Tema ini dari Aneta A.F. Selamat menikmati. Semoga tidak mengecewakan.
☆☆☆
' Kali ini aku akan menemukannya. Aku janji. Ini terakhir kalinya. Setelah itu, aku tidak akan muncul lagi. Kecuali ... '
Vani terbangun dari tidurnya. Hawa panas ia rasakan di sekujur tubuhnya. Keringat dingin perlahan membasahi tubuhnya. Ia meremas selimutnya dan perlahan menariknya. Rasa nyeri di dada kembali ia rasakan. Disertai nafas tak beraturan. Tangan lemahnya mencoba menggapai botol obat di meja samping tempat tidurnya. Namun, ...
PYARRR ...
Gelas berisi minumannya terjatuh. Membuat Vano terbangun dari tidurnya di sofa depan tempat tidur Vani. Segera Vano berdiri dan berlari mendekati Vani. Melompati serpihan pecahan gelas dan meraih tangan Vani. Tangan kanannya mengusap lembut kepala Vani.
" Kau tak apa-apa?" tanya Vano panik.
" O ... obat ...," jawab Vani lemah dengan nafas tersengal.
Vano mengambilkan obat dan meraih botol air mineral di samping botol obat. Meminumkan obat pada Vani. Lalu meletakkan botol air di meja.
" Sudahlah. Kita berhenti saja, ya?" pinta Vano.
Vani menggeleng. " Tidak. Lagi pula ... dia bilang ini yang terakhir, kak."
" Tapi kondisimu. Tubuhmu. Aku takut ..."
" Sttt ... " Vani meletakkan telunjuknya di bibir Vano. Lalu menggenggam tangan Vano. " Aku baik-baik saja. Kakak ingat, kan? Manager Sha bilang setelah penampilan kita nanti Tuan Capella akan membahas kerjasama dengan kita. Aku harus bertahan. Terakhir kak. Ku mohon, " pintanya memelas pada Vano.
Vano terdiam. Lalu mengangguk pelan.
Tok ... tok ... tok ...
Vani dan Vano berpandangan, kemudian melihat ke arah pintu yang terbuka.
" Bersiaplah. Pesta sudah dimulai. Satu jam lagi kalian tampil. Seluruh keluarga Capella ingin penampilan terbaik kalian. "
" Baik, manager Sha, " jawab mereka berdua kompak.
Pintu kamar tertutup. Vani mengangguk pada Vano dan dibalas anggukan olah Vano. Kemudian mereka bersiap.
☆☆☆
Mereka adalah musisi muda yang dikenal dengan Twin Gio C. Nama mereka terus dikenal dunia sejak 3 tahun terakhir. Meski begitu, tak banyak media yang mengekspose berita keseharian mereka. Seolah ada pihak yang menjaga betul kehidupan pribadi mereka.
Kali ini mereka mendapat kesempatan yang jarang didapatkan musisi-musisi lain di luar sana. Tuan Gabrieli Capella, pemilik Capella Music Corp., mengundang mereka ke acara ulang tahunnya. Ia ingin Twin Gio C mengiringi lagu yang akan dinyanyikannya.
Di sini, di kediaman Capella, Padua, Italy.
☆☆☆
55 menit berlalu.
Keduanya kini berjalan beriringan menuruni anak tangga. Vano menggenggam erat tangan Vani. Menopang tubuh Vani yang nampak sedikit lemah, namun berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Vani dan Vano tersenyum manis pada para undangan. Semua undangan pun terpesona dengan dua bersaudara itu. Terlihat mempesona walau dengan tampilan yang sederhana.
Keduanya menuju posisi masing-masing, Vano piano dan Vani meraih serulingnya. Tak lupa Tuan Capella siap melantunkan lagunya.
Vano mulai memainkan jemarinya. Dengan lincah, jari-jarinya menekan tuts piano. Disusul suara emas Tuan Capella. Menghipnotis semua undangan yang hadir.
Tampak Vani memejamkan mata menikmati setiap suara yang terdengar indah di telinganya. Menunggu giliran dirinya memainkan serulingnya. Dan akhirnya ...
Semua semakin terhipnotis saat alunan seruling terdengar di telinga mereka. Vani meniup seruling dengan 'apik'. Bahkan Tuan Capella mengalihkan pandangannya pada Vani. Menatap dalam sosok Vani. Meski lagu yang dinyanyikannya lagu bahagia, namun ada kesedihan di dalam tatapan Tuan Capella. Vano sesekali melirik Vani, memastikan adiknya baik-baik saja. Dan benar, Vani baik-baik saja. Seperti biasa, adiknya selalu bersemangat saat memainkan seruling. Mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya. Sama sekali tak terlihat kesakitan seperti sejam yang lalu.
Prok ... prok ... prok ...
Tepuk tangan para pendengar terdengar memecah ruangan itu.
Pertunjukan selesai. Tuan Capella terus menatap Vani. Ada tanda tanya besar dalam dirinya. Entah mengapa? Tuan Capella merasakan sesuatu yang tak ia mengerti. Sementara Vani dan Vano segera mohon diri untuk beristirahat.
Vani berjalan cepat. Melewati Vano. Tatapan mata yang dingin membuat Vano heran. Segera Vano mengikuti Vani. Mereka menaiki tangga menuju ke kamar mereka.
Ceklek ... DUAKKK ... BRAKKK ...
Vani membanting pintu setelah masuk ke kamar. Lalu berdiri menghadap jendela. Menatap keluar. Dari jendela terlihat jembatan yang melintas di atas Sungai Bacchiglione dihiasi lampu-lampu yang terang. Ia mengepalkan tangannya. Menahan semua amarah yang ia rasakan.
Ceklek ...
Vano masuk bersama Tuan Capella. Vani tetap diam tak berbalik, menangkap bayangan Vano dan Tuan Capella di dalam kaca jendela. Mencoba menguasai dirinya kembali dan meredam amarahnya.
" Kau baik-baik saja? " tanya Vano.
" Aku selalu baik-baik saja kakak, " jawab Vani. Ia berbalik dan tersenyum manis lalu menyapa Tuan Capella.
" Suatu kehormatan bagi kami, bisa berjumpa dengan Anda, tuan. "
" Hahaha ... tidak usah terlalu formal. Sebenarnya aku tadi mendengar kau sedang kurang sehat jadi aku melihatmu kemari, " ujar Tuan Capella.
Vani tersenyum.
" Silakan duduk, Tuan, " Vano menawarkan.
" Tidak ... tidak. Aku hanya sebentar. Perjanjian akan kita bahas besok pagi setelah sarapan. Manager Sha sudah ku beri tahu. Emm ... Vani! Permainan serulingmu mengingatkanku pada seseorang. Dia memainkan melodi persis seperti yang kau mainkan. Tapi dia pergi entah kemana, " ucap Tuan Capella. Sejenak ia terdiam. Vano mengernyitkan dahi mendengar Tuan Capella. Sementara Vani kembali mengepalkan tangannya. Matanya merah. Giginya mengerat menahan emosi. Lalu tersenyum aneh.
" Oh ... maaf. Aku jadi bercerita. Selamat malam. Selamat istirahat."
Tuan Capella berbalik dan hendak membuka pintu. Tapi terhenti saat mendengar ucapan Vani.
" Benarkah, tuan?Lalu, apakah wajahku ini ... mengingatkanmu pada seseorang?" tanyanya sambil berjalan mendekati Tuan Capella. Dekat dan semakin dekat.
" Sama. Benar-benar sama. Wajah kalian. Mata biru itu ..."
" 4 tahun lalu Vani kehilangan penglihatannya karena sickle cell anemia(anemia sel sabit). Lalu ibu kami mendonorkan matanya. Sayangnya beberapa jam kemudian ibu meninggal, " terang Vano.
Tuan Capella mundur dan hampir terjatuh jika tak ada pintu di belakangnya. Vani terus maju mendekati Tuan Capella. Dan meraih kerah baju Tuan Capella. Melempar tubuh lelaki paruh baya itu hingga tersungkur menimpa meja dekat sofa. Vano yang berdiri dekat sofa langsung mendekat hendak membantu. Namun gerakan Vani lebih cepat. Lagi. Vani melempar Tuan Capella ke sebarang arah.
" Hentikan! Ku mohon hentikan, " pinta Vano.
" Hari ini harus tuntas. Semua harus berakhir, " kata Vani.
Sementara pria paruh baya itu mencoba untuk berdiri. Lagi-lagi Vani meraih kerahnya. Lalu mencekiknya. Semakin kuat cengkeraman tangannya.
" Arghhh ... to ... looo ... ng. Lep ...pas ... " Tuan Capella memohon.
Vano pun memohon kembali, " Vani! Bukan. Maksudku ... Ny. Claudi ... ku mohon ... lepaskan dia ..."
" Dia harus membayarnya hari ini. Aku tak akan melepaskannya, " jawabnya. Semakin memperkuat cengkeramannya.
" Aaargh...."
" Setidaknya pikirkan Vani. Kau akan membuat Vani dihukum karena membunuh orang. Apa kau ingin Vani menderita? Bukankah tujuanmu ingin agar Vani tidak hidup menderita dan mendapatkan perawatan yang cukup?" ujar Vano.
Perlahan cengkeraman tangannya melemah hingga akhirnya ia lepaskan. Amarahnya pun mereda mengingat Vani.
" Claudi ... kau kah itu? Kenapa kau menghilang? Kemana kau pergi selama ini? " tanya Tuan Capella.
" Tanyakan itu pada istrimu. Aku hanya ingin mengantarkan pewaris asli Capella Music Corp. "
Tuan Capella bingung mendengar penuturan Claudi.
" Ya ... aku sedang hamil saat aku menghilang. Istrimu membuangku ke pulau terpencil. Dan setelah aku operasi pendonoran mata, ia datang dan menghabisiku. Dan mereka berdua, Twin Gio C., mereka adalah putra putrimu. Giovano Capella dan Giovani Capella. "
" Jadi ... "
" Diam! " potong Ny.Claudi. " Dengarkan aku! Aku ingin anak-anakku aman terutama dari wanita itu. Biarkan ini tetap menjadi rahasia. Katakan pada mereka bahwa kau mengangkat mereka menjadi anakmu dan kuliahkan mereka di Universitas Padua. Pastikan Vani mendapatkan perawatan yang memadai seumur hidupnya. Sakit yang ia derita membuatnya lemah. Sickle cell anemia. Cari dokter terbaik. Ku serahkan mereka padamu. Aku tak akan muncul lagi. Kecuali kalau Vani menginginkanku dan kecuali wanita itu mengganggu anak-anakku. Vano! Simpan seruling ini untuk Vani. Aku pergi. "
Ny. Claudi keluar dari tubuh Vani. Terbang menembus langit-langit rumah itu dan menghilang. Vano segera menggendong Vani dan di bawa ke atas tempat tidur.
" Dad ... Ingat! Biarkan semua ini menjadi rahasia, SELAMANYA. Panggilkan ambulans. Kita haru bawa Vani ke rumah sakit. Vani harus segera diinfus dan menerima tranfusi darah. "
tamat~
Akankah istri Tuan Capella mengetahui rahasia besar ini?