin susah aku ! "
Setengah membentak fitry pada Alexi.
Tapi Alexi tak menghiraukannya, pemandangan diluar jendela lebih menarik perhatiannya.
" tadi pagi sarapan apa nih anak, gue giles juga ntar..! "
Jessica tidak suka dengan kepribadian Fitri.
Ingin sekali rambut panjang Fitri di jambak oleh Jessica kalau saja Alexi tak menahannya.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan melelahkan, rombongan yang dipimpin oleh Harry akhirnya tiba di lokasi perlombaan.
Dan dengan kemampuan Fitri, pasangan Fitri dan Alexi lolos ke babak final.
" wah, cewek ini punya kemampuan . "
Jessica masih tidak suka dengan Fitri.
" sebaiknya di final ini kamu juga jangan menggangguku ! "
Fitri semakin angkuh karna dia berhasil membawa timnya ke final.
Tapi Alexi tetap mengacuhkannya, membuat Jessica semakin kesal.
Memasuki babak final Alexi dan Jessica terkejut dengan lawan yang mereka hadapi di final.
Seorang cowok tampan dan gadis cantik dari sekolah ternama.
" Raissa ! "
Teriak Alexi dan Jessica bersamaan.
Seketika Alexi melancarkan pandangannya pada Harry. Sementara pria berkaca mata bandar itu justru tersenyum lebar di sana.
" Orang ini, mungkinkah dia yang merencanakannya ?, benar benar mengerikan ! " Alexi membatin
" Alexi, kita harus mendapatkan informasi dari Raissa ! "
Jessica benar benar seperti menemukan jalan terang.
" ya..., tapi kita harus hati-hati, ingat kata kak Harry, bisa saja kecelakaan itu disengaja.
Alexi menatap tajam pada lawannya.
Jessica mengangguk setuju.
" aku akan serius ! "
Alexi membulatkan tekadnya.
" tunjukkanlah kemampuanmu yang sebenarnya! "
Harry tersenyum lebar di bangku penonton.
Setelah berjuang sekitar 1 jam, final lomba cerdas cermat itu berakhir. Pertanyaan pertanyaan sulit bener bener membuat Fitri Frustrasi. Tidak seperti sebelumnya, soal yang diberikan semakin sulit.
Dan akhirnya kemenangan didapatkan oleh pasangan Fitri dan Alexi. Baru kali ini Fitri melihat kejeniusan Alexi, semua pertanyaan di final berhasil dijawab Oleh Alexi tanpa ragu. Fitri sudah berniat meminta maaf tapi Alexi menghilang dari pandangannya.
Di sebuah ruang kantin yang disiapkan panitia lomba kini sudah dipenuhi peserta.
Banyak dari mereka yang berbincang dari perlombaan tadi. Tim yang tadinya bersaing diperlombaan kini menjadi teman semeja saat makan.
Di sebuah meja, sedang duduk dua orang peserta yang berhasil ke final. Seperti yang lainnya mereka juga sedang mengisi ulang energi mereka.
" permisi.... ..., boleh saya gabung disini ? "
Alexi mencoba tersenyum ramah pada lawannya difinal.
" oh...., kamu salah satu lawan terakhir kami tadi kan ? "
Seorang gadis manis rambutnya hitam lurus tergerai dengan pita cantik menghiasi rambutnya, mengenali Alexi.
" cewek ini lebih cantik dari photonya ! "
Jessica juga berada disana.
" ah, iya...., saya kira anda tidak akan ingat saya ! "
Alexi masih berusaha ramah.
" bagaimana saya bisa tidak kenal dengan orang yang mengalahkan kami ? "
Raissa mempersilakan Alexi bergabung.
" saya Alexi.. "
Pemuda ini memperkenalkan diri.
" saya Raissa, dan ini Bepo. "
Raissa juga memperkenalkan pemuda di sebelahnya.
Alexi melirik ke arah Bepo, tapi pemuda itu
Tidak membalas. Dari tadi dia juga tidak bicara sepatah katapun. Pemuda ini terlalu asyik menikmati es campurnya.
" jangan diambil hati, dia memang begitu ! "
Raissa merasa tak enak dengan sikap Bepo.
" cowok ini ganteng juga ya ... "
Jessica memperhatikan Bepo dengan sesama.
" ganteng ya ? "
Tanya Alexi membatin pada Jessica.
Merasa ada yang salah dengan nada bicara Alexi, Jessica cepat-cepat memperbaiki kata-katanya.
" bukan gitu, tapi kayaknya aku memang kenal sama cowok ini ! "
" aku kekamar kecil sebentar ! "
Bepo beranjak, meninggalkan Raissa bersama Alexi.
" Bepo memang agak dingin, tapi dia jadi lebih dingin akhir akhir ini. Apalagi dia barusan kehilangan pacarnya. "
Raissa mengaduk-aduk es cendolnya.
" kehilangan pacar ? "
Tanya Alexi menyelidik.
" sebenernya saya cuma pengganti disini. Siswi yang terpilih untuk ikut lomba ini adalah Jessica sahabat saya tunangannya Bepo. "
Raissa masih mengaduk-aduk esnya.
" tunanganku ? "
Raissa terkejut dengan pernyataan Raissa.
" hilang ?, apa sampe sekarang belum ketemu ? "
Tanya Alexi lagi.
" belum ketemu..., eh maaf malah ngomong yang gak penting...! "
Raissa menggaruk pipinya yang tidak gatal
" oh gak apa apa, sebenarnya saya juga peserta pengganti."
Alexi masih mencoba bersikap ramah.
" beneran ? Sama dong...? "
Tanya Raissa antusias.
" cewek ini juga temen aku, pantesan rasanya kenal banget ! "
Jessica memperhatikan Raissa.
" ayo pergi , guru udah nunggu... ! "
Kedatangan Bepo tidak disadari oleh mereka.
" oh, ah ya udah kami harus udah pulang nih..., "
Raissa tersenyum manis.
" itu...., Raissa kalau boleh, saya minta nomer hp kamu boleh ? "
Alexi merasa tidak boleh putus komunikasi dengan Raissa saat ini.
" iya, boleh kok ! "
Raissa memberikan kontak hpnya pada Alexi.
Sedari tadi Bepo mengawasi Alexi.
" Raissa itu cewek yang polos, awas kalau lo macem macem !! "
Bepo mengancam Alexi setelah Raissa agak menjauh.
" wah...., tunanganmu galak ya... "
Alexi menghela nafas panjang.
Dari tadi dia terus berusaha ramah, jujur saja itu bukan gayanya.
" itu berarti dia orang yang baik "
Jessica masih memandangi punggung Bepo.
Alexi memperhatikan Jessica. Jessica yang merasa ada yang memandanginya menoleh pada Alexi.
" apa ? "
Tanya Jessica bingung.
Alexi cuma menggeleng.
" ayo, kita juga harus pulang, nanti kak Harry kelamaan nunggu. "
" Alexi..... ... "
Seorang gadis berdiri dihadapan Alexi saat ini.
Alexi menatap lekat gadis itu. Karna sepertinya Fitri ingin mengatakan sesuatu.
" aku salah...., aku gak tau kamu sepinter itu..., aku kira.... "
" gak usah dipikirin, bersikap kayak biasanya aja. Aku gak suka repot, aku gak suka jadi sok pinter, makanya mulai sekarang dan seterusnya anggap aku orang bego kayak biasanya aja ! "
Alexi melalui Fitri begitu saja.
Membiarkan Fitri terpaku disana.
Jessica menoleh kearah gadis itu sebentar, lalu berlari mengejar Alexi.
" dasar cowok ini, gak peka banget...! "
Jessica membatin.
Rombongan itu pun pulang dengan membawa sebuah piala, dan kunci penting untuk Jessica.
*****
Sejak saat itu, Alexi terus berhubungan dengan Raissa. Setelah hubungan mereka lebih dekat, Alexi mendapat lebih banyak informasi mengenai Jessica. Dan Alexi bisa mengumpulkan banyak kebenaran.
Di lain sisi, Harry mengumpulkan semua, dia bilang bahwa dia sudah mengetahui kebenaran dibalik kecelakaan yang di alami
Jessica.
Di sebuah rumah yang cukup besar, berdirilah seorang laki-laki berusia 50 tahunan didampingi wanita berumur 40 tahunan. Mereka adalah sepasang suami istri yang diundang Harry.
" apa benar, anak kami di sini ? "
Tanya Laki laki itu pada Harry yang menyambut mereka di halaman rumahnya.
" masih ada yang belum datang, tunggulah sebentar lagi ! "
Harry tersenyum licik dibalik kacamata besarnya.
" lho, tante ?, kenapa disini ? "
Raissa datang bersama Bepo.
" kami dipanggil laki-laki ini, kalian sendiri sedang apa disini ? "
Jawab wanita yang datang lebih dahulu itu.
" kami juga dipanggil olehnya ! "
Jawab Bepo menunjuk kearah Harry.
Harry melebarkan senyumnya. Sementara awan Kelabu mulai menutupi matahari.
" hh.... hh..., saya belum terlambatkan ? "
Alexi datang dengan nafas tak beraturan.
Sepertinya dia berlari tadi.
" baiklah, ayo kita masuk kerumahku, kita bicara didalam. "
Harry mengajak tamu tamunya kedalam.
" tunggu..! Disini saja, ungkapkan kebenarannya disini saja ! "
Alexi menahan Harry.
Harry memandang wajah serius Alexi.
Memang tidak sopan membiarkan tamunya diluar, tapi dia percaya Alexi punya alasannya.
" kebenaran ? "
Tanya wanita yang datang lebih dulu.
" Bu Idrania, apa anda tahu kecelakaan yang menimpa putri anda ? "
Harry mulai mengungkap kebenarannya.
Sementara Jessica baru sampai disitu, karena tak bisa mengimbangi langkah Alexi.
" kecelakaan ? "
Tanya Idrania, ibu dari Jessica.
" sekitar seminggu yang lalu, kami menemukan Jessica tak sadarkan diri dipinggir sungai ! "
Sambung Harry.
" Jessica ?!! "bagaimana keadaannya ?"
Pria yang datang bersama Idrania terlihat panik.
" kami menemukan bekas ban mobil diair terjun tapi tidak menemukan bekas perkemahan. Penduduk juga tak mendapat laporan orang luar yang melakukan kegiatan disekitar situ. Awalnya kami mengira Jessica hanyut karna jatuh saat bermain arum jeram.
Tapi kenyataannya adalah Jessica sudah dalam keadaan tak sadar, dia dibawa dengan mobil dari kota dan dilempar disungai.
Ya, salah satu dari kalian adalah orang yang berniat membunuh Jessica ! "
Harry menuturkan kesimpulannya.
" Jessica ! "
Raissa mendekap mulutnya sendiri, ngeri dengan kejadian yang dialami sahabatnya.
Jessica terpaku, tak menyangka ada yang sebegitu benci pada dirinya.
" saya bingung, selama ini tak ada polisi yang datang kesini, ternyata karna tak ada laporan yang masuk. "
Harry melirik Idrania.
" tunggu, anda tidak berfikir saya mencelakakan anak sendiri kan ?
Idrania merasa tak enak dengan pandangan Harry.
" tidak ada laporan, karna kalian sendiri tidak tahu Jessica diculik atau kabur dari rumah. Itu berarti, kalian tidak punya waktu untuk Jessica ! "
Idrania terpaku dengan kebenaran yang diungkapkan Harry.
" memang bukan kalian pelakunya, tapi kalian bukanlah orang tua yang baik .! "
Kata kata Harry mengiris hati pasangan suami istri itu.
" ayah, ibu,..... "
Jessica menahan rasa sedihnya.
" seorang tunangan yang acuh tak acuh, pada kekasihnya... "
Kali ini Harry melirik Bepo.
Bepo membalas tatapan Harry yang tak kalah dingin dengan tatapan Harry.
" itu karna kamu tidak mencintainya, karna kamu menyukai sahabatnya ! "
Harry mengalihkan pandangannya pada Raissa.
" Jessica adalah bintang disekolah kalian. Dia selalu menjadi nomer satu dalam segala bidang. .., sementara anda Raissa selalu menjadi nomor 2 . Karna itu anda harus melenyapkannya. "
Raissa benar-benar terpukul dengan kesimpulannya.
" nggak ! Kenapa saya harus membunuh sahabat saya ? "
Mata Raissa terasa pedih.
" Raissa...., "
Jessica memperhatikan gadis yang sedang menahan tangis itu.
Raissa melirik kearah Alexi.
" karna itu kamu ngedeketin aku ? "
Raissa tersenyum kecut.
" Kamu bilang kamu percaya sama aku ? "
Raissa mengingat Alexi pernah berkata begitu padanya, dan kini dia merasa bodoh telah percaya pada pemuda itu.
Apa buktinya ?, apa buktinya kalau Raissa pelakunya ?"
Bepo tidak setuju dengan Harry.
Harry mengangkat sebuah gelang.
" itu punyaku ? "
Raissa mengenali gelang itu.
" Alexi menemukan ini dipinggir sungai. Kamu bisa beritahu kami, kenapa gelang ini bisa disana ? "
Harry tersenyum sangat lebar.
" a.... aku nggak tau.., gelang itu emang udah lama ilang...! "
Mata Raissa semakin pedih rasanya.
Sementara cuaca semakin dingin. Angin bertiup makin kencang. Dan rintik hujan mulai terjatuh dari langit.
" sudahlah, kita semua akan tahu setelah Jessica sadar nanti ! "
Harry melirik Alexi.
Semua mata tertuju pada Raissa. Raissa terduduk lemas. Tenaganya seakan menghilang. Jantungnya berdebar tak beraturan. Air matanya jatuh bersama hujan yang menjadi lebat.
" kenapa ? Kenapa gak ada yang mau percaya sama aku ? "
Isak Raissa. Dia menoleh pada Bu Idrania, tapi wanita itu hanya menundukkan wajahnya. Kemudian dia melirik seseorang.
" kenapa dia ? "
" ada satu benda lagi yang kutemui selain gelang itu. "
Alexi mengeluarkan satu benda dari kantung celananya.
Sebuah nebulizer. Benda yang dipakai untuk penderita asma.
" penderita asma tidak boleh berada dicuaca yang terlalu panas atau dingin seperti saat ini ! "
Alexi melirik kearah seseorang.
" karena ini dia menahan kami di sini ? "
Harry tersenyum lebar.
" kenapa..... ?
Jessica kebingungan melihat seseorang yang sepertinya sedang kesulitan bernafas.
" ada apa dengannya ? "
Raissa juga bingung disana.
" Jessica meninggalkan sebuah pesan d3q dengan darahnya dibajunya. Itu adalah nama seseorang yang belum selesai ditulis. Nama orang yang mencelakainya ! Bila tulisan itu dibaca dari atas, maka akan menjadi bep..., maksudnya adalah Bepo...! "
Alexi melemparkan nebulizer itu pada Bepo yang terus memegangi dadanya sejak tadi.
" hh... hh...., aku memang bodoh ! Padahal aku yang melukainya, tapi aku terus berdoa agar dia tidak tenggelam, berharap semoga dia selamat. ! "
Kata Bepo setelah menghirup nebulizernya.
Jessica benar-benar terkejut dengan pengakuan Bepo.
" aku..., aku salah apa sama kamu ? "
Jerit Jessica yang tak bisa di dengar Bepo.
Bukan hanya Jessica, ayah dan ibunya juga tidak pernah menyangka tindakan Bepo.
" kenapa nak ? "
Tanya ayah dari Jessica.
" gak usah pura-pura bodoh !, Bepo cuma pengen balas dendam ! Karna kamu, Bepo jadi yatim piatu ! "
Bentak Bepo pada laki-laki tua itu.
" bukankah itu kecelakaan ? Aku sudah minta maaf padamu kan ? Bahkan kami yang merawatmu !
Ayah dari Jessica merasakan perasaan yang campur aduk.
" nggak ! Itu gak cukup , aku harus bunuh orang orang disekitarmu supaya kamu juga merasakan kesepian yang tiap hari kurasakan ! "
Bepo menatap tajam kearah pria itu.
Tiba-tiba tubuh Jessica bersinar. Semakin lama semakin terang. Sehingga semua orang bisa melihatnya.
" Jessica ?! "
Alexi yang berada disebelahnya tersentak kaget.
" akhirnya aku inget , kayaknya inilah akhirnya ! "
Mata Jessica memancarkan kesedihan.
" Jessica ?!! "
Ucap Idrania tak percaya.
" nggak apa apa, ayah, ibu, Jessica tau kalian sibuk juga untuk Jessica, jadi Jessica gak benci kalian "
Jessica tersenyum meski airmatanya mulai terjatuh. Begitupun kedua orang tuanya.
" Raissa, maaf aku bukan sahabat yang baik, malah banyak nyusahin kamu ! "
Raissa membekap mulutnya, dia tak bisa berhenti menangis.
" Bepo...., terima kasih buat semuanya. Maaf aku gak pernah bisa ngeluarin kamu dari rasa kesepian. ... "
Bepo menunduk tak berani menatap Jessica.
Dia juga tak bisa berhenti menangis.
" Bepo...., aku mencintaimu...! "
Tangis Jessica semakin menjadi.
Senyum Harrypun tak ia keluarkan saat ini.
Alexi mematung, tidak tau harus bereaksi seperti apa.
" Alexi.... .... "
Panggil Jessica, namun Alexi tak menjawabnya.
" Alexi.............!!! "
Jessica kembali memanggilnya dengan bercucuran air mata. Sementara Alexi belum menjawabnya.
" Alexi................!!! "
Sekali lagi Jessica meneriakkan namanya.
Tapi justru Alexi menenggelamkan wajahnya.
Entah sejak kapan, tapi air matanya mulai terjatuh beriringan dengan hujan.
" aku....., aku gak mau pisah sama kamu ! "
Aku......."
Kalimat Jessica terhenti oleh tangisnya.
Alexi mengepalkan tangannya.
Karna dia juga tak rela berpisah dengan Jessica. Dia kesal karna tak bisa apa-apa.
" aku mencintaimu Alexi.....! "
Meski berlinang airmata, sebaris senyum sempat menghiasi wajah cantik Jessica.
Kemudian cahaya yang menyelimuti tubuhnya perlahan memudar......
Bersamaan dengan nya......
Dan hanya menyisakan sebuah kenangan...
Alexi kehilangan keseimbangan, ia jatuh bersujud di tengah derasnya hujan.
Air itu jatuh semakin deras, bukan hanya dari langit tapi juga dari ujung mata Alexi.
Setelah itu, Harry mendapat kabar dari Mak Jumah bahwa Jessica telah tiada.
Bepo menyerahkan diri pada polisi.
Selesai pemakaman Jessica, Raissa mencoba menghubungi Alexi.
Dia merasa bersalah pada pemuda itu. Tapi panggilannya tak pernah dijawab. Pesannya juga tak pernah dibalas.
Sejak saat itu mereka tidak lagi berhubungan..... .....
Dan hanya menyisakan sebuah kenangan.