Kejadian ini aku alami beberapa tahun lalu.
Saat aku masih berstatus mahasiswi dan punya sahabat bernama mbak Liesna.
Mbak Liesna adalah kakak tingkatku dengan jurusan yang sama, dan kebetulan kost kami bersebelahan.
Mbak Lies lebih dulu menyelesaikan studinya dan saat menunggu waktu wisuda mbak Lies sementara tinggal 1 kamar kost denganku selama hampir 2 bulan.
======
Drrrrttt...
Ponselku bergetar, aku melihat nomor yang tidak dikenal memanggil.
Saat itu sudah pukul 21.00, dan mbak Liesna belum pulang, padahal tadi pamitnya cuma makan malam sama temannya, aku sedikit khawatir.
Tidak berapa lama, ponselku kembali bergetar kali ini tidak ada nama maupun nomor yang muncul.
Penasaran, aku menerima panggilan itu.
Hening.
"Halo ?" Sapaku.
"....." Tidak ada jawaban.
"Halo siapa disitu, ada yang bisa saya bantu?"
"....."
Kulihat sebentar ponselku, masih tersambung kok.
"Halo?" Ujarku lagi.
"Hiiiks.. Hiiikss." Hanya isak itu yang terdengar lalu percakapan terputus.
Tidak lama ponselku bergetar lagi, kali ini dari Mbak Lies.
"Mbak Lies kenapa.."
"Maaf dek, mbak lagi di RS. Saint Louis, tolong cepat ke sini ya."
Setelah itu mbak Liesna langsung memutuskan panggilan.
Aku segera mengenakan jaket dan memacu motorku menuju RS. Saint Louis.
Tiba di parkiran aku kebingungan karena tadi lupa nanya aku harus dimana menemui mbak Liesna, Aku juga tidak tahu, ngapain mbak Liesna ke rumah sakit, jadi pasien atau membezuk seseorang.
Aku memutuskan bertanya pada pihak CS rumah sakit.
Belum lagi aku sempat bertanya, seseorang memanggilku.
"Nana.." Mas Dion, salah seorang teman mbak Lies menghampiriku.
" Hai mas, siapa yang sakit?" Tanyaku.
"Liesna, dia.."
"Kenapa mbak Liesna, mas? Tadi dia menelponku kedengarannya baik-baik saja."
"Liesna meneleponmu, kamu yakin? Jam berapa?"
"Nih, jam 21. 25 sekarang pukul 21.55 berarti 30 menit yang lalu." Ujarku sambil memperlihatkan histori panggilan di ponselku pada Ma Dion.
Mas Dion tampak menghela nafas dan tersenyum tipis.
"Nana, kita duduk di sana sebentar yuk." Ajak mas Dion sambil menunjuk cafe di lingkungan rumah sakit.
"Tapi mas, kasian mbak Liesna nanti kelamaan nunggu." Ujarku.
"Aku janji ga akan lama, ada yang perlu aku omongin."
Aku mengangguk dan membuntuti langkah mas Dion.
"Nana.. Aku mau bilang,em.. tadi, tadi sekitar 30 menit yang lalu ada kecelakaan di jalur lintas. 3 orang tewas dan ke 3-nya mahasiswi kampus kita."
"Astaga.. Aku baru tau kabar ini, tadi aku ke sini lewat jalur itu tampak sepi-sepi aja."
Mas Dion tampak meringis sambil menggaruk tekuknya.
"Na.. Kuatkan hatimu, ya. Mbak Liesna salah satu korban yang tewas."
"Apaaaa..?"
=====
Aku menatap tubuh mbak Liesna yang terbujur kaku. Pakaian dan hijab yang melekat ditubuhnya masih yany dipakainya tadi sore ketika berpamitan denganku.
Kuperhatikan wajahnya yang sedikit terluka, tersenyum damai.
"Nana, minta tolong hubungi keluarganya ya."
Aku mengangguk.
Aku meraih tas selempang coklat milik mbak Liesna dan mengecek isinya, ku ambil ponselnya yang nyaris remuk.
Jika tadi mbak Liesna atau orang lain yang menelponku menggunakan nomor yang ada di ponsel ini, bagaimana mungkin bisa tersambung, pikirku.
Kulihat juga jenazah teman-teman mbak Liesna yang juga jadi korban kecelakaan maut itu, mbak Maya dan mbak Eka, kondisinya sangat memprihatinkan.
"Tadi kami makan bersama di warung pecel lele. Mereka berempat, Liesna, Maya, Dwi dan Dyah pulang terlebih dahulu. Ketika menyeberang jalan, mereka berhenti di tengah karena ada mobil tetapi mobil box dibelakang mobil itu malah menyalip dan menabrak mereka bertiga. Dyah yang posisinya paling pinggir, berdiri dekat mobil yang berhenti dengan maksud memberi jalan, selamat tidak kena tabrak mobil box itu." Terang mas Dion.
"Lalu apakah mbah Dyah, baik-baik saja?" Tanyaku.
"Secara fisik sih tidak apa-apa, hanya saja Dyah terus menangis histeris. Apalagi tidak jauh dari tempatnya berdiri ada semacam wadah kecil penuh dengan bunga-bungaan atau apalah yang tampilannya seperti bahan ritual.
"Maksudnya?"
"Warga percaya mereka menjadi tumbal seseorang yang sengaja mencari korbannya di jalan raya Na. Untuk pesugihan dan kejayaannya, ada saja orang yang mau melakukan ritual tertentu. Dengan memberi tumbal pada waktu-waktu tertentu. Rumornya tumbal yang diminta haruslah seorang gadis, yang merupakan anak pertama, anak tengah, anak bungsu atau anak tunggal di keluarganya masing-masing." Terang mas Dion.
"Em.. Mbak Liesna anak pertama."
"Iya, Dwi anak kedua dan Maya anak tunggal. dikeluarganya. Entahlah, terlepas benar atau tidak soal tumbal itu, kita harus yakin kalau semua terjadi atas seizin Allah."
=====
Banyak orang terharu mendengar kejadian itu terlebih ketiga gadis itu adalah calon sarjana dan diwisuda pada saat bersamaan. Mbak Lies bahkan mendapat gelar lulusan terbaik dan predikat cumlaude.
Tidak terbayang rasa kehilangan orang tua dan adik-adiknya.
Harapan yang terpupuskan oleh kejadian yang menyedihkan seperti itu.
=====
Aku membereskan barang-barang mbak Liesna yang masih tertinggal dikamarku.
Sayup kudengar ketukan perlahan di jendela kamarku.
Kubuka sedikit tirai gorden untuk melihat siapa yang bertamu malam ini ini, terlihat olehku sesosok wanita yang posturnya menyerupai mbak Liesna membelakangi jendela kamarku, lalu aku membuka pintu tapi tidak kutemui sosok itu lagi.
"Hm.. Aneh sekali, bertamu kok seperti tidak niat." Gumamku.
Ketika aku berbaring, kudengar suara orang menangis tertahan dari arah jendela kamarku.
Pagi itu aku bersiap ke kampus, tidak lupa mematut diriku di depan cermin sebelum berangkat. Aku terkesiap melihat sosok mbak Liesna tersenyum manis di cermin itu, aku menoleh ke belakang tidak kutemui siapapun.
Apa mungkin rasa kehilangan membuat aku berhalusinasi gini ya?
Hari-hari berikutnya, 'mbak Liesna' rajin menyambangi kamarku.
Tidak jarang aku terbangun di sepertiga malam mendapati sosok menyerupai mbak Liesna sedang sholat, seperti yang biasa dilakukannya. Aku tersenyum dan kembali melanjutkan tidurku.
Pun ketika tertidur, aku bermimpi mendapati mbak Liesna menangis dan memintaku ikut dengannya.
Seolah ingat kalau dia sudah meninggal, dalam mimpiku aku selalu menolak ajakannya.
Begitu juga jika saat tertentu aku merasakan aroma parfumnya atau aroma bunga melati begitu kuat mengikutiku, baik di kamar maupun di tempat lain, membuatku menebak kalau roh mbak Liesna sedang mengikutiku.
"Nana, kita harus kirim doa untuk mbak Liesna." Ujar teman yang kebetulan tahu akan hal ini, dan pernah melihat sosok menyerupai mbak Lies sedang sholat di kamarku.
Aku sering mendengar adalah wajar jika seseorang yang belum genap 40 hari akan sering menyambangi keluarga atau orang-orang yang lekat dengannya tapi mbak Liesna sudah hampir 6 bulan sejak meninggal masih sering 'menemuiku'.
Bukannya takut, tapi aku bahkan mulai terbiasa dengan keadaan itu.
Aku selalu mendoakan mbak Liesna agar tenang di alam sana.
Hingga pada suatu ketika, papaku mendapat kegiatan dari kantor di kota tempat aku kuliah, dan kami jajian bertemu di rumah makan dekat tempat kegiatan yang papa ikuti, diadakan.
"Temanmu kenapa diam saja?" Tanya papaku.
Aku sedikit heran, karena aku datang sendiri.
"Teman? Apa perempuan mungil berjilbab biru dongker?" Tanyaku.
Papaku tersenyum.
"Ah, iya. Papa ingat dia Liesna kan? Yang kakak tingkatmu itu."
Aku tidak memjawab, hanya menatap papaku dengan bingung.
"Besok pagi papa akan ke kostmu." Ujar papa lagi.
Malam itu lagi-lagi aku terbangun mendengar tangisan yang lirih dari luar jendela. Aku langsung mengintip dari balik gorden, terlihat sok menyerupai mbak Liesna disitu sedang membelakangi jendelaku.
Aku bernafas pelan dan berdoa lalu melanjutkan tidurku.
Dalam mimpiku aku lagi-lagi mendengar isakan pilu yang menyayat hati."
"Dek, ikut mbak yuk." Ajaknya.
Dan kali ini aku tetap menolak untuk ikut.
Keesokannya, pagi-pagi sekali papa sudah tiba di kostku.
Membawa sebotol air mineral, membuka tutupnya, membaca sesuatu dan menghembuskan udara melalui hidungnya sebanyak 3 kali.
"Tolong ambilkan segelas air putih dan bikinkan segelas kopi tanpa gula." Pinta papa.
Dan aku segera memenuhi permintaan papa.
"Waktu melihatnya bersamamu kemaren, papa merasa ada yang tidak beres. Apa terjadi sesuatu dengan temanmu itu?" Selidik papa.
Lalu aku menceritakan kejadian malam itu beserta 'kunjungan' mbak Liesna.
"Apa kamu memberitahukan hal ini pada keluarganya.?"
"Tidak pa, karena aku takut membuat keluarga mbak Liesna makin sedih." Sahutku.
"Ada baiknya kamu menghubungi orangtua temanmu itu dan minta mereka menjadikanmu anak angkat mereka sebagai pengganti Liesna yang sudah meninggal."
Kemudian papa memercikkan air dari botol mineral itu di area kamar kost hingga bagian luar. Terakhir, papa menyiramkan kopi itu persis di depan jendela kamarku.
"Maaf nak, kalian sudah berbeda tempat. Kamu tenang disana ya biar Nana juga tenang di sini." Ujar papa pelan lalu menumpahkan air putih yang di gelas, ditempat yang sama.
"Sisa air yang dibotol ini, campurkan ke air yang buat kamu mandi, usahakan semua bagian tubuhmu tercuci dengan air ini." Titah papa.
Kali ini aku tidak takut lagi keramas, karena sebelumnya aku selalu minta tolong teman kost yang lain untuk membantuku keramas. Ada rasa ngeri saat harus memejamkam mata ketika membasahi rambutku, karena jika mataku tertutup, maka wajah mbak Liesna dengan senyum manisnya terbayang.
Sejak saat itu hingga sekarang mbak Liesna hanya sesekali "menemuiku."
Yang tenang disana ya, mbak Liesna.
.
.
. TAMAT.