kisah nyata - part I
kisah ini dari pasangan Wira Atmaja dengan Ambar Sari Anjas Sakti
Wira adalah pria yang lahir dengan kebesaran nama "Atmaja"
sama hal nya dengan sang suami, begitu pula Ambar yang memiliki nama kebesaran dari sang ayah yaitu "Anjas"
dimana seluruh keluarga mereka juga akan selalu memiliki nama keluarga besar masing masing di nama panjang mereka..
"aku tidak mau lagi main, usiaku cukup untuk menikah dan bertanggung jawab atas rumah tangga" ucap Wira ketika masih berusia muda
"lalu, apa yang aku bisa jawab?" tanya ambar kala itu
"tidak perlu, karna aku tau jawaban kamu, menerima ku, aku akan menemui orang tua mu" jawab Wira
"baik, aku akan tunggu"
hasil dari berpacaran bertahun tahun sejak sekolah..
tapi dijaman dulu, mereka tidak mengatakan berpacaran melainkan sahabat dekat
ahh itu alibi, untuk menutupi perasaan masing masing kala itu
akhirnya dari bertahun tahun itu, mereka memutuskan menikah, meresmikan hubungan dalam ikatan pernikahan..
"selamat menempuh hidup baru"
begitulah banyak ucapan datang seketika mereka menikah..
dari pernikahan itu, Wira dan Ambar di beri kepercayaan tuhan memiliki anak ketika usia pernikahan mereka 7 tahun..
yap, mereka terlambat memiliki anak, tapi itu tidak masalah bagi keduanya, kalau soal tetangga, teman dan orang lain menghujat, itu sudah menjadi makanan setiap hari atas di rumah tangga mereka
"yang penting, aku percaya sama tuhan, dia akan memberikan kita kesempatan (memiliki bayi)" ucap wira
"iya, aku juga paham kuasa tuhan" jawab ambar
hingga akhirnya ketika merasa ada yang tidak biasa dari kondisi tubuhnya..
dokter yang memeriksa menyatakan kepada wira
"istri anda hamil"
yaa, setelah 7 tahun lebih beberapa hari..
ambar dinyatakan hamil yang otomatis akan menjadi orang tua
9 bulan, yap bukan waktu yang sebentar..
hingga hadirlah seorang bayi kedunia yang mereka sudah siapkan nama
Deri Anjas Wira Atmaja
tapi, setahun usia Deri dilahirkan, dimana hari ulang tahun pertama anak mereka, Ambar dinyatakan dokter tengah mengandung anak kedua..
hingga kembali lahirlah anak kedua diusia Deri bahkan belum genap 2 tahun, dengan nama lahir
Dona Ambar Wira Atmaja
dan selepas kedua anak itu, ambar sudah tidak pernah lagi hamil..
"tuhan memberikan kita hanya dua anak, itu cukup menjadi rejeki untuk kita" kata wira
"disyukuri saja" jawab ambar
"selalu, bersama kamu saja aku sudah mensyukuri"
tapi tuhan berkata mereka hanya memiliki dua anak
hari berlalu, tentunya...
Ambar dan Wira sudah menjadi orang tua terbaik bagi kedua anaknya..
sayang nya, peduli nya, waktu nya, juga semua hal dalam hidup mereka, akan mereka rela lepaskan demi kedua anaknya
demi mengurus mereka dan memutuskan membuka toko kecil penjual snack menyambung kehidupan..
hingga kedua anak bertumbuh dewasa..
dimana mereka tidak pernah menyangka jika kasih sayang mereka penuh tulus justru dibalas oleh kedua anaknya dengan durhaka...
anak pertama, deri, memiliki kelainan
dimana ia memiliki sikap dingin pada wanita, dan sangat hangat kepada pria..
itu tidak wajar ditambah ketika deri sering berada di tengah party milik temannya lelaki nya
dan ambar keluar dari kamarnya, lalu melihat dengan mata kepala nya dan juga suaminya tentang anaknya bersama temannya itu
tak hanya sampai disitu, mereka juga menemukan beberapa foto kebersamaan anaknya dengan beberapa pria, tapi penuh kejanggalan
mereka juga menemukan banyak bukti lainnya
berawal ketika ayah dan ibunya sama sama lihat dengan mata kepala mereka dimana anak mereka itu keluar dari rumah saat itu tengah malam
"mau kemana mereka?"
"biarkan saja, itu kan teman deri"
awalnya ambar sudah mulai curiga tapi wira selalu meminta agar ambar terus berpositif thinking
bagaimana tidak curiga melihat sikap berbeda dari anaknya
hari telah berganti..
ketika mereka curiga dengan sikap aneh anak laki lakinya, mereka mengatakan pada anak perempuannya berharap memberikan mereka saran atau bahkan bantuan
tapi tidak..
anak perempuan mereka yaitu dona, justru mengatakan jika itu sudah jadi urusan masing masing orang dirumah ini
"dona, ini kakakmu, ibu cuma kepikiran, mereka ada yang berbeda, ibu yakin bukan teman" kata ambar
"biarkan lah, mereka punya cerita sendiri, ngapain aku yang ngurusin" jawab dona dengan nada cuek
tak jauh berbeda dengan kakaknya..
dona adalah gadis yang terbilang sangat nakal, ia perokok berat, ia juga beberapa kali meminum bir, ia juga tak segan menggunakan pakaian mini mini untuk menarik banyak orang..
"dona, berhenti lah merokok, ayah pengen lihat kamu tertutup nak" kata wira
"emm" jawab dona cuek
"aurat kamu adalah tanggungan ayah, bantu ayah agar tidak masuk ke neraka"
"itu urusan ayah, bukan urusan dona, dona juga akan tanggung sendiri apa yang akan dona dapatkan di neraka" jawab dona
banyak hal dilakukan kedua anaknya membuat kedua orang tua mereka bersedih bahkan beberapa kali hampir putus asa
wira dan ambar pantas mendapatkan gelar keluarga paling sabar didunia dimana anaknya sangat prilaku buruk tapi mereka masih menjadi orang tua baik untuk mereka
bercerita tentang deri dengan dona, kedua adik berkakak itu, memang berada dalam satu rumah, mereka juga lahir dari rahim yang sama juga atas ayah yang sama..
tapi untuk duduk, berdua dan saling sharing mereka tidak pernah melakukan
"deri, kamu itu sama adikmu tidak pernah ibu lihat berbicara, apa kamu tidak ingin dekat dengan adikmu sendiri?" tanya ambar
"harusnya, ibu bilang gitu sama dia, bukan saya, saya kan lebih tua" kata deri lanjut makan
"dona?" ucap ibu memanggil dona
"kalau aku sih terserah aja, mau menyapa ku iya, enggak juga iya" jawab santai dona yang juga lanjutkan makan
sibuk masing masing..
deri dengan dunia nya sendiri
dimana deri sudah mantap atas dirinya yang menyukai sesama jenis, kekasih deri bukan perempuan tapi lelaki
ia tidak akan tertarik jika perempuan menggodanya seperti apapun itu
begitu pula dengan dona, yang masih bergulat dengan penuh dosanya
hingga kedua orang tua mereka jatuh sakit saja, mereka juga masih tidak peduli dan sibuk urusan masing masing
"kalian ini satu ibu dan satu ayah, kita satu keluarga, ayah merasa kita bukan keluarga disini, kalian sibuk masing masing, kalian kapan berubah baik?" tanya wira
keduanya saling menatap ayah mereka, yang mereka tidak pernah lihat ketika bicara dengan nada keras sedikit saja tiba tiba mengeluarkannya
"apa sih" jawab dona
dona meninggalkan tempat makan dan membawa makanannya, tapi deri malah ikut pergi hanya saja deri meninggalkan makanannya di meja
wira hanya melihat kedua anaknya yang sama sama pergi meninggalkannya
sembari batuk, ambar mengusap pundak wira memberikannya energi kesabaran lebih lagi
"kamu selalu mengatakan padaku untuk lebih berpisitif thinking" kata ambar merangkul lengan wira
wira melirik istrinya dan mengusap rambut istrinya
entahlah dosa apa yang mereka lakukan dimasa lalu, hingga mereka mendapatkan kedua anak yang sudah lama mereka idamkan tapi lahir dan membalas mereka dengan sekejam ini
tengah malam, wira dan ambar bangun
mereka sholat malam, lalu meminta pada yang paling berkuasa atas segala kehidupan
"berikan jalan terang pada kedua anak kami, tuntun mereka pada jalan yang hanya menuju kepadamu" ucap wira yang diaminkan oleh ambar
mereka memang tidak perna lupa, selalu berdoa untuk hal baik datang pada keluarga kecil mereka
sebenarnya bukan hanya dimalam itu mereka sholat lalu meminta pada yang kuasa tentang itu, bahkan disetiap malam
tapi malam itu, adalah malam mereka meminta dan berdoa sudah dengan banyak pertimbangan jika mereka sudah lelah
hari berlalu..
esoknya..
saat wira dan ambar bangun pagi dan melakukan kegiatan mereka semestinya
ambar tetap selalu masak pagi untuk sarapan kedua anaknya dan untuk suaminya juga untuknya meski ia tau jika anak nya akan membawa makanan itu pergi karna tidak mau makan bersama atau bahkan tidak menyentuhnya karna malas
siangnya..
dona, anak mereka kedua..
datang, bersama beberapa teman nya
mungkin teman sekolah
tapi ada satu dari mereka mengenakan pakaian seragam yang berbeda sendiri
"makan gak? gue beliin deh, didepan ada mie baso" kata dona
"ya makan aja" jawab salah satu temannya
"ayo dah, kesana saja" jawab yang lain lagi
"ngapain, pesen aja, minta anter masuk kedalam, mereka mau" kata dona
dan mereka makan bersama tanpa dona peduli ayah atau ibunya sudah makan atau belum
hingga beberapa jam mereka bersama. satu persatu pulang, tapi ada satu dari mereka tidak pulang
yaitu gadis yang memakai seragam berbeda dengan yang lain tadi
"Van.. diem dah disini, gue masih perlu banyak cerita" kata dona
"iye kak, cerita aja, aku juga gak ada kerjaan dirumah bilang ada tugas tambahan ke ibu"
"hahah"
mereka mengobrol tapi tak lama, dona pergi kedapur, ia ingin makan makanan yang ada didapur saja karna uangnya habis tadi traktir makan teman temannya
saat dona masuk..
seorang lelaki keluar dari kamar pertama yang berada di depan ruang tamu itu yaitu deri, kakak dari dona
maksud hati teman dona menyapa karna ingin bersikap sopan, tapi sikap kakak dona tersebut justru cuek bahkan hanya melirik kearah teman adiknya sedetik lalu pergi
"ini, aku hanya ada sisa snack ini Van, mau kan?" tanya dona
"boleh kak"
Vanilla April Sastra, nama lengkap gadis dipanggil Vanilla itu adalah teman dan sahabat paling dekat dengan dona
karna memang sikap dewasa Vanilla mampu membuat dona nyaman berteman dengannya
hari berlalu
ketika seringnya Vanilla datang kerumah..
selain baik, Vanilla memang terbilang sopan, hingga ia mampu membuat seorang deri melihat kearahnya dari yang cuek dan sangat dingin kepadanya
dimana antara deri merasa terganggu, atau terkesan dengan kegigihan teman adiknya ini untuk membuatnya melihat arah dia
atau memang tidak ada urat malu dari teman adiknya yang selalu menyapanya
"hai kak, baru dateng ya kak?" sapanya
deri tanpa peduli langsung masuk
hingga beberapa hari berikutnya kembali terjadi, diwaktu yang sama ketika dona sedang tidak bersama nya karna jika dona tau, dona akan memaki maki kakaknya itu dan terjadi pertengkaran
"hai kak, baru pulang kuliahnya?" sapa Vanilla
"em" jawab deri masih cuek
lain hari lagi
"hai kak, capek ya habis kuliah?" sapanya
tapi saat akan kembali pergi dan keluar dari kamarnya lagi dan lagi Vanila menyapa deri
"hai kak, pergi lagi?" sapa Vanilla
"emm"
deri langsung pergi meski sempat melirik arah Vanila sedikit karna penasaran
tapi rasa penasarannya mampu membuat deri justru mulai melihat dan menghargai keberadaan Vanila
saat Vanila tidak datang cukup lama dan deri padahal sedang menunggu kedatangan Vanila yang membuat nya nyaman dengan banyak pertanyaan dari Vanila yang membuatnya merasa diperhatikan dan merasa nyaman
"kemana teman kamu yang sering datang?" tanya deri pada dona
melihat hal tak biasa terjadi didepannya dimana deri menyapa adiknya
ambar mengajak wira memerhatikan kedua anaknya yang mengobrol
"dia sedang banyak pekerjaan, sekolah dia masuk hari sibuk" jawab dona
"emm"
"ada apa?"
"tidak"
"apa ada masalah?"
"tidak"
"emm"
dan deri kembali pergi
mendengar itu dari deri, ambar sebagai perempuan yang melahirkan deri, itu paham betul jika pertanyaan itu bukan sekedar bertanya tapi juga mencari fakta kemana Vanila
karna ambar juga tau siapa Vanila. bagaimana sikapnya, ia akhirnya percaya jika anaknya sedikit mulai membuka mata hati nya
tapi hingga hari berlalu, dimana kembali Vanila sering datang lagi kerumah dona
dan membuat situasi mulai terlihat baik antara hubungan adik dan kakak itu
melihat ada peluang, wira yang mengetahui itu mencoba menyapa Vanila dan mengajaknya bicara
semua ia jelaskan dan merasa kasihan, Vanila memberikan simpati nya kepada wira dan ambar atas cerita mereka dan kedua anaknya
"saya hanya ingin menitipkan anak saya pada kamu, bantu saya, untuk menuntun anak saya deri dan dona untuk kembali ke jalan yang baik" kata wira
"tapi saya.." ucapnya terpotong
"saya percaya kamu bisa, saya sudah akan pergi, saya titip deri dan dona" kata wira
tak lama dari ucapan itu, wira meninggal dunia
hari berduka, tapi itu belum membuat kedua anaknya kehilangan atas kepergian ayahnya
mereka sedih, tapi masih dengan sikap acuh mereka dimana masih saja tidak peduli pada orang tua mereka yang hanya bersisa satu (ibu)
tapi sekitar 7bulan dari meninggalnya wira, ayah deri dan dona, ambar, juga harus kembali kepada sang pencipta
dimana sama dengan suaminya, ia mempercayakan pada Vanila akan menjadi lampu penerang untuk kedua anaknya
"saya titip deri dan dona, saya lihat kamu adalah orang yang dikirim tuhan dan jawaban dari doa saya dan wira atas penerangan kehidupan dua anak saya" jawab ambar
"tapi kenapa saya jadi kepercayaan?" tanyanya
"karna kamu memang orang tepat ditengah deri dan dona" jawab ambar
seminggu setelah itu, ambar juga meninggal dunia
disinilah hari penyesalan terbesar dialami DERI dan DONA
penyesalan yang akan selalu datang di akhir setelah semua pergi
lalu dari penyesalan, air mata dan apaoun itu apa bisa mengrmbalikan semua yang telah mereka sia siakan sampai akhirnya mereka ditinggalkan?
-SELESAI-