Tantangan diberikan oleh user Thalisa dengan judul awal Misteri Hotel 803. Saya membuat sedikit perubahan pada kata hotel menjadi kamar.
***
Meski baru berusia 12 tahun, Merlin sudah membuka jasa perburuan dan penyelidikan tentang kasus-kasus yang berhubungan dengan hantu. Website “Detektif Merlin” sempat mahsyur sampai tahun lalu. Sejak itu, sepertinya hantu-hantu tidak berani berkeliaran lagi sebab Merlin sangatlah hebat. Dikaruniai kemampuan berkomunikasi dengan makhluk astral, Merlin memanglah sangat istimewa. Namun, hal ini membuatnya malas berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya. Meskipun begitu, Merlin adalah anak yang pandai dan rajin. Ia selalu mendapat nilai yang memuaskan.
***
Seperti biasa, Merlin berada di sebuah restoran burger untuk menyantap makan siang favoritnya sepulang sekolah. Akhir-akhir ini ia bosan karena tidak ada kegiatan yang menarik dan lebih sering melamun. Saat melamun itulah, sebuah pesan masuk ke surel bisnisnya.
TOLONG BANTU SAYA!!! 20/06/2019
Pengirim:
Sara Pan
sarapan@xmail.com
untuk Anda
det.merlin@merlin.org
>>Selamat siang, nama saya Sara. Saya baru beberapa bulan bekerja di hotel Wooden Tulip. Menurut rekan kerja saya, tidak ada yang boleh masuk ke kamar 803 termasuk petugas kebersihan. Dan sampai sekarang tidak ada tamu yang menginap di sana. Saya mengalami kejadian menakutkan beberapa hari yang lalu. Saat saya berada di lantai 8 saya melihat pintu 803 sedikit terbuka dan ada suara orang seperti bertengkar. Saya segera menyelesaikan pekerjaan saya ke kamar lain (mengantar pakaian) dan ketika melewati 803 lagi kamar itu sudah tertutup. Saya khawatir ada hantu di sana. Semoga Detektif Merlin bersedia membantu.
Sara
Re: TOLONG BANTU SAYA!!! 20/06/2019
Pengirim:
Anda
untuk Sara Pan
sarapan@xmail.com
>>Selamat siang, Sara! Terima kasih telah menghubungi Detektif Merlin. Saya dan rekan saya akan mencari informasi terlebih dahulu sebelum setuju bekerja sama.
Merlin
Merlin menjalankan bisnisnya dengan cukup serius. Ia mengelola website sehingga siapapun dapat menghubunginya. Tidak semua masalah akan ia tangani, namun ia cukup baik untuk membaca dan membalas seluruh pesan. Sebenarnya, Merlin senang dengan pesan masuk ini, karena akhirnya ada kesempatan untuk “bekerja” lagi. Sayangnya, tempat yang dimaksud dalam surel tadi berada di luar kota. Maka, Merlin harus memikirkan dengan matang kapan dan bagaimana ia akan ke sana.
***
Merlin pun menghubungi Paman Abraham untuk membantunya. Paman Abraham selalu membantu Merlin selama ia beraksi. Mereka berdua cocok untuk disebut sebagai rekan kerja. Paman mengatakan bahwa mereka bisa pergi ke sana dengan mobil di hari Sabtu atau Minggu.
Bagus sekali! Sekarang Merlin tinggal mencari informasi mengenai kamar hotel itu, seperti apa saja desas-desusnya dan siapa yang mungkin berada di sana selama ini. Sayangnya, tidak ada cukup informasi. Bahkan, ulasan penghuni hotel yang ada di internet tidak ada sama sekali yang menyinggung soal kamar 803, atau suara aneh, atau apapun yang mungkin berhubungan dengan hantu. Kini, Merlin menjadi sedikit ragu. Ia berpikir jangan-jangan Sara hanya berhalusinasi atau termakan rumor yang dibuat oleh rekan kerjanya sendiri. Namun, hal inilah yang membuat Merlin penasaran, apakah sebenarnya kamar 803 itu berhantu atau tidak. Malam itu, Merlin yang terlampau bersemangat tidak bisa tidur dan menulis segala kemungkinan tentang misteri kamar 803.
Keesokan harinya, sebelum berangkat sekolah, Merlin mengirim surel balasan lagi pada Sara yang mengatakan bahwa Merlin bersedia untuk menyelidiki kamar 803 dan akan ke sana bersama rekannya pada Sabtu sore, atau besok. Merlin juga berkata bahwa ia akan menginap di hotel itu jika dibutuhkan.
Merlin baru membuka balasan dari Sara sepulang sekolah. Sara berkata ia baru saja memesankan kamar 801 untuk Merlin dan rekannya. Merlin dapat mengambil kunci atas namanya di resepsionis ketika datang. Sara juga minta maaf bahwa mungkin ia tidak akan dapat menemuinya langsung karena harus bekerja di akhir pekan. Merlin cukup senang dengan pesan dari Sara. Sara sangat baik karena telah memesankan kamar untuknya sehingga ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk menginap.
***
Hari yang ditunggu tiba. Paman Abraham menjemput Merlin di pagi hari dan segera tancap gas agar dapat tiba di kota Tidings sebelum sore. Benar saja, jam 2 siang Merlin dan Pamannya sudah tiba di kota Tidings. Hotel Wooden Tulip terletak di pusat kota, sehingga tidak sulit bagi mereka untuk menemukannya. Sesampainya di hotel, Merlin segera mengirim surel pada Sara namun Sara tidak kunjung membalas. Mungkin, Sara memang sedang sibuk bekerja. Merlin pun segera menuju ke resepsionis bersama pamannya untuk meminta kunci kamar.
Sejak awal masuk ke hotel itu, Merlin sudah merasakan sesuatu. Namun, anehnya sesuatu itu bukan seperti yang dibayangkan Merlin. Merlin merasakan sesuatu yang pekat, dan pamannya juga menyadarinya. Namun, keduanya tahu bahwa kekuatan yang ada di hotel ini tidaklah mengancam keselamatan siapapun - hanya keberadaan makhluk astral yang cukup banyak namun sesungguhnya mereka tidak bermaksud mengganggu. Merlin yang dapat berkomunikasi dengan hantu berusaha untuk bertanya pada para hantu yang sedang berada di dekatnya, namun mereka enggan merespon Merlin. Merlin cukup yakin bahwa kamar 803 memang berpenghuni dan siapapun itu pasti ada hubungannya dengan hantu-hantu yang berkeliaran di hotel ini.
Perjalanan yang cukup panjang membuat Merlin dan pamannya lelah. Mereka memakan bekal mereka di jalan dan kini mereka langsung masuk ke kamar mereka tanpa memeriksa kamar 803 terlebih dahulu. Untungnya, kamar 801 dan 803 bersebelahan. Jadi, tidak akan sulit bagi mereka untuk memeriksa kapanpun bahkan dari kamar mereka sendiri.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tidak terasa, mereka berdua beristirahat cukup lama. Keduanya pun membersihkan diri dan bersiap untuk menyelidiki kamar di sebelah.
Merlin mencoba untuk berkomunikasi dengan sosok yang ada di lantai 8. Anehnya, masih tidak ada satupun hantu yang mau merespon Merlin. Paman Abraham mendapat ide untuk mencoba menelfon kamar sebelah menggunakan telfon yang disediakan hotel, siapa tahu ada manusia yang menghuni. Merlin setuju. Paman pun melakukan panggilan itu dan tersambung! Beberapa kali nada tunggu berbunyi namun tidak ada jawaban. Maka memang tidak ada siapa-siapa di sana. Merlin ingin memastikan lagi. Ia keluar kamar dan mengetuk pintu 803. Tidak ada jawaban. Merlin berharap setidaknya ia bisa merasakan hantu-hantu yang merespon ketukannya, tetapi tidak ada.
Paman Abraham berpikir bahwa ada dua kemungkinan besar: pertama, jika benar ada hantu maka hantu ini memiliki kekuatan yang cukup besar sehingga ia bisa menutupi keberadaannya dan yang kedua, benar-benar tidak ada apapun dan siapapun di dalam kamar 803. Merlin sedikit setuju dengan pamannya, namun dia ingat ada beberapa kemungkinan lagi yang ia tulis di buku catatannya. Saat itulah, Merlin merasakan ada hantu yang berusaha berbicara padanya.
Paman mengajak Merlin untuk kembali ke kamar mereka agar tidak ada orang yang curiga. Di dalam kamar, Merlin segera menyambut hantu pertama yang mau berbicara dengannya. Meski senang, Merlin juga mulai takut karena ia tidak dapat menilai apakah hantu ini berniat buruk atau tidak.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Seperti orang bodoh saja," ucap si hantu dengan tidak ramah.
Merlin yang terduduk bersilang kaki dan memejamkan mata tampak mengernyit dan memiringkan kepalanya. Paman Abraham menunggu Merlin mengucapkan sesuatu.
"Kami penasaran dengan kamar 803. Apakah kamu tahu sesuatu?"
"Dari tadi kalian berisik hanya karena kamar 803? Sebenarnya aku malas memberitahu."
"Katakan! Apakah itu ada hubungannya denganmu atau kaummu?"
"Untuk apa aku memberitahumu? Apakah kau punya imbalan?"
"Aku bisa menunjukan padamu tempat yang lebih baik daripada hotel ini."
"Kau pikir aku tergiur? Aku sudah pernah melihat seisi kota"
"Bukankah kau terjebak di sini?"
"Bagaimana mungkin!!?" akhirnya si hantu mulai kesal.
Merlin terlihat tidak nyaman, namun Paman hanya bisa menunggu sampai keadaan benar-benar berbahaya untuk menyadarkan Merlin kembali.
"Kamu tidak mau membeberkan apapun, itu artinya kamu terikat dengan sesuatu."
Si hantu yang semakin kesal justru memutus komunikasi dan Merlin kembali membuka mata.
Paman menjadi lega namun tahu bahwa pasti tadi tidak berjalan lancar. Merlin pun memberitahu komunikasi singkatnya dengan si hantu yang agak sensitif itu. Merlin beristirahat sejenak dan ingin menjalin komunikasi lagi dengan hantu lain. Ia merasa ada hantu yang ingin berbicara namun seperti malu-malu, atau takut.
Merlin kembali ke formasi duduk bersilang kakinya dan mencoba menghubungi hantu itu.
"Halo. Kamu yang ada di sana? Bisakah kau mendengarku?"
Tidak ada respon, namun Merlin berhasil menemukan hantu itu. Si hantu menunjukkan tempat ia berada namun tidak berani angkat bicara. Ia bersembunyi di langit-langit. Merlin bingung bagaimana membuat hantu itu mengatakan sesuatu.
"Hei, siapa namamu?" hantu itu tiba-tiba berani bertanya pada Merlin.
"Merlin. Kamu?"
"Timid. Aku tidak bisa lama-lama. Apa yang ingin kamu tahu?"
"Siapa yang ada di kamar 803?"
"Aku."
Lalu, Timid memutus komunikasi. Meskipun mendapat jawaban, Merlin merasa aneh. Apakah benar Timid yang tinggal di 803 dan yang membuat orang takut masuk ke sana? Masih banyak yang perlu ditanya namun Timid buru-buru pergi.
Paman Abraham keluar kamar dan mencoba membuka pintu 803. Paman memang tidak punya kemampuan spiritual sebaik Merlin, tetapi ia punya intuisi yang cukup baik. Paman membuka pintu dengan set peralatan yang dibawanya kemana-mana. Dengan mudah rupanya kunci dapat terbuka dan terlihat lampu menyala. Sayangnya, ketika dibuka rupanya dipasang gerendel dari dalam. Apa artinya? Ada seseorang di dalam.
Besar kemungkinan jika benar-benar ada orang di dalam maka aksi Paman sudah diketahui dan pasti dia sedang bersembunyi. Untungnya Paman bukanlah orang yang penakut dan berusaha memaksa membuka gerendel. Kesulitan, Paman pun kembali ke kamar untuk mengabari Merlin.
Rupanya, di dalam kamar mereka, Merlin masih berusaha menjalin komunikasi namun selalu gagal. Tepat ketika Paman masuk, Merlin berhasil berhasil membuka komunikasi lagi dengan Timid.
"Apa yang kau lakukan di kamar itu?" tanya Timid yang sebenarnya ditujukan pada Paman Abraham.
"Apa maksudmu?" tanya Merlin dengan bingung
"Temanmu mengganggu."
"Kau terganggu?"
"Bukan aku."
"Lalu siapa yang terganggu?"
"Temanku."
"Ceritakan padaku!"
"Tunggu!"
Senyap. Timid pergi lagi.
Paman Abraham segera mengatakan pada Merlin apa yang ia lakukan tadi. Merlin pun sedikit mendapat gambaran apa yang terjadi. Merlin dan Paman Abraham keluar untuk melihat kamar 803. Pintu sudah kembali tertutup dan Paman berusaha membukanya lagi. Beruntungnya, pintu berhasil dibuka tetapi masih saja terpasang gerendel. Kali ini lampu sudah padam. Jadi, memang benar ada seseorang di dalam kamar 803. Siapapun dia, itu ada hubungannya dengan Timid.
Merlin dengan tangan kecilnya mencoba meraih ujung gerendel. Tak lama, terdengar suara langkah kaki mendekat. Merlin dan pamannya secara refleks menjauh dari pintu dan pintu pun tertutup dengan agak kencang. Sepertinya penghuninya marah. Kini Merlin benar-benar yakin bahwa itu adalah manusia namun tidak jelas mengapa ia membuat orang takut.
Merlin dan paman kembali ke kamar untuk menenangkan diri sejenak. Kini waktu menunjukkan pukul 7 malam. Ternyata belum lama sejak mereka mulai beraksi. Paman menyarankan agar mereka makan malam dulu sebelum melanjutkan. Mereka pun memesan makanan melalui room service. Selama menunggu pesanan mereka, Merlin berdiskusi dengan pamannya tentang kemungkinan siapa yang ada di kamar 803.
"Siapapun dia, dia tidak berniat jahat. Dan dia adalah manusia"
"Iya, Paman. Aku juga merasa begitu. Bahkan kemampuan komunikasiku ini tidak membantu. Dan berbicara dengan Timid juga tidak banyak membantu."
"Apakah kamu ingat dengan hantu yang pertama?"
"Aku ingat. Hantu yang kesal itu? Sepertinya dia tidak ada hubungannya. Kemungkinan dia cuma lewat dan terganggu karena kita bersikap aneh."
"Tidak. Justru menurutku dia adalah kunci, Merlin."
"Mengapa Paman berpikir begitu?"
"Entahlah itu hanya perasaanku. Bisakah kau coba menghubunginya?"
"Hmm...baiklah akan kucoba nanti"
Makan malam datang dan mereka menyantapnya dengan lahap. Lalu, sebuah pesan masuk ke ponsel Merlin.
Re: TOLONG BANTU SAYA!!! 22/06/2019
Pengirim:
Sara Pan
sarapan@xmail.com
untuk Anda
det.merlin@merlin.org
>>Selamat malam. Maaf saya tidak bisa menemui Anda. Apakah ada yang bisa saya bantu dari jauh?
Sara
Re: TOLONG BANTU SAYA!!! 22/06/2019
Pengirim:
Anda
untuk Sara Pan
sarapan@xmail.com
>>Sara! Sepertinya yang ada di dalam 803 itu manusia. Bisakah kau cari tahu kapan terakhir kamar 803 punya tamu?
Merlin
***
Selesai makan malam, Merlin segera mencoba mencari hantu yang pertama tadi. 30 menit berlalu dan belum ada respon. Bahkan, tidak ada satupun hantu yang menanggapi sinyal Merlin.
Paman Abraham berinisiatif untuk menelfon kamar 803. Dua kali telfon tidak diangkat dan paman mencoba untuk menelfon yang ketiga kalinya. Dering pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam, dan diangkat! Sayangnya, tidak ada suara. Sepertinya gagang telfon diletakkan di meja agar suara telfon tidak mengganggu. Paman membuatnya dalam mode loudspeaker dan sengaja tidak menutup telfon. Dalam 5 menit pertama Paman tidak bersuara dan tidak ada suara masuk juga. Akhirnya, Paman berbicara.
"Perkenalkan, aku Abraham. Maaf sudah mengganggu dan terima kasih tidak mematikan telfon. Bisakah Anda mengatakan sesuatu?"
"..."
"Saya tahu Anda terganggu tapi sepertinya ada orang lain yang mengetahui keberadaan Anda. Kami ingin meluruskan agar tidak ada yang salah paham dan saling mengganggu lagi."
"..."
"Apakah Anda bersedia ditemui?"
"Apakah Timid dan Grump bicara padamu?" jawab sebuah suara remaja yang mungkin seusia Merlin atau sedikit lebih tua.
"Iya benar! Kamu masih muda?"
"Akan kubiarkan Timid menjelaskan. Bicara padanya saja!" dan telfon terputus.
Sementara itu, Merlin masih berusaha menghubungi hantu pertama yang kemungkinan bernama Grump. Paman pun segera menepuk pundak Merlin dan mengatakan agar mencari Timid saja. Timid sudah diberi izin oleh penghuni 803 untuk mengatakan semuanya.
Merlin terkejut dengan kemajuan yang dibuat oleh Paman Abraham. Ia pun bersemangat dan ketika mulai membuka komunikasi, Timid langsung berbicara padanya.
"Rupanya temanku sudah bicara."
"Benar, Timid. Bisakah kau ceritakan apa yang kau tahu?"
"Sebenarnya tidak ada apa-apa. Kebetulan saja dia bisa melihatku dan kakakku yang selalu bermain di kamar itu. Tapi aku tidak pernah mengganggunya. Dia mulai tinggal di kamar itu sejak satu tahun yang lalu. Setiap hari selalu ada yang mengantar makanan untuknya lewat pintu konektor dengan kamar 805."
"Siapa dia?"
"Dia hanya anak yang gila dengan game"
"Kenapa dia bisa tinggal di sana?"
"Dia ada hubungannya dengan orang yang memiliki hotel ini"
"Lalu bagaimana kamu dan kakakmu bisa ada di sana juga? Apakah kalian terjebak?"
"Kami tidak terjebak. Kakakku Grump hanya suka marah saja. Kami bisa bebas pergi.. tapi kakakku sangat suka dengan anak itu jadi kami tidak pergi. Aku tidak berani keluar tanpa kakakku."
"Lalu kenapa dia membuat orang takut?"
"Tidak, tidak. Itu semua salah paham saja. Temui saja dia di 803. Sepertinya dia sudah lelah dengan game hari ini. Akan kuberi tahu dia."
Merlin memberitahu pamannya tentang semua dan mengajaknya untuk mengunjungi si anak di kamar 803. Paman mengetuk pintu 803 dan terdengar gerendel terbuka, demikian dengan pintunya.
Dia adalah seorang anak yang berusia tidak lebih dari 15 tahun! Tanpa berkata apa-apa, anak itu mengisyaratkan Merlin dan pamannya masuk. Kamar itu tampak seperti lab komputer. Banyak sekali komputer di sana. Rupanya anak ini memang penggila game. Merlin dan pamannya duduk di kursi kayu yang ada di sana sementara si anak duduk di kursi gamingnya.
"Hai!" pecah Paman Abraham. "Aku Abraham, yang mengganggumu sejak tadi."
"Aku tahu."
"Aku Merlin. Siapa namamu?" sambung Merlin.
"Kara."
"Jadi, dapatkah kau bercerita pada kami?" tanya Paman Abraham
"Tidak ada. Maksudku, aku tidak punya cerita. Aku hanya tinggal di sini bermain game ditemani Timid dan kakaknya yang tidak terlihat itu," jelas Kara.
"Bagaimana dengan cerita yang membuat orang takut dan tidak berani masuk ke 803?" tanya Merlin.
"Entah, itu tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak menakuti siapapun," jawab Kara.
"Tunggu. Apakah kau mengenal Sara?" tanya Paman Abraham.
"Sara siapa? Kakakku bernama Sara," tukas Kara.
"Seseorang bernama Sara menghubungiku untuk menyelidiki kamar ini," sela Merlin.
"Siapa nama belakangnya? Pan?," Kara menyadari sesuatu.
"Iya benar. Itu ada di alamat surelnya," jawab Merlin.
"Aku tidak pernah mau menemuinya, mungkin dia mencoba mencari keberuntungan dengan menyuruh kalian. Kurasa dia takut aku menjadi hantu. Di mana dia sekarang?" Merlin menyadari bahwa ini ulah kakaknya.
"Wah ini benar-benar mengejutkan. Jadi, Sara membohongi kami? Dan dia kakakmu," ucap Merlin setengah tidak percaya.
"Coba hubungi saja dia," kata Merlin.
Telfon berbunyi. Kara mengangkatnya tanpa bersuara dan menekan tombol loudspeaker.
"Kara, bagaimana dengan kejutanku? Kumohon temui aku!"
Itu adalah Sara. Kara mengisyaratkan agar Merlin menjawab Sara.
"Halo, Sara! Ini aku Merlin. Apa yang terjadi?"
"Hai, Merlin! Kau berhasil masuk ke kamar Kara? Hebat sekali!!! Apakah kau berhasil mengusir hantu di sana?" Sara menjawab dengan sedikit terkejut.
"Kau berhutang penjelasan, Sara," ucap Merlin.
"Aku akan menjelaskan tapi biarkan aku masuk ke sana. Katakan pada Kara!" pinta Sara.
Kara mengangguk kecil yang berarti ia setuju Sara datang. Hanya beberapa detik, Sara sudah mengetuk pintu. Paman Abraham yang membuka pintu dan Sara segera melesat memeluk Kara.
"..." Kara menepis kakaknya.
"Aku merindukanmu Kara!" Sara sedikit terisak.
"Aku tidak. Cepat katakan sesuatu pada Merlin dan minta maaflah," balas Kara sedikut ketus.
"Baiklah. Aku berterima kasih karena kalian membantuku bertemu Kara. Aku juga minta maaf. Sesungguhnya aku tidak berniat menipu. Di sini memang ada hantu yang membuat adikku tidak pergi. Dan Kara sempat berkata padaku aku dapat menemuinya jika ada yang bisa berbicara dengan teman hantunya," ucap Sara.
"Cerita yang kau bilang tentang orang bertengkar?" tanya Merlin.
"Aku mengarangnya. Tapi aku pernah mendengar orang bertengkar dari kamar lain. Jadi aku tidak menipu kalian. Benar, kan?" Sara pun mengaku.
"Tunggu sebentar. Bagaimana Kara bisa tinggal di sini begitu lama? Siapa kalian?" tanya Paman Abraham.
"Ayah kami adalah pemilik hotel ini, Tuan Nam. Kara adalah anak yang semaunya sendiri. Ia berhenti bergaul dan terus bermain game di sini. Ia semakin tidak mau bertemu siapapun karena ada hantu nakal di sini," jelas Sara.
"Timid dan Grump adalah temanku. Mereka tidak nakal, hanya menemaniku. Mereka juga tidak berisik seperti kalian," Kara mulau marah.
"Apakah kamu tidak bersekolah?" tanya Merlin.
"Tentu saja aku sekolah, tapi aku tidak perlu pergi kemanapun. Aku bisa bersekolah dari sini," jawab Kara.
"Ayolah Kara, kembali ke rumah dan jadi anak normal!" pinta Sara.
"Urus saja dirimu sendiri kak!" balas Kara.
"Ehm.. apakah kami masih dibutuhkan?" tanya Merlin menyela.
"Ya! Usir hantu-hantu dari sini!" jawab Sara.
"Tidak! Usir Sara dari sini! Aku hidup dengan nyaman di sini sampai kamu terus mengganguku Sara!" Kara bertambah marah.
"Aku mencoba menyelamatkanmu!" ucap Sara dan perang kata-kata antara Sara dan Kara berlanjut.
Paman Abraham berbisik pada Merlin untuk segera meninggalkan kakak beradik yang sedang adu mulut itu. Paman merasa masalah ini harus diselesaikan oleh keluarga dan bukan tugas Merlin lagi. Mereka pun keluar dan Paman Abraham pergi untuk mencari udara segar. Merlin kembali sendiri ke kamar dan setelah masuk, ia sadar bahwa Timid mengikutinya.
"Merlin! Kakakku Grump ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Halo, Timid! Apa itu?"
"Aku akan meninggalkan Kara. Sepertinya aku memang menahannya berada di sini. Aku sadar dia punya kehidupan," kata Grump menyela.
"Wah, itu bagus! Kenapa kau mengatakannya padaku dan bukan pada Kara?" tanya Merlin bingung.
"Aku akan mengikutimu mulai sekarang. Bukan. Tinggallah di sini Merlin!"