Judul ini dari Sebina
"Denting 12 Malam"
......................................
Desa Lebak adalah desa yang tertutup dan terpelosok. Tidak terjamah oleh orang lain, karena letaknya ditengah hutan dan berada dibukit. Desa ini mempunyai peraturan, dimana jam 12 malam, warga didesa tersebut diharuskan segera tidur, tidak ada yang boleh terjaga sampai pagi. Ada suatu ketika sekelompok pendaki menginap didesa tersebut, warga yang ada disana sudah memperingatkan untuk segera tidur saat tengah malam. Namun pendaki itu, tidak mau mendengarkannya, dan tetap terjaga sambil menyalakan api unggun. Saat pagi hari, mereka menghilang entah kemana, hanya bekas bakar api unggun tersisa. Semua warga didesa tersebut mencari mereka. Akan tetapi tetap saja warga tersebut tidak menemukannya. Warga hanya menemukan pakaian dan peralatan yang digunakan sekelompok pendaki, bersama bercak darah yang menempel. Akhirnya warga tersebut menyerah, sudah seminggu ini mereka tidak di ketemukan.
Waktu berjalan seiring roda berputar. Sekelompok pendaki yang menghilang sudah tidak dicari lagi.
Dua hari kemudian setelah seminggu warga mencari pendaki itu, dua orang datang. Salah satunya seorang perempuan cantik, bersama pria tua menaiki Yamaha usang yang sudah puluhan tahun.
Mereka adalah keluarga yang datang untuk mengunjungi salah satu dari mereka.
Warga didesa tersebut menyambut keduanya, dan mengajaknya masuk.
"Bagaimana kabarmu, pak tua!" Ucap kepala desa menyambutnya.
"Hahaha... saya baik-baik saja." Ayah dari perempuan itu menggaruk kepala.
"Silahkan masuk, minum kopi dulu." Ucap istri dari kepala desa itu.
"Terima kasih." Jawab pak tua itu panggilan dari kepala desa.
"Bagaimana kabar anak saya, pak des"
Sambil nyeruput kopi.
"Dia sehat, alhamdulillah." Jawab pak des itu.
"Akhir-akhir ini saya benar-benar sibuk, pak des.Jadi baru sekarang saya bisa berkunjung."
"Ya, tidak apa-apa. Namanya juga orang kota pasti banyak yang disibukkan, ya kan neng?" Pak Des melirik perempuan yang disebelahnya pak tua itu.
"Dia neng tasya itu kan, pak tua? Gak nyangka udah secantik ini, padahal dulunya gemuk loh, udah kurusan gini. Jadi pangling." Lanjut pak des menyindir.
"Haha.. pak des bisa saja, namanya juga anak, pasti ada pertumbuhannya. Mana nih, De Farhan?" Pak tua itu memandang sekitar rumah.
"Ada, lagi dikamar. Saya panggilkan dulu ya!?" Ucap istri pak des itu.
Setelah 5 menit, istri pak des membawa anak laki-laki yang berusia 8 tahun itu.
Anak tersebut kemudian mencium tangan ayahnya dan juga kakaknya.
"Kamu disini betah, De?" Pak tua itu mengusap kepala anaknya.
Anak tersebut hanya mengangguk, dan ikut duduk ditengah kakak dan ayahnya.
Obrolan pun dilanjutkan sampai menjelang maghrib.
"Neng, sudah malam sebaiknya kamu tidur" Ucap ayahnya mengingatkan Tasya untuk tidur.
"Ya, beh!" Jawab Tasya.
Tasya yang sedang asik chattingan dengan temannya, tak sadar sudah tengah malam.Ia tidak mengetahui bahwa tepat jam 12 malam adalah larangan untuk semua warga jika masih terjaga.
Suara detik jam terdengar, desa sudah sunyi sepi, hanya suara jangkrik terdengar keras.
Tasya masih belum tidur, ia semakin asik dengan handphone nya.
"Tok.. tok.. tok.. " Suara ketukan jendela terdengar keras.
Tasya yang kaget, di tengah malam begini siapa yang mengetuk jendela, kemudian membuka jendela. Tak ada siapa-siapa diluar, bahkan sekitar pepohonan yang berdiri didepan jendela, tidak melihat bayangan orang.Tasya berpikir mungkin ini karena angin.Ia tutup kembali jendela.
Namun sekarang bukan ketukan lagi terdengar, tapi suara bisikan agar menyuruhnya keluar. Tasya benar-benar berani, ia langsung bergegas keluar. Mungkin ia berpikir bahwa saudaranya iseng ditengah malam begini.
Saat Tasya mencapai halaman, ia sekali lagi tak melihat siapapun.Tasya terus memandangi sekitar.
"Siapa?" Teriak Tasya.
"Farhan! Kamu jangan iseng yah!" Teriak Tasya kembali. Namun suaranya tak di jawab. Seseorang dari belakang mendekap dan menutup mulut Tasya dengan kain yang sudah diberi obat, sehingga membuatnya pingsan.
Tasya membuka mata perlahan, tubuhnya terikat oleh tali pada sebuah tiang digubuk yang reyot.
"Dimana aku?" Tasya terlihat bingung dengan apa yang terjadi.
"Tolong..!! " Teriak Tasya meminta bantuan, berharap ada yang mau membukakan tali yang mengikatnya.
Suara derap langkah kaki perlahan terdengar semakin dekat. Tasya berpura-pura pingsan. Ia mendengar apa yang di ucapkan oleh dua orang itu setelah masuk. Tasya membuka mata kembali dengan perlahan, dan melihat siapa sebenarnya mereka sehingga menculik Tasya.
"Pak Des!!?" Tanpa sadar Tasya membuka mulutnya dan berteriak kaget.
Pak Des dan istrinya, sontak kaget kemudian menutup mulut Tasya dengan kain.
"Karena kamu sudah tahu. Saya akan membuatmu mati." Kata Pak des itu, mengancam.
Tasya yang tak bisa apa-apa, sekuat tenaga untuk bisa menghindarnya. Pisau yang dipegang Pak des itu terlihat tumpul, sepertinya pernah dia pakai.
Tasya mencoba melawan kekejaman Pak des yang akan membunuhnya, sedangkan istrinya tetap diam dan melihat Tasya dengan tatapan dingin. Karena kakinya tidak terikat, Tasya memukul selangkangan Pak des itu dengan sekuat tenaga. Alhasil mengenainya, Pak des itu merasa kesakitan.
"Bajingan.." Ucap Pak des itu mengumpat.
Pak des itu kemudian meminta tolong istrinya, namun dia tidak mau.
Perlahan istrinya tiba-tiba saja mendekati Tasya dan mengambil pisau yang dijatuhkan Pak des.
Istri Pak des itu menebaskan pisaunya, dan Tasya terlepas dari ikatan tali.
Tasya sebenarnya sudah keringat dingin, apakah ia akan mati dalam keadaan terikat, sedangkan ia belum bisa menembus kesalahan pada ayahnya.
"Kamu pergilah! Biar aku yang urus bajingan tua ini. Sebenarnya aku juga sudah malas melakukan ini, tapi aku terus dipaksa untuk melakukannya. Laporkan kejadian ini pada ayahmu. Saudaramu sudah aku amankan." Ucap istri Pak des itu menjelaskan.
Tasya segera lari setelah mendengar penjelasan itu, sedangkan istri Pak des mencoba menghalangi untuk tidak mengejar Tasya.
Dengan keringat dan rasa takut, Tasya segera menemui ayahnya dan menceritakan kejadian yang dia alami.
Pagi harinya, beberapa polisi datang ke Desa Lebak untuk menyelidiki kejahatan Pak des selama ini.
Polisi itu menjelaskan beberapa kata, setelah penyelidikannya selesai.
"Pak des ini, mempunyai penyakit skizofrenia."
Setelah penjelasan yang begitu panjang tentang kejadian tersebut, istri Pak des mendatangi kami.
"Terima kasih, anda sudah mau menolong kami dan menjaga Farhan." Ucap ayahku.
"Tidak apa-apa. Sebenarnya saya sudah tahu, suami saya mempunyai penyakit itu. Tapi saya membiarkan dia dan menyakiti beberapa orang bahkan saya membantunya, agar memuaskannya." Ucap istri Pak des terus terang.
"Jika anda mau melaporkan saya, silahkan. Lagi pula saya sudah berdosa. Saya sudah membunuh para pendaki itu.." Jelasnya sambil menahan isak tangis.
"Kamu, dan keluargamu adalah orang baik. Jadilah anak yang baik dan berguna. Jangan seperti kami, ya nak!?" Ucap istri pak des itu memberi nasehat kecil pada Farhan. Istri Pak des itu teringat akan masa lalunya, ketika suaminya masih sadar dan menjelaskan mengapa warga di desa ini disuruh tidur sebelum jam 12 malam, dan tidak ada yang boleh terjaga ataupun keluar.
Karena suaminya disaat itulah penyakitnya kambuh dan ia membiarkannya bebas.
Setelah sudah menjelaskan secara detail, istri Pak des itu juga ditangkap atas tuduhan membantu pembunuhan dan dihukumi mati.
Sejak saat itu, Tasya tidak mau lagi begadang, apalagi sampai tengah malam. Ketika waktu sudah pukul 10 malam, ia segera tidur. Adiknya perlahan memasuki kamar kakaknya, sejenak memandangi wajah kakaknya yang tertidur, kemudian dia mencekiknya.
............
Selesai
Semoga suka.