Tema oleh: Adity Valenz
Zaman ini sudah berubah vampir dan manusia sekarang bersama dan saling tergantungan, tapi itu semua hanya omongan belaka.
Namaku Raisa aku sangat membenci vampir karena kaum mereka hanya menganggap kaum manusia sebagai makanannya saja.
Aku pun tidak mengerti pemikiran kaum manusia bagaimana tidak kaum manusia sangat bangga menjadi budak darah para vampir.
Sekolah Colage adalah sekolah untuk para bangsawan manusia dan bangsawan vampir.
Sejujurnya aku terpaksa masuk sekolah ini karena temanku yang sudah tergila-gila oleh vampir. Teman ku bernama Aiko dia anak yang baik sebelum otak nya di cuci oleh kaum vampir.
"Raisa, lihat deh Tuan Leon ganteng banget. Aku berharap banget dia bisa jadi milikku," ucap Aiko sambil mengeluarkan ekspresi kesenangan.
"Cih, mereka tidak lain dari seorang tikus berdasi," ucap Raisa.
"Kau ini, mereka itu tampan dan sekarang kau juga tau bahwa vampir derajat nya lebih di atas kita," ucap Aiko.
Yah memang benar sekarang kaum manusia seperti tak ada harga dirinya di depan kaum vampir.
*****
Bahkan di Sekolah Colage ada pelajaran mengenal jenis darah mendengar pelajaran itu saja membuat Raisa mual rasanya.
Aku dan Aiko berada di kelas klan darah putih bisa dibilang derajat yang paling rendah.
Sejujurnya kelas ini cukup membuat Raisa nyaman karena hanya vampir rendahan yang ada di sini. Tentu saja bukan vampir bangsawan melainkan vampir buangan.
"Raisa boleh kah aku mencicipi darah mu," ucap Pak Edwin. Edwin seorang guru yang tak tau malu sudah berapa banyak murid dari kaum manusia yang sudah ia minum darahnya.
"Cih, jika kau berani mendekati ku jangan harap dunia mu aman," ucap Raisa dengan suara lantang nya. Aiko sangat kaget dengan ucapan Raisa ini sama saja Raisa mencari musuh diantara ribuan vampir.
"Kau hanya seorang sampah bisa apa kau," saut Pak Edwin.
"Setidaknya sampah lebih baik di banding seorang pemakan darah," saut Raisa.
"Maaf kan ucapan Raisa pak," ucap Aiko sontak membuat Raisa terkejut untuk apa Aiko berkata seperti itu.
"Kau memang anak baik Aiko, kali ini ucapan mu ku anggap angin lewat Raisa," ucap Pak Edwin.
Raisa masih heran menatap Aiko. Sebenarnya tanpa Aiko berkata seperti itu seluruh sekolah ini tau bahwa Raisa sangat membenci kaum vampir.
*****
"Aku semakin penasaran untuk mencicipi darahnya," ucap Edward.
"Apa kau berani!" Saut Leon.
"Apa kau tertarik dengan nya?" Tanya Edward.
"Dia akan menjadi budak darahku cepat atau lambat," saut Leon dengan senyum smirk nya dan pergi meninggalkan Edward.
****
"Untuk apa kau melakukan itu tadi?" Ucap Raisa kepada Aiko.
"Aku gak mau kamu atau aku kena masalah di sini!" Ucap Aiko tegas.
"Baiklah," saut Raisa.
Tiba-tiba seorang pria berpakaian bangsawan dengan logo kelelawar mendekati mereka.
"Hai," ucap pria itu.
Raisa tampak acuh tidak terkecuali untuk Aiko, Aiko tak kuat menahan pesona pria itu.
"Hai," jawab Aiko bersemangat.
"Ada urusan apa?" Tambah Aiko.
"Boleh bareng?" Tanya pria itu.
"Gak," jawab Raisa.
"Boleh," saut Aiko dengan bersemangat.
"Baiklah aku barang," ucap pria itu.
Jelas sekali ekspresi Raisa sangat tidak senang karena logo kelelawar itu adalah logo kaum vampir di tambah dia seorang bangsawan tentu saja pasti ada maksud tersembunyi.
Mereka pergi ke taman belakang tentu saja kehadiran Tuan Aiden di antara Aiko dan Raisa menjadi perhatian seluruh sekolah.
"Beruntung banget sama Tuan Aiden," ucap salah satu murid di sana.
"Aiden," batin Raisa.
Raisa tak mempedulikan nya dari tadi yang ngobrol dengan Aiden hanya Aiko. Aiko tampak semangat sekali.
"Hm Aiko, aku ingin ke toilet," ucap Raisa.
"Ok," jawab Aiko.
Sebenarnya Raisa berbohong dengan Aiko karena dia ingin melihat perlakuan Aiden ke Aiko bila tidak ada dirinya.
Raisa mengumpat di balik pohon beringin. Semua nya tampak biasa saja tapi Raisa tak yakin apa yang dirinya lihat.
"Apakah ini cuma ekting," ucap Raisa.
"Darahmu sangat harum,"
Suara itu sontak membuat Raisa terkejut dan melihat kebelakang. Tak disangka Tuan Leon ada di belakang nya.
Raisa segera mundur kebelakang sekarang Raisa tak bisa fokus untuk mengawasi Aiko.
Aiden melirik ke arah pohon beringin dan dengan wajah smirk nya.
"Kenapa?" Tanya Aiko.
"Aaaaaa...." Teriak Aiko. Leher Aiko telah digigit oleh Aiden. Dan entah kenapa Aiko tak bisa mengeluarkan suara dan yang bikin Aiko bingung seperti nya semua orang tak bisa melihat dirinya sekarang.
"Darah mu lumayan," ucap Aiden sambil mengelap bibirnya.
Raisa seperti mendengar teriakan Aiko, Raisa segera menengok ke arah Aiko tapi Raisa tidak bisa melihat Aiko dan Aiden.
"Kemana Aiko?" Batin Raisa yang mulai panik. Di kepanikan itu Leon memegang rambut Raisa membuat Raisa sontak mendorong Leon dan segera lari mencari Aiko.
"Bukan kah ini yang kau inginkan, Aiko." Ucap Aiden sambil mengelus rambut Aiko.
"Iya memang ini," ucap Aiko.
Sejujurnya menurut Aiko memang terasa sakit di awal tapi entah mengapa saat melihat wajah Aiden sakit nya hilang seakan tubuh Aiko sudah berserah ke Aiden.
****
Seminggu telah berlalu Raisa memperhatikan Aiko entah kenapa sekarang Aiko seperti menghindari nya dan belakangan ini Raisa sering sekali melihat Aiko bersama Aiden.
Kata-kata budak darah lah yang sekarang terlintas di pikiran Raisa membuat sekujur tubuh Raisa merinding.
"Gak mungkin, Aiko gak mungkin jadi budak darah Aiden," ucap Raisa.
Raisa segera berlari mencari Aiko dan Raisa melihat Aiko sedang menyerahkan darah nya untuk Aiden. Raisa sangat kaget apa yang ia lihat bahkan sekarang kaki nya mati rasa.
"Ini gak mungkin," ucap Raisa sambil berlari mencari tempat yang tenang.
Rasanya seperti mimpi bahwa Aiko akan dengan suka rela mengasih darahnya, apa Aiko lupa pada perlakuan kaum vampir dulu kepada orang tua nya dan tentu saja kepada orang tua Raisa.
Keesokan nya Raisa dengan hati yang tegar menemui Aiko.
"Kenapa Raisa?" Tanya Aiko dengan senyuman di wajahnya membuat Raisa jijik menatap nya.
Plakkkk.... Tamparan keras jatuh di pipinya Aiko.
"Apa kau menjadi budak darah Tuan Aiden, iya?" Teriak Raisa sontak membuat Aiko terkejut bagaimana Raisa tau.
"Budak darah? Mana mungkin," ucap Aiko sambil memegang pipinya.
"Gak usah bohong aku liat semuanya. Apa kamu lupa kejadian 17 tahun yang lalu," ucap Raisa.
"Aku mohon. Jangan berteman lagi dengan Tuan Aiden," tambah Raisa sekarang Raisa terkujur lemas. Aiko tak menyangka bahwa Raisa akan seperti ini.
"Maaf Raisa, aku tidak menjadi budak darah nya. Aku menjadi pacarnya," jelas Aiko.
Pacar yang rela setiap hari mengasih darahnya untuk memuaskan nafsu, bahkan Raisa tak percaya bahwa Aiko telah di bohongi. Sebelum nya, Raisa Sudah sering liat Aiden dengan pacar lainnya yang rela mengasih darahnya.
"Pacar? Setiap hari nyetor darah! Pacar yang setiap hari di lecehkan bahkan kalo tidak memuaskan nya akan di cambuk 30 kali," ucap Raisa.
Aiko tak percaya Raisa tau semuanya dan yang bikin Aiko sakit hati Raisa mengeluarkan kata-kata itu dengan lantang tanpa memikirkan perasaan nya.
Plakkkkkkk.... Sekarang tamparan dari Aiko untuk Raisa, Raisa terkejut dan menatap Aiko dengan tatapan kecewa.
"Raisa bisa kamu ngomong dengan cara halus, aku menikmati ini semua cukup Raisa," teriak Aiko dengan air mata yang jatuh di pipinya, Aiko segera meninggalkan Raisa di tempat.
Raisa tak percaya bahwa Aiko akan menjadi seperti ini. Aiden melihat dengan tatapan bangga karena budak darah nya sudah nurut dengan dirinya.
"Sayang mari ke ruang ku!" ucap Aiden. Aiko hanya tersenyum dan menuruti kemauan Aiden. Sejujurnya Aiko sudah tau apa yang akan terjadi kepada dirinya di ruangan Aiden tapi dirinya menikmati nya.
Raisa menatap langit berharap hari esok temannya sadar akan kesalahannya dan kembali bersamanya. Walaupun dia pernah jadi budak darah sekalipun.
Hari esok Raisa berusaha menasihati Aiko tapi Aiko malah mengacuhkan nya dan sesekali membentak dirinya.
Sebulan berlalu usaha Raisa semua nya hancur Aiko sudah tidak mau berdamai dengan dirinya. Tapi...
"Raisa di tungguin di gudang sama Aiko," ucap Riri.
Raisa sangat senang karena akhirnya Aiko berinisiatif untuk menemuinya. Tapi gudang sekolah adalah tempat yang paling berkesan dengan vampir bruntal.
"Tidak ini kesempatan ku," ucap Raisa.
Saat di gudang Raisa melihat Aiko dan mata Aiko sudah berubah menjadi merah membuat Raisa takut.
"Raisa teman terbaik, aku ingin kau menjadi budak darah Tuan Leon," ucap Aiko mendekati Raisa.
Raisa tampak takut dengan Aiko ini bukan Aiko tapi tiba-tiba pintu gerbang tertutup dan bahkan Raisa tak melihat Aiko.
"Aiko," teriak Raisa. Raisa mencoba mendobrak pintu tapi tak ada hasil yang memuaskan, Raisa mencoba teriak tetapi tidak ada yang menyaut. Sekarang Raisa pasrah hanya ada satu roti di dalam gudang itu dan setengah nya sudah basi.
18 hari terkunci tiba-tiba pintu terbuka membuat Raisa tersenyum kecil tapi ia malah melihat Aiko yang menyeramkan.
Aiko dengan senyuman yang sudah mengeluarkan darah dan seluruh tubuhnya yang sudah lecet dengan rambut yang berantakan membuat Raisa takut.
"Raisa sayang, kamu harus bersama ku," teriak Aiko.
"Engga," jawab Raisa dengan air mata nya.
Vampir dan hantu menyerbu Raisa tapi dengan cara apapun Raisa berusaha bertahan bahkan Aiko membawa sekawanan vampir. Raisa, mencoba menahan nafasnya agar vampir itu terkelabui dan yap usaha Raisa berhasil.
Raisa memegang gagang pintu dan pintu masih terkunci entah angin dari mana kunci pintu itu terjatuh Raisa segera mengambil kunci itu dari sela-sela pintu.
Saat Raisa keluar Raisa tak percaya bahwa banyak mayat di depannya dan bau darah yang menyengat.
Saat Raisa sudah sampai di gerbang Raisa memandang sekolah nya itu. Sekolah yang sudah menjadi tempat mayat berkumpul.