20:38, di kamar Keni.
"Wajahmu..
Dan hatimu..
Dan tentang dirimu..
Selalu.. Berada di dalam hatiku..
Sejak awal bertemu aku tahu rasa itu
Namun tak mungkin aku untuk memilihmu..
DAn tak munkin untukku
Untuk gapai cintamu
Walau rasa di hati.. Ingin memilikimu..
Cinta harus berkorban
Walau harus menunggu selamanya.
Aku tahu kau bukan untukku~"
Lagu Agnes Monica yang berjudul "Dan Tak MUngkin" itu mengalun merdu. Entah mengapa setiap kali mendengarnya, Keni selalu merasa sedih, bahkan sangat sedih. Ketika setiap liriknya memasuki telinga Keni, disaat itu pula ingatannya kembali singgah di masa lalu. Masa dimana dia pertama kali bertemu dan mengenal Adman, lelaki yang pernah dia sukai dan pernah sedikit banyak menyakiti hatinya.
26 Januari 2005
Terlihat rombongan anak-anak dari kejauhan. Seperti segerombolan semut yang beriringan rapi mendekati sekolah Keni, SDN 1 Cakrawala.
"Heiii anak-anak SDN Pelita Bangsa mau kesiniii". Teriak Endra
Sontak seisi kelas berlarian menuju ke arah jendela. Ikbal yang sejak tadi terlihat sibuk dengan buku gambarnya pun, secepat kilat berlari meuju ke tempat Endra berdiri.
"Mana? Mana?" Tanya Ikbal penasaran
Endra menunjuk ke arah timur,
"Wah... Kayaknya mau nantangin sekolah kita maen bola nih." Celetuk Aftan
"Pasti pada jago-jago banget deh mereka mainnya." Gea bicara asal
"Tetep gak bakalan bisa ngalahin kita dong, Ge!" Balas Adi yakin
"Kita para cewek nunggu buktinya lho." Tantang Keni
"Oke siapa takut." Ucap Adi mantap
Rombongan anak-anak itu semakin jelas terlihat. Mereka tampak menggunakan seragam olah raga berwarna biru langit dengan warnah huruf berwarna biru tua bertuliskan "SDN Pelita Bangsa". Mereka terlihat kompak.
Rombongan anak-anak itu melewati ruang kelas Keni. Riyan yang terkenal sebagai murid yang paling nakal pun tidak bisa melewatkan saat-saat murid-murid perempuan melewati kelas begitu saja. Ada saja kata-kata yang keluar untuk menggoda mereka. Dan mereka pun merespon dengan menyorakinya.
Saat 4 orang murid laki-laki yang datang agak terlambat dari rombongan itu melewati kelas Keni, tiba-tiba sorot mata Keni bergerak menuju salah satu murid dari keempat murid laki-laki itu. Sorot matanya terus mengikuti anak itu hingga tubuhnya tak terlihat lagi. Ya ampuun gantengnya... Ucap Keni dalam hati.
*Istirahat pertama
Terlihat Keni, Gea, Uci, dan Nisa sedang berbincang dengan Pak Khusuf, guru olahraga mereka.
"Pak, kok mereka pada kesini? Ada acara ya pak?" Tanya Gea
"Bukan.. Mereka hanya menumpang berolahraga di sekolah kita karena lapang milik mereka sedang direnovasi." Jelas Pak Khusuf
"Oh.. Aku kira mereka mau menantang sekolah kita bermain bola, Pak. Hehe" Keni cengengesan
"Tidak, tapi itu sepertinya ide yang bagus. Untuk pertandingan persahabatan, pasti akan seru." Pak Khusuf terlihat menyetuji ucapan Keni.
"Iya dong pak, pasti seru.." Tambah Uci
"Iya Pak, setuju.." Nisa ikut berbicara.
Ketika mereka sedang asik berbincang-bincang. Tiba-tiba..
"Selamat siang, Pak."
"Selamat siang." Balas Pak Khusuf
"Emh.. Pak saya disuruh Pak Budi untuk meminjam bola kepada Bapak, karena bola milik kami rusak." Jelas anak itu
"Oh, iya boleh saja. Tunggu sebentar." Pak Khusuf pun bergegas mengambil bola di ruangannya.
Keni terlihat kaget karena anak yang menghampiri mereka adalah anak laki-laki yang disukainya. Keni mematung, tak berkedip untuk beberapa saat menatap anak itu. Entah karena merasa diperhatikan, anak itu balik menatap Keni. Keni kikuk saat mata mereka berdua saling beradu.
Setelah Pak Khusuf kembali sambil membawa bola dan memberikanya kepada anak itu, mereka berdua pun bergegas pergi menuju lapangan.
Gea yang sejak tadi juga memperhatikan anak laki-laki itu langsung berjingkrak aneh, sambil berkata.
"Ya Allah.. Ganteng bangeeet.."
Keni tertawa kecil. Benerkan anak itu ganteng. Pikirnya.
"iya ih, kok bisa ganteng banget kayak gitu ya?" Uci menanggapi
"Iya yah, aku aja ampe degdegan banget liatnya. Hahaha." Tambah Keni.
"Ah biasa aja sih. Aku lebih suka ke cowok yang satunya lagi." Nisa berpendapat beda
"Emang kamu suka yang mana?" Tanya Gea penasaran
"Itu tuh,,, yang agak pendek dari cowok tadi.." JAwab Nisa sambil menunjuk ke arah lapangan
"yang mana sih? Gak tau.." Keni celingukan
"Ayo kita liat aja mereka di lapangan, ntar aku tunjukin." Ajak Nisa
Mereka berempat pun bergegas menuju lapangan sekolah.
Sesampainya disana, mereka berempat terlihat mencari-cari sesuatu. Mata Keni langsung menangkap sosok anak tadi. Dia terlihat sedang menendang-nendang bola. Ya ampun.. dia kok ganteng banget sih??
"Itu itu liat!!"
Suara Nisa mengejutkannya
"Yang mana sih, Nis?" Tanya Keni agak kesal
Nisa mengarahkan wajah Keni ke tengah lapang. Ada anak laki-laki yang sedang berdiri disana sambil teriak-teriak ke teman-temannya.
Anak laki-laki yang Nisa maksud bertubuh agak gendut, tinggi badannya lebih pendek dari yang lain, kulitnya putih dan berlesung pipit.. Keni, Gea, dan Uci manggut-manggut.
Tiba-tiba bunyi bel masuk terdengar keras. Mereka berempat pun bergegas ke dalam kelas.
Lagu itu berhenti. Keni tersenyum simpul. Diambilnya handphone berwarna putih miliknya. Dia mengklik "Play" di layar handphonenya. Intro lagu "Dan Tak Mungkin" pun terdengar lagi.
2 Februari 2005
"Kalo nanti kelas kita jadi liburan, mending kita ke pantai aja." Aftan memulai pembicaraan
"Setujuuu. Kita bakalan berenang sama anak-anak cewek yang pake bikini haha." Riyan menanggapinya dengan nakal
"Iya apalagi kalo si Gea sama si Nisa yang pake bikinimya." Tambah Adi
"Eh, tapi kalo si itu yang renangnya, apa yang mau kita liat?" Aftan mengecilkan suaranya sambil menunjuk ke arah Keni yang sedang membaca buku.
Keni sedikit menguping pembicaraan mereka. Keni berlagak acuh, tapi hatinya tetap merasa sakit.
"Tipis. Kayak layangan!!" Teriak Aftan , kemudian disusul dengan gelak tawa murid-murid lain.
Keni tertunduk. Dia ingin menangis, tapi untuk apa menangisi sebuah kenyataan?!
Kenita Musdhalifa adalah murid kelas 6 SDN Cakrawala. Dia berperawakan tinggi, namun sangat kurus dibanding teman-temannya. Kulitnya berwarna sawo matang dan matanya sayu. Badannya yang terlihat lebih rata dari yang lain itu sering menjadi bahan ejekan teman-temannya.
Namun Keni tetap percaya diri dan ceria, walaupun kata-kata ejekan dari temannya sering menyakiti hatinya dan tidak akan pernah dia lupakan sampai sekarang.
Segerombolan anak-anak SDN Pelita Bangsa kembali terlihat dari kejauhan. Jantung Keni berdebar-debar. Dia sudah tak sabar ingin melihat anak laki-laki yang dia sukai.
Untuk kali ini, anak itu datang lebih awal dan berada paling depan.
Anak laki-laki itu sedikit lebih tinggi daripada Beri, teman TK Keni yang bersekolah di SDN Pelita Bangsa dan satu kelas dengan anak laki-laki itu.
Dia berkulit putih, bersih. Matanya sipit. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis berwarna merah muda. Dagunya bagus, lonjong seperti belahan telur. Anak laki-laki itu terlihat lebih tampan dari teman-temannya.
*Istirahat pertama
Pak Khusuf masuk kelas lalu memberikan pengumuman. Beliau menjelaskan bahwa sekolah SDN Pelita Bangsa mengajak sekolahnya bertanding sepak bola. Murid-muridpun bersorak gembira mendengarnya. Murid laki-laki yang ditunjuk untuk bermainpun bergegas menuju lapangan. Disusul oleh murid-murid perempuan yang bertugas untuk mensupport dan meramaikan pertandingan.
20 Menit Pertandingan
Keni tak henti-hentinya menatap anak laki-laki itu. Dia benar-benar menyukainya. Di usia yang masih sangat kecil itu, Keni sudah mulai tertarik pada seorang laki-laki. Perasaan itu sulit dia cerna, perasaan suka yang menggebu dan mengalir deras ke hatinya.
Tiba-tiba matanya menuju ke arah kantin. Disana terlihat Beri, teman kecilnya, sedang memakan beberapa gorengan. TAnpa pikir panjang Keni pun menghampirinya.
"Hei, Ken. Jajan nih, mau?" Beri memberikan beberapa gorengan ke arah Keni. Dia menggeleng sambil tersenyum.
"Mana teman-temanmu?" Tanya Beri
"Itu lagi pada nonton.. Kamu kok gak ikut main, Ber?" Tanya Keni sambil duduk di samping Beri.
"Engga ah, Ken. Lagi kurang enak badan." Jawab Beri. Keni mengangguk-angguk.
SEdang asik bercengkrama, tiba-tiba muncul bola menggelinding ke arah Keni. Disusul oleh derap langkah kaki yang mengejar bola itu. Ternyata anak yang disukai oleh Keni, lagi.
Anak itu melihat ke arah Beri lalu tersenyum simpul, lalu sesaat melihat ke Keni, Keni mencoba tersenyum kepadanya, namun anak laki-laki itu langsung membuang muka lalu pergi. #jleb
"Ciee Keni suka sama dia ya?" Goda Beri, Keni kaget.
"Ih apa sih Beri.."
Beri tertawa terbahak-bahak. Keni tertunduk malu.
"Namanya Adman, Ken." Ucap Beri tiba-tiba
Mendengar itu Keni senang. Itulah yang selama seminggu ini ingin sekali dia tahu, nama ank laki-laki yang disukainya.
"Dia pacarnya Indri." Tambah Beri
Seperti disambar petir. Keni kaget, lalu membalikan badannya tepat di depan Beri.
"Indri itu yang mana, Ber?" Suara Keni sedikit brgetar.
"Tuh." Beri menunjuk ke pinggir lapangan "Ynag pake jaket merah." Jelasnya
Di pinggir lapangan terlihat anak perempuan duduk di antara kedua temannya. Rambutnya seleher, lurus dan berponi rapi. Hidungnya mancung, bibirnya bagus, kulitnya putih dan semakin bercahaya ketika terkena sinar matahari.
"Cantik banget ya, Ber. Beda nbanget sama aku." Keni berdecak kagum
"Tapi gak tau juga sih, Ken. Mereka pacaran atau engga. Tapi katanya sih si Adman suka banget sama dia." Jelas beri panjang lebar.
Entah dari mana perasaan ingin marah itu muncul. Ingin sekali Keni berteriak sekencang-kencangnya, lalu berlari menghampiri Adman, menyentuh wajahnya, dan berbicara lantang kepadanya, aku cemburu!!
Lagu telah lama berhenti karena habis. Ditatapnya handphone putih itu. Tanpa pikir panjang dia meraihnya. Intro lagu itu lagi-lagi terdengar..
3 Desember 2006
Keni berdiri di depan cermin. Sesekali dia tersenyum lalu murung. Dia sekilas meraba dada dan bokongnya. "Rata banget sih." UCapnya. Keni manyun.
Beberapa menit kemudian, Keni menyambar tasnya yang tergeletak di kasur. Lalu bergegas menuju sekolah.
07:30, Gerbang Sekolah.
"Maaf, de. Kamu sudah telat 30 menit. Saya tidak bisa membiarkan ade masuk." TEgas Pak Sandi, satpam sekolah SMPN 1 Harapan Bangsa
."Tapi pak.. saya mohon.. Hari ini ada ulangan pak.. Please izinkan saya masuk.." Keni memohon
"Maaf, ini sudah menjadi peraturan sekolah." Pak Sandi pun kembali ke posnya, membiarkan Keni yang merengek sendirian.
"Paak.. Tolongin dong.. Please.."
Tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya.
"Percuma kali, Ken." Suara seseorang yang sudah tidak asing lagi di telinganya.
"Eh, Adman.." JAntungnya langsung berdetak kencang. Darahnya mengalir cepat dari kepala ke kakinya. Tubuhnya seolah melayang. Perasaan itu semakin menggebu.
"Kita pergi maen ajalah. Disini juga gak bakalan dibiarin masuk."
"Ma..maen kemana? Ak,, aku naik apa?" Tanya Keni gugup. Dia terliaht bodoh di depan Adman.
"Nyobain naik motor gue emang gak mau?" Adman balik bertanya
"Eh.. emh.."
"Bukanya lu suka sama gue? Tunggu apa lagi?!" Adman tersenyum sinis ke arahnya. Tubuh Keni tiba-tiba seperti tersengat listrik.
Setelah lulus SD, Keni melanjutkan sekolahnya di SMPN 1 Harapan Bangsa. Saat pertama kali masuk sekolah itu Keni sudah disuguhi beberapa kenyataan yang menyenangkan. Dia satu kelas dengan kedua sahabatnya, Gea dan Nisa. Dan yang paling mebuatnya merasa sangat senang adalah dia juga satu kelas dengan orang yang selama ini dia suka. Adman. Ya, dia.
Lagu itu berakhir untuk yang ketiga kalinya. NAmun Keni seolah tak bosan. Intro lagu itupun kembali mengalun merdu.
3 Juni 2010
Keni terlihat kebingungan di halte tempatnya menunggu setiap pagi yang akan mengantarnya ke sekolah. Sesekali dia melihat ke arah timur, berharap bis yang ia tunggu segera muncul. Namun, nihil.
Jam tanganya menunjukan pukul 07:10. 5 menit lagi bel sekolah akan berbunyi.
"Aduh.. gila ya ini bis datangnya telat banget! Apa aku yang datangnya telat? Ah gak tau lah." Keni menngerutu.
"Makanya kalo malem tuh jangan begadang terus. Perasaan kamu telat terus deh."
Tiba-tiba di sampingnya berdiri seorang laki-laki berwajah manis, berkumis tipis dan berambut gondrong. Perawakannya tinggi dan ideal.
"Ih apaan sih? Sok tahu deh." Ucap Keni kesal
"HAha becanda kali, Non."
"Gak lucu!!" Balas Keni ketus
"Hmm, nama kamu Keni ya?" Tanya orang itu tiba-tiba
"Dari mana kamu tahu nama aku?" Selidik Keni
"TUh." Laki-laki itu menunjuk ke dada kanan Keni.
Keni lansung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Kurang ajar banget sih!!" Bentak Keni, marah.
"Eh, maaf maaf.. Bukan maksud aku buat.." Belum selesai dia berbicara
"Adman..." Teriak Keni
Adman yang tengah mengendarai motor Ninja hitamnya langsung berhenti. Dia memangdang sinisn kepada Keni.
"Kenapa lu?!" Tanya Adman Sedikit membentak.
"Emh.. boleh nebeng gak? Aku telat banget nih.." Pinta Keni penuh harap.
Adman melihat Keni lekat-lekat dari ujung rambung hingga kakinya. Keni kikuk.
"Asal dudknya jangan terlalu deket sama gue. Kalo bisa gak usah nyentuh punggung gua." Jelas Adman datar.
Keni mengangguk pelan. Air matanya menetes.
*SMAN 1 Harapan Bangsa
Semua mata tertuju pada Keni dan Adman yang terlihat jalan berdua. Ada beberapa dari meereka yang menggoda dan menyorakinya. Adman terlihat risih. Dia menghentikan langkahnya.
"Kenapa, Man?" Tanya Keni heran
"GUe malu jalan sama lu!"
Seperti digigit jutaan kalajengking hati Keni. Air matanya menetes semakin deras dan jelas.
“Aku emang jelek, Man. Aku juga emang suka sama kamu dari dulu. TApi aku juga sadar, aku gak pantes buat kamu!! Makanya rasa suka aku sama kamu gak pernah berkembang menjadi cinta apalagi sayang. Aku cuma kerikil jalanan yang gak pantes bersanding dengan permata seperti kamu! Inget, Man. Semuanya milik Tuhan. Apa yang mau kamu sombongkan lagi? Semuanya bakalan berubah! Inget itu !!" Keni menangis sesegukan, lalu berlari meninggalkan Adman yang terlihat mematung.
"Namun tak mungkin aku.. Untuk memilihmu~"
Lagu itu mash terdengar menyayat hati. Pikiran Keni kembali ke masa lalunya.
10 Juli 2011
Mereka semua, murid Sekolah Menengah Atas Negeri Harapan Bangsa bersiap-siap untuk mendengarkan hasil dari Ujian Nasional yang seminggu yang lalu telah mereka jalani. Keni lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Dia pun dipanggil ke atas panggung oleh kepala sekolah karena mendapatkan nilai yang paling besar dari semua peserta Ujian di sekolahnya. Semua bertepuk tangan saat Keni berada di panggung. Matanya menelusuri semua ruangan. Dia melihat ibunya sedang tersenyum bangga terhadapnya. Dan terlihat pula sahabat-sahabatnya mentertawakan sikap Keni yang terlihat tegang di atas panggung. Keni tertunduk malu. Tiba-tiba dia melihat ke arah seorang orang laki-laki dan perempuan yang berada di sudut ruangan. Mereka berdua tengah bercengkrama, sesekali terlihat tertawa renyah. Adman, laki-laki yang dia sukai sejak kelas 6 SD sedang bersama pacarnya, Dinda. Perempuan yang paling populer di sekolahnya. Air matanya menetes.
Lagu kini berganti, Intro lagu "Indah" Agnes Monica membuyarkan lamunanya. Dia tersenyum lebar, lalu menghela nafas. Pikirannya kembali ke setahun lalu.
14 Februari 2013
Mata Keni berkaca-kaca. Dia merasa sangat bahagia. Di depannya tengah berdiri seorang laki-laki yang berperawakan tinggi, berwajah manis, berkumis tipis, dan berambut gondrong, dengan gitar hitam di tangannya.
Suara petikan gitar mulai terdengar, disusul dengan suara lembut dari laki-laki itu.
Lagu Dealova milik Once terdengar mulus.
Setelah laki-laki itu selesai bernyanyi, Keni menghampiri dan memeluknya.
"Terima kasih, Heri. Aku sayang banget sama kamu." Keni menangis bahagia.
"aku juga sayang banget sama kamu, Ken." Balas laelaki itu sambil tersenyum tulus.
Heri adalah laki-laki yang bertemu dengannya di halte beberapa tahun yang lalu. Dia laki-laki yang sudah memperhatikan Keni sejak dia masih SMA. Dia laki-laki yang sangat baik, tak pernah melihat kekurangan yang ada di Keni. Heri selalu membuat Keni tersenyum bahagia. Laki-laki yang meski tidak lebih tampan dari Adman, tapi lebih luar biasa darinya.
Lagu terhenti karena ada panggilan masuk ke handphonenya. Keni menatap layar handphone lalu tersenyum.
"Halo sayang,," Sapanya penuh cinta
"Halo.. Sayang siang ini kita hunting baju untuk pernikahan kita di tanggal 14 Februari nanti, ya. Bentar lagi aku ke rumah kamu ya."
Terdengar suara Heri dari sebrang sana.
"Iya sayang, aku tunggu." Balas Keni sambil tersenyum.
Keni kini menemukan seseorang yang dia cinta dan mencintainya. Bukan lagi sekedar cinta, kini berkembang menjadi sayang. Keni sadar, orang yang selama ini dia suka belum tentu baik baginya. Karena dia tahu, dia hanya menyukai wajahnya, bukan hatinya. Dengan kesabaran dan do'anya, Keni bisa menemukan Heri. Lelaki yang mencintainya dengan tulus. Lelaki yang Dikirim Tuhan spesial untuknya. Laki-laki yang akan membawanya ke dalam ruang kebahagiaan yang tak akan rapuh meski termakan jaman.
Tamat