Liana, seorang wanita berusia 18 tahun yang memiliki kehidupan sulit karena kondisi ekonomi. Dia hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan kini dia dipecat karena suatu alasan. Karena sebuah pemikirannya yang aneh, dia harus terlibat masalah dengan ketua organisasi mafia yang akhirnya menjadi suaminya.
Liana mulai terpengaruh oleh beberapa novel romantis yang dia baca. Hampir semuanya menceritakan tentang seorang gadis miskin yang terlibat masalah dengan seorang CEO, sehingga CEO itu menikahinya dan dia akhirnya hidup kaya raya dan juga mendapatkan cinta sang CEO yang biasanya bersifat dingin di dalam novel.
Hingga pada akhirnya, semua ini terjadi...
- Neo Hotel -
Dengan senyuman liciknya, Liana maju dan mendekati seorang pria yang sedang tertidur pulas akibat efek dari obat tidur. Liana yang sudah mempersiapkan semuanya dari awal memulai semua rencananya.
"Tak lama lagi, aku pasti akan kaya raya seperti Carla yang ada di dalam novel "Oh, My CEO!" itu. Aku... akan membuat kesalahpahaman dengan pria tampan yang ada di hadapanku ini, dan membuat dia menikahi aku!" Batinnya.
Saat itu, Liana mengira kalau pria tampan yang ada di hadapannya, yang sedang tertidur pulas akibat efek dari obat tidur tersebut adalah CEO dari Perusahaan Terkenal "A.R. Group". Liana yang sudah terpengaruh oleh banyak novel-novel romantis yang dia baca, ingin membuat kesalahpahaman dengannya.
Dia ingin sang CEO mengira kalau dia sudah melakukan hal itu dengannya, lalu meminta pertanggung jawabannya. Padahal, sebenarnya dia dan CEO itu tidak berbuat apa-apa dengannya. Dengan begitu, mungkin saja hidupnya akan berubah seperti karakter Carla yang ada dalam novel, yang sebelumnya hanya orang miskin menjadi Nyonya muda keluarga kaya hanya karena kejadian satu malam.
Beberapa Saat Kemudian..
Setelah semuanya selesai, Liana hanya tinggal menunggu pria yang sedang tertidur pulas itu sadar dan drama pun dimulai. Sambil menunggu, dia memotret pria yang sedang tertidur pulas itu. Dia pikir wajahnya yang tampan cocok dijadikan sebagai wallpaper. Liana juga memeriksa lagi apakah masih ada yang tertinggal. Setelah yakin semuanya sudah selesai dan sempurna, Liana diam di ujung kasur.
Tak lama setelah itu, Liana melihat ponsel pria itu yang berdering karena menerima sebuah pesan dari seseorang yang tak Liana kenal. Liana yang penasaran tentang siapa yang mengirimkan pesan pada pria itu akhirnya mendekati meja dan membaca pesan yang masih ada di notifikasi. Ponsel milik pria itu adalah ponsel yang sangat mahal, mungkin saja harganya berapa puluh juta.
Di notifikasi itu, tertera pesan dari seseorang. Isi dari pesan itu adalah :
"Tuan, saya sudah menghancurkan organisasi yang menyerang kita waktu itu. Saya juga..."
Liana yang melihatnya terkejut. Menghancurkan organisasi? Setahu dia, CEO dari Perusahaan A.R. Group itu tidak pernah terlibat dari organisasi apapun. Kalaupun terlibat, dia tidak pernah menghancurkannya, palingan hanya melaporkannya ke pihak yang berwajib saja.
"Apa maksudnya ini? Apa mungkin ada hal yang tidak aku ketahui?" Batin Liana yang terkejut.
Akhirnya Liana menggeser layar yang ada di ponsel milik pria itu, dengan harapan kalau ponselnya itu tidak digembok. Tapi sayangnya, ponsel milik pria itu digembok dengan kode dan dia tidak tahu apa kodenya. Kemudian, Liana melihat ke sekeliling dan melihat sebuah tas besar yang bukan miliknya. Liana yakin kalau tas itu milik pria tersebut, dan dia mengambilnya.
Liana membuka tas itu dan terkejut dengan apa yang dia lihat. Di dalam tas itu ada beberapa senjata tajam, dan juga beberapa berkas. Liana mengambil beberapa berkas itu dan membiarkan senjata-senjata tajam tersebut di dalam tasnya. Liana membaca isi dari berkas-berkas itu dengan teliti.
Liana semakin dikejutkan dengan isi dari berkas-berkas tersebut. Di dalam berkas itu berisi beberapa informasi penting tentang organisasi bernama "Black Prowess", dan juga tentang informasi penting milik pemerintah yang sepertinya dia curi. Liana terus membaca beberapa berkas itu, hingga dia sampai membaca sebuah surat yang berada di bagian paling dalam yang ada dalam tas.
Dalam surat itu berisi perintah untuk seseorang dengan sebuah tanda tangan. Di bawah tanda tangan itu, tertulis "Dean C.". Liana mulai curiga setelah melihatnya.
"Apa jangan-jangan, pria yang sedang tertidur dan hendak aku jebak itu bukan CEO Jian, tapi... Dean C. yang tertulis disini???" Batin Liana yang panik.
"Bagaimana ini? Kalau misalnya benar aku ini salah sasaran dan malah berbuat ini pada orang yang salah, bisa-bisa aku... Tapi, pria ini siapa? Apa dia ini seorang kriminal?" Lanjutnya membatin sambil berusaha mengobati rasa paniknya yang bukan main itu.
Karena penasaran, akhirnya Liana mencoba mencari tahu di internet seseorang yang bernama Dean C. Lalu, muncul sebuah artikel yang membuatnya ketakutan setengah mati, dan membuat jantungnya terus berdegup kencang tanpa henti.
Dalam artikel tersebut, tertulis kalau Dean C. adalah seorang pemimpin organisasi mafia yang sangat kejam, yang bernama "Black Prowess". Dia adalah orang yang sudah menyebabkan berbagai macam kasus pembunuhan kejam dan juga pemusnahan berbagai organisasi yang beranggotakan agen-agen terbaik milik pemerintah.
"Tidak mungkin... Jadi, pria tampan yang sedang menjadi "korban" itu adalah pemimpin Black Prowess? Gawat... gawat...! Bisa-bisa aku dibunuh!" Batin Liana yang semakin panik dan terkejut.
Liana melihat jam yang ada di ponselnya. Liana menyadari kalau waktunya sudah mepet, sebentar lagi efek obat tidur itu akan hilang dan dia akan sadar. Dengan cepat Liana membereskan barang-barangnya dan mengganti pakaiannya yang sedikit terbuka.
"Tidak ada waktu lagi untuk membereskan semua kekacauan yang telah aku buat! Yang penting sekarang adalah aku harus pergi dari sini, dan jangan sampai pria ini mencari aku, dan hanya akan mengira orang lain-lah yang telah melakukan hal itu padanya!" Batin Liana yang terburu-buru sambil membereskan barang-barang miliknya.
Saat Liana sudah tinggal sedikit lagi selesai membereskan barang-barang miliknya dan hanya tinggal memasukkan sebuah pakaiannya ke dalam tas miliknya, Dean mulai sadar. Matanya mulai bergerak, namun Liana tidak menyadarinya.
Dean perlahan-lahan membuka matanya. Dia merasa kepalanya sedikit pusing. Dean merasa heran dan mengatakan sesuatu dalam hatinya, "Bagaimana bisa tadi aku tertidur lelap, padahal masih ada banyak hal yang harus aku lakukan?". Dan juga, dia merasa kalau badannya dingin.
Dean yang awalnya merasa malas untuk bangun, menjadi terkejut saat dia melihat Liana yang terburu-buru membereskan barang-barang miliknya. Dean terkejut melihat ada seorang wanita di dalam kamar hotel yang dia sewa. Liana yang sudah selesai membereskan barang-barang miliknya itu menoleh ke arah belakangnya dan melihat Dean yang sudah sadar.
"Dean... dia sudah sadar?! Habislah aku... habislah aku..." Batin Liana.
Dean melihat dirinya yang memakai pakaian terbuka. Seketika pikirannya mulai kacau, ditambah lagi ada seorang wanita yang ada di hadapannya yang sepertinya sedang panik. Begitu melihat Dean yang sudah sadar, tanpa pikir panjang lagi Liana kabur dari sana dan berlari keluar dari kamar hotel tersebut.
"Sialan, bagaimana bisa ada seorang wanita di dalam kamarku? Dan juga..."
Dean dengan cepat beranjak dari kasur dan berjalan menuju ke pintu kamarnya yang terbuka. Namun sayangnya saat dia melihat keluar, Liana sudah tidak ada. Ditambah lagi, dia merasa kepalanya masih sedikit pusing sehingga akhirnya dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan melihat sekeliling.
"Apa mungkin wanita itu dan juga aku... Ah, tidak mungkin! Jika itu benar, pasti sudah aku bunuh wanita itu!" Batin Dean.
Dean menutup pintu dan memeriksa keadaan sekitarnya. Dean melihat tas miliknya yang terbuka dan juga beberapa berkas yang masih berserakan.
Dean yang merasa dirinya menyadari sesuatu, mulai kesal dan amarahnya meledak-ledak. Dean mengira kalau wanita yang ada di kamarnya tadi telah melakukan sesuatu terhadap dirinya, dan juga mengumpulkan banyak informasi. Wanita tersebut telah mengetahui banyak informasi tentang Black Prowess dan juga dirinya.
"Sial! Sial!" Batinnya yang kesal.
Dean yang sedang kesal itu merapikan barang-barang miliknya sambil mengatakan sesuatu dalam hatinya. Dalam hatinya dia berkata kalau dia akan membunuh wanita yang ada di kamarnya tadi.
Setelah barang-barang miliknya yang ada di tas itu dirapikan dan sudah dimasukkan kembali ke dalam tas, Dean mengambil ponselnya dan melihat pesan dari seseorang yang merupakan anak buahnya.
Setelah membaca pesan itu, Dean membalasnya dan menelepon orang kepercayaannya, yaitu asistennya. Dia mengatakan keadaannya saat ini dan menyuruh asistennya untuk menyelidiki tentang kamar no.76 yang ada di Neo Hotel dan rekaman CCTV nya. Dean juga ingin melihat wajah wanita itu yang sedang kabur dari hotel.
Sementara itu, Liana dengan cepat kembali ke rumahnya dengan menaiki taksi. Apa yang terjadi padanya tadi benar-benar mengejutkan. Dia berharap semoga pria tadi tidak tahu siapa dia.
"Bagaimana bisa aku salah informasi? Seharusnya Tuan CEO tampan yang ada di kamar itu, tapi kenapa malah pemimpin Black Prowess yang ada disana? Apa aku harus melaporkannya?" Batin Liana.
"Tidak, kalau misalnya aku melaporkannya yang ada masalah menjadi semakin besar. Lebih baik aku diam saja dan bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi." Lanjutnya membatin.
Supir taksi melihat raut wajah Liana dari kaca. Dia melihat Liana yang sepertinya sedang panik dan juga takut. Supir taksi yang melihat raut wajah Liana yang seperti itu merasa mungkin sesuatu yang buruk tadi terjadi pada wanita yang menjadi penumpangnya.
Beberapa Saat Kemudian...
Liana sampai ke rumahnya dan membuang barang-barang yang sebelumnya dia pakai untuk menjadikan Dean sebagai "korbannya". Kemudian, Liana mengganti pakaiannya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Berharap kalau sesuatu yang buruk tidak akan terjadi.
"Ya Tuhan, semoga saja, semoga saja si Dean itu tidak tahu kalau aku yang melakukannya... Semoga saja aku selamat, aku masih belum mau mati..." Batin Liana.
Untuk mengatasi rasa bingung dan juga gelisahnya, Liana mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Akhirnya dia menggunakan obat tidur yang masih tersisa, dan beberapa saat kemudian dia pun tertidur.
Sementara itu, Dean baru saja sampai di Rumahnya yang besar. Di dalam rumahnya yang besar itu, Dean masih belum bisa melupakan apa yang terjadi tadi dan dia masih marah. Dean pun menelepon asistennya dan menanyakan padanya apakah dia sudah menemukan sesuatu mengenai wanita itu.
Saat itu pikiran Dean mulai kacau, sehingga dia akhirnya terus-menerus ingin mengetahui tentang wanita itu dan membunuhnya karena telah melecehkan dirinya.
"Zac, apa kamu sudah menemukan petunjuk tentang wanita itu?" Tanya Dean.
"Tuan, aku baru saja mendapatkan foto wanita itu, dan saat ini saya sudah mengirim beberapa orang untuk mencari keberadaannya." Jawab Zac.
"Zac, aku ingin kamu menemukan wanita itu dalam waktu tiga hari dan membawanya ke hadapanku. Aku mengandalkan dirimu." Ujar Dean.
Dean menutup telepon dan berusaha untuk tenang. Sedangkan Zac yang mendengar ucapan Dean hanya bisa diam dan berusaha sebaik mungkin. Karena, jika Dean sudah marah seperti itu, lalu keinginannya tidak dipenuhi, bisa saja dia melakukan sesuatu yang berakibat fatal.
Tiga hari kemudian...
Setelah tiga hari, kondisi Liana yang sebelumnya dihantui rasa ketakutan dan juga kebingungan sudah mulai membaik. Dia sudah bekerja kembali seperti biasanya di sebuah cafe. Walaupun gajinya tidak seberapa, tapi bagi Liana itu sudah cukup daripada tidak mendapatkan uang sama sekali.
Tapi, Liana tidak menyadari kalau bahaya masih mengintai dirinya. Sebenarnya, dalam waktu tiga hari tersebut Zac berhasil menemukan keberadaan Liana serta banyak sekali informasi tentang dirinya.
Saat Dean mengetahui berbagai informasi tentang Liana dari Zac, Dean menghela nafas lega karena mengetahui kalau Liana bukanlah agen pemerintah atau semacamnya, dan dia serta organisasinya pun bisa selamat dan tidak terlibat konflik. Namun, walaupun begitu, Liana tetap mengetahui berbagai informasi tentang organisasinya serta dirinya, jadi dia tetaplah ancaman.
Zac juga memberitahu Dean kalau kamar yang dia tempati di Neo Hotel itu sebelumnya adalah kamar yang disewa oleh CEO Jian dari perusahaan A.R. Group, dan dari informasi tersebut Dean menyangka kalau Liana adalah wanita yang memiliki pekerjaan yang... begitulah.
Walaupun sudah tahu Liana itu bukanlah seorang agen dan hanya wanita biasa, Dean tetap memerintahkan Zac untuk menyuruh beberapa orang untuk menangkap Liana dan membawanya ke hadapannya, untuk dibunuh.
Saat itu...
"Tuan, bukankah terlalu berlebihan kalau anda sendiri yang membunuh wanita itu? Lebih baik jika anda menyuruh seorang pembunuh bayaran saja untuk menghabisi wanita itu." Tanya Zac.
"Zac, wanita sialan itu sudah meremehkan aku. Walaupun dia tahu sedang berurusan dengan siapa, dia tetap saja menganggap aku ini bukan apa-apa, dan dia masih bisa hidup tenang seperti itu." Jawab Dean.
"Jika nanti aku sudah bertemu dengannya dan akan membunuh dia, di saat itulah aku akan membuat wanita itu merasakan ketakutan yang sebenarnya, dan membuatnya menyesali perbuatannya." Lanjut Dean.
"Baik, jika itu keinginan Tuan. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk membawanya ke hadapan anda di tempat itu." Balas Zac.
Zac pergi meninggalkan ruangan tersebut, dan segera melakukan tugasnya, begitu pula Dean. Sedangkan Liana masih menjalankan rutinitas hariannya seperti biasa, dan tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
Lalu, malam itu...
Liana pulang bekerja agak malam dari biasanya. Karena takut terjadi sesuatu, Liana pulang sambil berjalan dengan cepat. Liana memang sering mendengar perbincangan beberapa orang tentang penjahat yang berkeliaran di malam hari, karena itulah dia lumayan ketakutan.
Saat itu, Liana tidak sadar kalau dia sedang diikuti oleh beberapa orang suruhan Zac untuk menangkapnya dan membawanya ke hadapan Dean. Liana yang sedang berjalan di jalanan yang gelap dan sepi itu hanya memikirkan kalau dia harus pulang cepat.
Hingga beberapa saat kemudian, Liana mulai merasa merinding. Dia mulai teringat akan cerita hantu yang pernah diceritakan oleh teman kerjanya. Padahal sebenarnya saat itu orang-orang yang mengejar Liana sedang bersiap-siap. Liana menoleh ke arah belakang, dan dia melihat beberapa orang pria.
"Untung ada orang disini, jadi suasananya tidak terlalu mencekam, tapi... mereka penjahat bukan sih?" Batin Liana.
Begitu sudah siap, orang-orang suruhan Zac langsung berlari cepat ke arah Liana. Liana yang melihat hal itu terkejut dan ikut berlari. Liana mulai ketakutan. Karena Liana saat itu sedang lelah, akhirnya dia bisa ditangkap dengan mudah oleh beberapa orang itu. Kemudian, Liana dibius dan dibawa ke tempat tersembunyi untuk ditangani oleh Dean.
Beberapa Saat Kemudian...
Perlahan-lahan Liana membuka matanya. Pandangannya masih samar dan dia juga masih kurang mengingat apa yang terjadi. Dean dan beberapa orang yang ada disana termasuk Zac melihat Liana yang mulai sadarkan diri. Dean dengan cepat mengambil pistol miliknya.
Saat kesadarannya benar-benar pulih, Liana terkejut melihat dirinya diikat di sebuah tempat yang cukup gelap. Yang membuatnya lebih terkejut sekaligus ketakutan adalah karena dia melihat Dean, orang yang sudah menjadi "korban" nya.
Liana melihat pistol yang dipegang oleh Dean. Sudah jelas kalau Dean pasti ingin menghabisinya karena perbuatan yang telah dia lakukan. Dengan tatapan sinis dan tajamnya Dean mengatakan sesuatu pada Liana.
"Kau pasti mengingat aku kan, wanita hina?" Tanya Dean.
"Bagaimana ini? Apa aku harus menjawabnya? Apa dia akan langsung membunuh aku begitu aku menjawabnya?" Batin Liana yang panik dan mulai pasrah.
Liana berusaha untuk tenang, lalu menjawab pertanyaan dari Dean dengan tatapan tajamnya. Dia mengumpulkan keberanian untuk melakukannya.
"Tentu saja aku mengingat kamu, Dean." Jawab Liana.
"Apa kau ingat dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku, hah?" Tanya Dean sambil mendekati Liana.
"Aku ingat, kok." Jawab Liana.
Liana yang masih belum menyerah mulai mengulur waktu agar dia bisa memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia harus melakukan sesuatu yang membuat Dean tidak akan membunuhnya untuk saat ini, atau lebih baiknya tidak akan membunuhnya selamanya.
"Apa yang akan merugikan Dean jika ada yang tahu tentang rahasianya ya? Berpikirlah otak..." Batin Liana.
"Setelah kamu tahu kalau orang yang ada di tempat itu bukanlah "dia", lalu kenapa kamu malah lari dan tidak meminta maaf padaku?" Tanya Dean yang mulai bersiap-siap menembak wanita yang ada di hadapannya.
"Karena bisa saja kamu membunuh aku saat itu juga. Alangkah lebih baik jika aku kabur saja dan mati nanti." Jawab Liana.
"Oh iya! Kalau misalnya ada seseorang yang tahu tentang dia, yang Dean takutkan pasti rahasianya terbongkar. Ditambah lagi, aku ini kan sudah tahu banyak. Lalu, kalau misalnya orang yang mengetahui banyak rahasianya adalah agen, pasti akan berakibat buruk untuknya! Aku hanya tinggal berpura-pura saja!" Batin Liana yang senang karena mendapatkan ide.
"Tapi, kalau misalnya dia tahu dimana aku saat itu, mungkin dia sudah tahu banyak hal tentangku... Ah sudahlah! Sekarang yang lebih penting adalah keselamatanku! Aku ini belum mau mati!" Lanjutnya membatin.
"Oh, jadi kamu sudah siap untuk mati, ya? Baiklah kalau begitu, aku tidak akan membuang-buang waktu lagi." Ujar Dean.
"Kamu tidak akan membunuhku." Ujar Liana yang memulai rencananya agar tidak terbunuh.
"Heh. Kamu pikir aku akan berbelas kasihan padamu? Jangan mimpi." Balas Dean.
"Jika aku mati, berbagai informasi tentangmu dan juga organisasi akan terungkap, Dean." Ujar Liana.
"Apa maksudmu? Kamu ini hanyalah wanita hina yang sudah seharusnya mati! Ditambah lagi, kamu ini bukanlah siapa siapa yang harus aku takuti!" Bantah Dean.
"Oh, ya? Sepertinya kamu memiliki informasi yang salah tentangku." Ujar Liana.
Dean yang mendengar perkataan Liana mulai heran, dalam hatinya dia bertanya-tanya apa maksud dari perkataan Liana. Ditambah lagi, Liana sepertinya benar-benar percaya kalau dia tidak akan mati dibunuh oleh Dean. Tatapan mata Liana menunjukkan kalau dia sepertinya sedang bersenang-senang dengan hal itu.
Zac yang melihat raut wajah Dean menyadari apa yang dipikirkan oleh Dean. Dengan cepat dia mendekati Dean dan mengatakan pada Dean kalau dia tidak boleh mempercayai perkataan Liana, karena bisa saja Liana itu berbohong.
"Tuan, sebaiknya anda jangan mempercayai perkataan wanita ini. Aku yakin dia pasti berbohong." Ujar Zac mencoba meyakinkan Dean.
"Ah, benar juga ya. Untuk apa aku memikirkan perkataan dia?" Batin Dean.
"Dasar... kenapa orang ini harus menghalangi aku, sih?!" Batin Liana kesal.
"Oh, kamu menganggap aku berbohong, ya? Terserah." Ujar Liana.
"Kalau kami mendapatkan informasi yang salah tentangmu, lalu memangnya kamu ini siapa?" Tanya Zac.
"Aku adalah agen yang disewa oleh pemerintah untuk mencari tahu banyak hal tentang organisasi kalian. Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi, namun itu belum cukup. Hingga hari itu aku mendapatkan informasi kalau kamu sedang berada di Neo Hotel, jadi aku dengan cepat pergi kesana." Jawab Liana yang sedang mengarang cerita.
"Kau pasti berbohong." Bantah Zac.
"Untuk apa aku berbohong? Jika aku berbohong saat ini, sama saja saat ini aku sedang menggali kuburan untuk diriku sendiri." Ujar Liana mencoba membuat mereka berdua percaya.
Dean menatap tajam ke arah Liana dan perlahan-lahan mulai muncul pertanyaan di benaknya, dia tidak yakin apakah Liana saat itu sedang berbohong atau tidak. Bisa dikatakan saat ini Dean mulai percaya 10% perkataan Liana. Zac pun demikian.
Karena merasa kalau Zac dan Dean mulai mempercayainya, Liana melanjutkan aksi berbohongnya.
"Untungnya, setelah aku datang kesana, aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Kemudian, aku..."
"Diam." Ucap Dean yang membuat pembicaraan terhenti.
"Gawat, apa jangan-jangan Dean ini..." Batin Liana yang merasakan firasat buruk.
"Kalau tujuanmu hanya itu, lalu kenapa kamu bersikap "semena-mena" padaku? Kau pikir aku tidak tahu kalau sebenarnya saat itu kamu sedang bekerja sebagai--"
"Ah, tentu saja tidak. Orang yang seharusnya ada disana untuk menyenangkan hati CEO itu sudah pergi. Aku hanya menggantikannya saja. Lagipula, bukankah lebih baik jika aku bersenang-senang terlebih dahulu setelah tujuanku tercapai?" Ujar Liana memotong pembicaraan Dean.
"Kau!"
Dor! Dean menembakkan sebuah peluru ke arah samping Liana. Liana terkejut bukan main karena serangan yang tiba-tiba itu. Awalnya Liana pikir peluru itu mengenai dirinya, namun peluru itu tidak mengenai dia.
"Hei, kenapa kamu tidak langsung menghabisiku saja, Tuan Dean?" Tanya Liana yang mencoba untuk tetap tenang dan melanjutkan aktingnya.
"Oh ya, dokumen-dokumen milikku yang berisi berbagai informasi tentang organisasimu itu ada di ruangan pribadiku, dan aku belum memberitahukannya pada siapapun. Jika agen lainnya tahu jika aku sudah mati, mereka bisa saja membuka dokumen itu, dan pertunjukkan yang besar pun dimulai..." Lanjut Liana.
"Sialan! Kalau begini..." Batin Dean.
Seketika Dean mengerti apa tujuan Liana sebenarnya. Bukan karena dia mengerti bahwa Liana sedang berakting dan mencoba untuk selamat, tapi karena dia mempercayai perkataan Liana. Dean masih kesal karena penjelasan Liana membuat dirinya merasa kalau dia tidak punya pilihan lain selain melepaskan Liana. Padahal sebenarnya dia sangat ingin membunuh Liana karena Liana sudah melecehkannya.
Zac yang mendengar penjelasan dari Liana juga memikirkan hal yang sama seperti Dean. Dia juga ikut mempercayai perkataan Liana yang saat itu sedang berakting.
"Jadi, bagaimana, Tuan Dean? Apa anda masih ingin membunuh aku? Jika iya, silakan." Ujar Liana yang mulai senang.
"Katakan dimana ruangan pribadi milikmu, biar aku saja yang membereskan semuanya." Ujar Dean sambil mengarahkan pistol ke kepala Liana.
"Aku tidak akan pernah mengatakannya." Jawab Liana.
"Aku tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan informasi yang salah. Apa Tuan akan menghukum aku?" Batin Zac yang sedang melihat Dean yang sedang marah menodongkan pistol ke kepala Liana.
"Kau benar-benar keras kepala, ya." Ucap Dean yang sedang menahan amarahnya.
"Bukankah aku sudah mengatakannya sejak awal? Aku ini tidak akan pernah mengatakannya. Mau sampai kamu membunuh aku atau menyiksa aku pun, aku tidak akan pernah mengatakannya. Dan juga, jika kamu ingin mengumpulkan lagi informasi tentangku, semuanya tidak akan ada gunanya." Balas Liana.
"Kau... Kau...!"
"Tapi, aku akan menyimpan rahasiamu dan juga Black Prowess jika kamu menuruti apa yang aku perintahkan." Ujar Liana.
"Apa kau bodoh?! Untuk apa aku menuruti kemauan dari seorang wanita seperti kamu?!" Teriak Dean yang sepertinya sudah tidak bisa menahan amarahnya.
Kemudian, Dean pun memukuli Liana. Liana hanya dan menahan rasa sakit akibat dipukuli oleh Dean. Dia sudah memperkirakan kalau hal ini akan terjadi. Dean mengucapkan kata-kata kasar saat dia memukuli Liana. Zac dan juga orang-orang yang ada disana hanya bisa diam melihatnya. Jika mereka ikut campur, maka yang ada mereka hanya akan dihukum.
"Cepat katakan padaku dimana ruangan itu, sialan!" Ujar Dean terus memaksa Liana untuk mengatakannya.
"Aku... tidak akan pernah mengatakannya." Jawab Liana yang masih melanjutkan aktingnya.
Liana terus saja diam saat Dean mulai menyiksanya. Ada beberapa luka di tubuhnya. Bibirnya juga berdarah. Sedangkan Dean yang masih kesal terus melanjutkan menyiksa Liana. Dean terus berusaha membuat Liana mengatakannya, sambil melampiaskan amarahnya.
Beberapa menit kemudian, Dean yang sepertinya sudah mulai pasrah akhirnya berhenti. Liana diam dan tak bicara satu kata pun sama sekali. Dia hanya tersenyum karena mulai puas.
"Yah, mungkin... aku bisa menggunakan kesempatan ini untuk membuat apa yang terjadi di novel juga terjadi pada diriku." Batin Liana.
"Apa kau masih belum puas disiksa, hah? Apa kamu akan terus saja diam seperti itu dan membiarkan dirimu terluka?" Tanya Dean.
"Tentu saja. Aku sudah menawarkan hal itu padamu, keputusan ada di tanganmu." Jawab Liana.
Dean menghela nafas kesal sebelum akhirnya dia memberikan jawaban kepada Liana. Liana yang senang karena rencananya berhasil hanya terdiam dan berusaha membuat dirinya tidak terbawa suasana.
"Kalau begitu, apa yang kau inginkan dariku?" Tanya Dean.
"Yeah! Akhirnya rencanaku berhasil! Tidak sia-sia aku melakukan ini!" Batin Liana yang senang.
Tanpa basa-basi lagi, Liana langsung mengatakan keinginannya. Semua yang ada disana, yang mendengar permintaan Liana pada Dean terkejut bukan main. Begitu pula Dean yang tidak menyangka kalau Liana akan mengatakan hal itu.
"Aku... Aku ingin menikah denganmu." Jawab Liana.
"A-Apa? Kau tidak sedang bercanda, kan?" Tanya
Dean mencoba memastikan.
"Tentu saja tidak. Aku bersungguh-sungguh. Karena, aku juga harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Neo Hotel, kan?" Jawab Liana percaya diri.
"Kalau kamu tidak mau, tidak apa apa. Biarkan aku mati saja dan rahasia kamu akan terbongkar." Lanjut Liana.
"Wanita ini... kenapa dia ingin menikah denganku? Apa dia memiliki maksud tertentu?" Batin Dean.
"Tenang saja kok, aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya merasa kalau aku menyukai kamu. Aku juga tidak akan membeberkan rahasia kamu dan juga Black Prowess ke siapapun. Tenang saja." Ujar Liana.
"Kau berjanji tidak akan memberitahukannya pada siapapun, kan?" Tanya Dean.
"Tentu saja. Aku tidak bohong." Jawab Liana.
Setelah berpikir selama beberapa saat, Dean pun memberikan jawaban pada Liana. Liana senang mendengar jawaban Dean.
"Kalau begitu, baiklah. Aku akan menikah denganmu." Jawab Dean.
Dalam hatinya, Liana benar-benar sangat senang karena akhirnya dia dapat menikahi Dean. Karena, bisa saja hidupnya tenang dan aman begitu menikahi Dean. Sebisa mungkin dia tidak akan membiarkan Dean ditangkap.
"Zac, bawa dia ke rumah sakit dan minta dokter terbaik untuk mengobatinya. Lalu, suruh dokter itu untuk membuat dia menginap di rumah sakit." Ujar Dean dengan nada suara pelan pada Zac.
"Baik, Tuan." Balas Zac.
Dean pun keluar dari tempat itu dan kemudian Zac bersama anggota organisasi lainnya menjalankan tugas mereka. Dean keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang bercampur aduk, sedangkan Liana masih tidak bisa mengeluarkan ekspresi senangnya.