Judul dari: Ema Syahriana
Ia percaya hidup itu adil. Ketika kau memberi, maka kau akan menerima. Ketika kau memulai, maka kau harus berani mengakhiri.
Namanya Wiranti, seorang wanita cantik yang dulunya kembang desa. Hidupnya bahagia dalam kesederhanaan, dulu. Setiap kali menghendaki sesuatu, semua laki-laki pasti berusaha memenuhinya. Sampai keluarganya jatuh miskin karena ditipu rentenir, ia dikucilkan. Ceritanya sebagai kembang desa selesai dengan menyedihkan, tanpa akhir yang baik.
Namun, Wiranti tidak acuh. Bukan ia yang meminta jadi pusat perhatian, maka ketika perhatian itu hilang ia harus biasa saja. Bahagianya adalah ketika ia akhirnya menikah dengan laki-laki pilihannya, Fadri Irawan. Meskipun bukan pernikahan yang besar dan megah, tetapi hatinya merasa cukup. Pikirnya, uang masih bisa mereka cari bersama-sama kelak. Yang terpenting mereka saling mencintai dan melengkapi.
Satu tahun pernikahan, anak pertama dan satu-satunya lahir. Setelah melahirkan Delon, nama anak kesayangannya, Wiranti menjalani operasi pengangkatan rahim. Wiranti sudah tahu ia akan mandul. Ia memang sudah menderita kanker rahim sejak dulu. Dokter bahkan pernah melarangnya mengandung apalagi melahirkan. Namun, ia abai. Rasanya Wiranti akan lebih menyesal kalau ia menggugurkan bayi laki-laki dalam kandungannya dulu.
Ia bahagia saat itu, sungguh. Keluarga kecilnya membuat hidupnya terasa lengkap. Meski ekonomi melilit juga semakin menyusahkannya. Seperti saat ini.
“Dengar, ya. Bilang pada suamimu, kalau dia tidak segera melunasi hutangnya, aku tak segan menghabisi nyawanya dan menjadikanmu pembantuku. Mengerti kau?!” bentak Panji di depan rumah kayunya.
Wiranti belum sempat menjawab apa-apa saat Panji dan dua premannya membanting pintu lalu pergi. Ia hanya bisa mendekap erat Delon kecil yang menangis mendengar bentakan dan bantingan. Sebagai seorang ibu, ia terus menenangkan putra kecilnya, meski ia sendiri hampir tak sanggup menahan tangis di pelupuk mata.
Ini kesehariannya selama dua tahun. Setelah Delon lahir dan operasi pengangkatan rahimnya, ia dan Fadri memang terjerat hutang. Operasinya dan kebutuhan Delon mengharuskan mereka meminjam uang pada lintah darat. Pekerjaan Fadri sebagai kuli panggul di pasar tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka saat itu. Sampai berhutang pun, pekerjaan Fadri masih saja tidak cukup untuk melunasi pinjaman mereka. Seperti déjà vu, keluarganya perlahan-lahan hancur oleh rentenir.
Pergi pagi-pulang petang, tubuh Fadri rasanya remuk. Kuli panggul dengan bayaran seikhlasnya benar-benar menyiksanya setiap hari. Namun, ini satu-satunya sumber penghasilan. Kalau bukan dari kerja keras dan keringatnya, ia tidak akan bisa menghidupi Wiranti dan Delon yang dicintainya. Boro-boro membayar hutang, membeli ayam untuk lauk saja ia tidak sanggup.
Satu, dua bulan berlalu. Panji dan dua premannya semakin sering datang ke rumah dan pasar. Rumah kayu yang sudah reyot jadi semakin reyot karena ulah dua preman Panji: Bagas dan Kahar. Orang-orang pasar bahkan sudah hafal kapan Panji datang untuk memukuli Fadri di dekat tempat pembuangan sampah pasar. Mereka merasa kasihan, tapi tak mampu berbuat apa-apa karena kondisi mereka tak jauh berbeda.
“Sekali lagi kuberi waktu satu minggu. Sekali lagi kau masih miskin saat aku datang, kukirim kau ke neraka. Ini kesabaranku yang terakhir,” ancam Panji sekali lagi.
Fadri menghela napas. Lagi-lagi ia babak belur. Entah alasan apalagi yang akan ia beri pada Wiranti agar tidak merasa khawatir. Di antara rasa hancur dan lelah badannya, ia berjanji akan memanfaatkan satu minggu ini baik-baik. Siapa tahu? Mungkin minggu ini adalah minggu terakhir baginya.
***
“Wiranti! Wiranti! Buka pintunya! Ini Pak Samad, nduk!”
Wiranti bergegas membuka pintunya. Delon yang menangis karena gedoran pintu tak lupa digendongnya untuk ditenangkan. Pak Samad berdiri di depan pintunya sambil terengah-engah.
“Fadri meninggal, nduk! Jasadnya ada di klinik. Orang-orang pasar menemukannya di TPS pasar. Kepalanya pecah dan perutnya terburai. Kemungkinan karena ulah rentenir-rentenir itu. Ayo, bapak antar kamu ke klinik!” ucap Pak Samad tanpa jeda. Pak Samad tak menyadari bila Wiranti sudah terduduk lemas di lantai sambil menggendong Delon yang masih menangis. Satu kalimat Pak Samad sudah cukup untuk menghancurkan pertahanannya, hidupnya. Kali ini, bersama Delon, Wiranti ikut pula menangis.
Pantas saja, batin Wiranti. Satu minggu ini terasa lengang. Fadri selalu pulang sebelum maghrib, beda sekali dengan hari-hari sebelumnya. Suaminya itu juga selalu membawa ayam dan ikan untuk lauk makan malam. Wiranti bahkan masih ingat ia selalu bertanya mengapa pada suaminya satu minggu terakhir. Rupanya itu momen perpisahannya pada Wiranti dan Delon.
Sialan para rentenir itu. Kalau saja bukan karena mereka, suaminya pasti masih hidup. Kalau saja mereka lebih bersabar, suaminya pasti bisa melunasi hutang. Kalau saja mereka tidak mematok bunga yang terlalu tinggi untuk pinjaman, keluarganya pasti masih utuh.
“Kuatlah. Ambil darahnya dan bangkitkan kembali. Balikkan keadaan dan hidup bahagia.”
Entah datang darimana, sesuatu berbisik pada Wiranti yang masih tersedu. Pak Samad masih ada di sana untuk menenangkannya. Dari sudut matanya, Wiranti tahu beberapa tetangga mulai mendatangi rumahnya. Namun, ia tak acuh. Wanita itu lebih peduli pada bisikan tak biasa yang ia dengar.
“Ambil darah suamimu dan teteskan pada lemon di bawah bantalmu. Bayarannya cuma akhiratmu. Cukup gantikan tempatku di akhirat nanti dan kau akan bahagia seumur hidupmu.”
Wiranti mengangguk. Apa saja. Ia bersedia membayar apa saja untuk menukar ketidak-adilan ini. Ia akan mencoba apa saja demi suami dan hidupnya yang bahagia. Sekali ini saja, ia ingin membalik hidupnya. Wiranti berjanji akan mengakhiri apa yang telah dimulai oleh para rentenir itu.
***
Tengah malam setelah Fadri dimakamkan, Wiranti terbangun. Matanya sembab, mukanya kusut. Hatinya mencelos, masih tak terima dengan kematian tragis suami yang begitu dicintainya. Bantal kosong di sebelahnya tak bisa ia gantikan dengan apapun.
Air matanya masih meleleh. Biasanya Fadri akan menyeka air matanya dengan lembut dan bertanya ada apa. Namun, malam itu kosong. Hanya terdengar suara tangisnya yang tertahan.
Seketika Wiranti ingat bisikan itu. Ia ingat tentang membangkitkan suaminya dari kubur dan hidup bahagia. Tangannya gemetar meraba bawah bantalnya demi mendapati sebuah lemon berwarna kuning keemasan. Ia tertegun, heran darimana lemon itu datang.
Tak ambil pusing, tangannya satu lagi merogoh tasnya. Sebungkus plastik kecil berisi darah suaminya ia keluarkan. Sedikit harapnya muncul. Kalau saja bisikan itu benar, tak akan ada rugi baginya.
Mencoba kuat, telunjuknya menghapus air matanya sembari menguatkan hatinya.
Lemon itu ditaruhnya di atas piring putih. Darah suaminya sudah hampir menggumpal, hampir tidak bisa diteteskan. Begitu darah Fadri mengenai ujung buah, lemon itu bersinar. Sinarnya terang sekali sampai Wiranti terpaksa menutup matanya karena silau.
Tanpa Wiranti tahu, warna kuning lemon berganti menjadi merah pekat lalu menghitam dan akhirnya hilang. Bersamaan dengan itu, tanah di makam Fadri membelah. Kain kafan yang membungkus Fadri berganti dengan baju bersimbah darah yang terakhir kali ia pakai. Fadri yang baru bangkit dipenuhi amarah dendam Wiranti. Tanpa diminta, Fadri bergegas ke rumah Panji, Bagas dan Kahar. Satu per satu ia ikat dan burai isi perutnya. Masing-masing jantung ia taruh di mulut mereka yang kemudian ia pecahkan bersama dengan tempurung otaknya. Lantas ia potong tubuh mereka seperti kentang yang akan disayur. Begitu saja ia tinggalkan potongan tubuh mereka di jalanan depan rumah mereka. Ketika dendam Wiranti selesai, Fadri tahu ia harus segera pulang.
Begitu lemon itu menghilang, Wiranti tiba-tiba mengerti bahwa ia harus bersiap menyambut suaminya.
*****
Suara burung bercuit membangunkan Wiranti dari tidurnya. Semalam rasanya sangat panjang. Hampir tidak percaya ia mendapati Fadri dan Delon yang masih tertidur tenang di sisinya. Senyum manisnya terbit. Tanpa sadar matanya memperhatikan kasur empuk yang jadi alas mereka tidur. Gubuk reyot yang selama ini mereka tinggali berubah jadi dinding marmer yang kokoh dan cantik.
“Sayang, kamu sudah bangun?”
Suara bariton yang sangat familiar di telinga Wiranti terdengar, menyapa. Fadri tersenyum. Wajahnya jauh lebih tampan dari yang bisa diingat Wiranti. Mata mengantuknya tampak jelas di mata Wiranti, dan itu malah membuatnya lucu.
“Ini … nyata?” gumam Wiranti ragu.
Fadri bangun. Matanya menyipit untuk bisa melihat Wiranti lebih jelas, mencari tahu mungkin saja istrinya terantuk sesuatu saat tidur. “Ini baru nyata,” ujarnya sambil iseng mencuri morning kiss Wiranti.
Baru saja Wiranti hendak membalas Fadri dengan pukulan bantal, Delon menangis. Bocah dua tahun setengah itu terbangun karena orang tuanya yang berisik. Fadri tertawa karena niat Wiranti tertunda. Bergegas Fadri bangkit dan menggendong Delon untuk menenangkannya.
“Entah apa mimpimu semalam, tapi inilah yang paling nyata. Aku dan Delon selalu ada bersamamu,” ucap Fadri lagi dengan lembut.
Wiranti mengangguk. Entah hidupnya sekarang mimpi atau nyata, ia tidak peduli lagi. Asal bersama keluarga kecil tercintanya, Wiranti bahagia. Sungguh.
_::END::_